
Akhirnya Husna pun luluh ketika sudah mendengarkan penjelasan Melati, bukan hanya itu, ia bahkan langsung menyetujui rencana Melati dan mendukungnya 100%.
"Ibu yakin kamu akan menjadi wanita yang sukses sayang, dan ibu akan terus mendoakanmu dari sini." Husna pun mulai menggenggam kedua tangan Melati.
"Iya bu, aku memang harus sukses, karena aku ingin membahagiakan ibu dan aku ingin membawa ibu ke kota." Ungkap Melati.
Husna hanya mengangguk dan kemudian ia langsung memeluk hangat tubuh Melati.
"Terima kasih banyak bu,"
"Ah tidak, jangan berterima kasih, karena ibu merasa belum bisa memberikan apapun padamu."
Malam hari yang cerah...
Saat itu Aryo dan Husna sedang terduduk di depan teras rumahnya, kaki Aryo sering terasa kebas saat pulang bekerja hingga ia meminta Husna untuk memijat kakinya.
"Kenapa dia harus memilih Universitas itu?" Tanya Aryo secara tiba-tiba pada Husna.
"Anak kita itu adalah anak yang pintar, tentu saja dia tau Universitas mana yang terbaik." Jawab Husna sembari tersenyum tipis.
"Halah, semua Universitas itu sama saja, tergantung anaknya saja serius belajar atau tidak. Ku rasa tidak perlu jauh-jauh ke kota, tak jauh dari sini juga ada Universitas, bahkan ku lihat hampir seluruhnya anak desa sini berkuliah disana."
"Hei mas, Universitas yang Melati inginkan bukanlah Universitas sembarangan, Itu Universitas sangat terkenal dan menjadi yang terbaik di kota! Orang-orang yang lulus dari Universitas itu rata-rata mudah melamar kerja kantoran." Tegas Husna yang seolah tak ada rasa segan lagi demi membela anak kesayangannya.
"Tapi itu sangat jauh! Bagaimana kau bisa tenang melepas anak perempuan sendirian tinggal di kota! Padahal kau sendiri tau jika kehidupan di kota sangat keras dan berbahaya bagi perempuan perantau." Ketus Aryo tak senang.
"Melati tidak sendiri, dia bersama Nana." Jelas Husna dengan tenang.
"Nana juga akan berkuliah di kampus yang sama dengan Melati?" Aryo sedikit tak menyangka.
"Iya, dia akan tinggal di kos-kosan bersama Nana, begitu rencana mereka.." Jawab Husna lagi.
"Tapi tetap saja, biaya kuliah di kota akan sangat besar, belum lagi biaya hidupnya, tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan. Aku jelas tidak akan sanggup jika harus membiayainya." Ungkap Aryo.
Belum sempat Husna menjawab, secara tiba-tiba Melati pun muncul dari dalam rumah dan menjawab.
__ADS_1
"Aku tidak butuh uang ayah untuk biaya kuliahku, karena aku mendapat beasiswa bahkan menjadi jebolan terbaik dan peringkat teratas." Jelas Melati dengan nada datar.
"Tidak perlu pusing memikirkan biaya hidupku disana! Aku bisa mencari pekerjaan paruh waktu di kota. Lagi pula, di kota akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan, kan?!" Jawab Melati dengan raut wajah datar.
"Ehemm terserah kalian saja lah! Toh aku yang cacat ini memang sudah tidak di anggap lagi di rumah ini!" Aryo pun tersenyum lirih.
"Maass, jangan bicara seperti itu, kamu tetap lah kepala keluarga di rumah ini, Melati punya alasannya sendiri kenapa ia memilih kuliah di kota. Tolong biarkan dia memilih jalannya, dia sudah dewasa mas." Tambah Husna.
"Ya, terserah saja! aku lelah, mau tidur!" Aryo pun langsung bangkit dari duduknya, dan memasuki kamar begitu saja, meninggalkan Husna dan Melati yang masih terduduk di teras.
Aryo mulai membaringkan diri di atas tempat tidur, kedua matanya mulai menerawang jauh ke awang-awang, entah kenapa, saat itu tiba-tiba saja muncul perasaan sedih yang tidak bisa ia ungkapkan. Sedih saat mengetahui jika putrinya, sebentar lagi akan pergi jauh dalam waktu yang cukup lama.
"Ayah macam apa aku ini? Semasa hidupnya, aku tidak pernah membahagiakan putriku, tapi saat dia ingin pergi meninggalkan rumah, aku malah merasa sedih dan marah." Gumam Aryo dalam hati.
Sementara Husna, saat itu ia menarik tangan Melati untuk ikut duduk di sampingnya.
"Anakku, ayo duduk lah bersama ibu disini." Ucap Husna dengan senyuman yang begitu merekah.
