I'M Strong Cinderella

I'M Strong Cinderella
33. Kaulah perisai Captain America


__ADS_3

"Maaf, aku udah salah faham" Aurora membungkuk, membuang fikiran buruknya tentang Tuan Tomy, berganti mengingat wajah Tuan Tomy yang memang familiar di matanya, dia ingat tak ingat, kalau pria itu memang sering datang ke rumah Ella.


"Saya akan membiyai hidupnya sampai dia sukses dan menggapai mimpinya!"


Malaikat datang silih berganti di kehidupan Ella, semuanya berbanding, antara penderitaan dan kebahagiaan. Tinggal memilihi, apakah hidupnya akan terus di syukuri atau di sesali?


"Jangan tidur seratus tahun!" Rapunzel yang entah sejak kapan turun dari gendongan Abra, kini sudah berdiri di sisi ranjang. "Pangeran Kakak nungguin!" bisiknya.


"Rapunzel, jangan terlalu deket, sini!" panggil Abra takut kalau alat alat yang terpasang di tubuh Ella tersentuh dan bermasalah.


Bukannya menjauh, Rapunzel semakin mendekatkan diri pada Ella, tangan kecilnya terulur dan hendak menyentuh dahi Ella, tapi keburu di tepis kasar oleh Aurora.


"Kamu...." lagi lagi Anak itu membuat Aurora terkejut, ia sampai membolak balikan tangan Rapunzel dan menelitinya, tak ada apapun di sana, cahayanya mendadak hilang.


"Jangan kasar Dong!" Tak terima adiknya di tepis, Abra yang tidak tahu apa apa menarik tangan Rapunzel agar menjauh.


"Tuan, bukankah sebaiknya kita membiarkan mereka dulu, mungkin mereka ingin menyampaikan sesuatu di sini!" Talisa yang menyadari sesuatu langsung saja berdiri dan menutup bukunya.


"Ya, tentu saja!, saya akan kembali tengah malam nanti" pamit Tuan Tomy menurut, merekapun bergegas.


"Terimakasih perhatiannya!" Tutur Aurora cukup senang, kalau ternyata Talisa amat peka akan keadaan meski dirinya terlihat cuek.


"Maafin Gue La!" Suara Aurora bergetar, untuk setelahnya air mata turun membasahi pipi. "Gue seharusnya gak egois, gue harusnya gak pernah ninggalin Lo"


Sementara Abra hanya diam seribu bahasa, tidak mengoceh seperti biasanya, fikirannya saja yang berkecamuk, dan sempat memercayai ucapan Rapunzel, kalau Ella akan bangun setelah dia menciumnya.


Tidak!


Hari itu Ella sangat marah dengan ciuman yang terjadi begitu saja, Abra tidak ingin melakukannya lagi tanpa persetujuan Ella. kemarahan Ella adalah bencana baginya.

__ADS_1


Mungkin, dia akan menunggu keajaiban tuhan saat ini, dan berdoa untuknya.


"Kakak, kita harus pulang!" Rapunzel menarik narik baju Abra dengan tergesa. Raut wajahnya terlihat sangat ketakutan.


"Ada apa?" tanya Abra menyadarinya. ia membungkuk untuk mensejajarkan tinggi badannya.


"Bawa aku pulang" rengeknya kemudian melingkarkan tangan di bahunya dan menyembunyikan wajahnya di tengkuk Abra.


"Iya iya, kita pulang" Sambil menggendongnya, Abra pamit.


"Ra, Gue pulang dulu, nanti kesini lagi!"


"Gak papa, Gue mau disini sampe pagi, besok kan libur, Lo pulang aja jagain adek Lo" ucap Aurora dengan suara sangau karna tangis.


Melihat Rapunzel yang sudah ingin segera pergi, membuat Abra tak bicara lagi, ia membawa langkahnya untuk segera keluar ruangan.


**************


"Ibu, Ayah, kalian pulang?" Saking tidak percayanya, Abra tidak mempedulikan kemarahan mereka.


"Darimana kamu?" tanya Ibu tegas.


"Dari rumah sakit, habis jenguk temen aku bu"


"Kenapa harus bawa bawa anak sialan itu?" Tanya Ayah mendahului ibu yang hendak bicara.


Rapunzel mungkin masih kecil, tapi dia mengerti semuanya, dia mengerti setiap kata yang keluar dari mulut orang tua yang tidak pernah menyayanginya.


"Cepat masuk, dan tidur, ini udah malem!"

__ADS_1


"Iya bu!" Sambil berlalu, Abra menggenggam kuat tangan Rapunzel yang sedari tadi bersembunyi di balik punggungnya.


"Kalau bisa, jangan terlalu manjain anak itu, biarin aja dia membusuk di kamarnya!" tambah ayah.


Emosi yang berusaha Abra tahan hampir saja meledak dan dia rela memaki orang tuanya yang sudah keterlaluan demi membela adiknya, tapi, justru Rapunzel memegang tangannya dan menggelang, memberi isyarat kalau Abra jangan mengatakan apapun, giliran dia yang menuntun Abra menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.


"Kakak, bacain dongeng sebelum tidur" senyumnya mengembang, seolah kejadian beberapa detik lalu tak pernah terjadi. Malah Abra yang matanya berbinar dan tak sanggup melihat senyum polosnya.


Kini, Rapunzel sudah berbaring dengan nyaman di kasurnya. "Ayo kak!"


Tolong hentikan, Abra tidak mau melihat senyumnya, rasa sakit menyergap hatinya, meremas kuat dan mengoyak tanpa ampun.


Ia ingin bernegosiasi kepada tuhan, ingin menukar nasibnya dengan Rapunzel, walau belum tentu sanggup, setidaknya Rapunzel bahagia dan mendapatkan kasih sayang orang tuanya.


Waktu masih dalam kandungan mungkin Ibu dan ayah tak sabar untuk melihat putri mereka lahir ke dunia, dan mereka akan jadi keluarga bahagia. Tapi, sejak mengetahui jika gadis itu berpenyakit langka, bahkan mereka berniat untuk menghabisi Rapunzel karna menganggap dirinya tak berguna.


Semua tidak terjadi karna Abra yang menangis, memohon, dan bersujud di kaki mereka. Mengancam mereka kalau dirinya juga akan tiada kalau sampai terjadi sesuatu pada adik yang selama ini dia harapkan kehadirannya.


Dan alasan itulah yang menbuat Rapunzel hidup sampai kini, Tanpa adanya Abra, Rapunzel tidak mampu melakukan apapun.


Baginya, Abra sudah seperti perisai Captain America yang selalu melindunginya dari mara bahaya.


...*************...


......................


...****************...


...----------------...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2