
Husna pulang dengan sudah membawa uang hasil penjualannya hari itu yang cukup banyak. Ia juga membeli daging ayam untuk sajian di pesta kecil-kecilan yang akan di adakannya nanti malam.
Sesampainya di rumah, Husna dengan semangat menghampiri Melati ke kamarnya. Namun saat itu, apa yang ia lihat justru sama sekali tidak sesuai dengan ekspetasinya. Saat itu, Melati justru terlihat murung dan terduduk lesu di tepi ranjang, hingga menimbulkan tanda tanya besar pada Husna.
"Sayang, kamu terlihat murung, ada apa? Kenapa masih belum juga mengemasi pakaian dan barang-barang yang ingin kamu bawa?" Tanya Husna yang juga ikut duduk di samping Melati.
Melati menatap singkat wajah ibunya, lalu kembali menunduk lesu sembari menghela nafas berat.
"Nana, bu." Ucapnya lesu.
"Nana? Ada apa dengan Nana, nak?"
"Dia,,,"
"Iya, Nana kenapa sayang? Ada apa dengan Nana? Apa terjadi sesuatu?" Husna mulai menatap wajah Melati dengan begitu serius.
"Nana tidak jadi pergi bersamaku, bu." Jawab Melati pelan.
Mendengar hal itu, membuat kedua mata Husna sontak jadi terbelalak.
"Hah?!! Nana tidak jadi pergi?!!" Husna nampaknya cukup terkejut.
Sementara Melati, dengan ekspresinya yang masih terlihat begitu lesu, hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan.
"Tapi kenapa??! Kenapa bisa tidak jadi?!"
"Ayah Nana, tiba-tiba saja penyakit stroke nya kambuh yang cukup parah, sehingga membuat sebelah tangannya tidak bisa di gerakkan. Dengan begitu, urusan ladang sudah pasti ibu Nana yang mengurus semuanya, itulah sebabnya Nana tidak tega meninggalkan ibunya sendirian bu." Jelas Melati secara singkat, tepat, dan padat.
"Ohh ya ampun." Husna yang cukup terkejut mendengar hal yang di sampaikan oleh Melati, sontak menutup mulutnya yang menganga dengan tangannya.
"Ya, itulah yang membuatku murung bu, aku ingin sekali berkuliah di Universitas itu bu, itu adalah mimpi sejak tiga tahun lalu. aku yakin aku akan sukses bila kuliah dan tinggal di kota. Tapi,,, aku juga tidak tau apa aku bisa memulainya sendiri atau tidak." Ungkap Melati.
Husna pun terdiam sejenak sembari terus menatap wajahnya, saat itu, ingin sekali ia katakan pada Melati agar tak usah pergi ke kota. Tapi, ketika melihat Melati yang sangat menginginkan untuk berkuliah dengan Universitas pilihannya, membuat Husna tak sanggup untuk menyuarakan keinginan dalam hatinya.
__ADS_1
"Kamu benar-benar ingin sekali kuliah disana?" Tanya Husna sekali lagi untuk memastikan.
"Sangat ingin, bu!" Jawab Melati dengan cepat tanpa perlu pikir panjang.
"Kamu yakin selain disana, tidak ada lagi Universitas yang membuatmu tertarik? Universitas di dekat-dekat sini contohnya?? Maksud ibu yang tidak terlalu jauh,"
"Tidak ada bu! aku bahkan sudah benar-benar memikirkannya sejak tiga tahun yang lalu," Tegas melati.
"Dia begitu menginginkannya, apa aku
tega mengatakan apa yang menjadi keinginanku padanya? Apa aku sanggup menghalangi mimpi-mimpinya?!" *Gumam Husna dalam hati yang kala itu tatapannya mulai sendu saat menatap putrinya.
Husna pun mulai menghela nafas, lalu kemudian ia mulai tersenyum sembari menepuk pundak Melati.
"Jika begitu, maka apa lagi yang perlu kamu takutkan?! Keputusan Nana untuk tidak mengambil kesempatan emas ini, biarlah menjadi urusannya. Sementara kamu, kamu tidak boleh putus semangat hanya karena Nana, hidup dan masa depanmu, kamu lah yang menentukan sayang, bukan orang lain, jadi jangan sekali-kali bergantung pada orang lain, nak." Ucap Husna yang mencoba menyemangati Melati, meski saat itu, ia pun begitu ingin Melati merubah keputusannya.
"Ibu benar! Hidup dan masa depanku, aku sendiri lah yang menentukannya, aku tidak boleh bergantung pada orang lain. Benar kan bu?"
