I'M Strong Cinderella

I'M Strong Cinderella
31. Kesepian


__ADS_3

Di kediaman Abra yang makin pekat nan sunyi, yang membuat telinga berdengung sakit saking senyapnya keadaan.


Abra memakai jaket kulitnya seraya berjalan menuruni anak tangga, langkahnya yang terburu buru mendadak terhenti saat melihat ke arah meja makan. Sudah lama sekali dia tidak makan malam bersama ibu dan ayahnya, Abra sendiri lupa kapan terakhir kali mereka makan malam bersama. Tapi melihat dari meja yang sudah berdebu itu menandakan bahwa mereka memang sudah lama tidak mengobrol.


Abra tahu mereka menyayanginya dan selalu tepat memberi uang bulanan, semua memang lebih dari cukup, tak apa jika tidak sama sekali, setidaknya ibu dan ayah ada untuk memberinya perhatian.


Dia pun kembali menaiki anak tangga, menyusuri lorong panjang yang di sisinya terdapat pelita pelita kecil untuk menerangi ruangan lembab ini.


"Dek!" seru Abra merasa lega saat dirinya membuka kamar Rapunzel dan melihat sosok mungil itu tertidur pulas, masuk ke dalam bunga tidurnya.


Abra mendekat dan menyelimuti Rapunzel sampai sebatas dada, tampak dirinya bergerak nyaman dalam balutan hangat itu. Ia kecup keningnya dengan lembut, dan memberi sentuhan penuh kasih dirambutnya.


Abra ingin memperlihatkan dunia padanya, Abra ingin rapunzel bisa menikmati sejuknya angin berhembus, cantiknya warna bunga, dan gemerlap kemegahan malam di langit sana, Jika tidak di siang hari, di malam hari pun tetap akan indah.


Tapi kapan Rapunzel mau, kenapa gadis itu tidak merasa penasaran, sepertinya, Jika dirinya tidak mengidap penyakit langka itu, Rapunzel tetap tidak mau keluar, berulang kali Abra tanyakan alasannya, jawabannya hanya satu, "Aku takut!"


"mungkin suatu saat nanti Kakak gak bisa terus sama kamu, kamu harus bahagia, kakak pengen kamu bisa lihat dunia di luar sana, kakak gak mau kamu menderita kalau kakak pergi duluan ninggalin kamu" jelas Abra bermonolog. Matanya berbinar, lemah dihadapan pelitanya.


"Kalau gitu, Aku yang bakal pergi duluan dan liat kakak bahagia sama Cinderella di atas langit, aku bakal jadi bintang dan bisa liat dunia dengan bebas" Sahutnya dengan mata yang masih terpejam, pura pura tidur lebih tepatnya.


Abra yang sedikit terkejut itu langsung menyentil dahinya gemas. "ngagetin!"


"Kakak!" Rapunzel bangun dari tidurnya, kemudian duduk di pangkuan Abra dan mengendus aroma parfum favoritnya. "wangi banget, mau kemana?"


"Ke rumah sakit, Cinderella koma karna kecelakaan"


"Koma?"


"Iya, Kakak izin sebentar ya!" dilepasnya tangan Rapunzel yang melingkar di pinggangnya, kemudian dia beranjak.

__ADS_1


"Dia bakal bangun sama ciuman cinta sejatinya" teriak Rapunzel sebelum Abra benar benar keluar dari kamarnya.


Menyebabkan pria itu kembali masuk dan bertanya. "Apa maksud kamu?"


"Iya, Cinderella itu kan putri, kakak pangerannya, dan mantra sekuat apapun akan patah karna cinta sejati, begitu kan kisahnya?"


Dahi Abra bergelombang, tak bisa mencerna apa yang bocah itu katakan, kebingungannya pun bertambah saat Rapunzel beranjak dan memegang tangannya. "Aku mau ikut kakak aja deh!"


"Serius?" tanyanya tidak percaya.


Rapunzel mengangguk pasti. "Tapi mau di gendong" sambil merentangkan tangannya ia tersenyum lebar.


***************


"Kok lama banget Sih!" keluh Aurora merasa kesal karna menunggu kedatangan Abra yang berjanji akan menjemputnya dan ke rumah sakit bersama.


Tapi hampir sejam menunggu, batang hidungnya tak kunjung kelihatan.


"Belum berangkat juga?" tanya nenek di ujung pintu.


"Iya nih, Abra kayanya lagi ada urusan"


"Maaf ya nak, Nenek nggak bisa pergi jengukin Ella, nenek hanya bisa berdoa buat kesembuhannya"


Aurora tersenyum tipis, mengetahui alasan nenek kalau dirinya tidak akan pernah sanggup berada di rumah sakit, karna beragam jenis jiwa jiwa kematian di sana akan menguras energinya.


Tiid!


Suara klakson mobil terdengar nyaring di kejauhan, dimana pria yang ditunggunya telah datang, memarkirkan mobilnya dan keluar bersama seorang bocah dalam gendongannya.

__ADS_1


"Rapunzel?!" gumam Aurora tak percaya, ia menyipitkan matanya untuk memastikan. hingga setelah mereka dekat, Aurora masih menajamkan tatapannya.


Tidak, bukan tatapan biasa, tapi suatu keanehan yang terjadi saat pandangan mereka tak sengaja bersirobok.


Apa ini? kenapa Aurora melihat bola mata Rapunzel berkilauan seperti embun yang terpantul cahaya matahari?


"Halo kakak cantik, kita ketemu lagi!" senyum Rapunzel polos.


Aurora balas tersenyum dan hanya melambaikan tangannya, "Gak papa di bawa keluar?" matanya beralih pada Abra.


"Gak papa kok, ini baru pertama kalinya dia keluar rumah"


"Oh gitu" senyum Aurora kaku. "Aku pamit ya Nek, mungkin pulang agak malem" Aurora memeluk nenek dan menghirup aroma sabun khasnya.


"Hati hati ya, kalian" senyum nenek melihat ke arah mereka secara bergantian.


Dan sama halnya seperti Aurora, saat mata berlamur nenek melihat ke arah Rapunzel, ia terpaku akan cahanya yang seperti mengalahkan rembulan di langit malam.


"Halo nenek, aku Shayla" sapa Rapunzel merasa tidak nyaman diperhatikan sedemikian rupa oleh nenek dan cucunya itu.


Justru hal itu yang membuat Abra bingung, kenapa Rapunzel berani memyebut nama aslinya, sementara dia sendiri benci nama itu!


"Semoga tuhan mempermudah jalan kalian" ujar nenek penuh harap, dan hanya Rapunzel yang mengerti maksud dari kata nenek sesungguhnya.


......................


...****************...


...----------------...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2