
Melati pun akhirnya kembali diam, sembari terus memandangi kepergian Vero hingga ia memasuki sebuah ruangan yang menurut feeling Melati ruangan itu tak lain ialah kamarnya.
Selama menunggu, kedua mata Melati seolah tak bisa diam di tempatnya, matanya terus saja melirik kesana kemari, hampir ke segala sudut ruangan yang bisa di jangkau oleh matanya.
"Wahh ini bukan seperti rumah, melainkan sebuah istana." Gumam Melati dalam hati.
Namun tak lama setelah itu, sebuah langkah kaki tiba-tiba saja terdengar dari arah belakang Melati. Membuat Melati secara refleks langsung berbalik badan untuk melihat siapa kah gerangan yang tengah berjalan ke arahnya.
Melati pun sontak terkejut, saat mendapati seorang wanita paruh baya yang telah berdiri tepat di belakangnya, meski terlihat sudah cukup berumur, namun wanita paruh baya itu nampaknya masih terlihat cantik seolah awet muda. Dan sama halnya dengan Melati, wanita itu pun juga sama terkejutnya dengan keberadaan Melati.
"Kamu siapa?!" Tanya Wanita itu seolah menyelidik dengan dahinya yang mengkerut.
Melati sontak langsung berdiri dan menundukkan kepalanya di hadapan wanita paruh baya yang tak lain ialah ibunda dari Vero.
"Sa,,, saya..." Melati sedikit terbata-bata dan terus menundukkan kepalanya,
"Dia teman kampusku ma." Jawab Vero yang tiba-tiba muncul dari belakang Melati.
Saat itu Vero muncul dengan sudah membawa sebuah laptop, beberapa lembar kertas dan beberapa buku yang cukup tebal di tangannya.
"Teman kampus?" Tanya wanita yang diketahui bernama Kumala itu.
"Iya ma, dia yang akan jadi pembimbingku untuk menyelesaikan skripsi."
"Oh ya?" Kumala kembali memandangi Melati dari ujung kaki hingga rambut.
Vero dan Melati pun mengangguk secara bersamaan.
"Siapa namamu?"
"Melati bu." Jawab Melati yang dengan sedikit ragu-ragu mulai menatap wajah Kumala.
"Bu???!!" Mata Kumala sontak sedikit membulat.
"Maaf, tapi jangan panggil aku ibu, karena aku bukan ibumu." Tambah Kumala lagi.
"Tante." Bisik Vero pada Melati.
"Oh, iy,, iya maaf tante." Ucap Melati kemudian.
Kumala pun mengangguk singkat.
"Melati ini dari desa ma, jadi wajar jika dia tidak biasa memanggil dengan kata tante." Jelas Vero.
"Wah orang desa bisa kuliah di kota, dan di Universitas terbaik serta populer, bagaimana bisa?"
"Saya mendapat beasiswa tante." Jawab Melati pelan.
"Iya ma, Melati ini sangat pintar, makanya bisa kuliah di kampusku juga. Dan itu lah sebabnya juga aku meminta bantuannya untuk membantuku menyelesaikan tugas akhirku." Tambah Vero lagi.
"Eemm ya, ya ya." Kumala pun kembali mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baik lah kalau begitu, kalian boleh melanjutkannya." Tambah Kumala yang kemudian kembali melangkah pergi.
__ADS_1
Vero pun akhirnya tersenyum, dan mempersilahkan Melati untuk kembali duduk.
"Ayo, duduk lah lagi."
Namun Melati masih terdiam sembari memandangi punggung Kumala yang mulai melangkah pergi.
"Sudah, tidak perlu takut pada mama, mamaku bukan hantu." Tambah Vero yang kembali menarik tangan Melati untuk membawanya kembali duduk.
"Oh ya, Vero!" Panggil Kumala secara tiba-tiba sembari menghentikan sejenak langkahnya.
"Iya ma?"
"Ikut mama sebentar!" Pinta Kumala yang kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
"Oh ok ma."
Vero pun melepaskan tangan Melati, lalu langsung meletakkan laptop dan buku yang ia pegang ke atas meja bundar yang ada di dekatnya.
"Tunggu sebentar ya,"
Melati pun mengangguk, lalu mulai kembali duduk, tapi kali ini ia tidak duduk di sofa seperti sebelumnya, melainkan duduk di bawah, di atas ambal bulu yang tebal.
Kumala terus melangkah menuju ke sebuah ruangan yang cukup privasi, tak lama Vero pun datang menyusulnya.
