
Sudah tiga bulan semenjak Atala di pulangkan ke rumah, kini sudah memasuki bulan puasa, malam ini adalah malam pertama di laksanakan nya sholat tarawih, Linda tidak melaksanakannya. Pasalnya saat ini Linda tengah datang bulan sehingga Linda menemani Atala di rumah.
Namun meskipun Atala masih tidak di perbolehkan oleh kedua gadis itu keluar, Atala tetap di ajarkan untuk melaksanakan sholat wajib. Linda baru saja selesai menuntun Atala untuk melaksanakan sholat ashar. Selesai melaksanakan sholat ashar Linda segera membantu Atala untuk melepaskan perlengkapan sholat.
Anisa memperhatikan kakaknya dan Linda dari luar, Anisa tersenyum senang. Setidaknya kakaknya menurut meski sebenarnya kewajiban melaksanakan sholat sudah gugur dari Atala, namun setidaknya ia menurut ketika di ajarkan oleh Linda, bak anak kecil yang menurut ketika di ajari oleh ibunya.
"Kak potong rambut yuk, biar tampan," ujar Linda segera membawa Atala keluar dari kamar, menuju ke halaman belakang. Anisa tersenyum mengikuti mereka, Anisa tengah bersiap untuk mandi, namun penasaran bagaimana melihat Atala di potong rambutnya.
Anisa dengan semangat mengambil cermin yang seukuran badan miliknya dan Linda, kemudian meletakkannya di hadapan Atala.
"Barbershop dadakan ya," Anisa tertawa ketika mengatakannya.
"Iya kalau bagus fix aku buka salon," ujar Linda membalas candaan sahabatnya.
...----------------...
Linda tengah asyik menonton TV, tiba tiba Atala datang bergabung dengan nya.
"Kak, butuh sesuatu?" Linda bertanya tanpa memandang ke arah Atala.
Atala hanya menggeleng, kemudian merebahkan kepalanya di pundak Linda. Linda tersenyum dan mengusap lembut kepala Atala. "Kakak capek?" Linda terus memandang lurus ke arah tv.
Atala mengangguk, sembari tersenyum senang Atala mulai memainkan rambut Linda hingga membuat Linda kembali tersenyum.
......................
Sementara itu di sebuah apartemen, seorang wanita terus memuntahkan cairan dari perutnya. Sudah beberapa kali ia kembali ke dapur untuk membuat air hangat, namun mualnya tak berkesudahan.
__ADS_1
"Ada apa dengan ku? Kenapa akhir akhir ini aku tidak enak badan? Apa terjadi sesuatu dengan ku?"
Bunyi ponsel mengejutkannya, ia segera melihat ke arah ponselnya, itu dari pelanggannya. Mereka sudah memiliki janji dua jam sebelas nanti, namun wanita itu hingga kini belum kunjung sembuh.
"Apa aku salah lihat ya?" Yanti bergumam ketika melihat tanggal di ponselnya, jika di ingat ingat ia sudah dua bulan tidak libur membuka jasa. Itu berarti dirinya sudah telat selama dua bulan.
Yanti menarik rambutnya ia bingung akan mempertanggung jawabkan kepada siapa, bahkan pelanggannya saja tidak dia ingat semua siapa saja, jika begini ia bisa menjadi cacian orang orang, bahkan ia mungkin saja tak dapat mencari pelanggan lagi.
"Cih seandainya saja aku tidak kehilangan Atala demi El Barack yang sekarang memutus segalanya, maka aku tidak akan begini, bagaimana ini? Apa aku harus menjebak seseorang? Agh... siapa? Atau aku kembali kepada Billi? Ah, tapi Billi tahu betul bagaiman dengan sikap ku," Yanti mulai frustasi, dan segala pikiran negatif menyerangnya.
"Ah jangan panik, aku harus berfikir positif, mungkin memang ada masalah pada tubuh ku, aku harus mengeceknya ke rumah sakit," ujar Yanti segera bersiap siap ke rumah sakit. Meski saat ini ia merasa tidak enak badan. "Agh... ini kan sudah malam, mana ada yang buka malam ini."
