I'M Not Crazy (Love Me Please)

I'M Not Crazy (Love Me Please)
Botak


__ADS_3

Hai teman teman, sebelumnya othor mau ngomong, novel ini sebenarnya ingin othor dedikasikan untuk para pembaca agar lebih mengenal penyakit skizofrenia, dan cara untuk menanganinya. Tidak ada kata terlambat jika memang ingin berusaha pasti ada jalan, mungkin teman teman akan menemui kasus seperti ini, meski othor berharap jangan. Tapi othor tetap berharap dari novel ini teman teman sediki mendapat pelajaran, dan sebuah ilmu meskipun sedikit. Terimakasih 🙏🙏🙏 semoga ilmunya bermanfaat.


......................


Sudah enam bulan berlalu El Barack saat ini tengah menunggui istrinya yang sedang menonton TV, El Barack menyenderkan kepalanya di sofa dan mengusap lembut perut istrinya. El Barack masih ingat saat dirinya mengantar istrinya pergi check kandungan di rumah sakit, ia tak sengaja bertemu dengan mantan kekasih gelapnya, Yanti. Tampak wanita itu tengah bermesraan dengan seorang laki laki. El Barack menggeleng sembari terkekeh.


El Barack mengecup pipi istrinya kemudian menggigit pelan jari jari lentik istrinya. "Hm... tiga bulanan lagi ya sayang, anak daddy jangan repotin mommy ya," ujar El Barack membuat Jessica tersenyum. "Maaf ya sayang."


"Hm," ujar Jessica fokus menonton tv. Jesica kemudian mencondongkan badannya mencoba mengambil minuman hangatnya, entah kenapa semenjak dirinya hamil Jessica sangat senang meminum coklat hangat.


"Kau mau?" El Barack segera mengambil minuman tersebut.


"Terimakasih," ujar Jessica segera menyenderkan kepalanya di dada El Barack.


"Sama sama," balas El Barack mengusap lembut kepala istrinya.


Di sisi lain Anisa akan mengikuti acara wisuda kampusnya, sementara waktu Anisa banyak liburnya sehingga lebih mudah menjaga keponakannya di rumah sakit, sementara Atala pergi ke kantor, Linda juga ikut menjaganya, namun Linda saat ini tengah magang di sebuah rumah sakit.


Anisa tersenyum ketika melihat kakaknya datang ke rumah sakit, meski tampak lelah kakaknya tetap berusaha tersenyum manis di hadapan Putra.


"Pa sebenarnya kapan sih Putra pulang, kan sudah lama di sini, capek," ujar putra dengan rambut yang mulai menipis.


"Sayang kita cukur rambut yuk," ujar Atala mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Papa mau potong rambut?" Putra tersenyum ke arah Atala. Sejujurnya Putra juga risih ketika rambutnya terus berjatuhan.


"Iya ayo, papa tadi beli alat cukur," ujar Atala segera menyerahkan alat cukur tersebut kepada Anisa. "Tolong pangkas rambut kami."


Anisa mengangguk kemudian mulai mencukur rambut Putra terlebih dahulu. Anisa tersenyum melihat Putra yang tersenyum melihat rambutnya mulai di babat habis.


"Papa nanti gini kan?" Putra menunjuk kepalanya yang setengah plontos.


"Iya nanti gantian kita," ujar Atala mengusap lembut kepala Putra.


Pintu terbuka membuat semua tersenyum ke arah pintu. Ternyata itu adalah Linda yang membawa makanan untuk semua orang, ia mulai tersenyum membalas senyuman yang lain. "Wah potong rambut ya?"


"Iya tante," Putra menunjukkan kepalanya yang telah plontos. "Sekarang giliran papa."


"Ta...da...kejutan..." Atala tersenyum melihat hadiah dari Linda. Itu memang hadiah yang tidak lah mahal, tapi Atala tahu bahwa Linda membelinya dengan suka cita. Atala segera mengenakan topi itu dan memakai kan kepada anakannya. Tampak mereka begitu keren mengenakan topi tersebut. "Wih... keren banget..."


Atala segera mengeluarkan ponselnya dan mulai berpose di depan kamera. Wajahnya tersenyum meski terdapat sejuta kesedihan di matanya. Mencoba tetap tersenyum meski sulit. Linda tak ingin ketinggalan kini ikut memotret keduanya. Kedua laki laki yang merasa di potret segera berpose, membuat mereka terkekeh.


Atala memang semakin di Landa setres, dan setres yang melandanya pun semakin besar, Atala kini lebih pendiam, dan suka menyendiri. Ia selalu pusing jika mendengar ocehan ocehan sesuatu yang tak kaset di mata orang lain, namun mulai nyata di matanya. Perlahan semuanya mulai jelas. Delusi yang di ciptakan pikirannya mulai semakin membesar. Atala merasa masih mampu melawannya, walaupun terkadang dirinya di buat sangat tertekan.


