I'M Strong Cinderella

I'M Strong Cinderella
46. Terkutuk


__ADS_3

Masih di ruang bawah tanah, Ella sedang berjuang mendapat jalan keluar, tak peduli seberapa jauh lorong yang di tempuhnya, sekalipun tak memiliki ujung, Akan tetap Ella lalui sampai ia mendapatkan akhir hidup yang bahagia.


Ia harus bertanggung jawab, Dia harus bisa mengurangi kekejaman ibu tiri, dia juga harus bertanggung jawab atas kepergian neneknya Aurora, atas kepergian rapunzel, atas kebahagiaan Aurora, atas perjuangan Abra, dan semua orang orang yang akan menemaninya di masa depan.


"Kamu butuh bantuan?" sebuah pelita menyala dari kejauhan, cahayanya semakin dekat dan menampilkan sosok misterius Rapunzel, bersama suster Kiran. Kali ini membuat Ella dua kali lipat takut, mengetahui jika keduanya sudab meninggal.


"Kami akan menerangi jalanmu!" senyum Suster Kiran meski wajahnya sedikit kaku.


"Nggak!" Langkah Ella mundur, ia memejamkan matanya kuat "Kalian orang orang yang udah meninggal, jangan ganggu aku"


"Jasad kami mungkin sudah terkubur nona, tapi urusan kami di dunia belum selesai, karna itu kami masih ada di sini memaksakan kehendak" jelas Suster Kira.


"Terus apa hubungannya sama aku? Aku cuman anak angkat ayahmu"


Suster Kiran mengulum senyum halus. "Bantu bilang sama ayah, jangan ngerasa terpukul karna kepergian aku, jangan terus bersedih saat inget aku, aku ngga bisa tenang kalau ayah sedih, bilangin juga kalau aku nggak menyesal meninggal di hari pertama aku metik buah kesuksesan aku, aku pergi tanpa beban apapun, bilangin juga kalau aku sayang sama ayah" tangis Suster Kiran tak terbendung lagi.


"Ella, kamu anak yang baik, aku percaya kamu bisa ngobatin rasa kehilangan ayah dan buat ayah bangga, jadilah seorang dokter di masa depan" ucapnya lagi.


Ella mengangguk dan tersenyum penuh haru. "Kalau aku hidup, aku pasti sampaikan salam Suster sama Papah"


"Kamu hidup kok, Ayo!" ajak Rapunzel memimpin jalan. Di iringi oleh Ella dan juga suster Kiran di belakangnya. Dua ruh yang membantunya, konyol bukan?.


"Terus kamu, kenapa kamu masih di sini Rapunzel?"


"Seharusnya aku memang belum pergi secepat ini, malam itu jauh sekali dari prediksi ku, saat ayah dan ibu tiba tiba bawa aku secara paksa dari pelukan kakak, aku di sekap, di pasung, kemudian seluruh tubuh aku di cabik cabik sampai aku meninggal, padahal aku masih mau tidur di pelukan Kakak"


Sudah tak bisa di jabarkan lagi, rasa sakit mereka, hanya karna sepatu kaca itu, imbasnya amat besar untuk orang orang yang Ella sayangi. Hidup mereka semua hancur seperti kepingan kaca.


"Apa hidup kalian bakal berubah kalau sepatu kaca itu kembali ke toko barang antik?" tanya Ella penasaran.


"Tentu saja, tapi kalau kamu gagal, kamu akan berakhir dengan tragis"


...*****************...

__ADS_1


Aurora dan Abra baru saja tiba di kediaman Ella, mereka langsung mengincar sisi tersepi di bagian rumahnya, yaitu bagian belakang. Di mana Bibi Rosy sibuk menyingkirkan dua pot tanaman besar yang sangat berat.


"Permisi!" sapa Aurora merasa ragu.


"Kalian siapa?" tanya Bibi Rosy was was.


"Aku Aurora, temennya Ella, apa Anda Bibi Rosy?" tanya Aurora pangling, karna bibi Rosy makin menua seiring berjalannya waktu.


"Ah, bisa bantu saya menyingkirkan Pot ini?" Bibi Rosy tak menggubris dan hanya butuh bantuan mereka saat ini.


Walau tidak mengerti apa yang sedang Bibi Rosy coba lakukan, Aurora dan Abra bergegas membantu, menyingkirkan pot itu dan memperlihatkan sesuatu di sana.


Bibi Rosy menggali tanah dengan tangannya, tidak begitu dalam, sampai memperlihatkan sebuah pintu yang terbuat dari seng, yang sudah berkarat, begitupun dengan engselnya.


