Ibuku Sayang Ibuku Malang

Ibuku Sayang Ibuku Malang
Chapter 23


__ADS_3

Melati bersorak kegirangan bersama sahabatnya Nana, saat membaca surat yang menyatakan jika ia secara resmi sudah lulus SMA.


"Yeayy akhirnya waktu yang kita tunggu-tunggu sudah tiba, Mel." Celetuk Nana yang juga terlihat sangat girang karena ia juga dinyatakan lulus.


"Iya, sebentar lagi Na, kita akan hidup bebas di kota." Jawab Melati yang kala itu tersenyum lebar.


"Apa kamu sudah memberitahukan rencana kita ini pada orang tuamu Mel?" Tanya Nana kemudian.


Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Melati seketika terdiam, lalu ia pun langsung menggeleng pelan.


"Belum sama sekali???" Tanya Nana yang seolah tak menyangka.


"Iya, belum!"


"Tapi kenapa?"


"Jika ku beritahu ibuku sekarang, aku yakin ibuku pasti akan menangis memelukku dan meminta aku agar tetap tinggal disini." Jawab Melati lesu.


"Eeemmm benar juga, hampir seluruh orang di desa ini tau, jika ibumu sangat menyayangimu bahkan terkesan berlebihan."


"Akhirnya ada juga yang menyadari hal itu, menyadari jika ibuku memang sangat berlebihan padaku, aku juga tidak tau kenapa bisa begitu. Dia bahkan sering mengabaikan Rio hanya demi aku, hingga terkadang aku jadi merasa kasihan pada adikku." Ungkap Melati sembari tersenyum lirih dengan sorot matanya yang memadang kosong ke depan.


"Eeemm lalu kapan rencananya kau akan memberitahukan pada mereka?"


"Aku berpikir, akan memberitahukan hal ini nanti saja, setelah aku benar-benar dinyatakan lulus dan mendapat beasiswa ke Universitas negeri yang ada di kota."


"Apa kamu yakin?"


"Ya! Jika sudah begitu, maka ibuku tidak mungkin bisa berbuat apa-apa selain mengizinkan aku pergi." Jawab Melati lagi.


"Eeemmm" Nana pun akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa mengerti.


"Lalu, bagaimana denganmu?" Kini Melati balik bertanya pada sahabatnya itu.


"Aku sudah bilang pada ibuku, dan dia setuju asal aku bisa mengusahakan mendapat beasiswa juga." Jawab Nana enteng.


"Eeemm aku yakin kamu juga pasti akan dapat beasiswa, karena kau juga tak kalah pintar." Melati pun akhirnya tersenyum.


"Yaa, tapi tetap saja kepintaranku ini belum bisa mengalahkanmu yang selalu juara di kelas."


"Aku hanya sedang beruntung saja, mungkin tuhan tau aku lebih membutuhkan beasiswa di sekolah, makanya aku bisa juara."


"Benar juga," Nana pun terkekeh.


Sejak saat itu, Melati dan Nana semakin giat belajar dan mencari informasi tentang Universitas yang mereka impikan. Dan hampir setiap hari Melati dan Nana menghabiskan waktu di warung internet (warnet) yang letaknya cukup jauh dari rumah mereka hanya untuk mendaftar kuliah jalur beasiswa secara online.


Waktu demi waktu berlalu, dan saat ini, adalah saat-saat paling mendebarkan bagi Melati dan juga Nana, saat dimana mereka menantikan pengumuman akhir dari kampus yang mereka tuju. Setiap hari Melati menjadi sering duduk di depan rumah, hanya untuk menunggu kurir dari kantor pos yang datang untuk mengantar surat pengumuman.


Hingga akhirnya, di pagi hari yang cerah, dari depan rumah terdengar suara bunyi-bunyian dari sebuah sepeda ontel.


*kringkringg*

__ADS_1


"Ada suratt." Ucap kurir.


Kebetulan, saat itu Aryo tengah duduk di depan rumah sembari menikmati secangkir kopi sebelum ia pergi bekerja.


"Surat untuk siapa?" Tanya Aryo heran.


"Ditujukan untuk Melati Utari."


"Oh ya, dia anakku, berikan saja padaku." Ucap Aryo yang langsung meraih sebuah amplop putih yang diberikan oleh kurir.


Kurir pos pun beranjak pergi, sementara Aryo, dahinya mulai mengkerut saat membaca sebuah nama Universitas terkemuka di kota. Tak ingi di lahap rasa penasaran yang terlalu lama, Aryo pun langsung membuka amplop itu tanpa permisi terlebih dulu pada sang pemiliknya.


"Surat apa ini? Kenapa dari Universitas?" Tanya Aryo dalam hati.


Dengan tanpa ragu Aryo pun mulai membuka lipatan selembar kertas yang ada di dalam amplop itu dan membacanya perlahan, beberapa detik setelahnya, kedua mata Aryo nampak membulat sempurna saat membaca keterangan jika Melati anaknya, lolos untuk masuk ke Universitas melalui jalur prestasi.


"Hah?! Jadi dia sudah mendaftar kuliah? Di kota?" Gumam Aryo lagi.


Tak lama, Husna yang baru pulang dari pasar, terus melangkah ingin melewati Aryo, namun langkahnya segera di hentikan oleh Aryo yang merasa sedikit kesal karena merasa di kucilkan oleh keluarganya sendiri.


"Heh tunggu!"


"Ada apa mas?"


"Ini, lihat ini!" Aryo pun menyerahkan surat pengumuman itu pada Husna.


"Apa kau tau tentang Melati yang sudah mendaftar untuk kuliah di Universitas Negeri yang ada di kota?" Tanya Aryo dengan raut wajah tak senang.


