Ibuku Sayang Ibuku Malang

Ibuku Sayang Ibuku Malang
Chapter 22


__ADS_3

3 Tahun kemudian...


Sesuai dengan yang di harapkan oleh Melati, waktu tiga tahun pun terasa begitu cepat berlalu, tiga tahun berlalu tanpa adanya makna berkesan bagi Melati. Hidupnya tetaplah hidup yang ia rasa begitu monoton, hari-harinya selalu ia habiskan untuk belajar, sesekali ia pun menulis cerpen saat mulai jenuh dengan buku pelajaran, dan tak kurang juga, ia masih saja selalu menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya yang di dominasi oleh sang ayah yang pemarah. Benar-benar membuat Melati sudah sangat jenuh tinggal di rumah yang tak lagi dianggap seperti rumah baginya.


Saat ini, Melati hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan SMA, setelahnya ia sudah benar-benar membulatkan tekatnya untuk kuliah di Kota dan tinggal di kos-kosan bersama dengan Nana.


Malam hari yang sejuk...


Malam itu, sekitar pukul 21:00 malam, Melati baru saja pulang dari rumah Nana. Ia berjalan kaki seorang diri hingga akhirnya tiba di depan pekarangan rumahnya. Namun apa yang ia lihat ketika pulang, benar-benar membuatnya tak tahan lagi.


Saat itu ia mendengar pertengkaran ayah dan ibunya di dalam kamar, suara ayahnya terdengar begitu menggelegar bak petir, lalu di susul dengan suara sebuah pukulan atau tamparan.


Hal itu membuat kedua mata Melati membulat saat mendengarkan pertengkaran itu dari luar kamar.


"Ampun mas, sakit." Ucap Husna lirih sembari meringis.


"Aaaaghhh!! Dasar istri tidak berguna!" Pekik Aryo yang kembali memukuli Husna.


"Aauu, sakit mas, sakit." Husna terdengar menangis.


Hal itu membuat Melati tak bisa berdiam diri lagi, ia pun meraih beberapa piring yang ada di atas meja yang berada tak jauh darinya, lalu tanpa ragu, langsung menghepas kasar piring-piring itu ke lantai hingga berderai.


Hal itu sontak membuat pertengkaran orang tuanya dari dalam kamar terhenti, tak lama Husna pun terlihat keluar kamar dengan tergopoh-gopoh akibat habis di pukuli oleh Aryo.


"Melati?!" Husna terkejut saat menyadari Melati sudah pulang.


"Bunuh saja!!" Bentak Melati yang kala itu menatap tajam ke arah ayahnya.


Aryo kala itu hanya terdiam dengan sisa nafasnya yang sedikit terengah.


"Bunuh saja sekalian istrimu! Biar puas! Untuk apa tinggal bersama jika hanya untuk memukulinya saja!" Tambah Melati lagi dengan nada yang sangat tinggi.


Aryo pun tak menjawab dan memilih untuk kembali masuk ke dalam kamar sembari menutup kasar pintu kamarnya. Sementara Husna, dengan perlahan ia pun mulai mendekati anaknya yang telah beranjak dewasa itu,


"Nak, sudah lah, jangan seperti itu pada ayahmu, ibu tidak apa-apa." Ucap Husna dengan lembut.


"Dari dulu ibu selalu saja bilang tidak apa-apa, di pukuli sampai babak belur juga tetap ibu bilang tidak apa-apa! Ibu sadar tidak jika ibu itu terlalu bodoh?!" Kali ini Melati beralih menatap tajam ke arah ibunya.


Melati benar-benar kesal setiap kali pertengkaran selalu ibunya yang tertindas.


"Bukan begitu sayang, tapi..."

__ADS_1


"Sudah cukup! Aku benar-benar muak berada disini!!" Ketus Melati yang kembali pergi dari rumah itu.


Melati pergi begitu saja tanpa permisi, meninggalkan Husna dalam keadaan matanya yang sembab dan pipinya yang terlihat memerah.


"Melati jangan pergi!!" Pekik Husna.


Melati terus berjalan cepat meninggalkan rumah itu, seperti biasa, ia selalu pergi ke pendopo untuk menenangkan diri. Namun kali ini Husna tak ingin membiarkannya pergi sendirian karena hari sudah malam, di tambah udara yang juga bertambah semakin dingin, membuat pikiran Husna begitu tak tenang.


Husna pun bergegas meraih dan mengenakan mantel hangatnya, lalu tanpa pikir panjang langsung keluar rumah untuk mencari Melati yang pergi entah kemana. Husna terus berlari kecil, menyusuri jalanan setapak yang remang-remang sembari terus berteriak menyerukan nama Melati.


"Melati!! Dimana kamu?" Pekiknya lagi.


"Melatii!! Pulang nak, udara malam ini sangat dingin." Tambahnya lagi.


Saat itu, Melati duduk sendiri di pendopo dengan keadaan air mata yang mengalir deras di pipinya. Ia bahkan tak peduli lagi pada udara yang malam itu terasa begitu dingin seolah menusuk ke tulang.


"Kenapa hidupku begini? Kenapa aku harus di lahirkan di tengah-tengah keluarga ini? Kenapa ya tuhan?" Keluh Melati dalam hati yang mulai meratapi nasibnya.


