Ibuku Sayang Ibuku Malang

Ibuku Sayang Ibuku Malang
Chapter 10


__ADS_3

"Nah benar, itu kamu tau. Jadi ayah harus mandi dulu, baru bisa di peluk, ya?"


Akhirnya berkat penjelasan Hasna yang begitu bijaksana dalam memberi pengertian pada Melati, Melati pun bisa kembali tersenyum dan mengangguk patuh.


"Aaah anak ibu pintar sekali." Husna pun semakin melebarkan senyumannya sembari mengusap-usap ujung kepala Melati.


Namun tak lama setelahnya, Husna tiba-tiba saja merasakan mual hingga ia muntah begitu saja di tanah.


"Uwwwekk." Cairan kuning pun keluar begitu saja tanpa bisa ia tahan.


Husna sebelumnya hanya memakan ubi kuning yang di rebus, jadi sangat wajar saja jika yang ia muntahkan pun berwarna kuning.


"Ibu, ibu kenapa? Ibu sakit ya?" Tanya Melati dengan polos.


Tak ingin membuat keluarganya khawatir, Husna pun segera menimbun bekas muntahannya dengan tanah.


"Tidak sayang, ibu baik-baik saja hehehe." Jawab Husna yang kembali tersenyum saat menatap anaknya.


Berselang beberapa saat, Aryo pun terlihat kembali keluar dari rumah dalam keadaan sudah mandi dan berganti baju.


"Kamu mau kemana lagi mas?" Tanya Husna seketika.


"Mau ke pendopo." Jawabnya singkat.


"Ta,,, tapi mas, kamu kan baru saja pulang."


"Lalu kenapa kalau aku baru pulang? Apa aku harus terus-terusan mendekam di rumah yang membosankan ini?" Ketus Aryo yang mulai meninggikan nada bicaranya.


"Bukan begitu mas, setidaknya mainlah sebentar dengan Melati mas."


"Tidak perlu, bukankah kamu sudah memberikan seluruh waktumu untuknya? Apa itu masih belum cukup?"

__ADS_1


Mendengar hal itu, membuat Husna pun seketika terdiam, dengan wajah sendu ia pun hanya bisa memandangi wajah suaminya dan mulai merasa bersalah karena tanpa ia sadari, ia telah mengabaikan kewajibannya sebagai istri.


"Aku minta maaf mas, maaf selama ini aku sudah abai, aku janji akan berubah." Ucap Husna sembari mulai menghampiri Aryo dan ingin memegang tangannya.


Namun tangan itu segera di tepis oleh Aryo,


"Ah sudah lah! aku mau pergi sekarang. Joko dan yang lain sudah menungguku sejak tadi di pendopo." Ucap Aryo datar yang kemudian langsung pergi begitu saja.


Husna pun lagi-lagi hanya bisa terdiam dan terus memandang nanar ke arah sang suami yang sudah lumayan jauh berjalan, begitu pula dengan Melati, saat itu ia pun hanya bisa tercengang, memandangi ayahnya yang semakin bersikap cuek padanya. Tak ingin membuat Melati ikut bersedih, Husna pun seketika langsung mengganti raut wajahnya yang sendu menjadi kembali ceria seperti sebelumnya.


"Ah ya sudah kalau begitu, ayo kita main lagi." Ucap Husna pada Melati.


Namun saat itu Melati langsung menggelengkan kepalanya sebagai tanda ia tak ingin bermain lagi. Melati yang jadi sedih melihat sikap acuh ayahnya pun akhirnya memilih untuk masuk ke dalam rumah kayu mereka tanpa berkata sepatah katapun.


Melihat hal itu, lagi dan lagi membuat hati Husna hancur, karena bagi Husna, tidak ada yang lebih menyakitkan selain melihat anaknya bersedih hati apalagi ini menyangkut sikap suaminya yang sama sekali tidak ada kelembutan dan perhatian lagi pada mereka. Namun ketika Husna mulai bangkit dan ingin menyusul Melati, rasa mual itu kembali datang hingga untuk kedua kalinya Husna pun harus muntah di tanah. Dengan cepat Husna kembali menutupi bekas muntahan itu dengan tanah agar Melati tak kembali melihatnya.


