
Melati mulai bingung karena Vero belum juga menjalankan mobilnya padahal mereka sudah masuk dan duduk di dalam mobil.
"Tunggu apa lagi? Kenapa belum jalan juga?" Tanya Melati memberanikan diri.
"Tunggu kamu memakai seat belt mu."
"Seat belt?"
"Ya, sabuk pengaman, yang ini." Jawab Vero sembari menunjukkan sabuk pengaman miliknya.
"Oh, iya, iya." Melati pun bergegas meraih seat belt miliknya.
Tapi karena Melati yang sebelumnya tidak pernah punya pengalaman menaiki mobil pribadi, membuatnya sedikit kebingungan dengan cara pemasangan seat belt itu. Vero, ia kembali terkekeh saat melihat kelakuan Melati yang menurutnya begitu natural kepolosannya.
"Kamu serius tidak tau cara memasangnya?" Tanya Vero memastikan.
"Aku tidak pernah naik mobil seperti ini sebelumnya." Jawab Melati jujur.
"Hah?!"
"Kenapa? Kamu terkejut karena di jaman yang serba canggih ini, masih ada orang yang belum pernah naik mobil?!"
"Memangnya kamu berasal dari gowa mana??" Tanya Vero lagi yang terus tertawa kecil.
Melati pun diam sembari mulai menatap Vero dengan tatapan sinis.
"Kalau ujung-ujungnya hanya bisa mengejekku, mendingan aku turun saja!!" Melati pun langsung membuka pintu mobil.
Hal itu membuat kedua mata Vero membesar seketika dan dengan cepat ia pun langsung menarik pergelangan tangan Melati.
"Jangan!!"
Melati terdiam, ia kembali menatap Vero dengan tatapannya yang masih saja terlihat sinis.
"Maaf, aku hanya bercanda, astagaa."
Namun Melati masih diam.
"Serius aku minta maaf, aku tidak bermaksud mengejek apalagi menghinamu. Ya sudah aku janji tidak akan seperti itu lagi." Ungkap Vero.
Melati perlahan mulai luluh.
"Ya sudah, ayo tutup kembali pintunya." Pinta Vero.
Dengan sedikit ragu-ragu, Melati akhirnya patuh dan menutup kembali pintu mobil yang sempat ia buku.
"Mari ku bantu." Ucap Vero sembari mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Melati.
Hal itu membuat jarak di antara mereka kian terkikis, saat itu Melati dapat melihat wajah Vero dari jarak dekat dengan sangat jelas. Alis dan bulu matanya yang tebal, benar-benar menambah nilai ketampanan lelaki yang ada di hadapannya itu.
Begitu juga dengan Vero, melihat wajah Melati dengan jarak yang cukup dekat, membuat jiwanya menghangat, disertai dengan detak jantung yang tak lagi sesuai irama. Tinggal di pedesaan yang asri dan sejuk, tidak ada polusi, tentunya sangat berpengaruh pada kulit Melati yang jadi begitu mulus seolah tak berpori.
"Bantu apa?!" Tanya Melati kemudian setelah terdiam dan saling pandang beberapa saat dengan Vero.
"Bantu memasangkan seat belt mu." Jawab Vero yang juga akhirnya tersentak.
"Oh, ya, ok."
Vero pun tersenyum, lalu mulai mengaitkan seat belt milik melati ke sisi kursi. Memastikan seat belt telah terpasang sempurna, Vero pun langsung melajukan mobilnya meninggalkan area Resto untuk menuju ke toko ponsel yang ada di pusat kota.
__ADS_1
Sepanjang jalan Vero terus tersenyum, sembari sesekali melirik ke arah Melati yang nampak tegang.
"Kamu memutuskan untuk ikut bersamaku, apa itu artinya kamu mulai yakin jika aku ini bukan orang jahat?!" Tanya Vero yang semakin melebarkan senyumannya.
"Tidak juga!" Jawab Melati datar.
