Ibuku Sayang Ibuku Malang

Ibuku Sayang Ibuku Malang
Chapter 35


__ADS_3

Seperti biasa, setelah selesai kuliah, Melati melanjutkan aktivitasnya dengan cara bekerja demi mendapatkan uang agar bisa bertahan hidup di kota tanpa harus menyusahkan keluarganya yang ada di desa. Melati yang sebelumnya ada tugas tambahan, membuatnya harus sedikit terlambat datang ke tempat kerja hari itu. Ia pun harus berlari kencang dari kampusnya demi bisa tiba di restoran dengan cepat.


Tapi ketika baru sampai di depan gerbang kampus, saking buru-burunya membuat Melati jadi tak sengaja menabrak tubuh seseorang hingga membuat beberapa buku yang ia bawa saat itu jadi berjatuhan.


*Brruaak*


"Oh astaga maaf, maaf kan aku." Ucap Melati yang langsung membungkukkan badannya beberapa kali tanpa berniat melihat siapa orang ia tabrak.


Seseorang itu adalah seorang lelaki muda bertubuh tegap, yang tak lain ialah Arvero. Kedua mata Arvero sontak membesar saat menyadari jika wanita yang menabraknya adalah wanita yang sama dengan seorang pelayan yang bekerja di restoran langganannya yang beberapa waktu belakangan ini selalu ia perhatikan diam-diam.


"Wanita ini, bukankah dia pelayan itu??!" Gumam Vero dalam hati yang kala itu masih terdiam dengan tatapan yang tak biasa saat memandangi Melati.


"Maafkan aku ya, aku sungguh tidak sengaja." Ucap Melati lagi yang kali ini secara perlahan mulai menatap wajah Vero dengan ragu-ragu.


Arvero, akhirnya mulai tersenyum saat kedua mata mereka saling bertemu.


"Tidak apa-apa, mungkin aku juga salah karena tidak melihatmu berlari." Jawab Vero dengan tenang.


Melati yang menyadari buku-bukunya masih berserakan, ia pun sontak langsung berjongkok untuk memungutnya.


"Biar aku bantu." Ucap Vero yang juga ikut berjongkok dan langsung membantu menyusun buku-buku Melati.


"Terima kasih, aku buru-buru, jadi harus pergi sekarang." Ucap Melati saat menerima kembali buku-bukunya dari Vero.


Melati pun pergi begitu saja, seolah tidak ada kesan apapun baginya sejak mereka pertama kali beradu pandang. Melati kembali berlari kencang, karena waktunya semakin banyak terbuang karena kejadian tak terduga sebelumnya. Sementara Vero, ia masih berdiri pada tempatnya, masih terdiam sembari terus memandangi punggung Melati yang semakin jauh darinya.


"Jadi,,, selama ini dia juga kuliah di kampus yang sama denganku?? Eeemmm, tapi kenapa aku tidak pernah melihat dia sebelumnya??" Tanya Vero dalam hati.


"Seorang mahasiswi di Universitas terbaik dan terpopuler, tapi juga seorang pelayan di restoran. Eeemmm,,,, cukup menarik." Gumamnya lagi yang kembali melebarkan senyumannya.


Tak lama beberapa teman Arvero pun datang menghampirinya.


"Hei Ro, apa kau menunggu lama?" Tanya Ine, salah satu teman wanita yang sering bergabung dengan Vero dan kawan-kawan.


"Tidak, aku juga baru keluar." Jawab Vero dengan santai.


"Oh ya sudah, apa kita langsung pergi sekarang?" Tanya Bowo, salah satu teman dekat Arvero.


"Aku lapar! Ada baiknya kita makan siang dulu." Jawab Vero.


"Oh ok tidak masalah, bukan hanya kau, semua orang yang ada disini sudah pasti juga lapar hehehe." Bowo pun cengengesan.


"Baik, aku tunggu di restoran biasa ya." Vero pun langsung melangkah cepat menuju mobilnya.


Entah kenapa, setelah pertemuannya barusan dengan Melati dengan jarak yang cukup dekat, membuatnya ingin kembali melihat Melati dengan cara mengunjungi restoran tempat dimana ia bekerja.


*toktoktok*


"Vero." Panggil Ine, sembari terus mengetuk kaca jendela mobil Vero yang kala itu sudah tertutup rapat.


Vero pun langsung membuka kaca jendelanya.

__ADS_1


"Ada apa Ne?"


"Apa aku boleh ikut di mobilmu saja? Karena mobil bowo sudah penuh."


"Oh tidak masalah, masuk lah." Vero pun langsung membuka kunci pada pintu mobilnya.


Ine pun semakin melebarkan senyumannya, lalu kemudiang langsung masuk dan duduk di kursi yang ada di samping Vero.


Vero mulai melajukan mobilnya, mereka pun keluar dari area kampus menuju restoran yang jaraknya juga tidak terlalu jauh dari kampus.


"Ro, ku dengar di ujung jalan sana, ada cafe yang baru buka, tempatnya juga keren dan sangat kekinian. Kenapa kita tidak coba makan disana saja?" Ajak Ine.


"Oh ya?!"


"Iya, yang aku dengar lagi, makanan disana juga enak-enak dan beragam jenis." Jelas Ine lagi dengan semangat.


"Eeemm tapi aku sudah terlanjur nyaman makan di restoran tempat kita biasa makan siang. Jadi aku sepertinya akan tetap kesana, tapi jika kau mau makan di cafe baru, tak apa, aku bisa mengantarmu kesana."


