I'M Not Crazy (Love Me Please)

I'M Not Crazy (Love Me Please)
El Bram


__ADS_3

Atala tersenyum kala melihat kehebohan pagi ini, hanya karena sepotong roti selai coklat Linda dan Anisa sempat berdebat, keduanya menginginkannya. Namun Atala tahu jelas bahwa itu hanya trik mereka agar Putra tidak lagi bertanya kapan pulang.


Atala melihat kembali jadwal terapi untuk Putra, sungguh itu tidak lah murah untuk dirinya yang hanya seorang pegawai kantoran biasa. Untung saja dirinya dahulu selalu menabung untuk mereka. Tidak masalah, meskipun uang darurat telah habis untuk beberapa kali kemoterapi Putra. Biaya kemoterapi tidak lah murah bahkan mencapai sebelas juta rupiah. Namun Atala tak mengeluh, setidaknya ia akan menggunakan biaya untuk sekolah Putra kedepan. Setidaknya setelah Putra sembuh, ia bisa membangun usaha atau mulai bekerja kembali dengan sangat baik.


"Putra lihat tu tante Linda, dia masa curang," adu Anisa kepada Putra, Putra menjadi terkekeh sendiri di buatnya.


"Mana ada ini lihat, sama besarnya. Tante Anisa saja yang pingin banyak," Linda membela dirinya.


"Mana ada," Anisa tak terima dengan apa yang di katakan oleh Linda.


"Ini coba lihat," ujar Linda menunjukkan rotinya.


Atala mendekat membawa pisau, Atala segera meletakkan roti keduanya di atas meja, dan memotongnya, Atala kemudian memberikan kepada keduanya bagian kecil, sementara dirinya segera memberi Putra potongan besar masing masing satu dengan dirinya.


Kedua anak dan ayah tersebut segera memakan di hadapan Anisa dan Linda. Kedua gadis itu syok bukan main melihat keduanya enakan roti yang mereka perebutkan.


"Kakak! Putra!" Linda dan Anisa berseru serentak protes dengan keduanya.


"Tidak mau?" Atala kembali mengambil roti di kedua tangan mereka. "Ayo tante mu tidak mau."


Keduanya memakan potongan roti tersebut di hadapan kedua gadis tersebut. "Ah...."

__ADS_1


Kedua laki laki itu tertawa di hadapan keduanya, tentu saja membuat keduanya kesal bukan main. Pupus sudah harapan memakan roti selai coklat mereka. Anisa dan Linda saling berpandangan, seolah mengerti pikiran masing-masing keduanya maju serentak, Anisa sengaja menyerang putra, sementara Linda menyerang Atala.


Anisa sengaja membuat Linda dekat dengan Atala, sesungguhnya jika boleh meminta Anisa ingin Linda yang menjadi ibu sambung dari Putra, namun ia tak bisa memaksa terlebih perbedaan usia antara Linda dan kakaknya lumayan berjarak.


"Ampun ampun," kedua laki laki itu memohon ampun, agar kedua wanita itu menghentikan serangan merek sungguh mereka telah kegelian. Namun tak berniat untuk membalas.


Sementara itu di tempat lain tuan Chris tengah berkumpul dengan istri anak dan menantunya, mereka saat ini tengah berdoa bersama demi mengenang adik El Barack yang entah sudah meninggal ataupun masih hidup. Semenjak kejadian penculikan tersebut, sungguh mereka tak tahu keberadaan adik El Barack yang bernama El Bram. Mereka terus mencarinya. Jejak mereka seakan hilang di telan bumi, entah di bawa kemana anak mereka.


Jessica terus mengusap perutnya, dan merasakan kesedihan keluarga tersebut. Biar bagaimana pun dirinya pernah merasakan kehilangan orang di cintai nya. Terlebih saat ini ia tengah mengandung anak suaminya, karena itu ia benar benar sangat mengerti bagaimana berduka nya keluarga tersebut.


El Barack menggenggam tangan istrinya erat, sungguh ia tak ingin istrinya kelelahan ataupun mengingat kesedihannya di masala lalu, ketika kehilangan orang tua satu satunya yang ia miliki.


