
Hari hari berjalan berlimpah kebahagaiaan setelah guntur saling menyambar di kehidupan Ella. Ia hidup bahagia bersama Ibu tiri dan kedua kakak tirinya, juga bibi Rosy, Ella bersekolah seperti biasa, memulai tahun ke tiganya SMA dengan penuh kebahagiaan, ambisi dan cita cita.
Meskipun begitu, Ella tetap hidup dalam kesederhanaan, dia tetap berangkat sekolah menggunakan bus karna sudah jadi kebiasaannya. Dan banyak sekali hal hal yang penuh cerita saat berada di dalam bus, entah itu berkenalan dengan orang baru, berbagi cerita dengan orang yang berbeda sekolah, ataupun hal konyol dan mengejutkan lainnya.
Seperti pagi ini, Saat seorang supir bus mengerem dengan mendadak karna jalan yang di laluinya terkena hambataan.
CEKIIIT!
JEDUK!
Sebagian orang yang bergelantungan karna tak mendapat tempat duduk jatuh saling menubruk, tak terkecuali Ella yang tidak kuat berpegangan dan menabrak seorang siswi di sampingnya.
"Maaf, gue kurang kuat pegangan!" ucap Ella kembali berdiri dan merapikan seragamnya.
"Gak papa Kok" jawab Suara itu seketika membuat Ella terpaku dan langsung menatap ke arahnya.
"Aurora?" matanya membulat saat menangkap sosok Aurora yang terlihat lebih rapi di hadapannya, gadis cantik dengan rambut panjang se punggung, menggunakan kacamata besar yang terlihat longgar, Rambutnya di kucir seperti ekor kuda. Dia tersenyum ke arahnya sambil menyodorkan telapak tangan kanan.
"Btw, nama Gue Rara!"
Ah, sepertinya Aurora bukan ibu perinya lagi, dia terlahir menjadi Rara yang sepertinya anak kesayangan Mama dan Papa, terlihat dari tas pink dalam gendongannya, pita rambut yang tersemat di rambutnya, juga senyum manisnya yang tampak bahagia.
Tapi, Ella harus menerima kenyataan bahwa Aurora tidak mengenal dirinya lagi.
Ini dunia barunya, ingatan barunya, juga hidup barunya.
"Gue Cinderella, Ella!" senyumnya kemudian menyambut tangan Aurora.
"Kaya dongeng anak aja nama Lo, keren" puji Rara benar benar lupa padanya.
Ella hanya tersenyum meringis. "Iya hehe"
"Kayanya kita di sekolah yang sama Nih" senyum Rara ketika melihat logo sekolah mereka yang sama.
"Iya, Lo murid baru ya? di kelas mana?"
"IPS 4!"
Ella tersenyum senang. "Kita sekelas!"
__ADS_1
"Wah kebetulan, Lo bisa jadi temen pertama gue"
"Iya, kita bisa temenan lagi kaya dulu" jawab Ella penuh harap. Dia percaya jika waktu akan menyembuhkan semuanya. dan mengembalikan Aurora secara perlahan.
*************
Di dunia ini, ada beberapa orang yang sudah merencanakan takdir, ada juga orang yang mengikuti alur kehidupan yang di jalaninya. Dan juga ada orang yang berusaha melawan takdir. Mengubah takdir mereka menjadi sesuai keinginan.
Tentu semua itu adalah pilihan mereka
Terkadang, ada hal yang tidak kita mengerti di kehidupan kita sendiri, tentang bagaimana kita lahir, tentang bagaimana kita bisa hidup dalam rahim ibu yang gelap, tanpa oksigen, tanpa ruang bebas, tanpa jendela, dan tanpa makanan.
Begitupun dengan hidup Ella sekarang, tentang bagaimana semuanya bisa berubah.
Rapunzel yang hidup kembali, bahkan sinar mentari menyentuhnya tak membuat dia merasa sakit ataupun sensitif.
Tentang Abra yang bisa hidup kembali!
Tentang Aurora yang berkorban
Tentang Rara yang terlahir kembali
Kakak tiri yang berubah
Mungkinkah, Ella baru juga terlahir kembali?
Ah, sulit memahami semua ini, Ella hanya mensyukuri hidupnya sekarang, hidupnya yang bahagia, di kelilingi oleh orang orang yang ia sayangi dan menyayanginya.
"Ayo kita mulai semuanya dari awal!" Seru Ella mengangkat sebuah lentera di tangannya.
Yah, mereka sedang berkumpul malam ini, di padang rumput yang menghijau, di hiasi lentera lentera harapan yang mulai terbang menerangi langit malam.
"Apa harapanmu kakak?" tanya Rapunzel begitu lentera miliknya terbang ke udara.
"Hidup bahagia selamanya" jawab Ella tersenyum lebar. "Kalau kamu?"
"Bisa terus melihat cintamu dan..." Rapunzel menarik Tangan Abra, menyatukan tangan besar lelaki itu dengan tangan Ella. "Kakakku!"
Cling!
__ADS_1
Ella terpana, saat melihat suatu ke anehan pada diri Rapunzel, gadis itu, selalu memberinya banyak kejutan.
Namun belum sempat Ella bertanya, Rapunzel mengedipkan sebelah matanya, memberi isyarat agar Ella tidak mengatakan apapun tentangnya.
Ella hanya bisa mengangguk dan tersenyum, kemudian beralih pada Abra yang sudah menatapnya penuh cinta.
"Tangan Lo dingin!" ucap Abra dengan wajah datar hampir tanpa ekspresi.
"Makasih!" Senyum Ella tak pudar "udah berjuang buat gue, udah sayang sama gue"
Seketika Abra membeku saat Ella mengecup sekilas bibirnya. Dia terlalu berani, terlalu mendadak, dan mengejutkan. "Gue gak bakal marah kaya Lo marah ke gue kok!" cengirnya kemudian menarik Ella dalam peluknya.
"Gak, gue gak mau di peluk!" Ella mendorongnya risih, Lalu beralih pada Rara, dan menggenggam tangannya erat.
"Aurora...Mulai saat ini, apapun yang Lo minta, gue bakal kasih, sekalipun itu nyawa gue!" ucapnya bersungguh sungguh.
"Gue Rara!" koreksi Rara kesal karna Ella selalu salah menyebut namanya.
"Iya, Rara, salam buat nenek Lo ya!"
"Lo mabok ya? Lo gak inget kalau nenek gue meninggal karna penyakit jantung? Dan gue di kembaliin sama ortu gue!"
Entah kejutan apa lagi itu, Ella hanya bisa tersenyum.
Ini dunia barunya, teman teman barunya, semua serba baru untuknya, Ella akan menjalani hidup yang penuh tawa dan tangis kebahagiaan.
Ia akan menulis takdirnya!
Karna setiap orang berhak menulis takdirnya sendiri
...T-A-M-A-T ...
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1