
Beberapa hari kemudian...
Ini adalah kali pertama Melati jauh dari ibunya, awalnya Melati merasa takut dan tidak yakin bisa menjalani hari-hari tanpa adanya sosok ibu di sisinya. Melati yang cemas, menjadi sering menelpon ibunya melalui ponsel sahabatnya Nana. Karena semenjak beberapa tahun menikah dengan Aryo, Husna tak lagi memiliki ponsel karena telah ia jual demi memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dan mulai sejak itu hingga saat ini, tak pernah sekali pun lagi Husna memiliki ponsel.
Namun ternyata rasa takut pada Melati tidak bertahan lama, sebab setelah beberapa hari menjalani hidup di kota, Melati pun akhirnya mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar tempat tinggalnya dan tentu saja di lingkungan kampus.
Ini adalah awal kehidupan yang baru bagi Melati, meski harus berjauhan dengan keluarga dan sahabat, namun ia tetap menjalaninya dengan sangat bersemangat bahkan sangat menikmati hal-hal baru yang ia alami.
Pagi hari yang cerah...
Pagi itu, Melati tengah sibuk bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Dengan senyumannya yang begitu merekah, ia terus menyisir rambutnya yang panjang di depan cermin. Memastikan semuanya telah siap, ia pun langsung berangkat menuju kampus yang ternyata berjarak tak terlalu jauh dari kos-kosannya.
Melati terus melangkah cepat menuruni anak tangga, kebetulan kos-kosannya berada di lantai dua hingga membuatnya harus naik turun tangga setiap harinya.
"Selamat pagi bu." Sapa Melati dengan sangat ramah kepada salah seorang pegawai kebersihan di kos-kosannya.
"Pagi Melati, sudah mau berangkat kuliah ya?"
"Hehehe iya bu,"
"Oh ya, belajar yang rajin."
"Hehe iya, mari bu."
"Iya, hati hati ya."
Melati melanjutkan langkahnya dengan setengah berlari, karena di awal-awal kuliah, ia sama sekali tak ingin terlambat meski sedetik pun.
Melati nampaknya benar-benar memenuhi janji Pada ibunya, hal itu terbukti dari tekun dan giat nya Melati belajar pada saat itu. Saat itu Melati benar-benar terlihat sangat sibuk, dari pagi hingga siang ia habiskan untuk menuntut ilmu, sedangkan siang hingga petang, ia habiskan untuk berkeliling mencari pekerjaan part time yang bisa sesuai dengan jadwal kuliah, dam malam harinya, tentu ia gunakan sebaik mungkin untuk beristirahat. Sehingga ia sangat tidak ada waktu untuk masalah cinta-cintaan, dan juga tidak ada waktu untuk sekedar nongkrong bersama teman-teman barunya di cafe.
Siang itu, seperti biasa Melati kembali berkeliling di cafe-cafe yang terletak di sekitar kampusnya untuk mencari kerjaan paruh waktu. Ya memang ada banyak cafe dan restoran yang berjejer di pinggir jalan menuju kampusnya. Dan tempat-tempat itulah yang Melati masuki satu persatu hanya untuk bertanya tentang pekerjaan.
Setelah beberapa hari mengalami kegagalan saat mencari pekerjaan, akhirnya usaha Melati kali ini membuahkan hasil. Melati di terima bekerja di sebuah restoran, sebagai pelayan yang bekerja dari mulai pukul 13:00 siang, hingga pukul 21:00 malam. Melati senang bukan kepalang, apalagi hari itu juga ia sudah bisa langsung mulai bekerja di tempat itu, mendapat makan siang dan malam secara gratis, benar-benar sangat meringankan bebannya.
"Mel, tolong bersihkan meja yang di ujung!" Perintah pelayan senior.
"Ah iya bu, baik." Melati pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Ini pengalaman bekerja pertama bagi Melati, meskipun ia sama sekali belum pernah sekali pun melakukan hal-hal seperti yang di tugaskan, namun Melati nampaknya tetap sangat menikmatinya profesi barunya sebagai pelayan restoran,
Dan di saat itu pula lah, tanpa Melati sadari, salah seorang dari pengunjung restoran itu tak sengaja melirik ke arahnya, dan entah kenapa langsung merasa tertarik begitu saja pada Melati. Ia terus memperhatikan gerak gerik Melati dalam diam, seutas senyuman pun mulai muncul dari bibir lelaki itu disaat ia melihat senyuman Melati yang terlihat sangat menawan.
"Hei Ro, ada apa denganmu ha?! Kuperhatikan sejak tadi kau tersenyum tanpa sebab. Ada apa? Apa kau mulai gila ha?! Hahaha." Ucap salah satu teman lelaki itu yang saat itu duduk dalam satu meja dengannya.
"Ah tidak, aku tidak ada tersenyum! Perasaanmu saja itu." Jawab Vero yang kembali tersenyum tipis.
Ya, lelaki yang sejak tadi diam-diam terus mencuri-curi pandang pada Melati yang tengah sibuk membersihkan meja, bernama Arvero. Seorang mahasiswa dari Universitas yang sama dengan Melati, namun tentu saja mereka berbeda fakultas dan jurusan sehingga tidak saling mengenal.
Arvero bukan pendatang seperti Melati, ia memang lahir dan besar di kota itu, terlahir dari keluarga yang kaya raya, namun itu semua nyatanya tidak membuatnya memiliki selera tinggi seperti kebanyakan anak muda pada zaman itu. Yang dapat membuatnya tertarik justru adalah hal-hal yang terlihat sederhana, sama halnya seperti Melati yang berhasil membuat Arvero tertarik hanya dengan menampilkan kesederhanaannya saja,
Meski telah merasakan ketertarikan pada Melati, namun hal itu juga tidak membuat Arvero langsung bergerak cepat untuk mendekati Melati, sama sekali tidak! Ia justru terus diam dan memilih untuk memperhatikan dan mengamati sikap dan gerak-gerik Melati lebih lama lagi.