Terlebih saat ini anaknya masih membutuhkannya. Anaknya mampu bertahan sejauh ini, merupakan sebuah keajaiban menurut para dokter. Meski kini Putra semakin sulit mengingat beberapa hal, namun semangat Putra memang bisa di akui oleh mereka. Meski terkadang bosan menjalani semua. Namun kini Atala benar benar memberinya semangat. Seperti saat ini demi sang anak ia rela memangkas seluruh rambutnya.


Atala juga tak seproduktif dulu, kemampuannya mulai menurun, selain ia harus menjaga anaknya. Atala juga harus menjaga emosinya. Menjaga segalanya agar terlihat normal di mata orang orang. Namun itu semua semakin membuat Atala bertambah setres. Suara suara yang berusaha tak di hiraukannya kini perlahan mulai mengganggu hidupnya. Atala pikir akan terbiasa, namun semakin membuat dirinya tertekan.

__ADS_1


Untung saja semua teman kantor memberi pengertian kepada dirinya, terlebih mengetahui prihal rumah tangganya serta Putra yang terkena kanker otak. Begitupun dengan bosnya, meski kini mereka jarang bertemu tetapi tuan Chris selaku orang tua dari bosnya sering menanyakan tentang keadaan Putra. Tuan Chris memang begitu salut kepada Atala mampu bertahan dan kuat dengan segala cobaan di hidupnya. Meskipun sebenarnya tuan Chris merasa bersalah. Tetapi entah kenapa ia bersyukur bahwa Atala berpisah dari Yanti setelah mengetahui kelakuan dari Yanti yang sebenarnya. Tuan Chris berfikir bahwa ini lah yang terbaik.


Atala, Linda, Anisa dan Putra kini tengah makan malam bersama di dalam kamar rawat inap tersebut, mereka makan sembari bercanda gurau, mencoba melepaskan kepenatan yang menimpa mereka hari ini. Atala ikut tersenyum selayaknya orang biasa. Namun semenjak hari dimana dirinya tak bisa melepas kontrol, Atala lebih banyak diam dan mendengarkan. Sehingga Linda dan Anisa berfikir bahwa Atala baik baik saja. Namun berbeda dengan Putra yang memang sangat peka, ia dapat mengetahui bahwa ada yang berbeda dari papanya.


Papanya lebih terlihat murung dan pendiam. Putra mengira itu adalah salahnya. Seandainya dirinya tidak sakit mungkin saja papanya tidak akan sesedih itu. Diam diam putra juga mengetahui kondisinya yang sebenarnya, namun memilih berpura pura tak mengetahuinya. Bahkan Putra tahu bahwa mama dan papanya tak lagi dapat bersama, setidaknya itulah yang ia tahu dari internet. Sungguh Putra memang lebih dewasa dari usianya. Putra memeluk papanya hendak tidur bersama sungguh Atala juga bahagia.


"Anak papa ingin tidur bersama lagi?" Atala mengusap lembut kepala botak Putra, Putra mengangguk.


"Putra sayang papa," bisik Putra membuat Atala bahagia, Saat ini hanya Putra lah yang menjadi penyemangat nya entah bagaimana hidupnya jika tanpa Putra.


"Papa juga sangat menyayangi anak papa ini," ujar Atala mengecup puncak kepala Putra.


Melihat hal tersebut, Linda dan Anisa tersenyum bahagia, besok adalah hari Minggu, waktunya mereka beristirahat, namun mereka memilih untuk tidur bersama di rumah sakit. Anisa tidur di sofa panjang, sementara Linda memilih tidur di atas lantai berlantaikan kasur lantai yang tipis.


Atala terbangun di tengah malam melihat Anisa yang tertidur pulas selimutnya tampak sangat rapi, namun berbeda dengan Linda yang selimutnya telah tersingkap ke atas, dengan buku di tangan kanannya. "Dasar," gumam Atala segera memperbaiki cara tidur Linda kemudian masuk ke kamar mandi.


.


.


.


.

__ADS_1


Like and comment guys, serius buat cerita ini susah minta ampun ampunan, karena jujur saja buat novel ini harus mikir selama lima bulan baru benar benar di bulatkan tekatnya. Belum lagi mencari informasi dan menggali setiap narasumber yang sudah sembuh dengan penyakit ini. Dari pihak keluarga yang menjaganya, dan lain lagi. Jadi tolong berkomentar apa saja, karena sesungguhnya ini berat mikirnya guys.


__ADS_2