
Ella....Ella, bangun!" Ella merasa tubuhnya seperti di guncang-guncang dengan kuat dan pipinya perih di tampar tampar walau pelan sekalipun.
"Aurora jangan lakuin itu, Lo malah nambahin rasa sakitnya!" bentak Abra, yang sudah berlinang air mata. "Ambulans akan datang sebentar lagi"
"Ini salah kita karna ngebiarin dia pulang sendirian!" ucap Aurora dengan suara yang bergetar.
Ella ingin bicara, tapi lidahnya kelu, Ella ingin menghentikan air mata mereka, tapi tubuhnya kaku, dia hanya bisa berkedip lambat dan memejamkan mata, dan berharap kalau semua ini hanyalah mimpi, Ella akan segera bangun.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
****************
................
Sekarang, hanya terdengar irama monitor jantung di dalam sebuah kamar rawat rumah sakit. Yang lainnya hanya terdengar sunyi, sesak, dan pilu.
Menangis tanpa suara adalah hal paling menyakitkan, tapi sekuat manapun seorang lelaki, juga memiliki hati dan kelembutan tersendiri. Apa salahnya jika Abra menangis, lelaki jangkung yang nyatanya rapuh itu, kini bersimpuh menggenggam jari jemari Ella dengan erat.
Tak bisa dijabarkan lagi, bagaimana kacaunya Aurora, gadis itu, terlihat seperti orang yang berpisah dari jiwanya.
__ADS_1
"Sini!" Abra membawa Aurora dalam dekapnya, menempelkan dagu di pucuk rambutnya dan menepuk nepuk punggung gadis mungil itu memberi ketenangan.
Aurora membalas pelukannya, mencengkram kuat baju Abra dibalik punggungnya, menahan suara tangis yang bisa saja meledak, tapi tertahan, dan timbal baliknya adalah dada yang sesak dan berdenyut nyeri.
"Kenapa? Kenapa harus Ella?,, kapan Ella bahagia dalam hidupnya?, kenapa tuhan gak adil banget sama hidupnya, bahkan setelah gue berdoa tiap hari buat kebahagiaannya, tapi selalu nasib sial yang tuhan kasih" racau Aurora terdebgar menuntut sang pencipta akan takdir sahabatnya.
"Ra jangan gitu, Lo ga boleh berfikir buruk sama tuhan, gue yakin Ella pasti baik baik aja, kita harus tetep berdoa" semakin dipeluknya dengan erat tubuh Aurora.
Hening untuk setelahnya, Saling menguatkan dalam pelukan, hanya mengharapkan kebahagiaan yang sama untuk Ella.
Tapi di sisi lain, Aurora sempat merasakan kejanggalan dalam hatinya, tentang pelukan hangat ini, elusan Abra, dan aroma tubuhnya. Memabukan!
Maka dari itu, sebelum terbuai, Aurora melepas pelukannya, mengusap air matanya dengan kasar. "Kata dokter kita gak boleh lama lama disini, biarin Ella istirahat!" suaranya terdengar sangau karna tangis.
Abra mengangguk, bagaimanapun dia tidak bisa membantah walau sangat ingin ada di dekatnya. "Gue anterin Lo pulang!"
Mereka pun keluar dari kamar rawat Ella, berjalan lunglai tak bertenaga, bahkan ketika mereka sudah keluar dari rumah sakit. Rumah yang sangat tidak diinginkan untuk dikunjungi siapapun.
"Entah kenapa, baru pertama kalinya Gue ngerasa takut kehilangan" jelas Abra kembali bersuara.
Aurora melirik, menatap Abra dari samping, dan kembali mendapat suatu keanehan pada dirinya, Aurora menyipitkan matanya untuk memastikan, jika yang dilihatnya adalah benar.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Abra begitu menyadari kalau Aurora memerhatikan wajahnya selekat ini.
Tanpa menjawab, Aurora tersenyum, senyuman yang sulit di artikan, membuat Abra keherenanan dan jelas sangat penasaran.
"Kenapa Lo?" Abra menyentuh dahi Aurora dengan punggung tangannya. Tidak panas!
"Lo suka sama Ella?" tanya Aurora dengan nada tak enak di dengar.
Abra terkekeh dan menjawab "Gue cinta sama dia, gak tau kapan, dan kenapa gue bisa suka"
"Mau tau jawabannya?"
"Emang Lo tau?"
"Tanya Adek Lo"
"Rapunzel?" Tanya Abra tidak mengerti.
Tak lagi ada jawaban, Aurora mempercepat langkahnya tanpa peduli akan langkah Abra yang terhenti, matanya hanya terpaku pada Sunset alam yang indah di langit sana, Jingganya senja, adalah kesukaan semua orang, menyimpan banyak cerita, dan menaruh berjuta harapan, termasuk harapnya.
Harap indah walau sesaat, harap tenang kala sekejap, harap sunyi menanti malam, harap Siap menyambut esok yang selalu dipenuhi hingar-bingar yang menyesakan.
__ADS_1