I'M Strong Cinderella

I'M Strong Cinderella
48. Dejavu


__ADS_3

Duaar!


Petir menyambar saling bersahutan, angin berhembus kencang dan hujan turun bertambah deras. membuat suasana semakin mencekam.


Ella mempertahankan sepatu kaca itu mati-matian, dengan sekuat tenaga ia berusaha merebutnya kembali dari tangan Nyonya Kalia.


"Balikin Mah, aku gak akan biarin mamah hancurin kebahagiaan aku lagi!" teriak Ella menyerangnya membabi buta, tak menyadari jika Nyonya Kalia sedang berusaha mengarahkan pisaunya pada Ella.


"Ella berhenti!" Melihat nyawa Ella dalam bahaya, Abra berlari menghampiri mereka dan bermaksud menjauhkan Ella dari ibu tiri.


Teriakan kedua wanita itu mengalahkan suara hujan yang deras, Ella mengumpat, mengeluarkan semua kebencian dalam dirinya; begitu pun dengan Ibu Tiri yang saling mempertahankan kotak kayu berisi takdir seseorang itu.


Aurora yang memperhatikan hanya bisa ternganga, begitu menyeramkan dan membuatnya ketakutan, belum pernah Aurora melihat hal semenakutkan ini dalam hidupnya. seakan dunia memperlihatkan sisi terburuknya di sini, menyebabkan gadis itu terhisap energinya, kekuatannya hilang dan dia pun terjatuh karna tubuhnya lemas.


JLEB!


Pergerakan ketiganya seketika berhenti, saat Nyonya Kalia merasakan jika pisaunya sudah menusuk daging seseorang, Mata Ella melotot menatap Ibu tiri, begitu pun Abra, yang terasa membeku. Sementara Nyonya Kalia tersenyum puas.


"Ella..." Abra menoleh pada Ella yang kemudian berganti menatapnya juga.


"Abra Lo-" Begitu terkejutnya saat Ella melihat darah mengucur dari perut Abra, laki laki itu tersenyum sebelum akhirnya dia jatuh ke tanah.


"ABRAAAAA!" teriak Kedua gadis itu dengan sisa tenaga yang mereka punya.


Mata Ella memerah, tangannya mengepal kuat, dia marah, sangat marah, ingin sekali membunuh ibu tirinya yang sedang tertawa saat ini.


"Hahaha....Bagaimana Cinderella? hidupmu akan berakhir menyedihkan!" tawanya menyeramkan.


Ella terdiam, ia merasa dejavu, ia pernah melihat adegan ini sebelumnya, di mimpi buruk itu, kejadian yang sama persis seperti ini. Ella pun beralih menatap Aurora, dimana Ibu tiri akan berjalan menghampirinya. Dan bagian itu, Ella yakin kalau ibu tiri akan membunuh Aurora juga.


"Aku akan membunuhmu terlebih dahulu supaya kamu tidak bisa menyelamatkan Cinderella!"


Sebelum Nyonya Kalia melayangkan pisaunya pada Aurora, Ella mengambil batu bekas lemparan Abra sebelumnya, kemudian berlari untuk mencekik leher ibu tiri, menghantamkan batu itu ke kepalanya dengan brutal, tak peduli seberapa deras dan amis nya darah yang keluar, luruh bersama hujan yang mengguyurnya.


Hingga kulit kepalanya terkelupas sekali pun, atau bahkan tempurung kepalanya retak, dan isian kepalanya berceceran, Ella sama sekali tidak memberinya ampun, jeritan rasa sakit dan permohonan ibu tirinya, tidak sebanding dengan apa yang selama ini dia rasakan.


Tapi Ella tidak berjiwa se iblis itu, ia hanya membalas apa yang ibu tiri lakukan pada kepalanya pagi tadi, setelah itu Ella pergi, membawa kotak kayu yang berhasil di rebut dari ibu tirinya yang masih bergelimpangan menahan rasa sakit, kemudian membantu Aurora berdiri dan berlalu begitu saja.

__ADS_1


Lagi lagi, jalan mereka terganggu saat Angela dan Arsyla datang menghadang mereka. terlihat dari pakaian glamor yang mereka kenakan tampaknya kedua kakak tirinya baru saja pulang dari pesta hura hura.


"Anak Udik! Apa yang Lo lakuin sama mamah?" tanya Arsyla amat terkejut.


"Mamah gak mati kak, bawa aja dia ke rumah sakit!" jawab Ella tanpa rasa bersalah.


Karna khawatir akan kondisi Nyonya Kalia, kedua putrinha sampai tak sempat memaki Ella, mereka menggotong tubuh Nyonya Kalia dan membawanya ke dalam mobil mewah milik mereka.


Sementara Abra, di biarkan tergeletak sedari tadi.


"Gimana ini? gak ada yang bisa nyetir di antara kita" keluh Aurora merasa menyerah.


Tapi tidak dengan Ella, dia banyak berpikir kali ini. Lalu kembali berjalan menghampiri Abra, merogoh saku celananya dan mengambil kunci mobil. Tersirat rasa iba pada pria itu, tapi Ella harus cepat, dia tidak mau menunggu lebih lama lagi.


"Tunggu Ra!" teriaknya samar, Ella berlari ke arah Utara di mana mobil Abra terparkir di sana, dengan berbekal teori menyetir dari ayahnya dulu, Ella mengerti bagaimana cara melajukan sebuah mobil. Semoga di pengalaman pertama ini berjalan lancar.


