
Rio sama sekali tidak keberatan, mengingat itu hari terakhir ia memiliki moment bersama kakaknya.
Rio dan Melati pun akhirnya pergi lebih dulu menuju stasiun dengan menaiki sepeda ontel yang sudah cukup lama tidak terpakai.
"Hati-hati membawa kakakmu, Rio!" Ucap Husna.
"Ya bu." Jawab Rio yang mulai mengayuh sepedanya.
"Bye buuu." Ucap Melati sembari melambaikan singkat tangannya.
Husna pun membalasnya dengan ikut melambaikan tangan,
"Ibu akan menyusul kalian bersama ayah." Teriak Husna pada anaknya yang mulai menjauh.
"Iya bu, aku tunggu!" Jawab Melati yang juga ikut berteriak.
Husna bergegas masuk, dan langsung menuju kamar mandi demi menyegarkan dirinya yang sedikit bangun kesiangan karena begadang semalaman demi mengemas barang Melati.
Sepuluh menit berlalu, Husna pun keluar dari kamar mandi dan mendapati Aryo yang ternyata masih belum bangun juga.
"Maass." Husna menyentuh lengan suaminya dan mulai menggoyang-goyangkannya dengan pelan.
"Eehmm." Jawab Aryo namun masih dalam keadaan terpejam.
"Mas, ayo bangun mas! Kita harus mengantar Melati ke stasiun." Ucap Husna.
Mendengar hal itu, kedua mata Aryo pun seketika langsung terbuka lebar.
"Jam berapa ini?" Tanyanya yang langsung bangkit dari tidurnya begitu saja.
"Jam 06:30 mas."
"Eemm ya, aku mandi sekarang." Jawabnya dengan nada datar dan langsung beranjak menuju kamar mandi.
Aryo bisa di katakan memanglah suami yang kejam dan kurang bersyukur, tapi biar bagaimana, Melati pun tetap lah anak kandungnya, maka sekejam apapun ia, tentu masih ada sisi kebapakan dalam dirinya hingga ia pun tak mau ketinggalan moment berharga untuk mengantar anaknya untuk terakhir kali.
Beberapa puluh menit berlalu, Husna dan Aryo pun telah siap dan bergegas untuk menyusul Melati dan Rio yang sudah lebih dulu tiba di stasiun. Aryo berjalan tergopoh-gopoh sembari menjinjing satu tas milik Melati yang masih tertinggal di rumah, namun Husna ia lebih terlihat kualahan saat harus membawa koper melati yang cukup besar di tambah satu tas lagi yang harus ia bawa menyusrui jalanan yang tidak rata dan sedikit menanjak.
"Sayang,," Panggil Husna yang kala itu mulai ngos-ngosan.
"Ada apa?" Aryo pun menoleh singkat ke arah Husna yang saat itu berada beberapa meter di belakangnya.
"Sayang, tolong pelankan sedikit jalannya, aku sangat kesulitan membawa barang-barang ini."
"Apa ucapanmu itu sedang menyindirku Husna?"
"Menyindir apa?" Tanya Husna yang nampak tak mengerti.
"Ya tentu saja. Apa kau berharap aku akan bisa membantu membawakan koper itu, dengan kakiku yang seperti ini? Begitu?"
"Ah tidak sama sekali," Husna pun menggeleng cepat.
__ADS_1
"Aku hanya memintamu untuk berjalan lebih pelan, agar aku tidak tertinggal jauh. Hanya itu saja." Jawab Husna.
"Hei, tapi ini sudah jam brapa?! Bisa-bisa Melati akan ketinggalan kereta jika kamu sangat lambat."
"Ta,, tapi bukan mauku..."
"Ah sudah! Jangan banyak berbicara nanti jadi semakin lambat, jalan saja!" Tegas Aryo yang akhirnya kembali melajukan langkahnya.
Mau tak mau, Husna dengan sisa tenaga yang ia punya, kembali menarik koper yang cukup berat itu dan ikut melanjutkan langkahnya dengan nafas yang terengah-engah.
Satu jam berlalu, Melati yang sudah mendapatkan tiket, terus berdiri di sisi kereta, ia menunggu dengan sangat cemas kedatangan ibu dan ayahnya yang hingga saat itu belum juga tiba.
"Astaga, dua puluh menit lagi keretanya sudah harus berangkat, tapi ayah dan ibu belum juga muncul, bagaimana ini?" Keluh Melati yang kembali merasa panik.
"Tenang lah kak, ibu dan ayah pasti datang." Rio pun tersenyum dan menepuk pundak sang kakak.
"Iya, mereka memang pasti akan datang menyusul kesini, tapi masalahnya berapa lama lagi mereka akan tiba? Apa sesudah kereta ini pergi?"
"Eeemm kalau itu aku tidak tau. kalau pun ayah dan ibu belum juga tiba sampai kereta ini berbunyi, kakak naik dan pergi saja." Jawab Rio enteng.
Mendengar hal itu, Melati pun langsung melirik tajam ke arah adiknya.
"Lalu bagaimana dengan barang-barangku ha?! Apa kau harus pergi tanpa barang-barangku dan menjadi gembel di kota? Iya? Begitu maumu?" Melati pun mengecakkan kedua tangannya di pinggang.
Rio pun langsung cengengesan.
