
Malam semakin pekat, cuaca bertambah dingin, tapi tak menggoyahkan ketiga insan yang masih asyik mengobrol di taman yang berkerlap kerlip banyak lampu warna-warni.
"Aku pamit pulang yah, Lo istirahat!" pamit Aurora merasa cukup karna malam semakin larut.
"Tapi-"
"Lo harus istirahat!" Aurora memeluknya dan buru buru pergi setelah mengecup kening Ella, dia benar benar terlihat sangat sibuk dan terburu buru.
Ella tidak berfikir buruk, dia mengerti kalau Aurora pasti akan melakukan sesuatu yang penting, kini tinggal Abra, yang sepertinya tidak mau beranjak barang sedikitpun dari kursinya.
"Lo?"
"Gue di sini sampe pagi" cengirnya sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal.
Gadis itu tersenyum tipis, kemudian menuangkan kembali teh yang ada di dalan teko ke cangkir Abra yang sudah kosong. Tanda Obrolan akan dimulai kembali.
"Jadi Shayla....apa gue boleh tau?" tanya Ella dengan hati hati, takut menyinggung perasaannya lagi.
"Gue sempet syok saat Lo bilang Rapunzel datang jengukin Lo sampe dua kali, seandainya kalo gue yang bisa kaya gitu, gue pengen ngomong sesuatu sama dia!" jelasnya begitu terpukul.
Abra terlihat bagai bunga yang layu, yang bertahun tahun tidak pernah tersiram air.
"Malam itu, malam pertama saat Lo koma, Rapunzel tiba tiba mau ikut gue jengukin Lo, dan itu adalah kali pertama dia keluar dari rumah, tapi mendadak dia ketakutan saat di rumah sakit dan minta pulang, gue anterin dia, dan sesampainya di rumah, gue ngerasa bersalah saat ayah dan ibu ngomong gak pantes sama Rapunzel, pasti ucapan mereka buat hatinya terluka, tapi dia masih bisa senyum polos dan mintain gue baca dongeng"
Nafas Abra mulai naik turun, berkali kali ia menelan saliva untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering, kemudian melanjutkan cerita setelah menarik nafas beberapa kali.
"Setelah itu, kita tidur berdua dalam posisi ternyaman, dia meluk gue, seolah takut gue pergi ninggalin dia, dan saat itu gue terbangun karna gak ngerasain pelukan hangat dia lagi, Rapunzel gak ada di kamarnya, cuman ada jejak darah yang mengarah ke gudang"
Glek!
Ella menelan salivanya dengan susah payah, dia seperti sedang mendengar kisah horor yang nyata.
"Dan jejak darah itu berhenti di depan lemari rusak di dalam gudang, gue bener bener takut, gue gemeteran pas mau buka lemari itu, Dan ketika gue berhasil buka, Jasad Rapunzel udah berlumuran darah dan terbungkus di dalam karung yang di ikat"
__ADS_1
"Stooop!" Teriak Ella tak sanggup mendengar kelanjutan cerita Abra. "Gue gak mau denger apapun lagi" Ella menggelang-gelangkan kepalanya seraya menutup kuping. Membayangkan hal terburuk sesuai imajinasinya tentang Rapunzel.
Dan tiba-tiba saja, sebuah keajaiban kembali terjadi, saat Ella melihat setitik sinar berwarna biru di balik pohon berhiaskan lampu tumbler, dan keluarlah seseosok gadis cantik berkulit putih di balik pohon itu.
"Dia di sini?" seru Ella tanpa sadar.
"Apa?"
"Rapunzel!" bola matanya terpaku pada sosok itu, namun sepertinya mata Abra masih mencari cari sosok yang jelas ada di depan matanya.
"Lo ngerjain gue?"
Hening!
Ella tidak menjawab, tubuhnya seperti membeku.
Melihatnya begitu membuat Abra khawatir dan langsung memegang bahunya "Lo kenapa?" ia mengguncang bahu Ella pelan.
Ella merasakan tubuhnya berat, pandangannya mengabur dan tak bisa mengendalilan diri.
"Apa?!" teriak Abra syok, dia terperanjat dan melangkah mundur menyadari sesuatu terjadi pada Ella.
"Kakak ini aku!" Ucapnya lagi.
Keadaan ini membuat Abra bingung, dia tidak mengerti, kenapa jiwa rapunzel bisa masuk ke dalam diri Ella.
"Apakah?....."
"Waktuku nggak banyak kak!" Ella, Alias Rapunzel itu mendekat, memeluk Abra yang tubuhnya bergetar ketakutan.
"Maaf, Maafin kakak Shayla, kakak gak bisa lindungin kamu! Kakak minta maaf" Abra bersujud di kakinya, digerogoti rasa bersalah itu amat menyakitkan.
"Kakak nggak salah, berhenti nyalahin diri kakak terus" Ella, alias Rapunzel itu membantu Abra berdiri.
__ADS_1
"Kakak harus ikhlasin aku, biar aku tenang, kakak harus bahagia, sebentar lagi kakak akan mendapatkan kebahagiaan bersama Cinderella, itu pasti kak, kalian hanya tinggal melewati satu rintangan lagi"
Swush!
Angin tiba tiba berhembus, menabrak tubuh Ella yang hilang keseimbangan akibat angin tadi.
"Ella!" Dengan sigap Abra menahan tubuhnya.
"Gue kenapa? apa yang terjadi?" tanya Ella kini sudah kembali pada kesadarannya,
Abra tidak menjawab, dia masih berada dalam keterkejutan, ucapan Rapunzel barusan begitu melekat di pikirannya.
kemudian ia mendongak, melihat langit berhiaskan bintang di atas sana, lalu melambaikan tangan di iringi dengan senyumnya yang penuh ketulusan.
Aku yang bakal pergi duluan dan liat kakak bahagia sama Cinderella di atas langit, aku bakal jadi bintang dan bisa liat dunia dengan bebas.
Yah, Rapunzel ada di atas sana!
"Abra, Lo kenapa sih?" tanya Ella tidak mengerti.
"Makasih" lagi lagi Abra bersikap aneh, dia membawa Ella dalam dekapnya. "Makasih Cinderella"
"Abra Lo.-"
"Makasih, makasih" terus ia ulangi hingga tak terhitung berapa banyak kata terulang dibibirnya.
Sang Ibu peri alias Aurora yang ternyata buru buru bukan karna sibuk, tapi ia menyadari kehadiran Rapunzel sejak awal. Aurora tidak bisa menjadi wadah masuknya jiwa Rapunzel, karna wadah yang tepat adalah Cinderella sendiri.
Aurora buru buru pergi hanya tidak ingin terjadi bentrokan kekuatan yang tak di inginkan, menjaga jaraknya itu lebih aman.
......................
...****************...
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...