"Ya tuhan, sebenarnya kenapa aku ini?" Tanya Husna seorang diri sembari mulai mengusap peluh yang mulai menetes dari dahinya.


Beberapa hari kemudian...


"Apa?!" Mata Husna pun seketika terbelalak.


Husna terkejut bukan kepalang, seketika ia melirik ke arah Melati yang saat itu terduduk tak jauh darinya. Entah ia harus merasa senang atau sedih ia pun tak tau, karena yang ada dalam benaknya saat itu ialah Melati masih sangat kecil, di tambah sikap suaminya yang kembali acuh, membuatnya sedikit cemas hingga ia pun kembali terbayang dengan kejadian di kehamilannya yang pertama dulu.


Husna yang saat itu menuntun tangan Melati, terus berjalan lesu menuju pulang ke rumah mereka, saat itu pikirannya mulai bercabang-cabang layaknya pepohonan rimbun. Tak lama suara lembut dari putri kecilnya itu pun sontak menyadarkannya dari lamunan.


"Ibu, apakah itu artinya Mel akan punya adik?" Tanya Melati dengan begitu polosnya.


Pertanyaan itu sontak membuat langkah Husna seketika jadi terhenti, ia pun mulai menatap lekat wajah Melati, dan kemudian mulai berlutut di hadapannya dan berkata,


"Kalau iya, apa Melati akan senang?" Tanya Husna kembali sembari mengusap lembut rambut putrinya.

__ADS_1


"Mel senang ibu, apalagi kalau adiknya perempuan hehehe tentu Mel akan sangat senang karena nanti punya teman untuk bermain boneka." Jawabnya lugu.


Husna pun hanya tersenyum lirih, ia pun kembali berdiri dan memilih untuk melanjutkan perjalanan karena saat itu hari sudah semakin sore.


"Ya sudah nanti saja kita bahas ya, kita jalan lagi ya, ibu takut nanti kita kemalaman sampai di rumah."


Melati pun hanya mengangguk patuh dan akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalan Melati terus bernyanyi lagu-lagu yang ia sukai, Husna yang mendengar itu hanya bisa tersenyum dan sesekali ia pun memilih untuk ikut bernyanyi bersama anaknya. Hingga tanpa terasa tibalah mereka di rumah, saat itu ternyata Aryo telah lebih dulu pulang ke rumah.


"Mas sudah pulang?" Tanya Husna sembari tersenyum.


"Dari mana saja kalian ha?! Aku sudah cukup lama menunggu dan sekarang aku sangat lapar." Ketus Aryo yang langsung memandang sinis ke arah Husna.


"Maaf ya mas. Baik lah, aku akan segera siapkan makanan untukmu." Husna pun langsung meletakkan tasnya dan bergegas menuju dapur.


"Ayah, sembari menunggu ibu memasak, ayo kita main." Melati pun menghampiri ayahnya dan duduk berpangku dengan manjanya.


"Ayah sangat lelah." Jawab Aryo datar.


"Ayah... ayo main, ayo main, ayo main ayah..." Rengek Melati lagi.


"Jangan sekarang, ayah lelah dan lapar!"


"Ayo ayah.. ayo kita main sebentar saja ayah." Melati pun terus merengek sembari terus menggerak-gerakkan tubuhnya.


Namun hal itu bukannya membuat hati Aryo luluh, ia justru semakin merasa kesal hingga membuatnya membentak Melati.


"Ku bilang tidak ya tidak!" Bentak Aryo.


Melati pun terkejut dan jadi sangat ketakutan, ia yang awalnya duduk berpangku pada ayahnya, kini langsung terperanjat.


Sementara Husna yang mendengar putrinya di bentak, membuatnya dengan langkah cepat keluar dari dapur sambil membawa serta semangkuk mie kuah yang baru di masaknya.

__ADS_1


"Ada apa mas? Kenapa kamu membentaknya?" Tanya Husna sembari mengkerutkan dahinya.


...Bersambung......


__ADS_2