
BEBERAPA BULAN KEMUDIAN......
Sunyi turun dengan lantang di suatu hari yang tak berangin. Awan memutih seakan tak memberi kehidupan, Sinar mentari menerobos masuk, jam dinding berdetak.
Semakin Sunyi, detaknya makin terdengar.
Jarum detik dan menit bergerak dalam alurnya sendiri. Ada yang tak biasa dengan interaksi mereka.
Detik mengejar menit, mendekatinya dengan berjinjit. Perlahan makin dekat, sehingga bisa menyentuh pundaknya.
Hanya sesaat lagi akan berhadap-hadapan,
Hanya sesaat lagi... Namun, menit menyaksikan detik menjauh.
Makin jauh seolah sedang bermusuhan.
Lalu terjadilah keajaiban itu, dimana kelopak mata Ella bergerak dan perlahan lahan membuka matanya. Mengerjap berkali kali menyesuaikan cahaya.
Kosong!
Tak seorang pun yang dirinya lihat, Ella sendirian di ruangan asing ini, dengan tubuh yang sulit di gerakan.
Untuk waktu yang lama Ella membeku, ingin minta tolong, ia ingin bangun, ingin bersuara, berteriak, dan bergerak bebas. Tapi sulit, begitu tak mampu.
Otaknya mulai bekerja, berfikir dan mengingat, terakhir kali yang diingatnya adalah mimpi aneh itu, lubang hitam yang menghisapnya, kemudian menariknya kembali dan membuatnya terbangun dengan di kelilingi kedua sahabatnya dan juga di kerubungi banyak orang, setelah itu Ella tidak tahu apa yang terjadi.
Tiba tiba masuklah seorang suster berperawakan tinggi dan kurus, membawa nampan berisi makanan ditangannya. "Selamat pagi Nona, ini sarapan anda!" Dia menyimpan nampan di meja, dan hendak keluar.
Tapi langkahnya terhenti saat Ella berusaha kuat untuk mengangkat tangannya dan berbicara.
"S- Suster!" bisiknya lemah.
"Ada yang bisa dibantu?"
"Tolong, aku sama sekali nggak bisa bergerak" Jawab Ella begitu pelan.
__ADS_1
Suter itu terlihat Iba, namun bingung, dan tanpa mengatakan apapun, ia membuka nampan berisi bubur dan sayur, lalu menyuapi Ella dengan lembut.
"Kenapa aku sendirian?" Tanya Ella di sela kunyahannya.
"Saya tidak tahu" jawab Suster itu begitu ketus, tapi tetap memberi Ella suapan lembut.
"Tugas suster kan merawat pasiennya, kok nggak tau? Apa selama ini Aku dibiarin gitu aja? Dan baru di liat ke sini karna kebetulan aku sadar?" cerocos Ella suaranya pulih kembali setelah ia marah.
"Baru hari ini saya mengantar makanan ke kamar Anda, dan ini seharusnya bukan tugas saya, tapi saya peduli pada Anda"
"Kenapa? Suster kenal saya?"
"Tidak"
Jawaban yang membingungkan!
"Sudah selesai, mari minum obatnya" Ucap Suster merubah suaranya jadi lembut. Aneh, kenapa perubahan sikapnya secepat itu? Tapi siapa peduli, Ella merasa lega karna ada yang menemaninya, tak sesunyi tadi saat dia sendirian. Sunyi yang membuatnya takut.
Suster membantu Ella duduk dengan susah payah, memberinya obat dan mengobro, tak berlangsung lama, Saat Suster menyadari kalau dirinya harus pergi.
"Suster jangan pergi!" cegah Ella meraih tangannya.
"Aku suka sendirian, tapi nggak di rumah sakit, aku takut, Suster tunggu di sini sampai temen temen aku datang yaa!" pinta Ella memasang mata kucingnya.
Untuk pertama kali ia memohon, dan memelas pada orang asing di hadapannya.
Dengan lembut, Suster tersenyum dan melepas cekalan tangan Ella. "Mereka pasti datang secepatnya!"
"Tolong Sus!"
"Maaf Nona!" Tak bisa di cegah, Suster itu tetap pergi walau Ella sudah terisak.
Begini rasanya kesepian, dicampakan, dan tidak dipedulikan, Ella butuh orang yang menyayanginya, apakah ada? Kenapa ia di biarkan sendirian? Kenapa tidak ada Aurora ataupun Abra di sisinya? Ataupun Tuan Tomy yang mengaku sebagai ayah barunya?
Apakah Mereka marah karna Ella sudah bertindak egois pada mereka? Dia menyesal, dia ingin minta maaf, dan menyadari kalau dia sudah tidak punya siapapun lagi selain mereka.
__ADS_1
************
Setelah kedatangan Suster yang hanya sesaat, Ella memutuskan untuk duduk bersandar di ranjang tanpa aktifitas apapun lagi, Sebetulnya ia ingin mengambil tumpukan buku di meja sebelahnya, tapi tak kuat, buku itu terlalu berat, tidak, tapi Ella yang sedang lemah.
Krieet!
Suara pintu yang terbuka di respon cepat oleh otaknya, mengira jika yang datang Aurora ataupun Abra.
"Ella?"
Salah, bukan mereka, ternyata Tuan Tomy, bersama Talisa, pelayan atau mungkin pelayan yang sudah seperti anak kesayangannya.
"Pa-pah?"
"Akhirnya!" Tanpa menunggu waktu, Tuan Tomy menyergap Ella dalam dekapnya, erat sekali membuat pernafasan Ella terganggu.
"Pa-Pah!" terbata bata ia berucap, tangannya menepuk nepuk punggungnya.
"Kami semua hampir putus asa menunggu kamu sadar, tapi akhirnya, tuhan memperlihatkan keajaibannya" Tuan Tomy melepas peluknya, Menciumi setiap inci wajahnya penuh rasa syukur.
"Apa selama itu?"
"Ya, bahkan jantung Nona sempat berhenti berdetak dalam beberapa detik" jawab Talisa.
"Serius?" Mata Ella melotot, ia berfikir Aurora mengorbankan hidupnya lagi demi dia.
"Iya, tapi hanya sebentar alat ECG itu membentuk garis lurus, setelahnya bergelombang kembali"
Ella menghembuskan nafas lega. "Maaf, aku menyusahkan kalian semua ya"
Hutang Ella begitu besar pada mereka dan tidak tau bagaimana cara membayarnya, tapi dengan ikhlas dan tulusnya mereka memberi kasih tanpa meminta imbalan, terutama tuan Tomy. Sekarang Ella tak meragukan lagi kebaikannya.
......................
...****************...
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...