
"Gue gak bisa nyelamatin Nenek, gue takut kalau Umur Gue keburu habis dan gak bisa nyelamatin Lo dari ibu tiri" jelas Aurora membuat Ella tertegun.
"Kalo umur gue cuman sampe 30 tahun, berarti sisa hidup gue tinggal 4 tahun lagi, gue rasa itu perlu buat Lo!" lanjutnya.
"Kenapa Lo bisa seyakin itu kalau gue bakal dalam bahaya lagi? biarin aja gue mati, dan hidup Lo bahagia" teriak Ella frustasi, dia meremas rambutnya dengan kuat, kepalanya selalu saja sakit begini. Kesal rasanya.
"Nggak La, yang gue liat dalam diri ibu tiri Lo itu ada sihir hitam," Aurora menarik napas dalam, menyusun kata katanya agar mudah dimengerti oleh mereka. "Kalian tau apa itu reinkarnasi?"
Keduanya mengangguk, walaupun tidak cukup mengerti tapi Ella yakin ia akan paham setelah Aurora menjelaskan.
"Anggap aja kalo Lo, itu reinkarnasi Cinderella, dan ibu tiri Lo reinkarnasi dari ibu tiri Cinderella, Abra pangerannya, dan gue ibu perinya...Anggap aja kalo Lo emang bener bener Cinderella"
"Jadi maksud Lo, ibu tiri gue penyihir gitu?"
"Ya kejadiannya gak jauh beda kaya gitu, tokoh2 yang ada dalam cerita dongeng Cinderella pelan pelan keluar menciptakan tokoh baru, itulah kenapa nenek nyuruh lo cepet cepet beresin masalah ini, sebelum ruang dimensinya rusak karna terus terbuka dan tertutup di waktu waktu tertentu, lagian kalo kita bisa ngembaliin sebelah sepatu kaca itu, gue yakin toko barang antik itu gak akan pernah muncul lagi" jelas Aurora panjang lebar.
Entah mereka mengerti atau tidak, tapi raut wajah mereka terlihat sangat serius.
"Terus Rapunzel sama Suster Kiran? dia nemuin gue tepat dihari kalian datang!" ucap Ella ingat sesuatu.
"Gak mungkin, Rapunzel udah meninggal 2 bulan Lalu, dan bukannya kita semua denger kalau Suster Kiran udah meninggal bahkan di hari pertamanya kerja?" sanggah Abra tak habis pikir.
Ella memijat pelipisnya yang terasa sakit, penglihatannya mulai kunang-kunang, sesuatu terasa menghisap energinya sampai habis. Lemas sekali tubuhnya.
"Jadi siapa yang datang nemuin gue waktu itu? hantu? gak mungkin, jelas jelas gue meluk dia"
Ketiganya diam sekarang, tak habis pikir, tak tercerna oleh logika, sulit di mengerti.
__ADS_1
"Ada pesan apa dari Rapunzel?" tanya Aurora yang sepertinya mulai mengerti dengan keadaan ini.
"Dia gak bilang apa-apa, dia cuman nagih sepatu kaca yang pernah gue janjiin buat ganti sepatunya yang pecah itu"
"Jangan-jangan....." Aurora menggantung kalimatnya, membuat mereka jadi.penasaran.
"Apa?" tanya mereka bersamaan.
"Kita curi aja sepatu kaca di rumah ibu tiri Lo" ucap Aurora setelah lama berpikir.
"Dosa! jangan nyuri" sahut Ella tak setuju.
"Terus Lo mau minta-minta dan ngemis sambil sujud di kakinya ibu tiri sinting itu?, mau mati Lo?" kali ini Abra yang menyahut, ia menarik hidung Ella dengan mengapitkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Sakit dong ah!" kesal Ella balik mencubit lengan Abra. Namun pria itu tak mau kalah, ia kembali menarik tangan Ella dan mengunci kedua tangan mungilnya hanya dengan satu tangam. Lalu menggelitik pinggang Ella hingga gadis itu mengumpat sambil tertawa lucu, begitu pun dengan Abra yang tak hentinya tertawa melihat ekspresi Ella yang begitu menggemaskan.
"Udah?"tanyanya begitu mereka berdua senyap kembali.
"Anak setan Lo, gak bisa di ajak serius!" Dengus Ella seraya membenarkan rambutnya yang berantakan karna kepalanya di gosok gosok cowok menyebalkan itu.
"Berani Lo ngatain gue anak setan? Lo -"
BRAK!
Gebrakan meja yang dilakukan Aurora membuat keduanya terkejut dan langsung diam seribu bahasa, kepala mereka tertunduk seperti dua bocah yang sedang di marahi ibunya.
"Udah dulu ya bucinnya, masih ada masalah serius yang mau di bahas nih" senyum Aurora tenang kembali. Cepat sekali moodnya berubah.
__ADS_1
"Lo jangan khawatir, soal itu serahin sama gue aja" ucap Ella.
"Apa rencana Lo?" tanya Abra.
"Ada deh, gue kan punya sejuta keajaiban" senyumnya manis sekali
"Yang bener, jangan ngelakuin hal macam macam sendirian, kasih tau apa rencana Lo?" bujuk Aurora tak merelakan jika Ella berada dalam bahaya.
"Kalian tenang aja, kalian cukup percaya sama gue, dan tunggu gue di depan gerbang rumah ibu tiri tengah malam besok"
"tengah malam?"
"Gue rasa itu waktu tepatnya"
"Gak, kita harus sama sama pokoknya" tolak Aurora tidak setuju.
"Ra..." Ella menggenggam kedua tangan Aurora dengan air mata yang terbendung. "Lo udah banyak berkorban buat gue, sedangkan sebagai peran utama, gue gak ada gunanya banget, biarin gue ngelakuin sesuatu sekarang,.please Ra, percaya sama gue"
Ragu awalnya, tapi melihat adanya kesungguhan di mata Ella membuat Aurora percaya, Menaruh harapan yang besar pada orang yang bahkan dia sayangi melebihi neneknya sendiri. Aurora tidak tahu, apakah dirinya benar benar seorang peri? yang se-rela itu mengorbankan hidupnya demi sahabatnya ini.
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1