
Hanya dalam waktu lebih kurang dua jam saja, dagangan Husna akhirnya ludes tak bersisa. Dengan senyuman yang begitu merekah, Husna terus memandangi pundi-pundi uang yang di pegangnya. Kebetulan, hari ini ubi yang di panennya dari kebun berjumlah jauh lebih banyak dari kemarin, membuat penghasilannya hari ini juga dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Hal itu bisa terjadi karena hari ini ia pulang lebih cepat dari mengantar Melati, hingga membuatnya lebih banyak waktu untuk memanen ubi.
"Dengan uang segini, aku bisa membeli beras dan ikan di pasar ini, Melati pasti akan sangat senang jika aku memasak ikan." Gumam Husna dalam hati dengan senyumannya yang terus berkembang.
Husna pun bergegas mengemasi barang-barangnya, lalu mulai berjalan menyusuri pasar untuk mencari pedagang ikan.
"Ikannya bu, ikan, ikan, ikan, masih segar bu ayo ayo." Celotehan para pedagang ikan pun mulai terdengar.
Husna pun kembali tersenyum dan dengan begitu semangat langsung menghampiri salah satu pedagang ikan yang berada tak jauh darinya saat itu.
Setelah bertanya tentang harga hampir seluruh ikan yang ada, Husna akhirnya menjatuhkan pilihan pada ikan selar kuning, yang merupakan ikan dengan harga paling murah.
Setelah mendapatkan semua yang ia butuhkan, Husna pun bergegas pulang ke rumahnya agar bisa segera memasak menu spesial untuk makan siang suami dan anak-anaknya.
"Aku sudah sangat tidak sabar untuk memasak ikan-ikan ini, dan menyaksikan bagaimana senangnya mereka saat memakan masakanku." Celetuk Husna seorang diri sembari memandangi kembali kantong plastik yang berisi beberapa ekor ikan yang baru saja dibelinya.
Di tengah jalan, tak sengaja ia melihat seorang nenek-nenek yang tengah berjualan celengan berbentuk ayam, celengan yang terlihat begitu kokoh karena terbuat dari tanah liat. Entah kenapa, saat itu tiba-tiba saja hati Husna tergerak untuk membeli salah satu celengan itu dengan uang sisa hasil dagangannya hari ini. Ia mulai berpikir untuk menabung sejak dini untuk persiapan masa depan Melati terutama untuk pendidikannya kelak.
Setibanya di rumah, Husna langsung saja meletakkan seluruh perlengkapan dagang dan juga belanjaannya di dapur, lalu dengan cepat merogoh kembali saku celananya untuk mengambil sisa uang yang ia miliki. Ia terdiam sesaat ketika memandangi uangnya yang hanya tersisa 10 ribu rupiah, lalu beralih menatap celengan yang kala itu juga sedang ia pegang.
"Sudah lah tidak apa, aku tabung aja semuanya, ini demi Melati, demi masa depan Melati." Gumamnya dalam hati yang kemudian tanpa pikir panjang, langsung memasukkan uang itu ke dalam celengan itu.
Husna bergegas membawa celengan itu kasuk ke dalam kamar dan menyembunyikannya di bawah kolong tempat tidur.
"Tidak ada yang boleh tau celengan ini, terutama mas Aryo." Gumamnya lagi.
Selesai dari itu semua, Husna pun kembali ke dapur dan mulai memasak dengan perasaan yang cukup bergembira.
Bagaimana tidak, kehidupan yang serba kekurangan, membuat ikan, menu makanan yang sangat biasa, menjadi sangat spesial bagi mereka karena saking jarangnya mereka mengkonsumsinya.
Satu jam lamanya Husna berkutat di dapur, akhirnya ia pun selesai dalam segala urusan masak memasak. Hanya berselang beberapa menit saja, Rio yang baru saja pulang dari TKnya pun tiba-tiba muncul di dapur.
Ya, sehari-hari Rio memang selalu pulang bersama teman-temannya yang di jemput oleh ibunya, kebetulan rumah mereka tak jauh dari rumah Rio.
"Wah, ibu masak apa? Kenapa baunya enak sekali bu?" Tanya Rio mengagetkan Husna.
__ADS_1
"Rio! Astaga kamu mengagetkan ibu saja."
"Eeemm iya maaf bu."
"Ibu hari ini masak ikan goreng dan sayur labu." Jawab Husna sembari mulai menghidangkan masakannya di atas meja yang terbuay dari kayu.
"Ikan???!! Benarkah ibu hari ini masak ikan? Ibu tidak bohong kan?" Mendengar kata ikan, membuat kedua mata Rio sontak langsung berbinar kegirangan.
"Mana pernah ibu berbohong. Lihat saja sendiri." Jawab Husna santai.
