Ibuku Sayang Ibuku Malang

Ibuku Sayang Ibuku Malang
Chapter 37


__ADS_3

Ine, nampak semakin tak karuan, wajahnya mulai memerah layaknya kepiting rebus. Sementara Melati, saat itu ia masih terus diam, namun sorot matanya kala itu tidak bisa berbohong, ia nampak begitu geram pada Ine yang mencoba ingin mempermalukannya, hingga ia terus saja menatap Ine dengan tatapan yang begitu tajam.


"Kita lihat saja siapa yang sebentar lagi akan di permalukan." Gumam Melati dalam hati.


Ine tak sengaja menatap sorot mata Melati yang kala itu terlihat seolah siap untuk memangsanya. Ine benar-benar tidak siap untuk dipermalukan di depan banyak orang, terutama di depan Vero, lelaki yang ternyata diam-diam sudah ia sukai sejak lama. Ia pun terus berfikir dalam diamnya, berfikir untuk mencari alasan yang tepat agar ia bisa segara pergi dari tempat yang mendadak terasa pengap baginya.


"Ak,,, aku, aku baru ingat, ada urusan yang harus ku selesaikan, ak,, aku harus pergi sekarang." Ucap Ine sembari meraih tasnya yang terletak di kursi, lalu ingin segera beranjak pergi begitu saja seolah tanpa beban.


Tapi hal itu tidak mungkin dibiarkan terjadi oleh Vero, Vero dengan cepat langsung menarik lengannya, menahannya agar tidak beranjak dari tempatnya.


"Kenapa harus buru-buru, Ne? Tunggu lah sebentar lagi." Ucap Vero sembari tersenyum tipis.


"Ta,,, tapi aku buru-buru, aku benar-benar harus pergi sekarang!" Jawab Ine yang masih saja berbohong dan berusaha untuk lari dari masalah.


"Tunggu lah sebentar saja. Setidaknya tunggu sampai menejer restoran ini keluar dan membuktikan pada kita semua."


Ine terdiam, dan semakin terlihat panik hingga berkeringat dingin. Tak menunggu lama, sang menejer pun akhirnya keluar dari ruangannya dengan membawa serta ponselnya yang kala itu tengah menampilkan rekaman cctv dari beberapa menit yang lalu.


"Ini, kalian bisa melihat kebenarannya sendiri." Menejer itu pun memberikan ponselnya, lalu Vero dengan cepat langsung meraihnya.


Kedua mata Vero sontak dibuat membulat sempurna, saat melihat bagaimana teganya Ine yang sengaja menjulurkan kakinya keluar meja untuk menjegal Melati hingga membuatnya ambruk ke atas meja mereka. Sementara Ine, ya saat itu ia hanya menunduk ketakutan, bahkan ia sama sekali tidak berani melihat rekaman cctv itu karena ia merasa memang dia lah yang sebenarnya menjadi dalang dari semua kegaduhan yang terjadi.


"Astaga Ine!! Ternyata memang kau yang sengaja menjegalnya??!" Celetuk Bowo yang saat itu juga ikut menyaksikan rekaman cctv itu dari balik punggung Vero.


Vero yang semakin kesal, langsung menyerahkan ponsel itu kembali pada menejer, lalu mulai menatap tajam ke arah Ine hingga membuat Ine yang menyadari hal itu juga mulai meneteskan air matanya.


"Kenapa kau melakukannya?" Tanya Vero masih dengan nada bicara yang datar.


"Ma,,, maafkan aku, Ro." Ucap Ine lirih dengan raut wajahnya yang kini terlihat begitu memelas.


"Kenapa kau melakukannya?!!" Pekik Vero lagi hingga membuat Ine terkejut.


Bukan hanya Ine, teman-temannya dan juga Melati, juga ikut terkejut saat Vero meneriaki Ine dengan nada suara yang begitu tinggi.


"Aku,,, aku hanya tidak suka saat kalian memujinya dengan sangat berlebihan." Jawab Ine yang semakin dibuat menangis.


Hal itu justru semakin membuat Melati terheran-heran.

__ADS_1


"Sebenarnya apa status mereka berdua ini? Apa mereka sepasang kekasih?" Tanya Melati dalam hati.


"Aku juga tidak suka saat melihatmu memperhatikannya, aku tidak suka!" Tambah Ine lagi yang juga ikut meninggikan suaranya.


"Siapa pun yang akan kuperhatikan, itu urusanku! Dan kau, suka atau tidak, kau tetap tidak punya kuasa apapun untuk melarangku!" Tegas Vero.


"Ta,, tapi, Ro kau baru mengenalnya, dan sekarang kau tega mempermalukan aku yang sudah lama bersamamu hanya demi seseorang yang baru kau kenal?!"


"Huh, ternyata di desa maupun kota, hubungan antara lelaki dan perempuan itu sama saja, mau itu pernikahan maupun pacaran, sama-sama tidak membuat bahagia dan penuh drama. Aku semakin yakin dengan statementku yang mengatakan tidak ingin menikah." Gumam Melati dalam hati sembari menghela nafas panjang.


