
Hal yang cukup mengejutkan bagi Ella saat dirinya tiba di depan meja makan, dimana tuan Tomy ikut sibuk menyiapkan makan malam mereka, dan lebih membuatnya terharu lagi saat para pelayan itu juga duduk melingkar di meja makan yang sama. Tanpa rasa sungkan mereka bersenda gurau dengannya.
"Silahkan nona, duduk di samping tuan" sahut seorang wanita yang masih terlalu muda untuk jadi asisten rumah tangga. Gadis sebayanya.
Dengan ragu Ella melangkahkan kaki dan duduk di samping tuan Tomy, di sediakan piring olehnya dan di tawari berbagai macam lauk yang tersedia.
"Kamu mau apa?" Tanyanya sebelum mengambilkan makanan.
"Mmm..." Ella berfikir agak lama, canggung sekali rasanya, apalagi tatapan aneh para pelayan disampingnya membuat Ella sedikit terganggu. "Sama aku aja" akhirnya ia mengambil makanannya sendiri.
"Jadi nona ini berasal dari keluarga bangsawan ya?" Tanya wanita muda itu saat mereka mulai menyantap makanannya.
"Aku? Aku cuman orang sederhana, pekerjaan almarhum Papah cuman seorang pengusaha biasa" jawab Ella seadanya, karena hanya itu yang dia tahu.
"Tapi melihat dari penampilannya, nona terlihat seperti berasal dari keluarga terpandang, saya melihat aura nona sangat berbeda" katanya terang terangan sekali.
Ella terdiam, memikirkan kata "aura" yang pelayan itu maksud, kenapa bisa perkataan sesederhana itu melekat di hatinya.
"Talisa, Saya udah kasih peringatan untuk tidak mengobrol saat makan" tegur tuan Tomy dengan tegas.
Oh, Talisa namanya, sungguh unik, dan membuat Ella tertarik pada wanita itu.
Setelahnya, makan malam berlangsung tanpa percakapan lagi hingga akhirnya selesai.
"Ella, Papah ke ruang kerja dulu, masih ada sesuatu yang harus di selesaikan, oh ya, piring kotornya tinggalin aja, kamu masuk kamar dan istirahat', besok sekolah kan? Papah anter" ucapnya kemudian beranjak dan pergi setelah memberi kecupan singkat di dahinya.
Ella hanya melongo, masih tidak percaya kalau tidak ada maksud lain dari tuan Tomy, kenapa rasanya begitu janggal sampai dia meragukan kebaikannya dan kemuliaan hatinya yang Ella anggap seperti malaikat.
__ADS_1
"Anda beruntung nona, disayangi oleh tuan yang sangat baik dan tulus seperti tuan Tomy" senyum Talisa seraya membereskan piring kotor bekas mereka.
"Apa dia punya keluarga sebelumnya?"
"Saya tidak boleh menceritakan privasi tuan Tomy tanpa izin darinya terlebih dahulu"
Ella mendengus kesal dan mengeluarkan sifat aslinya "gue cuman nanya, dia punya keluarga sebelumnya? Tinggal jawab iya atau enggak?"
"Maaf nona, tapi-"
"Udahlah lupain aja, gue kira Lo bisa di ajak temenan, tapi malesin, baku banget bicara Lo" ella melenggang pergi dan kembali ke kamarnya.
Bercerita pada Aurora akan lebih baik, diapun mengambil ponselnya dan melakukan panggilan suara yang segera di angkat oleh gadis itu.
"Lo dimana? gue ke rumah Lo kata Kak Arsyl Lo udah gak tinggal di rumah itu lagi, kenapa?" Tanya Aurora begitu telponnya tersambung.
"Jangan ngaco Lo, gue serius, lo gak bisa lari dari masalah Ella, kata nenek gue, kalo lo nunda nunda terus, toko barang antik itu gak akan muncul lagi, karna dia munculnya di waktu waktu tertentu" jelas Aurora makin membuat Ella kesal.
"Gue harus gimana Ra? gue gak nemu sepatu kaca itu dan gue juga gak bisa minta surat wasiat ke ibu tiri, mereka gak berubah, dan mereka tetep gak bakal berubah, gue capek Ra, gue juga pengen bahagia dan nikmatin masa muda gue" Cetus Ella terdengar putus asa.
"Ya gak bisa gitu, kita janji bakal pecahin masalah ini bareng bareng, Lo jangan egois" untuk pertama kalinya Aurora mau berdebat, tentu demi kebaikan Ella, demi kebahagiaannya dia rela berkorban, tapi yang diperjuangkan justru malah tidak menghargainya.
"Udah lah, Lo sama aja kaya Abra, gue rasa persahabatan kita sampe sini aja!"
Hening!
Aurora tak bicara lagi setelah Ella memutuskan hubungan persahabatan mereka sebelah pihak, Ella tidak tahu kalau Aurora merasa hatinya di remas kuat oleh tangan tak kasat mata.
__ADS_1
Tuut!
Ella menutup sambungan telponnya dan melempar ponsel ke ranjang, dia pikir dirinya akan tenang saat mencurahkan hati pada sahabatnya, tapi sekarang apa, malah moodnya semakin buruk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain, Aurora masih menggenggam ponselnya dengan mata berkaca kaca, ucapan Ella terngiang ngiang di telinganya. Persahabatan yang terjalin selama ini, selama hampir sebelas tahun, telah hancur begitu saja, Ella memutuskannya dengan sebelah pihak, tanpa berfikir berkali kali.
"Kenapa cucu nenek sedih?" tanya nenek begitu ia datang dan duduk di sampingnya.
"Ella marah Nek, Ella mutusin persahabatan kita gitu aja" adu Aurora tak kuasa menahan tangis, memeluk nenek dengan erat.
"Nak, hati Ella sedang di landa kegelisahan saat ini, begitu banyak beban yang ada difikirannya, dia sedang takut, sebaiknya kamu jangan deketin dia dulu, biarkan Ella merenungi masalahnya baik baik, nenek yakin setelah hatinya tenang, Ella akan datang lagi padamu" jelas nenek tenang.
Aurora mengangguk patuh, benar apa kata nenek, Aurora tidak boleh memaksakan kehendaknya, Dia harus mengerti Ella, bagaimanapun pemikirannya. Apapun yang terjadi, Aurora sudah berjanji kalau dirinya akan menjadi bayangan hidup Ella, mengikutinya kemanapun dia pergi, meski terkadang tak bisa terlihat tatkala.kegelapan menyelimuti dirinya, tapi Bayang itu akan tetap ada. Dalam gelapnya hidup Ella, akan selalu ada Aurora borealis yang jauh membentang tinggi menghiasi kegelapan.
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Catatan: Aurora borealis adalah cahaya kutub adalah fenomena alam yang menghasilkan pancaran cahaya yang menyala-nyala dan menari-nari di langit malam pada lapisan ionosfer dari sebuah planet sebagai akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh Matahari.
__ADS_1