Sesuatu terdengar mengetuk ngetuk pintu itu dari dalam. Di situlah mereka semua menyadari dan berpikiran sama, termasuk Abra yang kekuatannya meningkat, dengan serentak, mereka mencoba menarik pintu itu.


BRAK!


Lepas dengan engselnya, berhembuslah angin dingin dan debu yang berterbangan dari balik pintu itu. Lalu keluarlah Sosok Ella, yang sudah lemas dan tak berdaya.


"Nona Muda, Nona baik baik saja? katakan sesuatu!" Tanya Bibi Rosy khawatir, dia cepat mengambil kotak obat dan mengobati serta membersihkan luka Ella.


Gadis itu masih lemah, dia hanya bisa menatap bibi Rosy dengan mata sayu, kemudian pada kedua temannya yang selalu ada, Ella ingin menangis dan memeluk mereka, tapi terisak saja tak bisa. Hanya memaksa senyum tatkala Abra membersihkan debu debu di wajahnya dengan lembut.


"Kita harus laporin ini ke polisi, biar ibu tiri Lo Jera!" kesal Abra sudah tak bisa di tahan lagi.


Ella menggelang lemah, bagaimanapun ia tidak ingin ibu tirinya menderita di masa tua, sudah cukup masa mudanya direnggut oleh penderitaan.


"Bibi..." Ucapnya lirih, Ella menggenggam kuat tangan bibi Rosy.


"Iya Nona?"


"Bibi yang menyimpan sepatu kaca itu kan?"

__ADS_1


"Iya, sepatu kaca yang nona cari, hanya Bibi yang tau dimana tempat sepatu itu tersimpan"


"Apa?" tanya Aurora dan Abra hampir bersamaan.


Mencelos sekali perasaan mereka setelab mengetahui hal itu, tak terkecuali Ella yang amat mengutuk kebodohannya, karna keteledorannya Semua jadi seperti ini, bahkan jika Rapunzel tidak memberitahunya tadi, Ella masih tidak akan berfikir jika sepatu kacanya ada di tangan Bibi Rosy.


Kemudian bibi Rosy berjalan ke arah lemari pakaiannya, menggeser lemari itu dan lagi lagi mendapat hal luar biasa, saat tangan Bibi Rosy mengorek dinding, tampaklah kotak kayu berukuran sedang di antara dinding dinding itu, Bibi Rosy pun mengambil kotak kayu itu beserta kunci untuk membuka gemboknya.


Membawa ke arah mereka dan membukanya, memperlihatkan kilauan cahaya putih kebiruan yang indah di dalamnya. Mirip sekali dengan yang pernah Ella lihat bersama Aurora sebelumnya.


"Sepatu itu milik siapa Bi?" tanya Ella.


"Tentu saja milik Nona, kalau tidak salah, Tuan Regan membeli ini dari seorang nenek pengrajin kayu yang suka menjual hasil pahatannya di tepi jalan" Bibi Rosy mengeluarkan sepatu kaca itu dengan hati hati.


"Tuan Regan bilang, ini sangat mahal, walaupun hanya sebelah, dan beliau ingin menghadiahkan ini saat Nona berusia delapan belas tahun"


kurang lebih, butuh waktu enam bulan lagi karna saat ini Ella masih berusia 17 tahun enam bulan


"Bibi tidak memberi tahukannya karna larangan Tuan Regan, bahkan Tuan Regan ingin merahasiakan ini dari Nyonya Kalia, Bibi pikir, setelah terusir dari rumah ini sekalipun, bibi tidak akan memberi tahunya pada Nyonya Kalia" lanjutnya.


"apa lagi yang bibi tahu tentang sepatu kaca itu" Ella makin penasaran.


"Bibi hanya mendengar, kalau Nona sudah besar nanti, Nenek itu akan memberikan sepasang sepatu kacanya pada Nona, bahkan saat itu, Nona saja masih ada dalam kandungan Nyonya Tiana" jawab bibi. "Dan karna itu juga, Tuan Regan memberi Nama Cinderella pada Nona"


Ketiganya saling pandang bergantian. "Kita berpikiran yang sama?" tanya Ella memecah keheningan.


Kedua temannya mengangguk, setuju kalau nenek yang bibi Rosy maksud adalah nenek penjaga toko itu, bahkan hidup Ella memang sudah di kutuk sebelum dia lahir, mungkin jika sepatunya tidak pecah, sejak saat itu Ella sudah menemukan kebahagiaannya.


......................


...****************...


...----------------...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2