"Ah tidak! Untuk apa jika harus makan sendirian disana,"


"Kau bisa mengajak teman-teman yang lain, mumpung belum sampai ke restoran biasa. Telepon saja mereka." Jawab Vero santai.


"Lalu bagaimana denganmu."


"Aku akan tetap makan di restoran biasa."


"Walau pun harus sendirian???" Tanya Ine lagi.


"Hah?! Tumben sekali, kenapa bisa begitu?"


"Tidak ada, memang sedang malas untuk mencoba suasana baru saja."


"Eeemm ya sudah lah, kapan-kapan saja ke cafe barunya. kalau begitu mending aku ikut dengan mu saja." Ine pun kembali bersandar lesu di sandaran mobil.


"Terserah kau saja." Vero pun akhirnya kembali tersenyum tanpa melirik ke arah Ine sedikit pun.


Kala itu, Vero justru terus membayangi bagaimana teduhnya wajah Melati, disaat ia gugup dan ketakutan, wajahnya juga justru terlihat sangat menggemaskan, ah benar-benar membuat Vero semakin tak karuan dan ingin cepat-cepat berjumpa kembali.


Beberapa menit berlalu, mobil yang di tunggangi Arvero akhirnya sudah terparkir dengan sempurna di lahan parkir yang disediakan di depan Resto. Vero langsung keluar dari mobil begitu saja, dan tentu saja ia membiarkan Ine untuk membuka sendiri pintu, tanpa ada niat sedikit pun untuk membukakannya,


Vero masih berdiri di dekat mobilnya untuk menunggu teman-temannya yang lain, sungguh bukan seperti Arvero yang biasa, yang selalu masuk dan langsung memesan makanan lebih dulu.


"Ro, tunggu apa lagi? Ayo kita masuk." Ajak Ine sembari mulai menarik tangan Arvero.


"Tidak Ne, kau duluan saja." Ucap Vero sembari melepas pelan genggaman tangan Ine pada lengannya.


"Kenapa begitu?" Tanya Ine heran.


"Aku mau menunggu yang lain dulu."


"Hah?!" Lagi-lagi Ine pun di buat terheran-heran pada sikap Vero yang menurutnya cukup aneh.

__ADS_1


"Kenapa begitu Ro? Tumben sekali mau menunggu mereka? Biasanya kamu selalu masuk duluan dan langsung memesan makanan tanpa mau menunggu."


"Hehe tidak apa, hanya sedang ingin saja." Jawab Vero berbohong.


Vero melakukan hal itu bukanlah tanpa sebab musabab, ia rela menunggu teman-temannya di luar karena tak ingin masuk hanya berdua dengan Ine yang nantinya bisa membuat Melati yang melihatnya jadi salah sangka.


"Sebenarnya aku hanya tidak mau wanita itu melihat kita masuk berdua dan berpikir jika kita berpacaran. Itu jelas akan membuatku sulit untuk mendekatinya nanti." Gumam Vero dalam hati.


Tak lama sebuah mobil pun datang dan terparkir tepat di samping mobil Vero, mobil yang tak lain ialah mobil milik Bowo yang kala itu juga mengangkut empat orang teman mereka yang lainnya.


"Haaaiss, akhirnya datang juga. Kenapa kalian lama sekali?!" Ketus Vero menggeram.


"Hah?! Ada apa denganmu? Kenapa malah menunggu kami di luar? Bukannya biasanya..."


"Sudah lah!! Ayo kita masuk! Aku sudah sangat lapar!" Ucap Vero yang langsung memotong perkataan Bowo sembari merangkul pundaknya.


Mereka pun masuk ke dalam restoran itu beramai-ramai, dan benar saja kedatangan mereka itu langsung di sambut oleh Melati.


"Selamat siang." Sapa Melati dengan ramah."


"Siang."


"Untuk meja berapa orang?" Tanya Melati.


"Enam!" Jawab Bowo cepat.


"Baik, mari sebelah sini." Melati pun menuntun mereka untuk menuju meja yang ukurannya lumayan besar.


Vero kala itu kembali tersenyum saat akhirnya bisa kembali melihat wanita yang mulai membuatnya tertarik.


"Hai, akhirnya bertemu lagi." Ucap Vero pelan pada Melati yang kebetulan saat itu tengah berjalan di sisinya.


Melati sontak menoleh ke arah Vero dan seketika terdiam, sembari mengernyitkan dahinya seolah sedang mengingat-ingat siapa gerangan lelaki yang barusan menyapanya.


"Apa kamu sudah lupa? Kita baru saja bertemu tadi, kamu tidak sengaja menabrakku." Bisik Vero.


"Oh astaga, benar! Maaf soal tadi."


"Lupakan soal itu! Boleh aku tau siapa namamu?" Tanya Vero memberanikan diri.


Tanpa menjawab, Melati pun hanya menunjuk ke arah bet nama/ name tag yang terpasang di dada bagian kanannya. Bisa terlihat dengan jelas, bet nama yang terpang itu bertuliskan nama Melati.


"Melati?!!' Tanya Vero memastikan.


Melati pun hanya mengangguk singkat sembari tersenyum tipis. Akhir mereka pun tiba di meja yang telah disiapkan, Melati mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Silahkan mas, mba. Ini buku menunya."


Setelah memberikan buku menu, Melati pun memilih untuk pergi, membiarkan para tamu agar lebih leluasa melihat-lihat daftar menunya terlebih dulu.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2