"Jadi kamu sungguh mendapat nilai tertinggi?"
"Haaaiyo anakku, kamu benar-benar anak ibu yang sangat pintar. Tidak salah selama ini ibu begitu membanggakanmu sayang." Husna kembali meraih tangan putrinya lalu mulai menggenggamnya.
"Astaga sayang, tanganmu dingin sekali, udaranya memang mulai sejuk." Husna pun langsung menggosok-gosok tangan Melati dengan kedua tangannya, agar membuat tangan putri kesayangannya itu tetap hangat.
"Haiss ibu! Aku sudah dewasa tapi ibu masih saja memperlakukan aku seperti anak kecil."
"Sampai kapan pun, kamu akan tetap menjadi Melati ibu yang selalu akan ibu manjakan sayang." Jawab Husna dengan santai sembari terus menggosok-gosok tangan Melati.
Melati pun kemudian hanya tersenyum.
"Haaiyoo, tangan anak ibu lembut sekali, siapapun lelaki yang nantinya akan menikahimu, sudah pasti dia akan menjadi lelaki yang paling beruntung hehehe." Puji Husna.
"Haiss ibu sangat berlebihan, lagi pula aku sudah memutuskan jika aku tidak ingin menikah!" Tegas Melati santai.
"Heh! Tidak boleh berbicara seperti itu!" Husna pun memukul pelan lengan anaknya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa bu?! Aku memang tidak ingin menikah, menikah hanya akan merugikan pihak wanita. Bagiku pernikahan itu seperti mimpi buruk, aku bisa berkata begini karena melihat hubungan ibu dan ayah!"
Husna pun terdiam sejenak, sejenak ada perasaan bersalah yang muncul dalam hatinya, karena terus mempertontonkan pertengkaran pada anak-anaknya sejak kecil.
"Takdir setiap manusia itu berbeda-beda sayang, jangan menyamakan takdir ibu denganmu, jelas akan berbeda." Jelas Husna sembari menepuk pelan pundak Melati,
"Tapi aku memang sudah tidak hasrat ingin menikah bu, tujuan hidupku saat ini hanya ingin menjadi wanita yang mandiri dan sukses, yang suatu saat bisa membawa ibu pergi berlibur kemana pun ibu mau."
"Kamu mengatakan itu karena kamu belum menemukan lelaki yang dapat meluluhkan hatimu."
"Itu tidak akan pernah terjadi bu!" Tegas Melati.
"Eeehhm baik lah, kita lihat saja nanti." Husna pun terus menggoda Melati.
Hingga membuat Melati mulai kesal, namun dengan cepat Husna langsung merangkul putrinya, memintanya untuk tidak sering marah-marah agar tidak cepat tua. Melati pun akhirnya tersenyum, lalu mulai menyandarkan kepalanya dengan sangat manja di pundak ibunya.
"Malam ini, meski cukup dingin, namun cuacanya sangat cerah ya bu. Cahaya bulan dan bintang jadi begitu jelas terlihat." Celetuk Melati dengan sorot matanya menatap sendu ke arah langit.
"Iya, pemandangan langit malam ini memang terlihat sangat indah."
"Eehmm, sebentar lagi aku akan pergi, aku pasti akan merindukan suasana tenang di desa ini." Gumam Melati lirih.
Mendengar hal itu membuat Husna kembali merasa sedih, ia sedih saat mengingat putrinya yang sebentar lagi akan pergi jauh dalam waktu yang lama. Jika ingin menuruti perasaannya saat itu, Husna ingin sekali meminta Melati agar tetap tinggal disitu, namun Husna bukanlah ibu yang egois, ia adalah sosok ibu yang sangat memprioritaskan keinginan serta kebahagiaan anaknya, meski hal itu harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri, ia tak peduli.
"Tidak perlu memikirkan yang sedih-sedih, pikirkan saja bagaimana hidup barumu kelak saat tinggal di kota. Ibu yakin kamu akan betah disana,"
"Iya bu,"
"Nanti kalau ibu punya uang, ibu akan mengunjungimu kesana hehehe apakah boleh?"
"Haaiss ibuuu, tentu saja boleh."
Husna pun kembali tersenyum, lalu mulai memeluk putrinya dengan sangat erat sembari menikmati indahnya bulan dan bintang yang terlihat begitu jelas dan bercahaya terang pada malam itu.
"Anakku sayang, jantung hatiku, andai kamu tau jika saat ini ibu sangat sedih, karena hanya terhitung beberapa hari lagi, kamu akan pergi jauh dan menjalani hari-hari tanpa ada ibu di sisimu lagi nak. Tapi demi kebahagiaan dan kesuksesanmu, tak apa nak, ibu bahkan sanggup menanggung seribu kesedihan dan menyimpannya di dalam hati ibu."
__ADS_1
...Bersambung......