Ibuku Sayang Ibuku Malang

Ibuku Sayang Ibuku Malang
Chapter 38


__ADS_3

Hari ini, adalah hari yang cukup melelahkan serta mengejutkan bagi Melati, bagaimana tidak, ini adalah kali pertama Melati mendapat perlakuan bullying yang sudah mengarah ke kekerasan fisik seperti itu. Namun meski begitu, Melati sama sekali tidak merasa takut apalagi trauma, ia benar-benar telah mempersiapkan diri bahkan mentalnya, karena sebelumnya ia pun banyak mendengar jika kehidupan di kota memang lah sangat keras dan kejam.


Tak terasa, kini jam sudah menunjukkan pukul 19:00 malam, jam kerja Melati sudah habis, ia pun segera berkemas dan bersiap untuk pulang. Namun lagi dan lagi, entah kenapa hari ini ada saja orang yang selalu menghentikan langkah Melati begitu ia ingin beranjak.


"Melati,," panggil pak Menejer yang kala itu menghampirinya ke loker/tempat penyimpanan barang.


"Iya pak?"


"Setelah selesai berkemas, tolong segera ke ruangan saya!"


"Oh baik pak." Melati pun mengangguk cepat


"Saya tunggu!" Ucap pak Menejer yang kemudian langsung pergi begitu saja,


Setelah selesai berkemas, Melati pun langsung melangkah menuju ruangan Menejer.


*Toktoktok*


Melati pun mulai mengetuk pintu dengan pelan.


"Masuk lah!"


Melati pun perlahan masuk, nampak di dalam ruangan itu sudah berdiri dua orang pelayan sembari memegang amplop putih.


"Kalau begitu kami permisi dulu pak, terima kasih." Ucap salah seorang pelayan.


"Ya,"


"Hei Mel, kami pulang duluan ya." Ucap salah satu dari pelayan itu sembari menepuk singkat pundak Melati.


"Oh iya, hati-hati di jalan." Jawab Melati sembari tersenyum tipis.


"Mel,,,"


"Iya pak?" Melati yang awalnya berdiri di depan pintu, perlahan mulai masuk ke dalam ruangan itu.


"Sebelumnya saya mau bertanya, ada masalah apa sebelumnya antara kamu dan perempuan tadi? Kenapa dia bisa melakukan hal itu padamu?" Tanya pak Menejer yang ternyata masih merasa penasaran atas kejadian tadi siang.


Melati pun mulai menggelengkan pelan kepalanya.


"Saya juha tidak tau pak." Jawabnya kemudian, sembari memasang raut wajah bingung.


"Apa sebelumnya kalian sudah saling mengenal?"


"Tidak pak, saya bahkan baru melihatnya."


"Benarkah?"


Melati pun hanya mengangguk.


"Lalu, kenapa dia bisa menjegalmu seperti itu jika sebelumnya kalian tidak saling kenal dan punya masalah??"


Kini Melati terdiam, sembari otaknya mulai berpikir kembali.


"Apa mungkin wanita itu cemburu denganku?? Dia marah dan tidak terima karena lelaki itu tadi ingin mentraktirku makan siang?? Apa mungkin karena hal itu??!" Tanya Melati dalam hati.


"Heeemm ya sudah lah tidak perlu di perpanjang lagi! Intinya saya cuma mau mengingatkan, agar kamu jangan pernah berurusan dan membuat masalah lagi dengan orang-orang yang ada di meja itu tadi."


"Memangnya kenapa pak?" Tanya Melati yang mulai mengernyitkan dahinya.


"Mereka itu pelanggan di restoran ini, hampir setiap hari mereka makan siang disini saat pulang kuliah, dan setahu saya mereka semua adalah anak-anak pejabat dan pengusaha yang kaya raya. Jadi jangan pernah buat masalah lagi dengan mereka atau kamu akan dibuat susah sendiri oleh mereka atau pun orang tua mereka."

__ADS_1


Melati pun terdiam.


"Kamu kenapa diam saja? Apa kamu mendengar apa yang saya ucapkan?!"


"Iya pak, saya dengar." Melati pun mengangguk singkat lalu mulai kembali menundukkan kepalanya,


"Eeemm baik lah, dan ini,,," Menejer pun membuka laci yang ada di meja kerjanya dan langsung meletakkan sebuah amplop besar berwarna putih polos di atas meja tepat di hadapan Melati.


