
Bagaimana mata bisa terpejam jika di dalam otak terdapat banyak pikiran, Ella hanya terlena pada suara detak jam yang terus berbunyi mendominasi kamarnya. Pandangannya tertuju ke balik jendela yang tertutup kain gorden.
Rumit sekali pikirannya, apakah yang dikatakan neneknya Aurora itu benar? kalau masalah Ella semakin bercabang saat ia mencoba lari dari masalahnya? apakah dampaknya besar bagi teman temannya?
Kenapa Ella harus bertemu Suster Kiran dan Rapunzel secara bersamaan? apakah mereka dua arwah yang masih belum tenang?
Tapi Rapunzel, dia sudah meninggal? sehingga menyebabkan kondisi fisik Abra kacau karna kehilangannya?
Oh Aladin, Andai Ella ada di dalam kisahnya, ia ingin meminta 3 permintaan pada jin pengabul keinginan.
Pertama, Ella ingin ibu tiri dan kedua kakak tirinya lenyap.
Kedua, mengembalikan sepatu kaca yang sebelumnya dia hancurkan menjadi seperti semula.
Ketiga, Tidak lagi mengenal Abra, agar persahabatannya dengan Aurora tidak terganggu dengan perasaan cinta yang rumit.
Tapi tidak, dia Cinderella, kisahnya hanya tentang sepatu kaca, ibu peri, dan keluarga tiri.
Mungkin yang di katakan Rapunzel saat itu benar, dia tidak bisa menjadi kakak iparnya jika tidak bisa menemukan pasangan sepatu kaca itu. Ya, saat itu Ella memang tidak serius mencari keberadaannys, tapi kali ini, ia akan kembali lagi ke rumah ibu tiri.
...*************...
"Lo liat apa tadi?" Tanya Abra begitu mereka keluar dari kediaman Tuan Tomy. Menuju perjalanan pulang.
"Sihir!"
"Apa?"
"Tapi kali ini beda" jelas Aurora lebih kepada diri sendiri. "warnanya gelap"
"Sihir jahat maksud Lo?"
Aurora menggelang, kedua alis yang bertaut tajam itu menandakan kalau gadis itu sedang berfikir keras. "Kita harus ketemu secepatnya, kita harus jelasin semuanya sama Ella"
"Gak bisa Ra, Lo liat kondisi Ella gimana? Dia masih belum sepenuhnya sehat, Kalo kita ngejelasin semuanya sekarang, yang ada kita malah ngebebanin pikirannya dan buat dia makin kacau" tolak Abra keras, dia khawatir, akan keadaan Ella saat ini, sungguh, jika bisa, Abra ingin selalu ada di sisinya setiap saat.
Aurora mengacak rambutnya frustasi. Dia lelah, Abra juga lelah, begitu pun Ella, mereka semua ingin cepat cepat menuju akhir yang bahagia.
__ADS_1
Tapi masalah ini, tidak jelas ke mana alurnya, kemana kehidupan membawa mereka, banyak hal yang tidak di mengerti walau sudah di renungi puluhan kali. Mengapa hidup itu penuh misteri, membuat mereka pusing saja.
"Mau gimanapun, Ella harus kembali ke rumah ibu tiri"
"Lo gila?" sarkas Abra tak setuju, dia sampai menginjak pedal rem mobilnya dengam spontan.
"Cuman Ella yang bisa nemuin Sepatunya, dan kita harus pergi ke toko barang antik itu sekarang, kita harus cari sesuatu, pasti ada petunjuk di sana"
"Oke!" tqnpa fikir panjang, Abra segera mengubah tujuannya, Mungkin Aurora benar, Semoga mereka menemukan sesuatu di sana.
Tapi Nihil!
Setibanya di sana, toko itu tetap tidak ada, hanya ada pohon, pohon, dan pohon.
"Gue mau nanya sesuatu!" Ucap Aurora saat mereka sudah sampai di lokasi dan melihat sekitar.
"Apa?"
"Lo tau darimana ada toko barang antik di sini?"
