I'M Strong Cinderella

I'M Strong Cinderella
35. Tak di duga


__ADS_3

Semakin hari, kondisi Ella mulai membaik, ia menjalani fisioterapi karna lama berbaring membuat fisiknya menjadi lemah.


Di bantu oleh Tuan Tomy yang setia di sisinya, juga Talisa, wanita sebayanya yang wajahnya kaku itu.


"Makasih!" Ella tersenyum ramah saat keduanya menemani Ella untuk sekedar berjemur di taman rumah sakit, hangatnya mentari di pagi hari bagus untuk tubuh, sangat menyehatkan.


"Maaf, Tapi Papah harus pergi, nanti ke sini lagi kalau pekerjaannya sudah selesai" dengan terpaksa Tuan Tomy harus pamit, selama beberapa hari ini ia menunda pekerjaannya, sekarang semua harus cepat di selesaikan, pasti sangat sibuk.


"Mmm, Gak papa kok, tapi kalo nanti Papah udah gak sibuk, aku mau ngobrol sesuatu, 15 menit aja"


"Iya sayang, Papah pergi!" pamitnya segera beranjak.


Tersisa Talisa sekarang, yang sibuk dengan bukunya. Buku aneh yang waktu itu Ella temukan di rak kamar barunya.


"Apa kamu gak sekolah?" tanya Ella to the point, sangat menyayangkan jika Talisa tidak sekolah dan berakhir menjadi seorang pelayan di usia muda.


"Tidak Nona, Saya tidak mau meski Tuan Tomy mau membiyai saya"


jawaban yang membuat Ella tak habis fikir, dimana jika otaknya berjalan lancar, siapaoun tidak akan menolak kesempatan emas ini.


"Kenapa? "


"Saya benci sekolah!"


"Why? aneh banget, Kamu di Bully?"


Talisa menggelang pelan dan tak mengatakan apapun lagi.


Aneh!


Wanita itu benar benar aneh!


"Oh ya, tentang teman teman nona..." dia berkata lagi setelah ingat sesuatu.


"Ya? kenapa?" respon Ella cepat.

__ADS_1


Talisa mengeluarkan sebuah ponsel di tas yang dibawanya, ponsel Ella, yang rusak dan lecet, mungkin akibat kecelakaan itu. "Ini ponsel Nona!"


"Ah, masih hidup?" diraihnya ponsel itu dan mengeceknya, tidak ada yang berubah, tampilannya tetap sama. Jemari lentiknya langsung bergerak mengusap laya dan mencari nama kontak Aurora di sana, bermaksud untuk menghubunginya.


Mendadak pergerakan tangannya berhenti saat mengingat Aurora marah padanya, dia pasti tak mau bicara dengannya, Ella pun kembali mengurungkan niatnya, dan hanya menggenggam ponselnya dengan kuat.


"Kenapa Nona?"


"Pasti mereka nggak mau jengukin aku disini, aku udah egois, dan pantes dibiarin sendirian" jawabnya merasa kecewa.


"Apa maksud nona? Mereka sangat peduli, mereka datang silih berganti untuk menemani Nona, Bahkan Teman Nona yang bernama Abra itu sering tidak tidur dan setia menggenggam tangan Nona sampai menjelang pagi"


"Terus kemana mereka sekarang? kenapa nggak satu pun yang datang? udah jelas ibu tiri pasti bahagia dan ngerayain penderitaan aku! tapi temen temen aku??" Ella mengoceh seperti anak kecil, tak menyadari jika dirinya sudah berani cerewet dan mulai mengubah sikap jadi lebih terbuka dan sopan pada Talisa.


Talisa terdiam, raut wajahnya nampak bingung sekali, dia seperti mengetahui banyak hal, tapi tak bisa dia sampaikan, seolah ada dinding penghalang di mulutnya.


