
Vero mulai membuka laptopnya, lalu mulai menjelaskan judul besar dari skripsinya dan beberapa bagian yang perlu direvisi.
Melati memang belum pernah punya pengalaman sama sekali dalam menyusun skripsi, namun hal itu ternyata juga bukan hal yang sulit baginya. Mereka pun mulai terlihat sibuk mencari bahan materi dari beberapa buku hingga internet dan merangkumnya menjadi satu untuk di susun ke dalam makalah skripsi.
Melati begitu fokus pada tugasnya, sementara Vero, justru malah asik memandangi wajah Melati yang lembut, yang saat itu berjarak cukup dekat dengannya. Melati yang terlalu fokus dalam mencari bahan materi awalnya tidak menyadari hal itu, ia terus saja asik dengan beberapa buku dan selembar kertas untuk ia menulis seluruh rangkuman yang ia dapatkan.
"Dimana penaku tadi ya?" Tanya Melati yang dengan tiba-tiba melirik hampir ke seluruh sisi meja untuk mencari penanya yang hilang.
Vero yang masih begitu asik menikmati keelokan wajah Melati, membuatnya terus diam dan tidak menggubris pertanyaan Melati.
Melati terus mencari-cari penanya dengan mengangkat buku-buku yang ada di atas meja, namun sama sekali tidak ada pena yang terletak di atas meja hingga membuat Melati mulai mencari-cari ke bawah kolong meja.
"Vero, apa kamu melihat penaku?" Tanya Melati yang kemudian menatap Vero.
Dan ya, hal itu berhasil membuat kedua mata mereka jadi saling beradu dalam jarak yang sangat dekat.
*Deeeggg*
Melati pun terpaku, dengan perasaan yang tiba-tiba terasa aneh baginya. Ya, jantungnya saat itu tiba-tiba saja berdetak hebat, di saat kedua matanya langsung bertemu dengan kedua mata Vero. Saat itu, Vero pun semakin menatap Melati dengan begitu lekat, dan tatapannya langsung berubah jadi jauh lebih dalam dari sebelumnya.
__ADS_1
"Apa ini? Perasaan macam apa ini? Kenapa jantungku tiba-tiba terasa berdebar saat menatap matanya?" Gumam Melati dalam hati sembari tanpa sadar ia mulai menelan ludahnya sendiri.
Bukan hanya Melati, tapi Vero juga merasakan hal yang sama, jantungnya kembali berdetak hebat, matanya seolah tak bisa lekang dari Melati.
"Tuhan, bisakah hentikan waktu sebentar saja? Aku ingin seperti ini beberapa saat lagi, tolong jangan biarkan cepat berlalu, oh ayolah." Gumam Vero membatin.
Namun sayang seribu sayang, doa itu nyatanya tidak di indahkan oleh sang pemilik semesta, baru beberapa detik setelah Vero bergumam dalam hatinya, tiba-tiba saja seorang pembantu yang datang dari dapur sontak mengagetkan mereka berdua.
"Ma,, maaf mas Vero." Ucap seorang wanita paruh baya yang telah berdiri di hadapan mereka dengan membawa sebuah nampan berisikan dua gelas orange jus dan beberapa cemilan.
Vero dan Melati sontak terkejut, lalu secara bersamaan langsung bergegas membuat jarak di antara mereka jadi lebih renggang.
"Iya mas." Jawabnya sembari tersenyum penuh makna.
Wanita paruh baya yang dikenal bernama bi Izah itu pun segera meletakkan makanan dan minuman itu ke atas meja dengan hati-hati.
"Ayo silahkan diminum mba." Ucap bi Izah dengan sangat ramah.
"Oh iya bi," Jawab Melati yang juga ikut tersenyum.
__ADS_1
"Ini cemilannya juga silahkan di makan, buatan bibi sendiri."
"Wah iya bi, terima kasih banyak." Melati pun semakin melebarkan senyumannya sembari mengangguk pelan.
Lalu dengan masih mengutas senyum yang tak biasa, bi Izah pun pamit undur diri dari hadapan mereka.
"Saya permisi mas, mbak."
"Iy,, iya bi." Jawab Vero dengan cepat.
"Iya bi." Jawab Melati juga.
Bi Izah pun langsung pergi untuk kembali ke belakang, meninggalkan Melati dan Vero yang saat itu masih saling diam, suasana pun tiba-tiba saja berubah menjadi sangat canggung dan hening.
"Ka,,mu kenapa?" Tanya Vero kemudian.
"Apanya yang kenapa? Memangnya aku kenapa?" Ucap Melati yang nampak tak paham.
"Kenapa setelah kejadian barusan, kamu jadi diam saja? Tidak seperti biasanya."
__ADS_1