Melati akhirnya mulai lelah untuk menonton adegan yang penuh dengan drama itu, ia pun ingin beranjak pergi dan memilih untuk tidak membuang waktunya untuk hal konyol.


"Huh, untuk apa aku terus menontoni drama ini? Lebih baik aku mengerjakan pekerjaanku yang lain, setidaknya itu jauh lebih berguna." Gumamnya lagi yang kemudian langsung berbalik badan dan siap untuk melangkah pergi.


Namun Vero, juga sepertinya tidak membiarkan Melati untuk pergi begitu saja.


"Melati, tunggu!" Panggilnya.


Langkah Melati kembali terhenti. Vero dengan cepat menghampirinya dan ingin menarik tangannya untuk membawanya kembali.


"Iya aku tau, tapi setidaknya luangkan waktumu lima menit lagi, biarkan temanku ini meminta maaf padamu."


Melihat hal itu, hati Ine semakin merasa tercabik, ia semakin merasa hancur saat melihat bagaimana lembutnya Vero saat berbicara dengan Melati, sangat berbeda saat Vero berbicara dengannya.


"Ine, kau sudah jelas salah dalam hal ini! Sekarang, ayo minta maaf pada Melati." Tegas Vero.


Hal itu sontak membuat kedua mata Ine jadi membulat, dalam hati ia sama sekali tidak sudi untuk meminta maaf pada Melati, wanita yang baru ia kenal, namun sudah mampu membuatnya merasa tersaingi bahkan sakit hati.


"Kenapa menatapnya seperti itu??! Apa kamu belum mau mengakui kesalahanmu juga!!"


Ine pun lagi-lagi terdiam, tak ada pilihan lain baginya saat itu selain mengalah dan mengaku salah. Dengan sangat terpaksa, Ine pun mulai menjulurkan tangannya ke arah Melati, saat itu Melati masih diam sembari mulai memandangi tangan Ine yang kini ada di hadapannya.


"Maaf!" Ucap Ine singkat.


"Hanya begitu saja?!" Tanya Vero tak menyangka.


"Lalu mau bagaimana lagi?"

__ADS_1


"Setidaknya minta maaf lah dengan tulus."


Ine pun menghela nafas kasar.


"Vero, kau benar-benar keterlaluan! Tindakan mu ini, hanya akan membuat wanita ini jadi semakin besar kepala dan merasa menang!" Ketus Ine dalam hati.


"Ayo Ne, tunggu apa lagi? Ayo minta maaf!" Ucap Vero lagi.


"Iya, Ne, ayo minta maaf saja, kau sudah terbukti bersalah." Tambah Roby yang ikut mengiyakan.


Hal itu lagi-lagi membuat Ine harus menghela nafas panjang lalu akhirnya ia pun kembali mengutarakan kata maaf pada Melati.


"Aku sungguh minta maaf, anggap saja kejadian tadi bisa terjadi karena kekhilafanku, jadi ku harap agak kau tidak mengambil hati masalah tadi." Ucap Ine.


Melati dengan raut wajahnya yang masih terlihat datar, akhirnya menyambut uluran tangan Ine dan membalasnya,


"Tidak masalah, semoga setelah ini, pikiranmu bisa semakin terbuka, bahwa di dunia ini ada banyak hal yang lebih penting dari sekedar rasa cemburumu yang tidak masuk akal." Jawab Melati dengan tenang, dan kemudian langsung pergi begitu saja.


"Wahh, it's amazing." Celetuk Bowo yang langsung tercengang saat melihat Melati yang sikapnya yang tenang, namun bisa menskakmat Ine hingga ia terdiam.


"Sikap gadis itu benar-benar lain dari pada yang lain, benar-benar patut di acungi jempol hahaha." Tambah bowo.


Vero tentu saja mendengar ucapan temannya itu, namun saat itu ia hanya diam dan terus memandangi kepergian Melati dengan senyumannya yang tak biasa.


"Meski sebelumnya ia telah dipermalukam dan akhirnya ia terbukti benar, namun ia tetap bisa bersikap setenang itu. Eeemm, benar-benar mengagumkan," Gumam Vero dalam hati.


Kemudian Vero menatap wajah menejer yang kala itu juga masih berada tak jauh darinya, lalu perlahan mulai menghampirinya.


"Anda tidak perlu memarahi Melati apalagi memecatnya. Berhubung sudah terbukti jika yang salah adalah temanku, maka aku akan tanggung jawab dengan cara mengganti rugi jika ada barang-barang yang pecah atau pun rusak." Ucap Vero sembari tersenyum tipis.


"Baik mas, terima kasih sebelumnya, semoga setelah kejadian ini, anda tetap bersedia menjadi pelanggan setia kami."


"Tentu, aku akan tetap sering makan disini." Jawab Vero yang semakin melebarkan senyumannya.


"Bahkan sepertinya akan semakin sering." Celetuk Vero lagi, namun kali ini dengan suaranya yang sangat pelan.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2