Ibuku Sayang Ibuku Malang

Ibuku Sayang Ibuku Malang
Chapter 47


__ADS_3

*Deeeggg*


Bak tersambar petir di siang bolong, Melati yang awalnya terus tersenyum, seketika jadi tercengang, ia terdiam dengan perasaan yang kini seakan luluh lantah.


"Apa ini? Kenapa rasanya sakit? Bahkan dadaku seakan terasa sesak!" Gumam Melati dalam hati yang pada saat itu tanpa ia sadari, kedua matanya mulai berkaca-kaca.


"Melati," panggil Vero.


Tapi Melati tak menjawab, ia masih saja diam dengan segala macam hal yang tengah ia pikirkan sendiri. Menyadari ucapannya masih belum di respon oleh Melati, Vero pun mulai memegang jemari tangan Melati yang kala itu masih terlipat di atas meja.


"Hei, Melati??!" Panggilnya lembut.


Melati pun tersentak saat itu juga, menyadari tangan Vero yang saat itu memegang lembut tangannya, membuat Melati secara refleks menepisnya hingga membuat Vero sontak mengerutkan dahinya.


"Melati?? Ada apa denganmu?" Tanya Vero yang terlihat begitu bingung dengan perubahan sikap Melati secara tiba-tiba.


"Tidak ada!" Jawab Melati datar.


Gantian, kali ini Vero yang nampak tercengang saking herannya.

__ADS_1


"Tidak perlu khawatir, aku akan membuatkannya untukmu, dengan begitu, aku akan benar-benar merasa lega karena tidak berhutang budi lagi padamu. Dan,,, dengan begitu pula, urusan antara kamu dan aku, selesai!" Tambah Melati lagi.


Mendengar hal itu, membuat Vero jadi semakin kebingungan, Melati kini kembali menjadi cuek dan dingin seperti dulu, hanya dalam waktu beberapa menit saja.


Melati mulai menurunkan kedua tangannya dari atas meja, lalu mulai *******-***** rok yang saat itu ia kenakan, saat itu Melati benar-benar merasa sakit hati, ia kecewa, dan marah. Dia marah bukan pada Vero, melainkan pada dirinya sendiri yang begitu bodoh, bodoh karena mulai takluk dan luluh. Bodoh karena ia mulai menyukai Vero, dan bodoh karena begitu berharap pada Vero yang jelas-jelas sangat tidak sepadan dengannya.


"Melati, kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Vero yang masih belum paham dengan perubahan sikap Melati yang cukup mencolok.


"Aku tidak apa, aku hanya ingin pulang sekarang!"


"Sekarang??"


Namun, tentu saja hal itu tidak dibiarkan terjadi begitu saja oleh Vero. Saat itu juga, Vero juga langsung bangkit dari duduknya dan langsung menarik lengan Melati, menahannya agar tidak pergi.


"Tunggu!" Ucap Vero.


Melati terdiam, tapi tidak berniat untuk menoleh kembali ke arah Vero karena saat itu air yang tergenang dimatanya terasa semakin banyak dan mungkin saja sebentar lagi air mata itu akan menetes tanpa bisa di bendung lagi.


Vero, dengan lembut menarik Melati, membuatnya Melati kini jadi berhadapan dengan Vero. Tanpa sepengetahuan Vero, Melati dengan gerakan yang sangat cepat langsung mengusap kedua matanya agar air matanya tidak menetes di hadapan Vero.

__ADS_1


"Sudah ku katakan aku tidak apa-apa!" Tegas Melati, namun tetap saja ia tidak bisa menutupi bahasa tubuhnya yang terlihat sangat lesu dan kehilangan semangat juang.


"Aku mau pulang, tolong jangan tahan aku!" Tambah Melati lagi yang mencoba menepis tangan Vero untuk kedua kalinya.


"Ya sudah, kalau mau pulang biar aku antar." Jawab Vero.


"Tidah usah, aku mau pulang sendiri!"


"Tidak!!!" Tegas Vero.


"Kenapa tidak?" Kedua mata Melati sontak melotot.


"Kamu datang kesini bersamaku, maka saat pulang juga harus bersamaku! Lagi pula, ini sudah jam 10 malam, akan sedikit berbahaya jika perempuan pulang sendirian naik angkutan umum."


"Aku tidak takut!" Ketus Melati.


"Astagaaa, kamu ini kenapa? Kenapa sangat keras kepala?" Keluh Vero yang masih juga tidak mengerti, ada apa sebenarnya dengan Melati.


"Aku tidak keras kepala, aku memang tidak takut jika harus pulang sendiri naik angkutan umum meski sudah malam. Yang lebih aku takutkan adalah, saat aku harus pulang dengan lelaki yang sedang menyukai dan dekat dengan seorang wanita, apalagi jika wanita itu melihat aku di antar pulang dengan lelaki yang lagi dekat dengannya, hoh,, bisa-bisa aku di serang olehnya."

__ADS_1


Vero pun terdiam seribu bahasa saat mendengar ocehan Melati yang akhirnya membuatnya mengerti kenapa sikap Melati bisa berubah menjadi dingin secara mendadak.


__ADS_2