
"Bukankah begitu sayang?" Tanya Rudy pada calon istrinya itu yang cantik jelita itu.
Lagi-lagi Rena hanya mengangguk dan kembali tersenyum, senyumannya benar-benar terlihat sangat manis, juga begitu menggoda. Tak salah jika Nio, calon anak tirinya pun ikut tergoda padanya. Bukan hanya itu, kemolekan tubuh Rena, benar-benar tubuh yang di idam-idamkan para lelaki, termasuk Nio.
"Tidak, bagaimana mungkin wanita yang baru membuatku terpesona ini akan menjadi ibu tiriku. Yang benar saja." Gumam Nio dalam hati.
"Ja, jadi di, dia, dia akan menjadi ibu, ibu tiriku?" Tanya Nio dengan terbata-bata saking tak menyangkanya.
"Benar, meski dia jauh lebih muda dari papa, tapi papa sudah cukup mengenalnya, dan papa yakin dia bisa menjadi ibu yang baik untukmu." Jelas Rudi dengan wajahnya yang begitu berbinar.
Nio pun hanya terdiam sembari mulai meneguk air mineral yang telah tersedia di hadapannya.
"Tidak hanya sebagai ibu sambung, kamu juga bisa menganggapku sebagai teman jika kamu butuh teman curhat atau berbagi masalah mu Nio." Tambah Rena yang kembali tersenyum.
Rena memang terlihat begitu ramah dan baik, ia pun terlihat begitu tulus saat mengatakannya, Nio yang mendengarnya pun hanya bisa tersenyum lirih dan mengangguk singkat.
"Ya sudah, ayo kita mulai makan saja sebelum makanannya dingin." Tambah Rudi yang kemudian mulai menyantap makanannya.
Makan malam kala itu cukup berjalan dengan damai, tak ada perdebatan antara Nio dan ayahnya seperti yang biasa terjadi di rumah. Malam itu, wajah Rudi papa Nio sungguh jauh dari kata datar seperti biasanya, seolah sebuah senyuman pun tak lekang dari bibirnya. Begitu pula dengan Rena, di pertemuan pertamanya dengan Nio, ia sudah bersikap seolah tak canggung dalam memperlakukan Nio sebagai anak sambungnya.
"Ini sangat enak, cobalah." Ucap Rena sembari menaruh beberapa sendok mie goreng pangsit ke piring Rudi.
"Terima kasih sayang." Rudi pun tersenyum dan langsung melahap makanan itu.
"Nio, apa kamu juga mau? Cobalah ini, rasanya sangat enak." Ucap Rena lagi.
Ia pun menyendokkan mie goreng pangsitnya dan meletakkannya juga ke piring Nio, membuat posisinya sedikit membungkuk saat meletakkan makanannya karena posisi Nio yang berada di hadapannya sedikit jauh.
Hal itu pun membuat belahan dada Rena menjadi terlihat, Nio yang kala itu ada di hadapannya pun bisa melihat dengan jelas, bahkan sangat jelas bagaimana kedua gundukan daging yang nampak begitu kokoh berdiri sedikit menyumbul di balik gaunnya.
__ADS_1
Nio kembali tertegun, hingga beberapa kali harus menelan ludahnya sendiri saat melihat pemandangan yang dirasanya begitu indah.
"Astaga kenapa aku ini? Di kampus ada banyak wanita cantik dan tak kalah seksi yang pernah mencoba mendekati dan menggodaku. Tapi kenapa aku tak pernah merasa tertarik seperti sekarang ini?" Gumam Nio lagi yang mulai merasa berkeringat dingin menahan gejolaknya.
Beberapa puluh menit sudah berlalu, makan malam pun selesai, kini mereka bertiga pun mulai beranjak menuju loby restoran.
"Terima kasih Nio telah meluangkan waktu mu untuk makan malam bersama." Ucap sang ayah.
"Iya, tidak masalah." Jawab Nio datar.
"Ya sudah, papa harus mengantar Rena lebih dulu. Kau hati-hati lah jika masih ingin di luar."