"Iya sayang. Kejar lah mimpi mu, nak. Jangan takut, karena pada jaman sekarang, wanita tidak lagi makhluk yang lemah seperti dulu. Ibu yakin kamu wanita tangguh yang bisa menakhlukan kerasnya ibu kota meski harus berusaha sendirian." Husna pun mulai mengusap lembut kedua pipi Melati, senyuman ranum lagi-lagi ia pancarkan, membuat Melati yang awalnya ragu dan cemas, mendadak seolah kembali tenang dan yakin.
Melati pun akhirnya ikut tersenyum dan mengangguk.
"Haaiyoo, ini baru anak ibu. Anak ibu yang cantik, yang pintar, anak kebanggaan ibu tidak boleh putus semangat."
"Hehehe terima kasih banyak bu."
"Ayo sini, peluk lah ibu." Husna pun merentangkan kedua tangannya.
Melati pun dengan cepat menyambutnya, dengan senyuman yang semakin ia lebarkan, ia ikut memeluk tubuh ibunya yang terasa begitu hangat, begitu nyaman.
__ADS_1
"Ah sudah, sekarang tunggu apa lagi, waktu berjalan terus dan kamu belum mengemas apa-apa." Ucap Husna yang tak ingin nampak bersedih di hadapan Melati.
"Hehehe iya bu," Melati pun perlahan melepaskan tautan tubuh mereka.
"Ya sudah, ayo ibu bantu mengemasi pakaianmu terlebih dulu."
Melati pun mengangguk dan kemudian langsung bergegas mengeluarkan seluruh pakaian yang ingin ia bawa dari dalam lemari pakaiannya.
"Apa semua pakaian ini yang akan kamu bawa sayang?"
"Iya bu." Jawab Melati yang kembali tersenyum tipis.
Husna pun mulai meraih satu persatu pakaian milik putrinya untuk ia lipat dan kemudian memasukkannya ke dalam koper. Namun tiba-tiba saja Husna merasa teriris hatinya saat memandangi pakaian putrinya yang nampaknya mulai lecek dan jelas saja akan sangat memalukan jika pakaian seperti itu ia kenakan di kota.
"Sudah lama sekali Melati tidak pernah lagi di belikan pakaian yang baru oleh ayahnya, semua pakaian ini, tentu saja anakku akan di bully jika mengenakan pakaian seperti ini saat ia berkuliah di kota. Tidak, aku tidak akan tega melihat anakku jadi bahan tertawaan, aku tidak mau anakku menanggung malu karena kemiskinan orang tuanya," Gumam Husna dalam hati yang diiringi pula dengan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Bu, ada apa? Kenapa tiba-tiba ibu diam dan terlihat lesu?" Tanya Melati yang menyebabkan lamunan Husna seketika buyar.
Dengan cepat Husna langsung mengusap matanya, agar air yang tergenang di kedua matanya tidak tumpah.
"Ah tidak sayang, ibu hanya sedang berpikir, sepertinya ibu melupakan sesuatu."
"Melupakan sesuatu? Melupakan apa bu?" Tanya Melati dengan dahinya yang terlihat sedikit mengkerut.
"Ah sebentar ya, kamu tunggu disini sebentar." Husna pun langsung bangkit dari duduknya dan kemudian langsung beranjak pergi begitu saja meninggalkan Melati seorang diri di kamarnya.
Husna melangkah cepat menuju kamarnya, tak ingin ada siapa pun yang masuk, ia pun langsung saja mengunci pintu kamarnya. Cepat-cepat melangkah menuju tempat tidur, namun tujuannya bukanlah ingin tidur, tujuan Husna saat itu justru kolong tempat tidur. Ya, tempat dimana ia menyembunyikan celengannya. Celengan yang memang khusus ia persiapkan untuk masa depan Melati.
Dengan wajah berbinar, ia meraih celengan itu, lalu tanpa pikir panjang, langsung menghempaskannya ke lantai hingga membuat celengan itu langsung pecah berderai. Mata Husna semakin berbinar tatkala melihat ada banyak uang yang ikut berhamburan di lantai. Tak ingin semakin banyak membuang waktu, dengan cepat langsung memunguti uang-uang itu dan menghitungnya.
"Oh ya tuhan, aku sangat tidak menyangka jika jumlahnya akan sebanyak ini." Gumam Husna dalam hati sembari memandangi semua uang yang kini berada didalam genggamannya.
"Dengan begini, aku bisa mengambilnya setengah untuk membawa Melati pergi membeli beberapa stel pakaian. Selebihnya, akan aku berikan untuknya nanti sebelum ia pergi." Ucapnya lagi seorang diri.
__ADS_1
Setelah membersihkan puing-puing dari celengan pecah yang sebelumnya berhamburan di lantai kamarnya, Husna pun bergegas kembali ke kamar Melati dengan penuh semangat dan berniat ingin mengajaknya pergi ke toko baju yang ada di perbatasan desa.
...Bersambung......