Ella memarkirkan mobilnya tidak jauh dari Abra tergeletak, kemudian keluar dan mereka menggotong tubuh Abra yang sudah tak sadarkan diri dengan susah payah.


BRUUUM!


Ella melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, Aurora hanya bisa berdoa untuk keselamatan mereka semua, pastinya ia masih meragukan kemampuan Ella, yang bahkan baru pertama kali menyetir dan sudah berani sekencang ini di antara derasnya hujan.


"Aurora, Air mata Lo gak boleh kena dia!" Nasihat Ella saat melihat mereka di kaca mobil.


"Abra meninggal La"


CEKIIIIT!


Dengan mendadak Ella menginjak pedal rem hingga mobil berjalan tak beraturan dan mengeluarkan asap saking kuatnya gesekan pada jalan beraspal tersebut.


Beruntungnya, mereka sudah sampai di tempat yang di tuju, di depan sebuah toko barang antik yang kini berubah menjadi sebuah kastil yang mewah nan megah, di lapisi emas dan ukiran ukiran yang sangat indah.


Gemerlapnya seperti berlian yang menyilaukan penglihatan.


Kedua gadis itu berdecak kagum, tanpa sadar, turun dari mobil dan berjalan dengan sangat perlahan mendekati kemegahan bangunan yang baru mereka lihat seumur hidup.


Seorang gadis dengan gaun putih bersih dan manik manik yang terbuat dari berlian di gaunnya berjalan menuruni tangga emas. Senyumnya menghipnotis, kecantikan wanita di dunia ini tidak ada bandingannya dengan gadis di hadapan mereka sekarang.

__ADS_1


"Aku adalah kamu!" ujarnya tersenyum lembut, tangan halusnya menengadah, meminta sesuatu dari Ella.


Tanpa berkedip dan tak mau berpaling dari keindahan wajahnya, Ella memberikan kotak kayu yang di bawanya.


Segera di raihnya kotak kayu itu dan membukanya, mengeluarkan sepatu kaca yang makin berkilau saat ada dalam genggaman tangannya, dan sesegera mungkin memakai sepatu kaca itu.


Sempurna!


"Nenek itu...." Ella teringat sesuatu, dia ingin menemui nenek penjaga toko yang mengutuknya.


"Itu ibu periku" Ia kembali tersenyum dengan penuh kesejukan, memperkenalkan sosok Lain pada Ella.


Tetap wanita tua, dengan gigi yang tinggal beberapa, hanya penampilannya saja yang berbeda, nenek terlihat lebih berkilau malam ini, dengan tongkat kayu di tangannya.


"Nenek! Nenek yang buat hidup aku hancur, tolong kembaliin semua yang jadi milik aku" tuntut Ella tanpa basa basi.


Nenek tersenyum dan berkata. "Semua akan kembali, tapi tidak seperti sebelum kamu datang ke sini, jiwa jiwa yang berseliweran di duniamu akan musnah, berganti dengan dunia baru yang kamu ciptakan"


"Maksud nenek?"


Nenek tidak menjelaskan, dia hanya tersenyum dan berkata. "Terima saja takdir barumu Cinderella, anggap saja itu hukuman dari dunia paralel yang kamu ciptakan karna keteledoran kamu"


Masih belum cukup jelas, Ella bermaksud untuk menanyakan lebih banyak hal yang tak masuk akal yang dialaminya, tapi sepertinya waktu mereka juga terbatas, karna kastil semegah itu perlahan melebur, Menjadi debu permata yang terbang menyebar di angkasa, bayangan putri cantik dan nenek pun perlahan hilang, berubah jadi debu ajaib yang perlahan hilang seiring dengan tiupan angin kencang.


Suasana sunyi, hujan pun berhenti, tempat itu kembali menjadi hutan belantara, kotak kayunya masih ada dalam genggaman Ella, tapi sepatunya sudah pergi.


Ella berhasil!


Ella sudab mengembalikan sepatu kacanya ke tempat semula, tapi kenapa tidak ada yang berubah pada dirinya? Ella merasa aneh.


"Kok gak terjadi sesutu sama gue?" tanya Ella melirik ke arah sampingnya, namun tak mendapati keberadaan Aurora di sana.


Dia panik dan langsung mengedarkan pandangannya ke segala arah, tak di ketahui kemana perginya Aurora, tapi begitu melihat ke arah mobil, Ella melihat setitik cahaya di sana.


Dengan segala pikiran buruknya, gadis itu berlari, membuka pintu mobil, dan langsung di silaukan oleh cahaya keemasan yang menyorot matanya.


Cahaya yang membuat matanya sakit, cahaya yang membuat kepalanya berdenyut, dan cahaya yang terasa menghisap tubuhnya, Seperti sedang berada dalam pusaran ombak, Ella terombang ambing, di hempaskan ke sana kemari oleh kekuatan raksasa. Di antara gemuruh itulah Ella dapat mendengar suara Aurora.

__ADS_1


"Lo Cinderella, Lo baik hati, Lo punya ending yang bahagia sama Pangeran, karna itu gue rela ngorbanin nyawa gue buat Abra, demi Lo Cinderella, Semoga kita bisa ketemu di dunia baru Lo yang penuh kebahagiaan, gue gak mau jadi ibu peri Lo lagi lain kali"


Ella menggelang kuat, menutup telinganya agar suara suara itu sirna, tapi justru semakin menghisap energinya, semakin terang, semakin sakit, makin membuatnya tak berdaya dan akhirnya tak sadarkan diri.


__ADS_2