"Ada apa ma? Kenapa membawaku kesini?" Tanya Vero yang terlihat sedikit bingung.
"Eemm tidak, ada yang ingin mama pastikan lagi."
"Wanita itu, siapa tadi namanya?"
"Melati."
"Eeemm ya Melati, antara kamu dan dia, memang benar-benar tidak ada hubungan apapun kan?" Tanya Kumala dengan tatapan menyelidik.
"Memangnya kenapa ma?"
"Jawab saja pertanyaan mama!" Tegas Kumala.
Vero pun kemudian mulai menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak. Karena memang benar, sejauh ini antara dia dan Melati memang lah belum ada hubungan apa pun. Meski Vero begitu menginginkan hal itu, namun nampaknya hingga kini Melati masih belum menunjukkan ketertarikannya pada Vero.
"Kamu serius memang hanya sebatas teman?"
"Iya. Memangnya kenapa ma?"
"Eemm bagus lah! Mama tidak mau jika kamu berpacaran dengannya!"
*Deegg*
Mendengar pernyataan seperti itu keluar dari mulut ibunya, membuat jantung Vero sontak berdetak cepat.
"Kenapa?" Tanya Vero dengan tatapan yang tak biasa.
"Kamu masih tanya kenapa? Ya menurutmu kenapa?" Kumala justru membalikkan pertanyaan itu pada Vero.
__ADS_1
"Apa karena dia dari desa?"
"Ya itu salah satunya. Intinya mama tidak mau jika kamu berpacaran dengannya. Kalau hanya sekedar teman dan pembimbing skripsi, ok tidak masalah. Tapi hanya sebatas itu, tidak lebih!!" Tegas Kumala yang seolah tidak mau di bantah.
Vero terdiam sejenak. dengan perasaan yang sedikit tak karuan. Namun, hal itu sepertinya tidak terlalu berarti bagi Vero, ia bahkan tidak menciut dan masih saja berniat ingin mendekati Melati.
"Kenapa kamu hanya diam saja? Kamu dengar ucapan mama tidak??!"
"Eemm iya ma, aku dengar!"
"Bagus!" Kumala pun tersenyum.
"Ya sudah, aku mau kembali kesana ma."
"Eeemm ya, belajar lah yang fokus, jangan aneh-aneh!"
"Iya ma, tidak mungkin juga aku aneh-aneh dengannya!"
"Ya sudah. Dan ingat satu lagi!"
"Apalagi?"
"Jangan sampai terlalu larut!!"
"Iya ma, tidak akan!"
"Ya sudah, mama sangat lelah karena baru pulang dari kantor papamu, mama mau masuk ke kamar."
"Lalu papa?"
"Papamu lembur di kantor bersama beberapa staffnya, karena ada sedikit masalah. Tapi tenang saja, semua masih bisa di atasi." Kumala pun tersenyum sembari menepuk singkat pundak Vero dan kemudian langsung berlalu pergi begitu saja.
Vero pun menghela nafas kasar, tak ingin membuang waktu lama, ia pun langsung kembali menuju ruang keluarga, tempat dimana Melati menunggunya.
"Maaf ma, tapi aku tidak akan mengubah apapun, aku tetap akan mendekati Melati, tetap akan berusaha mengambil hatinya, meskipun mama tidak setuju." Gumam Vero dalam hati sembari terus melangkahkan kakinya.
"Masalah restu tidak restu, itu biar lah menjadi urusan belakangan! Yang terpenting saat ini, bagaimana caranya agar Melati mau padaku." Tambahnya lagi sembari mulai tersenyum tipis.
Setibanya di ruang keluarga, dahi Vero kembali di buat mengkerut saat mendapati Melati yang duduk di bawah.
"Melati??!!" Ucapnya yang langsun mendekati Melati.
Melati pun seketika menoleh ke arahnya.
"Astaga Melati, kenapa kamu malah duduk di lantai?!"
"Siapa bilanf aku duduk di lantai? Ini." Jawab Melati sembari menepuk-nepuk pelan ambal bulu yang ia duduki.
"Eeemmm ya, tapi tetap saja kamu duduk di bawah."
"Duduk lesehan seperti ini akan lebih nyaman, lagi pula meja ini pas kan untuk kita duduk di bawah, dan belajarnya juga bisa sedikit lebih santai." Jelas Melati dengan tenang.
"Eeemm ya sudah, asal kamu nyaman, maka aku juga akan merasakan hal yang sama." Jawab Vero tersenyum yang akhirnya ikut duduk di bawah bersama Melati.
__ADS_1