
Sejuknya pagi ini menjadi dua kali lipat karna hujan turun begitu derasnya, menghambat aktifitas mereka yang padat di pagi ini. tidak bagi seorang insan yang terbaring kaku di atas bangsal rumah sakit, setelah tenaganya di kuras habis malam itu, sekarang Ella masih tak bisa membuka matanya.
Ella dapat mendengar seseorang di sekitarnya yang menunggunya siuman. Orang itu mengelus rambutnya, lama. Setelahnya mendekatkan dirinya, mengecup dahi Ella, mencium kedua pipinya bergantian.
Terasa hangat, lembut, dan nyaman, lagi lagi dengan sentuhan tangan yang sudah di kenalinya itu, Ella merasa di beri kekuatan, ia dapat membuka matanya dengan perlahan.
Kesadarannya kembali, orang yang pertama kali dilihatnya adalah Abra.
Cowok yang dinyatakan sempat meninggal sebelum Ella kembali ke dunia ini.
"Tuan putrinya gue bangun!" senyumnya penuh haru. Makin di ciumnya Ella dengan penuh rasa syukur.
"Iwh!" ringis seorang bocah yang sedari tadi memerhatikan mereka.
"Aurora...." bisik Ella lemah. "Dimana Aurora?"
Abra terdiam, bingung. Tak mengerti apapun. "Aurora siapa?"
"Sahabat Gue!"
"Sahabat?" tanya Abra dengan nada aneh. "Lo gak punya sahabat yang namanya Aurora!"
Ella memejamkan matanya kembali, menetralisir rasa sakit di dadanya. Dia kira, semua yang di laluinya malam itu adalah mimpi terburuknya. Dia kira setelah dirinya terbangun di dunia ini, Ella akan kembali bersatu dengan sahabatnya, ia kira Ibu peri mengembalikan semua nyawa yang mereka ambil. Tapi tidak dengan Aurora.
kenapa Aurora mau mengorbankan jiwanya untuk Abra. Untuknya? Rela menghabiskan sisa umurnya, merelakan kebahagiaannya, dan membiarkan masa depannya? Kenapa Aurora sebaik itu?
"Kakak!" panggil seorang bocah memegang tangannya.
Ella membuka mata dan memaksakan tersenyum. "Rapunzel?" setidaknya ia merasa senang Rapunzel dapat kembali, Abra tidak akan sekacau saat dia kehilangannya.
"Siapa Rapunzel? Aku shayla, bukan Rapunzel" Koreksi bocah yang selalu keras kepala itu.
"hm-mh, Udah gak takut matahari sekarang?"
"Kakak ngomong apa sih?" tanya Shayla tidak mengerti.
__ADS_1
Abra yang sama bingungnya segera menarik selimut Ella sampai sebatas dada. "Lo mending tidur, istirahat!"
"Jangan dulu!" Ella menyingkirkan selimutnya gerah. Otaknya yang panas menyebabkan tubuhnya berkeringat.
"Dimana Papah? Talisa?" tanyanya meyakinkan. "ibu tiri juga?"
"Mereka ada, Cinderella. Lo jangan khawatir, Papah Lo, ibu tiri Lo dan kedua kakak tiri Lo, bakal ke sini jengukin Lo, seneng kan?"
Hampir tidak percaya, Ella mencoba bangkit dari ranjangnya namun segera di tahan Abra.
"Eits, jangan bangun dulu, Lo masih sakit" cegahnya.
"Ibu tiri gue? Kakak tiri? mereka masih hidup? Ibu tiri gak meninggal?" tanya Ella berbondong bondong.
"Lo gak inget? setelah Perjuangan Lo yang kembali ke rumah ibu tiri Lo, setelah Lo mohon-mohon dan berusaha mencairkan hati ibu tiri Lo, dia akhirnya luluh juga dan minta maaf sama Lo, dia nangis dan meluk Lo setelah tau Lo kecelakaan" jelas Abra panjang lebar
Bagai mendengar petir di siang bolong, Ella sangat terkejut, dapat menyadari satu hal, jika setelah kecelakaan itu Ella bukan terbangun di dunianya yang sudah hancur, Ella berada di dunia paralel yang ia sendiri ciptakan karan kelalaiannya, setelah berhasil melewati dunia itu, Ella kembali ke dunia happy ever after yang nenek janjikan.
Di sinilah Ella sekarang, di penghujung kisahnya, tanpa Aurora yang tak bisa mengubah takdir karna waktunya sudah habis .
Ella hanya menggelang pelan, percuma saja, seberapa banyak pun Ella menjelaskan, Abra tetap tidak akan mengerti. Nama Aurora sudah terhapus dalam ingatan mereka semua.
TAP!
TAP!
Tap!
Langkah beberapa orang terdengar ramai dan berhenti tepat saat membuka pintu kamar Ella.
Memperlihatkan Tuan Tomy yang pertama kali masuk, kemudian Talisa, di ikuti oleh ibu tiri dan kedua putrinya.
"Ella!" sapa Ibu tiri dengan suara halus yang baru Ella dengar seumur hidupnya. "Maafin mamah sayang!" dia menangis, penuh penyesalan.
Ella tak bisa menahan kebahagiaan yang terasa akan meledak di hatinya, ia berusaha bangkit, duduk, dan memeluk ibu tiri dengan erat. Ella menangis, terisak, bahagia, senang, sedih, rindu, bersatu padu memenuhi ruang hatinya.
__ADS_1
"Makasih mah...." Ella tak bisa berkata kata lagi. Dia terlena akan sentuhan lembut tangan ibu tiri di kepalanya.
Meski sekelebatan melihat bayangan ibu tiri yang seperti penyihir malam itu, sekarang Ella sama sekali tidak melihatnya ada dalam ibu tiri.
Dia sudah berubah, ibu tiri adalah manusia berhati nurani, sihir hitam di dalam dirinya hilang sekarang.
"Gue rasa, gue minta maaf juga, punya adik baik kaya Lo kita untung kayanya" senyum Angela menyodorkan telapak tangan kanan.
"Ya, bener!" sahut Arsyla setuju.
Mereka pun berjabat tangan damai.
"Ayo kembali ke rumah kita sayang, Mamah akan mengembalikan hak waris ayahmu sama kamu, karna kamu yang lebih berhak buat semuanya"
Ella tersenyum dan menggelang. "Yang penting kita bisa sama sama lagi!"
"Itu artinya, kamu nggak akan tinggal bareng Papah lagi" sahut Tuan Tomy merasa kecewa.
Baru saja ia menemukan putrinya, menemukan Ella sebagai pengganti Kiran, kini dia harus pergi lagi.
"Pah...Aku kenal suster Kiran" senyum Ella membuat pupil mata Tuan Tomy membesar setelah mendengarnya.
"Papah jangan sedih, jangan khawatir, Suster Kiran nggak menyesal meninggal di hari itu, Suster Kiran nggak mau Papah sedih, Suster Kiran sayang sama Papah, dan aku...Aku tetap bakal jadi anak Papah, Aku akan sekolah, Kuliah, dan menjadi Dokter kemudian membuat Papah bangga"
Mereka pun saling tersenyum, penuh haru biru, tanpa dendam, iri, ataupun kebencian, hanya ada ketenangan yang terpancar dalam diri mereka masing masing.
Terimakasih Aurora!
Jika bukan karna dirinya, Ella tidak akan mengakhiri kisahnya menjadi happy ending.
......................
...****************...
...----------------...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...