"Tidak juga?? Jika begitu kenapa kamu berani ikut denganku?"
"Entah lah, aku hanya sedang mengikuti instingku saja, semoga saja instingku ini benar."
"Pasti benar." Jawab Vero yang kembali tersenyum manis.
Vero pun semakin menambah laju mobilnya, melintasi hiruk pikuk jalanan kota yang begitu ramai. Melati memilih untuk kembali diam, hingga membuat suasana di dalam mobil seketika jadi terasa hening dan sedikit canggung.
"Jadi,,, selain seorang pelayan, kamu juga mahasiswi?" Tanya Vero memastikan lagi, sekalian juga demi memecah keheningan pada saat itu.
"Iya."
"Kuliah di Universitas yang sama, tapi kenapa sebelumnya aku sama sekali tidak pernah melihatmu?"
"Aku mahasiswi baru, lagi pula kampus itu sangat besar, ada banyak fakultas, wajar saja jika tidak pernah melihatku."
"Oh ya, hehe pantas saja. Memangnya kamu di fakultas apa?"
"Fakultas bahasa dan seni."
"jurusan?"
"Sastra."
"Oh waw, calon penulis hebat." Celetuk Vero.
Sepanjang jalan Melati lebih banyak diam, namun dalam diamnya ia terus berfikir, bagaimana bisa ia bersedia di beri tumpangan oleh orang yang masih sangat asing baginya.
"Kenapa aku bisa jadi ceroboh begini? Mau ikut bersama lelaki yang baru saja ku kenal secara tidak sengaja, ehmm astaga!!! Bagaimana kalau dia benar-benar ada niat jahat? Bagaimana kalau dia ini sindikat penculikan dan penjual organ tubuh manusia? Atau, bagaimana kalau dia mau memperkosaku??!" Gumam Melati dalam hati sembari sesekali ia melirik ke arah Vero yang saat itu tengah menyetir dengan tenang.
"Ada apa Melati?" Tanya Vero yang saat itu tatapannya masih begitu fokus menatap jalanan.
Melati pun mulai mengernyitkan dahinya.
"Ada apa? Kenapa sejak tadi terus memandangiku?" Tanya Vero lagi.
"Dari mana kamu tau? Bukannya sejak tadi kamu fokus mengemudi?!" Tanya Melati yang dibuat terheran-heran.
"Kamu ini benar-benar lugu ya Melati," Vero kembali tertawa geli.
"Meskipun aku tidak menatap mu secara langsung, tapi bukankah ekor mataku tetap bisa melihat?"
"Eeemm."
"Jadi kenapa? Kenapa sejak tadi menatapku?" Tanya Vero yang nampaknya masih penasaran seolah ia memerlukan jawaban dari Melati sesegera mungkin.
"Tidak, aku hanya penasaran! Kenapa kamu mau membuang waktumu hanya untuk mengantarku? Bukankah itu terkesan sedikit aneh, mengingat kamu dan aku tidak saling kenal sebelumnya, bahkan baru juga bertemu tadi siang. Dan tadi,,, kenapa kamu bisa berada di depan resto?" Ungkap Melati tanpa rasa ragu sedikit pun.
Vero kembali melebarkan senyumannya.
"Kamu sungguh yakin baru bertemu dan melihatku tadi siang?" Kali ini Vero kembali menatap lekat ke arah Melati.
"Eeemm." Melati pun mengangguk penuh keyakinan.
__ADS_1
"Andai kamu tau, aku bahkan sudah memperhatikanmu sejak beberapa Minggu belakangan ini." Celetuk Vero dengan suara pelan.
"Apa?!" Tanya Melati yang rupanya tidak mendengar ucapan Vero dengan jelas.
"Tidak ada! Kamu tau, aku sangat sering makan siang di restoran tempat dimana kamu bekerja, dan aku sudah sering melihatmu. Hanya saja mungkin kamu belum ada kesempatan untuk melayani kami sebelumnya."
