
Sudah tiga bulan Atala berada di rumah sakit, keuangan mereka semakin menipis, sekarang mereka harus menanggung biaya rumah sakit Atala yang tidak sedikit, belum lagi biaya obat obatan nya yang tidak sedikit. Uang tabungan mereka di kuras habis.
Kini mereka bingung harus bagaimana, mereka memindahkan seluruh barang Atala ke rumah mereka, agar lebih mudah menjual apartemen tersebut. Sebenarnya ini berat untuk mereka, apartemen tersebut hasil kerja keras Atala, namun mereka harus melakukannya.
Mobil mereka tak berniat untuk menjualnya, itu kendaraan mereka satu satunya. Perhiasan telah raib, di ambil oleh Yanti mantan istri Atala, ketika keluar dari apartemen.
Anisa pagi ini harus menemui manejer bangunan tersebut, dan menjual apartemen tersebut. Sementara Linda harus pergi menemui dosennya, mendaftarkan diri untuk magang.
Di sepanjang perjalanan Linda terus di landa ke khawatiran, antara pergi dan tidak, magang membutuhkan uang yang tidak sedikit, sementara tabungannya kini tinggal tiga ratus ribu, karena pengobatan Atala.
Sementara ia tak mungkin meminjam pada Anisa, Linda memilih berjalan di taman kampusnya, ia bingung harus bagaimana. Meminjam uang pada tempat kerjanya tidak mungkin, karena ia masih memiliki hutang.
Belum uang semester yang belum ia bayar. Linda bingung apakah harus melanjutkan kuliah atau berhenti sementara, atau lebih bisa disebut cuti? Setidaknya hingga Atala sembuh.
Linda terisak bingung terhadap jalan hidupnya, tak mungkin ia meninggalkan Anisa dan Atala di saat yang membutuhkan. Jasa mereka terlalu banyak untuk Linda.
Linda memantapkan pilihannya, ia akhirnya mengusap air matanya. Melangkah dengan sedikit ragu ke arah ruangan dosennya. Linda harus menentukan langkahnya.
...............
Sementara di tempat lain Anisa baru saja selesai dengan penjualan tersebut, apartemen dengan harga hanya sebesar lima puluh juta. Cukup untuk pengobatan Atala, beberapa setengah tahun, dan membayar hutang dirinya dan Linda di tempat kerja.
Anisa berniat menjemput Linda dari kampus, agar lebih cepat mereka ke rumah sakit, Anisa juga berniat untuk membantu uang semester Linda, karena Anisa tahu tabungan Linda sudah tidak cukup.
...........
"Bagaiaman? Kau sudah menemukan keberadaan adik mu?" Tuan Chris memandang wajah El Barack, wajah tua itu memancarkan pengharapan. Mata itu masih memancarkan rasa bersalahnya kepada anak keduanya.
"Sudah, hanya saja kita terkendala karena waktu. Dulu kita terlalu menyerahkannya kepada pihak kepolisian. Tapi kemarin kita mendapatkan informasi bahwa El Bram, di adopsi oleh sepasang suami istri, namun belum di ketahui siapa," ujar El Barack menghela nafas beratnya.
Mencari informasi dengan mengorek masa lalu, dan informasi dari adiknya, Ellie. El Barack memijat kepalanya, terlalu banyak pekerjaan yang harus ia cari.
__ADS_1
"Daddy mohon tolong cari lah dengan segala kemampuan mu, Daddy akan selalu merasa bersalah," ujar tuan Chris, menitihkan air matanya.
Nyonya Chris juga menitikan air matanya, dengan di peluk oleh menantunya, sementara Mark bayi dari El Barack dan Jessica di gendong oleh Ellie.
El Barack masih sangat ingat bagaimana sedihnya dirinya kehilangan adik lucunya, bahkan bingung karena tiba tiba tatanan keadaan rumahnya berubah. Bahkan El Barack juga hampir bernasib sama seperti adik ya yang hilang. Jangan begitu, bahkan saat ini mereka masih dalam pengawasan meski telah dewasa. Adiknya Ellie hampir beberapa kali mengalami penculikan. Entah siapa musuh mereka, tidak ada yang terdeteksi.
"Sketsanya telah tersebar?" Ellie membuka suara nya, terus menimang Mark yang sedikit bergerak.
"Sudah namun sulit untuk di temukan," ujar El Barack. "Hingga saat ini kami masih berusaha."
"Aku harap semua secepatnya selesai," ujar Jessica mengusap punggung mommy.
"Aamiin."
..........
"Kakak mau keluar dari sini," ujar Atala memandang kedua gadis yang tengah duduk di hadapannya.
"Sebentar lagi kak, asal kakak rajin minum obat kakak pasti sembuh kok," ujar Anisa menyodorkan obat ke arah Atala.
Bak anak kecil yang merayu ibunya untuk ikut ke pasar, itulah Atala saat ini. Dengan mata yang memelas, memasang wajah sesedih mungkin. Wajah yang di penuhi oleh jambang, karena terus menolak untuk di cukur dengan Anisa.