Ini seharusnya menjadi hari ulang tahun El Bram yang ke tiga puluh tahun lalu telah menghilang, saat berusia satu tahun. El Bram di culik saat sedang di rumah mereka, hal itu membuat seluruh keluarga mereka mengetatkan penjagaan. Entah kenapa mereka tidak menduga bahwa pengasuh yang selama ini di percaya ternyata tega mengkhianati mereka. Dan tiga bulan setelah pencarian El Bram pengasuh tersebut meninggal dengan gantung diri, sementara El Bram tak ada yang tahu di mana.


"Ellie kau baru pulang?" Tuan Chris memandang ke arah anak bungsunya.


"Hm..." Ujar Ellie memang terlihat cuek, Ellie tak ingin menganggap kakaknya itu tidak ada, meski pada dasarnya ia tak pernah melihat sosok kakak secara langsung. Kakak di culik sebelum dirinya berada di dalam kandungan. Namun Ellie yakin bahwa orang yang ia lihat itu adalah kakaknya.


"Kau kali ini tidak ikut berdoa?" Nyonya Chris memandang anaknya dengan pandangan tak percaya, biasanya anaknya ini yang paling semangat. Ellie selaku mengatakan ingin memiliki kakak lagi, ia bosan dengan kakaknya El Barack yang selalu menggodanya.


"Hm... kakak belum meninggal, aku melihatnya kemarin aku rasa," ujar Ellie membuat semua mata tertuju kepadanya.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin?" Tuan Chris berdiri tak percaya dengan apa yang di dengar olehnya.


"Aku tidak yakin, tapi aku tak mabuk saat itu. Aku berpenampilan seperti bajak laut, berdandan seperti seorang laki laki, teman ku mengira itu adalah kakak, pasalnya sedikit mirip dengan ku," ujar Ellie mengingat setiap ceritanya.


"Kau tak mabuk kan saat itu? Kau pulang larut malam?" El Barack yang memang sangat ketat terhadap adiknya memicingkan matanya curiga.


"Tidak aku yakin tidak mabuk, aku hanya meneguk segelas kecil, tak akan membuat mabuk meski kepala ku sedikit pusing. Aku pulang tepat jam sepuluh. Aku masih ingat peraturannya," jawab Ellie meyakinkan. "Namun anehnya ada anak kecil yang berdiri di sampingnya dan anak kecil itu mirip aku saat masih kecil."


Ellie segera bergegas ke kamarnya. "Tunggulah di sini, aku akan mengambil foto ku saat masih kecil," ujar Ellie. Ellie melirik semua orang yang berada di bawah, wajah mereka terlihat harap harap cemas. Mereka tampak mengharapkan ucapan Ellie itu benar adanya.


Ellie segera mencari kaus oblongnya, kemudian menguncir rambut panjangnya, mengambil rambut palsu khusus laki laki. Kemudian mengambil foto dirinya saat masih kecil. Ellie turun melalui anak tangga, semua orang terkesima terutama El Barack, dan tuan Chris.


"Dia mirip seperti ini, hanya saja aku tak bisa menjelaskannya, tapi sedikit berbeda pokoknya, teman ku pun mengakuinya. Sementara anak kecilnya seperti ini," ujar Ellie memberikan foto saat dirinya masih kecil. "Awalnya aku fikir ayah punya wanita lain, lama aku berfikir, tetapi tadi siang saat kak Jessica menghubungi ku untuk mendoakan kak Bram aku menjadi sadar, bahwa orang itu lebih tua dari ku kelihatannya, hanya terlihat lebih muda dari kakak, kalau tidak salah. Aku berkesimpulan kemungkinan itu kak Bram yang hilang, makanya aku mencari wig rambut untuk laki laki, aku lupa bagaimana tatanan rambutnya."


Semua orang terperangah, tuan Chris dan El Barack memang merasa mengenal orang itu, namun lupa di mana. Mereka tak tahu di mana, dan kapan.


.


.


.

__ADS_1


.


Like and comment guys, serius buat cerita ini susah minta ampun ampunan, karena jujur saja buat novel ini harus mikir selama lima bulan baru benar benar di bulatkan tekatnya. Belum lagi mencari informasi dan menggali setiap narasumber yang sudah sembuh dengan penyakit ini. Dari pihak keluarga yang menjaganya, dan lain lagi. Jadi tolong berkomentar apa saja, karena sesungguhnya ini berat mikirnya guys.


__ADS_2