Rio pun bergegas menuju meja makan, tempat dimana Husna menyajikan masakannya.
"Wah, ini pasti sangat enak." Celetuk Rio sembari memandangi tumpukan ikan goreng yang berada di dalam sebuah piring.
Kala itu Husna tidak menjawab dengan kata apapun selain hanya dengan sebuah senyuman tipis.
"Bu, aku sangat lapar, bolehkah aku memakannya sekarang juga?" Tanya Rio sembari mulai ingin meraih satu ikan.
Namun lagi-lagi, aksi itu berhasil di gagalkan secara cepat oleh Husna. Husna dengan cepat langsung menahan tangan mungil itu, dengan sorot matanya yang menatap sedikit tajam, Husna pun berucap.
Rio yang malang, lagi-lagi hanya bisa memasang wajah sendu, dengan bibirnya yang manyun, dan tubuh yang nampaknya seketika jadi melesu, ia pun kembali bertanya,
"Memangnya apa bedanya aku makan sekarang atau pun nanti bu? Aku sudah sangat lapar bu, kenapa aku tidak boleh makan duluan?" Tanyanya dengan masih memasang wajah sendu.
Namun hal itu nampaknya tak cukup membuat hati Husna melunak, ia tetap saja tidak berubah pikiran dan tetap menomor satukan Melati.
"Tunggu lah sebentar lagi, kakakmu sebentar lagi juga pulang."
Rio pun terdiam, nyatanya memang hanya itu yang bisa ia perbuat, karena berbicara banyak pun nyatanya tidak membuat sang ibu luluh. Husna tetap lah Husna, sempat merasakan sakitnya kehilangan seorang putri, membuatnya kini jadi begitu berlebihan dalam menyayangi putrinya, Melati, hingga membuatnya lupa jika ia juga memiliki putra yang harus ia pikirkan perasaan dan psikisnya.
20 menit menunggu dengan keadaan perut yang semakin sering berbunyi karena lapar, akhirnya Melati pun pulang. Wajah Rio mendadak kembali berseri saat mendapati kakak perempuannya yang baru memasuki pintu.
"Kakakk." Teriak Rio yang langsung menghampiri Melati.
"Kamu kenapa Rio? Kenapa terlihat sangat senang?" Tanya Melati.
__ADS_1
"Kakak, hari ini ibu masak enak kak, ibu masak ikan." Ucap Rio yang kala itu langsung merangkul lengan sang kakak.
"Wah, benarkah?"
"Iya kak, ibu masak ikan goreng dan sayur labu, ayo kita makan sekarang kak, aku sudah sangat lapar." Ajak Rio sembari memegang perutnya yang memang sejak tadi sudah terasa keroncongan.
"Kalau kamu lapar kenapa tidak makan duluan saja?!"
"Kakak pasti sudah tau jawabannya, ibu tidak mengizinkan aku makan duluan sebelum kakak pulang dan harus makan bersama." Jelas Rio dengan lirih.
"Eeemm baiklah, ayo kita makan." Melati pun tersenyum dan langsung merangkul adik kecilnya memasuki rumah,
Tak lama Husna yang keluar dari dapur, langsung sumringah wajahnya ketika mendapati Melati yang ternyata sudah pulang sekolah.
"Melati, kamu sudah pulang sayang??"
"Iya bu,"
"Oh ya sayang, coba tebak hari ini ibu masak apa? Ibu yakin kamu pasti akan sangat senang." Husna terlihat sangat bersemangat karena ingin memberikan kejutan kecil untuk putrinya.
"Masak ikan goreng dan sayur labu, benarkan bu?" Jawab Melati instan.
Husna pun seketika termangu saat kejutan tak lagi menjadi kejutan sesuai bayangannya.
"Rio, kamu yang memberitahu kakakmu?!"
Rio yang polos pun hanya mengangguk.
"Astagaa! kenapa kamu berani mendahului ibu seperti itu?! Ibu ingin memberi kejutan pada kakakmu!!"
"Iya bu aku minta maaf, aku sudah sangat lapar, makanya begitu melihat kakak pulang, aku langsung ingin mengajaknya makan." Jelas Rio lirih sembari terus menundukkan kepalanya karena takut pada ibunya.
"Ibu sudah jangan marah, Rio tidak salah bu, dia kan cuma lapar, kenapa ibu tidak membiarkannya makan lebih dulu? Kenapa harus menungguku?" Melati yang polos mulai merasa iba pada adiknya yang kala itu terlihat begitu ketakutan dan sedih.
Mendengar perkataan Melati, membuat Husna jadi merasa tersudut dan tak bisa berkata apapun lagi, akhirnya ia pun langsung mengajak keduanya untuk makan demi mengalihkan topik pembahasan.
__ADS_1
...Bersambung......