Tak lama, akhirnya Husna tiba di persimpangan jalan dan tak sengaja melirik ke arah pendopo. Disana ia melihat Melati yang tengah duduk melamun seorang diri, ia pun cukup merasa sedikit lega karena telah berhasil menemukan putrinya. Tak buang waktu lagi, Husna pun bergegas menghampiri Melati dan langsung duduk di sampingnya.


"Astaga Melati, ibu nyaris gila jika tidak menemukanmu nak." Celetuknya dengan nafasnya yang sedikit tersengal.


"Nak, kenapa kamu pergi? Udara sangat dingin, dan ibu takut kamu kedinginan."


"Aku benar-benar muak melihat kebodohan ibu! Kenapa ibu tidak pergi saja meninggalkan lelaki itu? Kenapa masih saja mau hidup susah bersamanya dan terus saja diam saat dipukuli?!" Ketus Melati lagi yang nampaknya masih begitu tak terima atas perlakuan ayahnya.


"Nak, bukan begitu! Sejujurnya ibu kasihan pada ayahmu." Jawab Husna mencoba menjelaskan.


"Kasihan ibu bilang?? Sekarang ibu lihat lelaki itu, apa dia ada merasa kasihan saat memukuli ibu hingga seperti ini?! Aku mohon pergi dan tinggalkan saja lelaki itu, dia tidak pantas dikasihani, lagi pula tidak ada yang bisa ibu banggakan darinya."


"Jangan begitu nak, biar bagaimana pun, dia tetaplah ayahmu, ayah kandungmu, di tubuhmu ini, mengalir darahnya!" Jawab Husna.


Melati pun diam sejenak.


"Ibu hanya kasihan pada ayahmu, karena dia sudah tidak memiliki siapapun selain kita. Keluarganya sudah tidak ada satu pun, dia bahkan harus mengalami kepincangan ketika mencari nafkah untuk kita." Husna dengan lembut mencoba menjelaskan pada Melati.


"Dia begitu mungkin karena stress dan masih belum bisa menerima kenyataan atas kakinya yang cacat. Jadi tolong kamu maklumi saja," Tambah Husna lagi yang begitu berbesar hati.


Melati perlahan mulai menatap wajah sendu ibunya.


"Lagi pula, ibu sempat berpikir ingin pergi jauh darinya, sempat berpikir ingin cerai darinya dan pergi ke kota."

__ADS_1


"Lalu kenapa tidak ibu lakukan?"


"Saat itu ibu memikirkanmu."


"Memikirkan aku?"


"Ya, jika ibu tidak ada disini, kamu pasti akan kelelahan, kamu harus memasak, bersih-bersih, dan juga mengurus adikmu, bahkan kamu tidak mungkin bisa pergi ke sekolah jika dalam situasi seperti itu. Ibu tidak bisa membiarkanmu hidup seperti itu walaupun ibu akan sering dipukuli oleh ayahmu" Jelas Husna dengan tatapannya yang kosong.


"Tapi itu tidak adil bagi ibu, ibu pantas bahagia." Melati pun kembali menangis tersedu-sedu.


"Tidak apa sayang, seorang ibu memang harus melakukan sedikit pengorbanan untuk anaknya" Husna pun menyeka air mata Melati.


"Lagi pula ibu sudah tua, mau kemana lagi ibu pergi? Ibu tidak punya pilihan lain, inilah hidup yang ibu pilih, mau tidak mau, memang harus dijalani." Husna pun mulai tersenyum meski hanya bisa menampilkan senyuman lirih.


Entah kenapa, ketika menatap wajah ibunya lebih dalam, membuat amarah Melati jadi mereda. Ia bahkan langsung memeluk ibunya yang malang, ibunya yang kini sudah nampak begitu rapuh dan terlihat semakin menua.


"Jika hanya ibu yang dia pukul, maka ibu masih bisa menahan semuanya, asal jangan kamu. Ibu tidak akan sanggup jika kamu yang di pukuli," Ucap Husna.


Melati semakin menangis sembari semakin mengeratkan pelukannya pada sang ibu.


"Ibuku sayang, kenapa nasibmu begitu malang?" Gumam Melati dalam hati.


Semakin lama, udara di luar pun terasa semakin dingin tak tertahan, Husna pun membujuk Melati agar ia mau pulang kerumah.


"Ayolah nak, ibu bisa sangat sedih jika kamu masuk angin dan sakit." Ucap Husna lagi dengan wajahnya yang begitu memelas.


Akhirnya Melati pun luluh dan bersedia ikut bersama ibunya untuk pulang ke rumah. Kini mereka pun melangkah bersama, menyusuri jalanan setapak yang sisi kiri dan kanannya di penuhi kebun sawi putih dan wortel. Melihat anaknya yang mulai menggigil kedinginan, membuat Husna tanpa pikir panjang langsung membuka mantel hangat yang ia kenakan, lalu memasangkannya di tubuh Melati.


"Kamu kedinginan, ini pakai lah nak."


"Ah tidak bu, ibu saja!"


"Ah jangan menolak ibu, pakai saja!"


"Lalu bagaimana dengan ibu? Ibu juga nampak kedinginan.


"Ibu sudah berpuluh tahun tinggal disini, jadi sudah biasa." Husna pun tersenyum tipis.


Melati pun terdiam dan akhirnya patuh, membuat Husna kembali tersenyum dan mulai merangkul hangat tubuh putrinya, mereka terus berjalan, berdua menembus dinginnya malam yang kian menusuk. Sejak malam itu, hati Melati mulai melunak, ia tidak lagi sering memarahi ibunya, justru terus berusaha bersikap baik.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2