"Iya-iya, kenapa kau ini jadi cerewet sekali seperti ibu? Apa kelakuan ibu mulai menular padamu ya?"
"Otakku sudah buntu sekarang!" Jawab Rio datar.
Seolah pucuk di cinta ulam pun tiba, hanya berselang beberapa detik setelah berdebatan antara Melati dan Rio berakhir, Husna dan Aryo pun akhirnya terlihat mulai muncul dari balik kerumunan orang yang terus berlalu lalang.
"Nah kak, itu ibu dan ayah." Rio kembali menepuk pundak Melati sembari menunjuk ke suatu arah.
Melati pun langsung menoleh mengikuti arah kemana tangan Rio tertuju, perasaan lega pun akhirnya dapat ia rasakan begitu melihat dengan jelas bagaimana ayah dan ibunya berjalan cepat menuju ke arahnya,
"Astaga, syukur lah mereka tidak datang terlambat." Celetuk Melati sembari menghela nafasnya.
Husna dengan nafasnya yang tak lagi beraturan pun langsung menghampiri kedua anaknya.
"Huh, huh, huh, apa kamu lama menunggu kami nak?" Tanya Husna yang terlihat sangat ngos-ngosan saat tiba di hadapan Melati.
"Tentu saja, kenapa lama sekali?" Keluh Melati.
"Ibumu sangat lambat." Jawab Aryo datar sembari meletakkan tas milik Melati yang sejak tadi ia jinjing.
"Eeemm maafkan ibu ya, sangat sulit membawa kopermu yang sangat berat ini di jalanan yang tidak rata dan menanjak. Itulah yang membuat ibu jadi sangat lambat." Jawab Husna pelan.
Mendengar hal itu, bukannya marah, Melati justru sangat merasa bersalah pada Husna, karena lagi dan lagi ia hanya bisa merepotkan dan membuat ibunya jadi sangat lelah.
"Ibuuuu, maafkan aku bu." Ucap Melati lirih sembari mengusap-usap kedua lengan Husna.
__ADS_1
"Haaiss sudah lah, kenapa kamu yang minta maaf. Tidak apa, hehehe." Husna pun nyatanya masih bisa tersenyum sembari ikut mengusap-usap tangan anaknya.
"Oh ya, ayo cepat masukkan barang-barangnya ke kereta. Rio, tolong bantu kakakmu."
"Iya bu." Rio pun langsung mengangkat koper milik Melati dan membawanya masuk ke dalam kereta.
Sementara Aryo, juga berinisiatif membantu membawakan dua tas milik Melati untuk ia masukka ke dalam cabin.
Melati dan Husna masih berdiri di luar kereta, tak lama kereta pun berbunyi, sebagai tanda jika kereta sebentar lagi akan berangkat.
*Teeeetttt*
"Keretanya sudah mau berangkat bu." Ucap Melati lirih yang saat itu mulai menatap wajah ibunya dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.
Saat itu juga lah, air mata Husna tiba-tiba membludak dan jatuh berderai tanpa bisa ia tahan lagi.
"Kamu sungguh sudah mau pergi nak?" Husna pun mulai memegangi tubuh melati, dari mulai lengan, pundak, hingga kedua pipinya.
Melati pun mengangguk pelan dan akhirnya ikut meneteskan air mata.
"Oh ya ampun sayang, ibu pasti akan sangat merindukanmu, nak." Ungkap Husna yang terus meneteskan air matanya.
"Aku janji akan sering pulang bu, untuk menjenguk ibu."
"Berjanji lah satu hal pada ibu!"
"Apa bu?"
"Nanti, ketika kamu telah menemukan sosok lelaki yang tepat dan memutuskan untuk menikah, maka kamu harus kembali kesini, tinggal bersama ibu. Ya?" Pinta Husna dengan wajah yang terlihat memelas.
"Buuu! Aku pergi untuk melanjutkan sekolah, bukan mau menikah buuu! Lagi pula sudah ku katakan berkali-kali, aku tidak akan menikah!" Tegas Melati lagi.
Husna pun akhirnya hanya bisa mengangguk dan mulai menundukkan kepalanya.
Tak lama Rio dan Aryo pun kembali keluar dari kereta.
"Sudah, sudah! Kereta sudah mau berangkat." Ucap Aryo yang masih berusaha bersikap tegar, meski ternyata dalam hatinya ia pun sedih untuk melepaskan kepergian putri sulungnya.
"Ah iya, iya." Dengan cepat Husna pun langsung mengusap kembali air matanya.
"Ayo nak, masuk lah, nanti kamu ketinggalan kereta. Ayo, masuk lah." Husna pun kembali tersenyum dan bergegas mendorong Melati agar segera memasuki kereta.
"Rio, aku sudah tidak disini, maka tolong jagalah ibu!" Ucap Melati sembari menatap sendu ke arah adiknya.
Rio pun mengangguk cepat.
"Karena hanya kau saja yang bisa ku harapkan untuk menjaga ibu." Tambah Melati lagi sembari melirik ke arah ayahnya.
Ya ucapan Melati kali itu juga ia tujukan sebagai suatu sindiran keras pada ayahnya yang selalu memukuli ibunya.
Aryo yang mendengar hal itu hanya terdiam dan tentu saja ia pun juga merasa jika ucapan Melati kali itu adalah bertujuan untuk menyindirnya.
__ADS_1
...Bersambung......