"Oh ya??? Emm, tapi sayangnya aku adalah tipe orang yang tidak terlalu mau memperhatikan orang, apalagi yang tidak ku kenal, makanya aku sulit mengingat wajah seseorang."
"Eeemm I see. Itu bisa terlihat dari sikapmu yang cuek ini."
Melati pun kembali diam dan mendengus pelan.
"Intinya, apapun niatku saat ini padamu, yang jelas aku sama sekali tidak ada niat jahat padamu." Tegas Vero di akhir perbincangan mereka.
Melati yang mendengar pernyataan itu pun langsung melirik sekali lagi ke arah Vero, melihat wajahnya yang memang tidak ada tanda-tanda orang jahat, hingga membuat Melati setidaknya sedikit merasa tenang.
Hingga beberapa menit berlalu, akhirnya Vero berhasil menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah toko ponsel tempat langganannya dan keluarga.
"Disini?" Tanya Melati sembari memandangi toko yang begitu mewah yang ada di hadapannya.
"Iya. Ini toko ponsel yang paling lengkap dan juga paling ramai di kunjungi." Jelas Vero.
Melati seolah ragu, melihat dari bentuk tokonya yang megah, sudah pasti harganya di atas rata-rata, begitu lah pikirnya.
"Kalau tokonya begini, aku tidak yakin uangku akan cukup." Gumam Melati dalam hati.
"Ayo masuk." Ajak Vero.
"Eh tu,,, tunggu!" Cegah Melati.
"Ada apa?"
"Bisakah kamu mengantarku ke toko lain saja? Ma,, maksudku ke toko ponsel yang biasa-biasa saja, tidak usah yang seperti ini."
"Memangnya kenapa?"
Melati awalnya malu untuk mengatakan yang sebenarnya, mengatakan jika uangnya sangat pas-pasan dan hanya berniat untuk membeli ponsel yang biasa saja. Namun setelah ia pikirkan lagi, rasa-rasanya tidak ada gunanya ia merasa malu.
"Untuk apa aku harus malu padanya? Memangnya dia siapa? Lagi pula aku tidak ada niat untuk hal yang lebih dari pada ini." Gumam Melati dalam hati.
"Hei, kenapa diam saja?" Vero pun melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Melati yang sedang melamun.
"Eh, eemmm." Melati pun akhirnya tersentak.
"Begini, sebenarnya ini adalah gaji pertamaku, meski pun gajinya tidak seberapa, tapi aku ingin sekali membelikan ibuku sebuah ponsel dengan uang hasil keringatku sendiri, karena di desa, ibuku tidak memiliki ponsel. Ta,, tapi maksudku, aku hanya ingin membeli ponsel yang biasa-biasa saja, asalkan bisa di pakai untuk berkomunikasi." Jelas Melati dengan suara pelan dan wajahnya terlihat sedikit sendu.
Vero yang mendengar hal itu, lagi-lagi di buat tersentuh hatinya, melihat bagaimana wanita yang membuatnya tertarik ini, memiliki sikap dan sifat yang luar biasa. Vero pun akhirnya kembali tersenyum, bukan justru membuatnya hilang feeling pada Melati, justru pengakuan Melati itu membuatnya jadi tambah suka dan yakin jika Melati memang lah gadis yang baik.
"Jadi itu masalahnya ya." Vero pun mengangguk tanda mengerti.
"Eemm baik lah, tapi berhubung kita sudah terlanjur sampai disini, bagaimana kalau kita masuk saja dulu ke dalam dan melihat-lihat. Karena setauku, ini toko paling lengkap, mulai dari yang termurah hingga termahal, kurasa ada semuanya disini."
"Benarkah begitu?"
"Iya, makanya ayo kita masuk dulu dan melihat-lihat." Ajak Vero yang langsung menarik tangan Melati begitu saja.
Mau tak mau, Melati pun terpaksa harus mengikuti langkah Vero untuk memasuki toko itu.
...Bersambung......
__ADS_1