I'M Strong Cinderella

I'M Strong Cinderella
40. Sepasang sepatu


__ADS_3

Malam ini, Ella memaksa kedua sahabatnya untuk datang, ia tak menerima alasan apapun, dan sedang menunggu mereka di taman belakang rumah Tuan Tomy.


Dua jam ia menunggu, tapi suara langkah mereka masih belum terdengar juga. Ella kesal, marah, dan bosan. tapi terpaksa sabar, beberapa kali ia menghela napas berat, bersandar di kursi dan memejamkan mata. Hingga akhirnya langkah mereka terdengar juga.


Ella membuka matanya dan berniat untuk memarahi mereka, namun tertahan saat melihat hanya Abra yang datang dengan peluh yang bercucuran di pelipisnya, napasnya pendek-pendek akibat berlari.


"Maaf gue telat, dan gak bisa dateng bareng Aurora, dia pulang malem katanya" Jelas Abra dengan nafas tersengal sengal.


Ella mengerutkan alisnya "Pulang malem? Dia kerja part time?"


"Iya, dia harus cari nafkah sendiri, karna neneknya udah meninggal"


Demi mendengar hal itu, Jantung Ella terasa berkedut, nyeri rasanya, kenapa mimpi buruknya masih belum berakhir? Padahal dia sudah terbangun.


"Jangan terlalu di pikirin La" menyadari kondisi fisik Ella melemah, Abra segera menopang tubuhnya.


Pria itu duduk bersimpuh, tangannya bertumpu pada paha Ella, wajahnya mendongak dan mata mereka saling bertatapan.


"Gue mau nanya, apa Rapunzel juga meninggal?"


Bola mata Abra bergerak kesana kemari, kemudian cairan bening terbendung di pelupuk matanya. "Iya, setelah kejadian itu gue mutusin buat pergi dari rumah, makannya gue jadi gembel gini"


"Kenapa?"


Pertanyaan yang menuntut untuk sebuah penjelasan terkadang memberatkan hati seseorang, sehingga Abra hanya bisa menggelang, wajahnya sudah jatuh ke pangkuan Ella .pria itu melingkarkan tangan di pinggulnya dan menangis tanpa suara.


"Selama apa gue gak sadar di rumah sakit? Sampe.gue gak tau apa apa tentang Lo sama Aurora?"


Abra masih dalam dekapannya, Enggan menjawab, Ella pun tak tega untuk memaksa, dia membiarkan pria itu terbenam di balik perutnya. Mengelus rambut Abra untuk menenangkan.


Semua berbanding balik dengan hatinya, Begitu gusarnya keadaan ini, Ella merasa sangat bersalah. "Lo gak bisa kaya gini, Aurora suka sama Lo"


Abra mendongak, alisnya bergelombang. "Apa?"

__ADS_1


"Aurora suka sama Lo" ulang Ella lebih tegas, mereka tak menyadari keberadaan Aurora yang entah sejak kapan memerhatikan dari kejauhan.


"Tapi Gue sukanya sama Lo, gue cuman anggap Aurora temen"


Aurora menipiskan bibirnya, dia ikhlas, dia rela, dia tabah. Karna itu, sejak awal dia memendam rasa pada Abra.


"Maaf gue telat" Ucap Aurora begitu dia menghampiri mereka.


Abra yang merasa canggung dengan posisinya yang seperti itu segera bangkit, menghapus jejak air matanya dan duduk di kursi sebrang Ella.


Sekarang ketiganya duduk melingkar di depan kursi bulat yang kecil, di temani secangkir teh hangat, dan pemandangan langit yang indah, alam memang suasana yang cocok untuk bertukar pikiran.


"Jadi kita bahas darimana dulu?" tanya Ella setelah keadaan canggung beberapa saat, sampai ia menghabiskan segelas teh hangatnya.


"Simpelnya gini aja, Gue sama Aurora udah nemu toko barang antik itu lagi, dia muncul setiap 6 jam sekali di waktu yang tepat" jelas Abra membuat Ella tersenyum senang.


"Berarti Lo nemu petunjuk dong di sana?"


"Tapi seengganya kita tau kalau toko ghaib itu muncul di waktu waktu tertentu" tambah Aurora kemudian menyeruput tehnya.


"Oke, tinggal sepatu kacanya, gue harus ke rumah ibu tiri besok!"


"Jangan!" seru mereka serentak.


"Kenapa?" tanya Ella tidak mengerti.


Sebelum menjawab, Aurora bertukar pandang dengan Abra. Banyak sekali rahasia diantara mereka. Membuat Aurora cemburu dan berpikir buruk, tapi lepas dari itu, mereka terlihat seperti sepasang sepatu, yang meskipun tidak bisa berjalan bersamaan, tapi saling mengiringi langkah dan sampai di tujuan yang sama.


"Tapi Lo jangan terkejut ya kalo gue cerita!" Aurora menggenggam tangan Ella kuat, berharap gadis itu masih berekspresi seperti sekarang setelah mendengar kisahnya.


Ella mengangguk cepat. "Iya, pelan pelan aja"


"Sebenarnya, Ibu tiri Lo yang bunuh nenek kita!"

__ADS_1


"APA?!" Saking syoknya Ella sampai berdiri dari kursi dengan mata melotot dan wajah memerah.


"Saat itu...." Aurora tertunduk, menutup mata dan mengingat masa kelam itu.


...*****Flashback*********...


Tidak tahu ada apa dengan langit sore itu yang mendadak redup, langit memutih nampak pias, Bahkan angin tak berhembus, Alam menjadi pertanda kegelisahan Aurora yang masih berada dalam perjalanan pulang.


Mempercepat langkahnya dengan rasa khawatir yang teramat sangat. Hingga akhirnya, rasa khawatir itu berubah menjadi perasaan takut dan terkejut, saat melihat di hadapannya nenek sudah tergeletak tak berdaya, tanpa adanya luka apapun di tubuhnya, tapi nenek terlihat sangat kesakitan.


"Nenek kenapa?" teriak Aurora berlari menghampiri nenek.


Sebelum akhirnya meninggal, nenek membisikan sesuatu ke telinga Aurora. "Cepatlah sebelum terlambat!" Telunjuk Nenek bergerak dengan perlahan, bola mata Aurora pun mengikuti kemana arah telunjuk nenek.


"Nyonya Kalia?" tanya Aurora tak percaya, pupil matanya membesar begitu melihat Aura hitam yang terpancar dari tubuhnya, seperti gumpalan asap hitam, yang membuat wanita itu berdarah dingin.


"Bagaimana? Kamu terkejut?" seringai jahat Nyonya Kalia.


"Salah nenek apa sampai Nyonya berani membunuhnya?"


"Wanita tua itu tidak akan bisa mengajarimu banyak hal lagil, dia sudah cukup merepotkanku belakangan ini"


Tangan Aurora mengepal kuat. "Anda harus bertanggung jawab!"


Nyonya Kalia masih mempertahankan seringainya. "Berapa kesempatan yang kamu punya untuk menyelamatkan orang-orang? tapi sebanyak apapun, kemampuan kamu pasti ada batasnya, setelah itu, tidak akan ada yang bisa menyelamatkan sahaba tercintamu dari maut"


Kepergian Nyonya Kalia Aurora biarkan begitu saja, ia tidak bisa mencegah ataupun menyerangnya, dia kembali pada nenek yang sudah tak bernyawa.


"Maaf...."


...***Flashback end*****...


****

__ADS_1


__ADS_2