"Gue cari tau sendiri, Malam itu, sekitar jam 12 malam, Rapunzel maksa gue buat beli sepatu kaca Cinderella, Gue terpaksa dalam keadaan ngantuk bawa mobil, toko toko udah pada tutup, gue udah putus asa dan mutusin balik lewat sini biar cepet, dan di sinilah gue ketemu toko barang antik, dan nemu sepatu itu, gue tanyain harganya ternyata mahal banget, sampe mikir dua kali, nenek itu bilang kalo itu sepatu asli, cuman satu di dunia, gue pun mutusin beli sepatu itu, tapi di ambil besok karna gak bawa banyak uang, lagian si nenek mau uang cas" Abra menjeda kalimatnya, melihat wajah Aurora yang serius memerhatikan.
"Bentar!" potong Aurora cepat. "Jam berapa?"
"Ya sebelum berangkat sekolah, sekitar jam 6 pagi" jawabnya cepat juga. "Nah gue bayar dulu sepatunya, terus gue pergi, rencananya mau di ambil pas pulang sekolah nanti, karna gue ikut basket jadi agak sorean ngambilnya, dan gue kesel banget pas dateng- dateng Sepatunya udah pecah" jelas Abra panjang lebar, kekesalannya tentang sepatu itu terasa masih membekas, tapi tidak menyangka juga kalau dia akan jatuh cinta pada si pemilik sepatu kaca. Cinderella.
"Jam 6 sore kan?" tanya Aurora.
"Ya sekitar jam segitu, kenapa sih? Lo kaya detektif aja nanyain waktu" komentar Abra tak mengerti.
Aurora mengapit dagunya, mengangguk-ngangguk dan menjetikan jari lentiknya. "Lo sadar gak?"
"Apa?"
"Lo ke toko barang antik pertama kali jam 12 malam, terus besoknya jam 6 pagi dan jam 6 sore, Artinya, Lo datang ke toko barang antik ini setiap 6 jam sekali"
"Terus?" tanya Abra masih belum memgerti juga.
__ADS_1
"Berarti, Toko barang antik ini ada setiap 6 jam sekali!"
Baru Abra mengerti dan membenarkan pendapat Aurora. "Bisa jadi"
Aurora memegang tangan Abra, bukan untuk berbuat hal manis, tapi untuk melihat jam tangan di pergelangan tangannya.
"Masih jam 3 sore!" Abra cepat menarik tangannya, tak ingin berlama lama bersentuhan. Seolah dia sudah bersumpah setia pada sang pemilik hati.
"Kita mau nunggu dua jam di sini?" tanya Aurora tak mempedulikan luka di hatinya, yang jelas diberi penolakan oleh pria itu.
"Lo gak sibuk?" Abra balik bertanya.
"Gue ada kerja part time sore ini"
"Ya udah Lo pergi aja, biar gue yang mastiin"
"Tapi, Lo sendirian"
"Gak papa, nanti gue kabarin Lo lagi!"
Aurora pun terpaksa pergi, dia melambaikan tangannya dan langkahnya mulai menjauh.
"Aurora Tunggu!" teriak Abra berlari mengejarnya.
Refleks, Gadis itu pun berhenti dan membalikan badannya, terkejut saat tiba tiba pandangannya gelap karna di tabrak dada bidang Abra hingga membuatnya mundur beberapa langkah saking kencangnya dekapan itu.
Tidak, Abra bukan menabraknya, tapi memeluknya dengan sangat erat. "Makasih udah jadi pelindungnya Cinderella, ibu perinya Cinderella, dan malaikatnya Cinderella, kalo bukan karna Lo, gue gak akan pernah kenal dia"
Sakit, tersayat, terluka, Aurora merasa dirinya jatuh ke dasar jurang yang paling dalam. Dia hanya bisa mematung tanpa membalas kehangatan dekapan pria itu.
"Sama-sama, gue juga seneng bisa nepatin janji, kalau gue akan mempertemukan Cinderella sama pangeran dan kalian hidup bahagia, semoga ya" senyumnya berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.
Tak bisa, air mata bukan benda keras yang bisa di tahan, secepat itu akan meleleh, Aurora pun segera membalikan badannya dan pergi begitu saja. Tak ingin terlihat menyedihkan di depan Cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
......................
...****************...
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...