1 Bulan kemudian...
Hari-hari berlalu dengan begitu saja, tak terasa kini sudah satu bulan lebih lamanya Melati tinggal sendirian di kota. semakin lama hidup di kota, kehidupan Melati pun kian bebas sesuai apa yang ia inginkan sebelumnya. Dia bebas memakan apa saja yang ia inginkan, termasuk memakan mie instan yang sebelumnya ia sangat jarang memakannya karena larangan Husna.
Suatu hari, Melati sedang berada di fase dimana ia benar-benar sedang kehabisan ide dalam menulis sebuah cerita untuk tugas kuliah, sementara tugas kuliahnya itu sudah benar-benar di kejar deadline hingga membuatnya cukup frustasi kala itu.
"Ah tidak, hanya saja aku sedang kehabisan ide untuk menulis tugas ini." Jawab Melati sembari tersenyum lirih.
"Oh tugas itu, eeemm aku juga belum menyelesaikannya, tapi setidaknya aku tidak terlalu frustasi sepertimu."
"Benarkah? Bagaimana bisa? Bukankah kamu tau dosen ini sangat killer?"
"Eeemm ya, tapi setidaknya aku punya ini." Jawabnya sembari menunjukkan sebatang rokok yang tengah ia pegang.
Mata Melati pun terbelalak saat melihat teman perempuan yang ia kenal bernama Lusi itu ternyata seorang perokok.
"Dengan merokok bisa membuatku sedikit lebih tenang dan bisa sedikit berfikir jernih." Tambahnya lagi.
"Hah?! Kamu merokok?! Astaga, kamu kan perempuan Lusi, kenapa merokok?" Tanya Melati yang nampak masih begitu polosnya.
"Astaga Mel, seperti inilah kehidupan di kota besar, baik perempuan maupun laki-laki itu sama saja." Jawab Lusi enteng.
"Memangnya ada pengaruhnya ya?"
__ADS_1
"Tentu saja! Atau kau mau coba? Ini, ayo coba lah." Lusi pun memberikan satu batang rokok pada Melati.
"Ah tidak, tidak! Aku tidak biasa merokok." Melati pun menolaknya dengan halus.
"Iya aku tau, maka dari itu kau perlu tau bagaimana rasa dan sensasinya ketika merokok. Lagi pula dengan mencoba satu batang rokok saja sama sekali tidak ada pengaruh ke kesehatan, ayo cobalah." Pujuk Lusi yang semakin mendekatkan rokok itu pada Melati,
Melati pun terdiam sejenak sembari terus memandangi rokok yang ada di hadapannya. Lalu dengan ragu-ragu, akhirnya ia pun meraihnya dan memandangi rokok itu lebih detail lagi.
"Sekarang letakkan rokok itu di mulutmu," Suruh Lusi.
Entah apa yang saat itu ada di dalam benak Melati hingga ia yang polos nan lugu, mau saja menuruti ucapan Lusi yang terkesan menjerumuskan. Melati pun perlahan menyelipkan sebatang rokok itu di antara kedua bibirnya,
"Nah begitu." Ucap Lusi yang tersenyum, lalu mulai mengeluarkan korek dari saku celananya,
Saat itu Lusi sama sekali tidak keberatan untuk membantu membakarkan rokok itu untuk Melati. Di hisapan pertama, Melati langsung terbatuk-batuk karena terlalu dalam menghisap rokoknya, wajar saja hal itu bisa terjadi, mengingat Melati yang memang sama sekali tidak mengerti bagaimana cara menghisap rokok sebelumnya.
"Uhuuk-uhukkk." Melati pun terus terbatuk-batuk.
"Hahaha, kau ini polos sekali ya Mel, apa selama di desan kau sungguh-sungguh tidak pernah merokok?" Lusi pun terus menertawakan Melati.
Melati yang polos pun hanya menggelengkan pelan kepalanya.
"Astaga, benar-benar Melati yang polos, jika orang-orang kota melihat mu seperti ini, kau juga akan habis di tertawakan hahaha."
"Memangnya bagaimana cara menghisap yang benar? Bagaimana caranya agar tidak batuk?" Tanya Melati yang akhirnya mulai penasaran.
Lusi, dengan semangat pun mengajarinya, dan benar saja, hal memalukan itu pun tidak berlangsung lama, hanya menggunakan sebatang rokok saja, kini Melati setidaknya sudah tau teknik menghisap rokok yang benar. Dan ya, setelah menghabiskan satu batang rokok, entah kenapa Melati seolah merasa pikirannya yang sempat kalut, kini sedikit lebih tenang, bahkan yang lebih parahnya lagi, Melati justru seolah ingin merokok lagi, seolah mulai ketagihan.
"Bagaimana? Mudah kan?" Tanya Lusi sembari tersenyum.
Melati pun mengangguk dan tersenyum kikuk.
"Ya dengan begini, setidaknya kau sudah punya pengalaman merokok hahaha." Lusi pun kemudian mulai beranjak pergi begitu saja, sembari terus tertawa.
Sementara Melati, hanya bisa diam, memandangi kepergian Lusi dengan perasaannya yang sedikit aneh yang sulit di jelaskan, perasaan itu seperti menginginkan rokok lagi.
...Bersambung......
__ADS_1