"Ini gaji pertamamu, ambil lah!" Tambah pak Menejer itu lagi.


Melati pun langsung tersenyum sumringah sembari terus memandangi amplop putih yang kala itu masih terletak di atas meja.


"Kenapa hanya di lihati saja? Ayo ambil ini dan pulang lah! Tunggu apa lagi?"


"Ah iya, terima kasih banyak pak." Ucap Melati saat meraih amplop itu dengan senyumannya yang semakin merekah.


"Iya."


"Kalau begitu saya permisi pak." Melati pun akhirnya pamit untuk pulang.


Dan hanya di balas dengan sebuah anggukan singkat oleh Menejernya yang diketahui bernama Surya.


Melati terus memandangi amplop itu, itu adalah gaji pertamanya, uang pertama yang ia hasilkan dengan keringatnya sendiri. Melati semakin melebarkan senyumannya, saat melihat isi dalamnya yang baginya itu sudah sangat lebih dari cukup.


Namun tiba-tiba saja ia teringat dengan ibunya, ibunya yang selalu memprioritaskan dirinya dalam keadaan apapun, bahkan ketika ada uang lebih meski tidak banyak, ibunya selalu teringat untuk membelikan Melati ini dan itu. Kedua matanya pun mulai berkaca-kaca, perasaan rindu yang teramat sangat perlahan mulai menjalar dan menguasai dirinya.


"Bu, aku rindu." Celetuk Melati yang mulai meneteskan air matanya.


Saat itu, rasanya ingin sekali ia menelpon ibunya, mendengar suara ibu entah kenapa mampu membuatnya merasa tenang dan jauh lebih baik. Saat itu ia ingin sekali bercerita pada ibunya, jika dia baru saja menerima gaji pertama yang ia dapatkan dari keringatnya sendiri. Namun, apalah daya, situasi Husna yang tidak memiliki ponsel, membuat komunikasi di antara mereka jadi terhambat.


"Tidak mungkin aku menelpon Nana malam-malam begini dan memintanya datang ke rumahku untuk meminjamkan ponselnya pada ibu." Gumam Melati lirih dalam hati.


Melati pun kembali memandangi uang gajinya, lalu mulai timbul pikiran untuk membelikan ponsel untuk ibunya, ponsel yang tidak terlalu mahal asal bisa di pakai untuk berkomunikasi. Melati melirik ke arah jam tangan yang saat itu sedang ia pakai, terlihat jarum jam yang saat itu baru menunjukkan pukul 19:20 malam. Melati pun akhirnya kembali tersenyum, karena masih belum terlalu malam baginya untuk mencari toko ponsel.


"Hai Melati." Sapanya dengan sangat ramah.


Langkah Melati pun terhenti seketika dan membuatnya sedikit tertegun.


"Ha,,, hai." Jawab Melati ragu-ragu.


"Kamu sudah selesai bekerja?" Tanya Vero basa basi.


"Oh iya. Ada apa ya mas? Apa mas mau makan malam? Silahkan saja mas, restonya masih buka kok." Jelas Melati yang mencoba tetap ramah.


"Oh tidak. Aku sudah makan hehe."


"Oh ok, lalu ada apa?" Tanya Melati sembari mengernyitkan dahinya.


"Eeemm aku kesini,,, aku kesini memang sengaja ingin menemuimu." Jawab Vero memberanikan diri.


"Menemuiku? Ada apa lagi mas? Apa ini masih menyangkut masalah tadi siang?" Dahi Melati pun nampak semakin mengkerut.


Ia nampaknya mulai salah paham dengan maksud dari kedatangan Vero saat itu yang padahal ia ingin menjumpai Melati karena tak lain ingin menunjukkan rasa ketertarikan padanya.


"Vero! Panggil aku Vero saja!"


Melati kembali terdiam sejenak.


"Bisa kan?" Tanya Vero lagi dengan lembut.


Namun Melati, tetap lah Melati, meskipun di hadapannya kini sedang berdiri seorang lelaki yang harus ia akui memiliki wajah yang tampan dan kharismatik, namun hal itu tentu sama sekali tidak akan membuatnya jadi bersikap manis dan melanggar statement yang pernah ia ucapkan yaitu tidak akan pernah menikah dengan siapa pun.

