
Setelah menceritakan banyak hal, Bibi Rosy kembali bekerja supaya tidak mengundang kecurigaan Nyonya Kalia.
"Kita harus ke toko barang antik itu tengah malem sekarang!" ucap Ella meyakinkan diri.
"Tapi mobil Gue di sekolah!" sahut Abra membuat Alis Ella berkerut.
"Lo? masih ada mobil? katanya gelandangan?"
"Ella...."ringis Abra ingin sekali menjitak kepalanya saat ini juga.
"Bercanda, hehe" cengir Ella dipaksakan. "Ambil sana, Lo mau berangkat ke toko itu ngesot? ya kali suster ngesot"
"Tapi gue gak mau ninggalin Lo" elak Abra serius.
"Ya elah, buruan!, gue bisa jaga diri"
"Gak, gue gak mau, Aurora aja, nih kuncinya!" Kukuhnya kemudian melempar kunci mobil pada Aurora.
"Yang bener aja, gue baru kali ini megang kunci mobil"
Abra melongo. "Asli?"
"Lo aja kenapa sih!" Aurora menarik tangan Abra dan mendorongnya keluar. Pria berisik itu benar benar mengganggu.
"Eh, bentar!" Abra kembali masuk, menghampiri Ella, menyentuh kepalanya amat pelan, dan mendaratkan ciuman di dahinya. Melakukannya sedikit lama, dengan perasaan yang penuh cinta.
Kembali memberikan goresan di hati Aurora, tapi bukan itu yang Aurora pedulikan, dia terpana akan ketulusan pria itu. Lagi lagi, sebuah sinar ketulusan muncul dari diri Abra, menyalurkan sinar yang menjadi kekuatan pada Ella lewat ciumannya,
"Lo..." Ella menyentuh dahinya, tidak megerti mengapa ia tidak pernah menolak sentuhan Abra.
Tanpa berkata apapun, Abra cepat keluar dan menghilang meninggalkan jejaknya.
Dan yang di lakukan Aurora adalah memegang pundaknya, sentuhannya seakan memberi tahu kalau Aurora ikhlas, meyakini perasaan hatinya hanya sebatas cinta monyet, menjelaskan pula bahwa cinta merekalah yang sejati. Aurora akan menunggu seratus tahun untuk bisa mendapatkan ciuman cinta sejatinya, tak apa jika memang harus selama itu, ia akan menanti pangerannya.
__ADS_1
"Nama Lo juga kutukan Ra, mesti nunggu seratus tahun buat di cium" kekeh Ella menepuk pundak Aurora juga.
"Beda jauh Banget, Aurora yang ada dalam dongeng itu seorang putri yang kehadirannya di nantikan rakyat, dia hidup dengan dilimpahi sihir baik oleh para peri, hidup bahagia sama kedua orang tuanya, meski pada akhirnya harus tertusuk jarum karna kutukan penyihir jahat dan mengalami tidur panjang. dan hanya ciuman seorang pangeran yang bisa mematahkan kutukannya, sementara penyihir itu bilang kalau tidak ada seorang pun pangeran yang mencintainya, tapi semua itu salah, takdirnya nggak gitu, Aurora punya ending yang bahagia dan bisa bangun lagi dari tidur seratus tahunnya"
Mendengar penjelasannya Ella terharu, rupanya Aurora juga tau banyak tentang kisah kisah putri Disney yang mungkin begitu melegenda dan di kenal ribuan bahkan jutaan orang di dunia ini.
"Tapi kisah gue konyol, Seorang Aurora yang mengalami koma bertahun tahun, nggak punya orang tua, ngerebut ayah Cinderella, tinggal sama nenek tua yang bahkan sekarang gak bisa gue lindungin" air matanya meluncur dengan bebas.
"Maafin gue!" Sama tak sanggupnya, Ella merangkul Aurora dalam peluknya. "Gue udah jadi parasit di kehidupan Lo, gara gara gue semuanya jadi kaya gini"
"Stop it!" Aurora menghapus air matanya, mereka saling menguatkan. "Tinggal sebentar lagi, kita bahagia, semangat Oke?"
"Makasih" meski tidak tahu malu, hanya itu yang bisa Ella katakan padanya.
*************
Waktu bergulir dengan cepat, tinggal menunggu dua jam lagi untuk menyempurnakan tengah malam.
Seharusnya mereka pergi sejak satu jam yang lalu, tapi terdapat suatu kendala yang terjadi pada Abra sehingga pria itu telat menjemputnya.
"Udah waktunya La" ucap Aurora begitu membaca pesan yang di kirimkan Abra.
Ella pun bersiap, berpamitan terlebih dahulu pada bibi Rosy yang hanya bisa mendoakan karna dia tidak mengerti apa apa.
"Ella pergi ya bi" Pamit Ella kemudian berlalu setelah memberi dekapan hangat pada pengasuhnya.
Aurora mengikuti dari belakang, mereka berjalan mengendap ngendap, kotak kayu berisi sepatu kaca itu berada di pelukan Ella dengan erat, takut sewaktu waktu ibu tiri memergoki mereka.
Tapi sejauh ini aman, sebentar lagi mereka akan melewati gerbang kecil yang jaraknya tinggal beberapa meter lagi.
"Ella Awaas!" teriak Aurora refleks mendorong Ella begitu melihat seseorang berjubah hitam di sampingnya hendak menyerang Ella.
"Siapa kamu?" tanya Ella was was, dia semakin memelur erat kotak kayunya.
__ADS_1
"Berikan sepatu itu!" Wanita itu membuka tudung jubahnya, memperlihatkan seringai ketakutan dari wajah ibu tirinya.
"Mamah?!"
"Berikan sepatu itu!" Nyonya Kalia berjalan mendekat, dengan pisau yang mengkilat tajam dalam genggamannya.
"Nggak Mah"
"Mamah gak akan biarin kamu hidup bahagia" wajahnya terlihat semakin mengerikan, makin mendekat dan mengangkat pisau di tangannya siap menyerang Ella.
Gerakannya cepat sekali, bahkan Ella tak sempat menghindar, dia hanya memejamkan mata dan merapalkan doa doa dalam hatinya.
DUGH!
"Awwsh!" tiba tiba Nyonya Kalia meringis dan menyentuh kepalanya yang berdarah akibat lemparan batu dari arah belakangnya.
Semua pun menoleh ke sumber terlemparnya batu itu dan melihat sosok Abra yang auranya berbeda malam ini.
DUAAAR!
Tiba tiba petir menyambar mengejutkan mereka, hujan pun turun seperti di tumpahkan dari bak raksasa di langit sana.
Saat semua tak fokus karna cuaca buruk ini, Ella menarik tangan Aurora untuk melarikan diri dari Ibu tiri.
Tapi terlambat, secepat kilat Nyonya Kalia bergerak, dan berhasil merebut kotak kayu dalam genggaman Ella.
"Jangan Mah!" pinta Ella dengan wajah memelas, tidak bisa di bayangkan bagaimana jika sepatu itu hancur lagi. Ella akan mati sekarang juga.
......................
...****************...
...----------------...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...