"Tidak, sepertinya aku langsung pulang saja."
"Oh, begitu rupanya, ya sudah sampai bertemu di rumah."
"Baiklah aku pulang dulu, sampai bertemu lagi Nio." Ucap Rena yang kembali tersenyum ramah sembari melambaikan tangannya ke arah Nio.
"Ya, ok." Jawab Nio yang ikut tersenyum tipis sembari membalas lambaian tangan Rena.
Kini mobil jenis sedan mewah yang di kendarai oleh Rudi dan Rena pun telah berlalu pergi, meninggalkan Nio yang masih berdiri tak jauh dari mobilnya sembari memandangi kepergian mobil itu yang semakin menjauh darinya.
Dengan pikirannya yang kalut, ia pun langsung pulang, dengan lesu ia kembali memasuki kamarnya, membuka dan melayangkan kemeja yang sejak tadi ia pakai ke sembarang arah. Ia kembali terbaring telentang di atas ranjang, lagi-lagi ia terbayang wajah Rena, bentuk bibir Rena yang terlihat begitu seksi saat berbicara dan tersenyum sungguh begitu jelas terbayang di ingatannya, belum lagi ketika belahan dada Rena yang sempat terlihat jelas olehnya, semuanya yang ada pada tubuh Rena nampaknya sungguh mengganggu pikirannya.
"Astaga bagaimana ini? Wanita itu sungguh membuatku gelisah." Celetuknya seorang diri sembari mengusap kasar wajahnya.
Pagi hari...
Cuaca hari ini cukup cerah, Nio turun dari kamarnya masih dalam keadaan berantakan karena ia benar-benar baru bangun tidur.
__ADS_1
Rambutnya yang cukup tebal pun terlihat masih begitu acak-acakan, ditambah lagi dengan wajah khas orang baru bangun tidur.
Sembari menguap dan mengucek-ngucek matanya, ia terus melangkah menuruni anak tangga.
Dan secara tiba-tiba suara seorang wanita yang terdengar begitu lembut begitu jelas menyapanya pagi itu.
"Selamat pagi Nio." Sapanya.
Nio pun sontak melirik ke arah sumber suara, dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok Rena yang saat itu sedang berdiri di sisi meja makan sembari memegang sebuah teko sedang tersenyum menatapnya.
Langkah Nio pun terhenti dengan matanya yang membulat.
"Kau sudah bangun? Ayo kemari lah, kita sarapan bersama, karena calon ibumu sudah membuatkan sarapan untuk kita." Jelas Rudi yang juga sudah terduduk di salah satu kursi dengan sudah berpakaian rapi.
Tanpa berkata apapun, Nio dengan cepat mendadak putar haluan dan ingin kembali masuk ke kamarnya karena ia merasa begitu tak percaya diri di depan Rena karena penampilannya yang begitu berantakan.
"Nio, kau mau kemana?" Tanya ayahnya.
"Aku, aku mau mandi dulu biar lebih segar saat makan." Jawab Nio yang langsung melanjutkan langkahnya.
"Emm tumben sekali, biasanya dia langsung makan saja tanpa mandi terlebih dulu." Celetuk Rudi sembari memandangi kepergian Nio.
"Sudah lah, tidak perlu merasa aneh, bukankah dengan dia memilih mandi lebih dulu justru lebih bagus?" Jawab Rena yang kembali menuangkan teh hangat ke dalam cangkir.
"Emm kamu benar juga." Rudi pun akhirnya kembali tersenyum tipis.
Tak terlalu lama menunggu, akhirnya Nio terlihat kembali turun dengan sudah berpakaian rapi dan wangi. Ia pun langsung duduk, lagi-lagi ia duduk tepat berhadapan dengan Rena yang saat itu tengah menggunakan dress berlengan sesiku, namun dengan bentuk kerah berbentuk V yang cukup melebar hingga belahan dadanya pun terlihat.
Bersambung...
__ADS_1