Yanti memukul stir mobilnya, ketika sampai di depan rumah sakit, Yanti memutar mobilnya menuju ke klinik dua puluh empat jam. Ternyata masih ada bidan yang berjaga, yanti segera masuk ke dalam dan mengambil nomor registrasi, Yanti ikut mengantri dengan beberapa orang.
Setelah antrian Yanti, Yanti segera masuk memeriksakan keadaannya. "Bagaimana dok?"
"Berapa lama anda tidak datang bulan buk?" Yanti menggigit bibirnya, bingung hendak menjawab apa.
"Baiklah buk, selamat ibu mengandung sudah delapan minggu, harap berhati hati dengan kandungan ibu, karena janin ibu masih sangat muda. Untuk lebih jelasnya ibu segera periksa ke dokter poli anak Bu," dokter tersebut tersenyum ke arah Yanti.
"Tapi dok saya menggunakan obat pencegah kehamilan, bagaimana mungkin bisa?" Yanti rasanya hendak menangis saat itu juga.
"Obat pencegah kehamilan memang memperlambat kerja ****** di untuk menuju ke sel telur, namun ada beberapa kasus obat pencegah kehamilan tidak dapat mencegah sel ******, sehingga ****** mampu membuahi ovum," ujar dokter tersebut tersenyum.
"Iya dok terimakasih," ujar Yanti memaksakan senyumnya. Yanti segera keluar menuju ke arah mobil, Yanti benar benar bingung siapa ayah dari anak ini.
Bunyi ponsel mengejutkannya dan Yanti segera memandang ke arah ponselnya. Ternyata itu adalah nomor dari orang yang memboking jasanya malam ini. Yanti menjambak rambutnya, dan menelfon pelanggannya tersebut.
__ADS_1
"Halo mas, maaf aku ga bisa malam ini, karena badan ku sedang tidak sehat, takutnya tidak dapat memuaskan," ujar Yanti mencoba untuk tenang.
Setelah mendengar jawaban dari yang di seberang sana Yanti segera mamatikan ponselnya. "Agh...."
"Bagian ini? Siapa yang akan bertanggung jawab? Agh, kenapa kau harus hadir di sini?" Yanti benar benar frustasi, bingung dengan siapa ia akan meminta pertanggung jawaban.
Dengan El Barack? Tak akan mungkin, mereka bukan keluarga sembarangan, jika Yanti dengan nekat meminta El Barack bertanggung jawab, maka dirinya akan berada dalam bahaya, jika dengan Billi maka tak jauh beda. Lalu siapa?
"Atala, ya hanya Atala..." Yanti hanya bisa memikirkan Atala saat ini.
Jika mereka kembali bersama, maka setidaknya anak ini akan memiliki status, dan mungkin saja nasibnya akan berubah. Yanti mengulum senyumnya, hendak ke apartemen Atala, Yanti belum tahu jika apartemen Atala telah di jual untuk keperluan biaya rumah sakit.
Yanti menjalankan mobilnya menuju ke apartemen Atala, sesampainya di sana Yanti segera memasukkan mobilnya di basmen apartemen. Setelah itu Yanti dengan wajah tebalnya berjalan melewati tetangganya dulu yang jelas tak melupakan kelakuannya dulu.
"Mau apa lagi?" Salah satu penghuni lama memandang sinis ke arah Yanti.
"Entah tidak tahu malu, apa jangan jangan dia mau kembali? Mana mau Atala," ujar salah satu di antara mereka.
"Emang dia tidak tahu? Kalau Atala sudah pindah?" Mereka berbisik setelah melihat Yanti dengan gaya angkuhnya berjalan ke arah lift.
"Biarkan saja, jangan di beri tahukan," ujar salah satu di antara mereka.
"Iya biar dia cari sendiri," sahut yang lain.
"Lagian dia tidak pantas untuk Atala," ucapan wanita berbaju kuning di angguki oleh semua orang.
"Iya kemarin kan Atala masuk rumah sakit jiwa setelah memanggil polisi," salah satu di antaranya mengingat kembali kejadian malam yang menghebohkan saat ini.
__ADS_1
"Syut diam diam saja," ujar baju kuning lagi.
"Semoga pak Atala mendapatkan wanita yang benar benar mencintainya dengan apa adanya, bukan seperti Yanti. Cuman karena harta rela meninggalkan keluarganya."