"Tidak mas, aku juga belum tau! Memangnya apa isi surat ini?" Husna pun nampak kebingungan.


"Jadi,, kau pun belum tau?"


Husna pun menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, baca saja sendiri!" Ketus Aryo.


Husna pun langsung membaca isi surat itu, sama halnya dengan Aryo, kedua mata Husna nampak begitu terbelalak saat mengetahui fakta yang sangat mengejutnya. Yakni fakta jika putri kesayangannya di terima untuk berkuliah di kampus yang sangat jauh dari tempat tinggal mereka.


"Ti,,, tidak, ini tidak mungkin, ini pasti salah kirim."


"Salah kirim apanya?! Apa kau tidak baca nama penerimanya?! Melati Utari!" Jawab Aryo.


Husna tanpa berkata apapun lagi, langsung bergegas memasuki rumahnya, untuk mendatangi Melati yang kala itu sedang belajar di kamarnya.


"Melati!" Panggil Husna.


Melati pun menoleh dan perlahan menutup bukunya.


"Ada apa bu?" Tanyanya seolah tidak ada kejadian.


"Apa ini?" Tanya Husna dengan raut wajah yang tak biasa.

__ADS_1


Melati pun meraih surat itu lalu langsung membacanya, berbeda dengan Aryo dan Husna yang nampak begitu shock dan terkejut, Melati justru langsung melompat kegirangan di depan Husna yang kala itu justru merasa sangat sedih hingga kedua matanya mulai berkaca-kaca.


"Yeayy! Aku lulus jalur prestasi, terima kasih tuhan terima kasih," Ucap Melati yang terus melompat-lompat kegirangan.


Sementara Husna, kala itu ia masih terlihat diam bahkan tercengang memandangi anaknya yang terlihat begitu gembira.


"Melati!!" Bentak Husna kemudian.


Melati terkejut dan spontan terdiam, ya, seumur hidupnya, itu adalah kali pertama Husna membentaknya.


"Ibu membentak ku?!" Tanya Melati tak menyangka.


"Tidak usah membahas hal lain, sekarang ayo jawab apa maksud dari surat itu?!" Tanya Husna dengan nada tinggi.


Husna nampak begitu shock, bukan ia tidak senang melihat putrinya lulus untuk masuk ke perguruan tinggi, namun ini lebih ke perasaannya yang sama sekali tidak siap untuk berjauhan dari Melati, putri terkasihnya.


"Apa kamu sungguh sudah mendaftar kuliah di sana?!" Mata Husna pun mulai melotot menatap Melati.


Melati pun mengangguk pelan sembari mulai menundukkan kepalanya.


"Bisa-bisanya kau mendaftar tanpa persetujuan dari ibu, bahkan tidak memberitahu sama sekali pada ibu!! Apa yang ada dalam pikiranmu Melati, kenapa kau berani mengambil langkah seorang diri begini?"


"Maafkan aku bu, aku khawatir jika aku mengatakan hal ini sebelum mendaftar, pasti ibu tidak akan setuju dan akan melarangku. Itu sebabnya aku mendaftar diam-diam secara online dan berniat memberitahu ibu setelah aku menerima pengumuman ini," Jelas Melati yang terus menundukkan kepalanya.


Husna pun terdiam, kini air matanya mulai menetes di kedua pipi, ia kecewa, anak yang selama ini ia sayangi, ia jaga, dan ia nomor satukan, bersikap seolah tak membutuhkan dirinya lagi.


"Kamu tau kan jarak dari desa ini ke kota sangat lah jauh?" Tanya Husna lirih.


Melati mengangguk.


"Dengan begitu, berarti kamu akan mengekos di kota dan tidak akan tidur disini lagi dalam waktu yang cukup lama."


Melati kembali mengangguk membenarkan.


"Kamu juga pasti tau kan jika ibu sangat sayang padamu, ibu tidak bisa jauh darimu. Kehidupan di kota sangat lah keras, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu dan ibu tidak ada di dekatmu? Bagaimana kamu bisa menghadapi semuanya sendirian, bagaimana kamu bisa tanpa ibu??" Husna pun semakin menangis saat mengungkapkan isi hatinya.


"Bu, mengerti lah bu, aku ini sudah bukan anak-anak lagi bu, aku sudah dewasa dan aku berhak menentukan jalan hidupku. Aku ingin berkuliah di kampus terbaik dan itu adanya hanya di kota, di desa ini mana ada Universitas. Kalau pun ada letaknya di perbatasan desa, dan itu juga Universitas kecil."


Husna pun hanya diam dan terus menangis, ia benar-benar tidak siap jika Melati pergi meninggalkannya.


"Bu, tolong dukung keinginanku, ini demi masa depanku juga bu. Aku janji akan menjadi anak yang selalu membanggakan ibu, aku janji bu." Pujuk Melati yang mulai meraih kedua tangan ibunya.


Husna pun mulai menatap nanar ke wajah Melati.


"Tapi ibu tidak sanggup jauh darimu nak, ibu tidak akan bisa tenang saat membayangkan kamu tinggal sendiri di kota." Ucap Husna lirih.


"Aku janji akan sering pulang setiap libur kuliah bu, dan aku tidak sendirian disana, karena aku bersama Nana, dia juga mendaftar disana. Lagi pula Universitas tempatku akan berkuliah nanti bukanlah Universitas biasa bu, itu merupakan Universitas terbaik di kota dan sangat terkenal, ibu pasti akan makin bangga jika aku berkuliah disana" Jawab Melati sembari tersenyum.


"Benarkah?" Tanya Husna sembari mulai menyeka air matanya,


Melati pun semakin melebarkan senyumannya dan menganggukkan kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2