
Mungkin, rumah Tuan Tomy lebih besar dan megah di banding rumah ayahnya, bahkan Terlihat seperti istana yang sering Ella impikan sejak usia dini.
Tapi untuk apa semua kekayaan itu jika hanya di isi dengan kekosongan, di dalamnya tidak ada sebuah keluarga, hanya para pelayan yang mondar mandir menjalankan tugasnya masing masing.
Terkadang, Ella lebih iri pada tuna wisma di rumah tak layak huni, mereka terlihat rukun dan damai, berbagi secuil makanan, namun tetap mensyukurinya dan menjalani hidup dengan penuh keikhlasan.
"Kamu suka rumah Saya?" tanya Tuan Tomy saat membawa Ella menuju kamar barunya.
"Kaya Istana Om" jawab Ella tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.
Tuan Tomy terkekeh pelan. "Panggil Papah, jangan Om"
Tap!
Seketika Ella berhenti melangkah, kenapa jantungnya berdebar begitu cepat? Seperti hendak turun ke perut, apa ini perasaan senang?
"Kenapa? Saya akan jadi Ayahmu sekarang" ucapnya datar.
Tuan Tomy hampir tidak bisa mengekspresikan keadaan dengan tepat, seperti kebanyakan CEO dingin dalam sebuah Novel, dan Ella menemukannya dalam kisah nyata yang ia alami.
"Pa pah!.." Lidahnya terasa kelu, bahkan Ella lupa bagaimana intonasinya saat memanggil kata Papah. Itu sudah lama sekali.
__ADS_1
"Katakan sekali lagi!"
"Papah.." Ella masih terbata bata, air mata pun keluar begitu saja.
"Terus katakan Nak!"
"Papah!" Kali ini Ella mengingat kembali nadanya, senyumnya mengembang diiringi air mata, bertepatan dengan itu Tuan Tomy menarik Ella dalam dekapnya. Dekap hangat seorang ayah, yang begitu Ella rindukan selama ini, Elusan lembut seorang Ayah yang Memberinya ketenangan, dan Ciuman kasih di keningnya, tanda begitu besarnya rasa sayang itu, tersalurkan lewat sentuhan.
"Maaf...Maaf" isaknya terdengar pilu, Ella merasa malu harus terlihat aneh begini di hari pertama mereka bersama.
"Sudah sudah, berhenti menangis, sekarang, masuklah ke kamar barumu dan nikmati semua yang ada disana, setelah itu turun untuk makan malam" Tuan Tomy melepas peluknya dan menghapus jejak air mata di pipi Ella.
Kali ini, Tuan Tomy tersenyum, menepuk nepuk kepala Ella kemudian pergi.
Lihat, Betapa mudahnya tuhan membolak balikan takdir, siapa sangka hidup Ella akan berubah dalam sekejap saja.
Ella membuka pintu dengan perlahan, kemudian berdecak kagum saat melihat betapa luasnya kamar ini, jika dibandingkan, keseluruhan rumah Aurora saja tidak seluas kamar ini, dengan siapa Ella akan tidur, menyeramkan sekali kalau dia tidur sendirian saja.
Tapi bukan hanya itu yang membuatnya tertarik, Ella membuka lemari besar yang di dalamnya tertata pakaian rapi dan tampak baru, semuanya terlihat bermerek dan Ella yakin semua itu bukanlah pakaian yang murah, ia pun mencoba beberapa dan ukurannya sangat pas di tubuhnya, seperti memang sudah di sediakan untuknya.
Setelah puas dengan pakaian, Ella tertarik pada rak buku, dimana buku buku tebal tersusun sempurma, tanpa ada celah diantara buku buku tersebut, Ella meraih beberapa buku di rak paling atas, buku tebal lebih dari lima ratus halaman, berisikan tentang kisah makhluk mitologi Yunani dan para dewa.
__ADS_1
Ella tidak memgerti kenapa di dalam kamar ini terdapat buku buku yang menurutnya aneh, yang dia dapat hanyalah buku tentang filosofi dan falsafat, yang sama sekali tidak Ella pahami. Yah, dia memang suka membaca, tapi hanya novel dan kumpulan dongeng saja. Membaca cerita rakyat ataupun legenda terlalu menggunakan bahasa yang rumit dan sulit di mengerti.
"Permisi!" tegur seorang pelayam menghentikan aktifitas Ella.
"Ya?
"Maaf mengganggu Nona, tapi Tuan memanggil anda untuk segera turun dan makan malam"
"Ah" Ella sedikit terkejut saat melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul delapan malam.
"Oke, aku akan turun" dengan terburu buru, Ella merapikan kembali buku buku itu ke rak dan bergegas, namun sesuatu melayang dari tempatnya menyimpan buku. Sebuah foto berukuran kecil yang jatuh dengan posisi terbalik.
Ella pun cepat mengambilnya dan menyelipkan foto itu diantara buku-buku lainnya.
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1