Linda hanya tersenyum melihat reaksi kedua kakak beradik tersebut, ia terpikir oleh kondisi kampusnya saat ini. Mungkin keputusan yang di ambilnya memang tepat untuk cuti dari kuliahnya. Baginya yang terpenting saat ini adalah Atala. Mana mungkin ia meminta uang semester kepada sahabatnya, sementara uang kuliahnya saja mencapai tuju juta rupiah.
Atala baru saja menelan pill obatnya, setelah dirayu oleh Anisa. Atala berbaring membelakangi kedua gadis tersebut. Sikapnya memang masih acuh, kasar terkadang masih sering mengamuk. Namun Atala kini sudah mau meminum obatnya meski dibujuk, seperti membujuk anak kecil.
Anisa membalikkan tubuhnya memandang ke arah Linda, ia bingung dengan sahabatnya itu.
"Kamu kenapa?" Anisa membuyarkan lamunan panjang dari Linda.
"Ah..." Linda terkejut, sangat terlihat jelas jika linda tengah tak siap menerima pertanyaan dari Anisa.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Anisa kembali melemparkan pertanyaan yang sama kepada Linda. "Keluar dulu yuk," ajak Anisa tak ingin terdengar kan oleh Atala.
Sesampainya di luar mereka segera duduk di depan ruangan Atala. "Kenapa?" Anisa mengangguk mendengarkan pertanyaan ulang dari Linda. "Aku tidak kenapa napa kok," ujar Linda berusaha tersenyum.
"Muka kamu tidak baik baik saja Linda," ujar Anisa yang hafal betul dengan tingkah Linda. Linda hanya tertunduk bingung bagaimana cara menyampaikannya. "Uang kuliah kamu aman?"
Linda hanya menggelengkan kepalanya menundukkan memandang jari jarinya yang saling bertautan. "Aku sudah menjualnya, kita bisa menggunakan uang itu untuk membayar uang semester mu."
Lagi lagi Linda menggerakkan kepalanya, "Tidak tidak usah," ujar Linda mengangkat kepalanya tersenyum ke arah Anisa.
"Kenapa? Kamu sebentar lagi harus bayar loh, jangan pikir yang macam macam Linda, tinggal sebentar lagi ok," ujar Anisa tak habis pikir dengan sahabatnya.
"Sudah tidak perlu di bayar lagi kok," ujar Linda tersenyum hangat.
"Kenapa? Siapa yang bayarin kamu?" Anisa mengerutkan keningnya. Namun lagi lagi Linda menggelengkan kepalanya. Tiba tiba mata Anisa membelatak, Anisa mulai mengerti kemana arah pembicaraan Linda. Anisa menggelengkan kepalanya. "Jangan bilang kamu..."
"Iya aku cuti," Linda menganggukkan kepalanya.
"Kenapa? Aku susah dapat uanganya loh Linda," Anisa tak habis pikir dengan isi kepala sahabatnya.
"Iya tapi itu untuk kak Atala dan utang utang kita di tempat kerja, kalau di pakai untuk biaya semester maka sama saja pengobatan kak Atala berkurang satu bulan Nis," ujar Linda tak ingin sahabatnya itu terlalu banyak berfikir.
"Tapi bagaimana mungkin? Kamu sebentar lagi, tinggal magang dan tugas akhir," ujar Anisa tak percaya.
"Iya, tapi semua ilmunya sudah aku miliki Nis, aku bisa membantu kak Atala agar lebih cepat sembuh. Bagi ku gelar tidak terlalu penting, yang penting ilmunya Nis. Dengan aku fokus bekerja, maka kita akan lebih mudah menabung, kita butuh makan Nis, kak Atala tidak mungkin makan cuman dari rumah sakit, uang itu tak akan mungkin segitu terus, karena itu kalau kita kerja kita punya uang selanjutnya," jelas Linda memandang bola mata Anisa.
"Lalu kamu mengorbankan pendidikan kamu?" Anisa menggeleng.
"Tidak masa depan ku adalah kalian, kak Atala harus sembuh, karena keluar dari sini pun kak Atala tetap butuh uang untuk kontrol," ujar Linda meyakinkan.
"Terimakasih Linda, kalau tidak ada kamu mungkin aku tidak akan sanggup," Anisa memeluk sahabatnya erat. Sungguh besar pengorbanan sahabatnya ini.
__ADS_1
...----------------...
Mohon maaf semuanya othor bukan tidak ingin upgrade bab, tapi othor benar benar sibuk, kemarin cara sedang berturut turut, hingga menghadapi tiga acara. Belum lagi kerjaan othor saat ini yang menuntut untuk di selesaikan, kadang othor tidur jam tiga hanya untuk menyelesaikan pekerjaan othor, dan bangun kembali pagi agar bisa kembali ber say hallo dengan pekerjaan yang sudah menunggu. Bahkan beberapa hari tidak tidur di kamar melainkan di kantor wkwkwkwk mohon maaf ya semuanya. (curcol sedikit wkwkwk)