"Matahari sudah mau naik nona, sebaiknya kita kembali ke kamar rawat!" Talisa mengalihkan perhatian, ia bangkit dari kursi putih yang sedang di duduki mereka, merengkuh tubuh Ella dan membantu mendudukannya ke kursi roda. Karna Ella masih belum kuat berjalan jauh.


"Nona harus istirahat! Jika butuh sesuatu katakan saja pada Saya" ucapnya lagi setelah mereka tiba dan membaringkan Ella di ranjangnya.


Sunyi kembali mendekap, perlahan lahan menenggelamkan alam bawah sadar Ella ke dalam bunga tidur yang bisa saja indah ataupun menyeramkan.


****************


Langit di ambil alih oleh bulan yang kokoh, dan taburan bintang yang menemaninya. Tentu bulan tidak sekuat matahari, ia tak bisa bersinar dengan cahayanya sendiri, bulan membutuhkan cahaya matahari. Begitupun Ella, ia membutuhkan sahabatnya saat ini.


Tiba tiba sesuatu mengusik tidur lelap Ella, ia mengerjap saat merasakan sesuatu yang dingin menusuk di dahinya. Perlahan lahan, ia membuka mata dan langsung terperanjat saat melihat wajah pucat seorang gadis di hadapannya. Ia tersenyum mengerikan seraya menempelkan punggung tangannya di dahi Ella.


"Rapunzel?" Tanya Ella tak percaya, ia sampai mengucek kedua matanya, menyipitkan mata dan melihat dengan pasti.


Tidak, ternyata wajahnya tidak sepucat saat dia melihatnya pertama kali, pasti tadi agak linglung karna baru bangun, Ella pun menghembuskan nafas lega.


"Kamu sendirian? kakak kamu mana?"


"Nanti sebentar lagi masuk, aku pengen cepet cepet ke sini dan liat kondisi kamu!"

__ADS_1


Ella terkekeh, masih saja sombong dan tidak sopan, memanggil Aurora dengan sebutan kakak, sementara panggilannya pada Ella sudah seperti anak sebayanya.


"Tumben kamu keluar goa" cengirnya masih tak percaya.


"Mau gimana lagi, walaupun kamu bodoh, aku tetep sayang kok sama kamu, dan rela ninggalin menaraku di sana!"


Ella mencubit pipinya gemas, tak akan terpancing lagi oleh ucapan menyebalkannya itu. "Oke, makasih, dari sekian banyaknya orang yang aku harapkan, kedatangan kamu gak terduga!" Memeluk tubuh mungil Rapunzel erat.


Sambil mengedarkan pandangan, Ella tak melihat siapapun lagi, hanya ada Rapunzel di sini. "Kakak kamu masih belum masuk juga?"


"Kangen banget ya?, Kakak masih di dalam mobil tadi sama Kakak cantik, aku lari ke sini aja duluan"


Tanpa pikir panjang, Ella tersenyum senang, ternyata mereka tidak seburuk yang Ella pikirkan, mereka masih peduli dan sayang padanya, Ella akan meminta maaf dua kali untuk itu.


"Ya udah, Aku mau keluar, males liat kamu bucin nanti" Sambil melepas pelukannya Rapunzel tersenyum.


"Hey, Aku bakal jadi kakak iparmu Lho"


"Kamu gak akan bisa jadi kakak iparku kalau belum bisa ngegantiin sepatu kaca yang pernah kamu janjiin"


Sepatu kaca?


Kepala Ella mendadak di dera rasa sakit yang luar biasa, sekelebatan ibu tiri yang memecahkan sepatu kaca dan menghabisi kedua temannya terus berseliweran dalam pikirannya, Ella amat terganggu, ia membungkuk dan meremas pelipisnya agar bayangan itu hilang.


Bahkan tak menyadari kepergian Rapunzel, berganti pada tangan lembut seseorang yang memegang tangannya.


"Ella, Lo baik baik aja?"


Suara itu.....


......................


...****************...


...----------------...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2