__ADS_1


"Eeem ya, Vero! Lalu, ada apa ingin menemuiku?" Tanya Melati lagi dengan kedua tangannya yang kini mulai bersedekap di dada.


"Apa dia sungguh setidak peka itu terhadap sikapku ini?? Atau memang ia memiliki sifat yang super duper cuek seperti ini?" Gumam Vero dalam hati yang terus bertanya-tanya tentang sikap yang di tunjukkan Melati padanya.


"Jika di lihat dari pembawaan sikap serta gelagatnya, sepertinya dia bukanlah gadis yang mudah untuk di dekati. Eeemmm menarik!" Tambahnya lagi yang mulai kembali tersenyum tipis.


Tapi Melati yang saat itu sama sekali tidak tau apa isi pikirannya, mulai merasa risih saat Vero terus memandanginya dengan senyuman yang ia sendiri tak tau apa makna dari senyuman itu.


"Hih!! Tatapan macam apa itu? Kenapa dia menatapku seperti itu?! Sangat tidak sopan!!" Ketus Melati dalam hati yang mulai menggeram.


"Maaf ya, sebenarnya aku sedang buru-buru, jadi aku harus pergi sekarang. Selamat malam." Melati pun memilih pergi begitu saja.


Ucapan itu sontak membuat Vero seketika tersentak dari lamunannya dan bergegas menyusul langkah Melati.


"Melati, tunggu!"


"Aku sedang buru-buru!"


"Memangnya kamu mau kemana? Kenapa harus buru-buru?!" Tanya Vero yang masih terus mengikuti langkah Melati yang memang terkesan buru-buru.


"Mau ke toko ponsel!" Jawab Melati singkat tanpa menoleh sedikit pun ke arah Vero.


"Oh kalau begitu biarkan aku mengantarmu."


"Oh tidak perlu, terima kasih."


"Kenapa begitu? Bukannya kamu buru-buru? Lagi pula toko ponsel cukup jauh dari sini, kalau menunggu angkutan umum, bukannya akan memperlama waktumu?? Nanti keburu tutup." Pujuk Vero.


Mendengar hal itu sontak membuat langkah Melati kembali ia hentikan, lalu perlahan mulai melirik ke arah Vero yang saat itu ada di sampingnya.


"Benar juga." Celetuk Melati dalam hati.


"Tenang saja, kamu tidak perlu takut padaku, Aku bukan orang jahat." Ungkap Vero yang kembali tersenyum sangat manis.


Seharusnya sebagai perempuan normal pada umumnya, mendapat senyuman seperti itu dari lelaki tampan, tentu akan membuat si perempuan langsung klepek-klepek. Tapi nyatanya hal itu tidak terjadi pada Melati yang saat itu hatinya seolah mati.


"Memangnya ada orang jahat yang mengaku jahat?!"


Vero pun seketika langsung dibuat terkekeh.


"Selain jutek, ternyata kamu juga lucu ya." Ungkap Vero.


"Dan membuatku jadi makin suka." Tambahnya lagi namun kali ini cukup ia katakan di dalam hatinya saja.


"Eeemm." Jawab Melati acuh.


"Baik lah, kalau begitu, kenapa tidak menggunakan instingmu saja?"


"Instingku??" Melati pun nampak sedikit bingung.


"Iya. Bukankah selama ini banyak statement yang beredar, jika insting seorang wanita tidak pernah salah atau pun meleset. Maka dari itu, gunakan instingmu untuk menilaiku." Jelas Vero yang lagi-lagi terus menampilkan senyumannya yang khas.


Melati pun terdiam, lalu ia mulai menghela nafas panjang dan menjawab.


"Eeemm, Baik lah, ayo pergi sekarang."


"Apa?! Ja,, jadi kamu setuju untuk aku antar?" Vero pun semakin terlihat sumringah.


"Eeemm." Jawab Melati.


"Ah baik lah, ayo! Mobilku disana."

__ADS_1


Melati, entah kenapa dia bisa mempercayai Vero yang sebenarnya masih asing baginya, namun jika bicara soal insting, maka instingnya seolah memintanya untuk percaya, dan Melati pun akhirnya menurut, membiarkan instingnya yang bekerja saat itu.


...Bersambung......


__ADS_2