
"Aurora?!"
Nada bicaranya terdengar aneh, bukan menandakan kesenangan, tapi sebuah tatapan asing pada orang yang ada dihadapannya sekarang.
"Gue kangen sama Lo" tanpa menunda waktu, Aurora membawa Ella dalam dekapnya, ia menangis pilu, menumpahkan sebuah rasa, antara rindu dan sakit.
"Maafin Gue Ra, Gue kira Lo gak bakal pernah dateng dan marah sama gue" Ella memeluk sahabatnya tak kalah erat, air mata mereka berjatuhan membasahi pipi, tak kunjung berhenti meski mata mereka sudah sembab.
Lama mereka berpelukan, untuk setelahnya saling melepaskan dan giliran Abra yang melangkah mendekat.
Memtaung menatap Ella dengan canggung, seulas senyum tipis tersungging di bibirnya, dia lama menunggu, dan akhirnya penantian itu berakhir juga.
Ella merentangkan tangannya, memberi kesempatan pada Abra untuk memeluknya, sepertinya pria itu trauma dan tak berani menyentuh Ella sembarangan setelah ciuman malam itu.
Tak ada yang Abra katakan sejak kedatangannya kemari, tapi sentuhannya menandakan ia sangat rindu, tak berniat melepaskan Ella sama sekali. Namun gadis itu, selalu ingin lepas darinya.
"Jangan nangis, jelek Lo kaya monyet!"
PELETAK!
Abra menjitak dahinya walaupun pelan tapi tetap membekas di dahi putih Ella.
"Sakit nyed!" Ella membalas perbuatannya dengan menjambak rambut Abra kuat. Tapi anehnya pria itu tidak meringis ataupun mengumpat, dia masih memasang senyum tipisnya. Kemudian mencubit kedua pipi Ella dengan gemas.
"I Miss you!"
Harusnya itu jadi kata yang romantis, tapi Ella bergidik, geli rasanya.
__ADS_1
"Kalian baik baik aja kan?" tanya Ella merasa tak nyaman dengan melihat keduanya. Ia terganggu akan penampilan mereka.
Penampilan Aurora, gadis yang selalu terlihat rapi, dengan pakaian berwarna cerah yang cocok melekat di tubuh idealnya, dan rambut panjang berkilau yang memukau, Wajahnya bersih karna selalu di rawat, Sepertinya semut pun akan tergelincir saat berani merayap di pipinya.
Tapi Aurora yang di lihatnya sekarang, adalah Aurora yang kurus, kusam, rambutnya pun jadi pendek sebahu, dan memiliki kantung mata seperti panda.
Sebenarnya berapa lama Ella tak melihat mereka?
Lihatlah sosok pria jangkung di hadapannya saat ini, Abra, si cowok Si×pack yang tampil keren, dengan rambut anti badai dan senantiasa wangi, tapi yang dilihatnya kini adalah Abra yang dekil, hitam dan juga kurus
"Kalian kenapa?" Tak ada yang menjawab pertanyaannya sedari tadi, mereka hanya saling pandang silih berganti.
"Mending Lo sekarang fokus sama kesehatan Lo aja dulu, jangan mikirin kita, kita baik baik aja kok, makannya bisa ke sini dan jengukin Lo" jawab Aurora memegang pundaknya.
"bener tuh, masih sakit jangan kebanyakan bacot sama mikir aneh aneh" tambah Abra sambil berjalan ke arah meja yang ada di sana dan mengambil nampan berisi makanan.
Ella terkekeh, ia merasa lega karna sifat keduanya tidak berubah.
"Eh, kalian sudah datang?" seru Talisa begitu dirinya masuk ke kamar Ella. Dimana saat ini, Abra sedang menyuapinya dengan suapan cinta.
"Kita baru aja dateng kok" senyum Aurora bersyukur, setidaknya dia tidak jadi nyamuk di sini.
"Oh syukurlah, Apa Nona merasa lebih baik setelah kedatangan mereka?"
"Ya, Aku baik, terima kasih, kamu boleh pergi kemanapun kalau ada urusan lain" senyum Ella sopan.
"Tapi, Tuan menyuruh saya untuk tetap ada di kamar Nona"
__ADS_1
"Gak papa, Aku gak akan bilang apa apa sama Papah, kamu boleh pergi"
"Tidak Nona, saya akan tetap disini, lagipula saya sudah keluar cukup lama dan meninggalkan nona tadi"
Tak mau memusingkan hal itu, Ella biarkan saja dia, anggap saja Talisa patung yang sedang membaca buku.
"Cie yang punya papah baru!" ledek Aurora bercanda.
"Mau jadi Papah Lo juga?" tanya Ella juga bercanda.
"Gak lah, kali ini gue gak akan ngebiarin Lo berbagi Papah lagi"
Hanya senyum haru yang tercetak di bibirnya. selebihnya obrolan mereka hangalah obrolan biasa tentang kehidupan.
"Talisa, boleh bacain buku itu gak?" pinta Ella entah kenapa merasa tak enak mengacuhkan dia dengan dunianya sendiri.
Mendengar namanya di panggil, Talisa mengubah arah pandangnya. "Buku ini tentang dewa dewa Yunani"
"Aku penasaran, tolong ceritain satu aja tentang dewa Yunani"
"Ya, aku juga mau tau" sahut Aurora, di angguki Abra yang juga setuju.
"Baiklah" Tak bisa menolak, Talisa mulai menarik nafas dan menghembuskan secara perlahan, menyiapkan kata dalam pikirnya dan mulai bercerita.
......................
...****************...
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...