Ibuku Sayang Ibuku Malang

Ibuku Sayang Ibuku Malang
Chapter 40


__ADS_3

Kedua mata Melati langsung berbinar ketika baru saja memasuki toko ponsel yang begitu banyak menyajikan aneka ragam ponsel dari berbagai type dan merk.


"Jika sudah disini, ponsel milikku mana ada apa-apanya." Celetuk Melati dalam hati.


Vero membawanya ke salah satu etalase yang memajang berbagai ponsel type terbaru, saat itu Melati hanya diam seolah tak berminat, bukan karena ia tidak menyukainya, melainkan dana yang ia punya sangat lah terbatas hingga membuatnya tidak berani terlalu melihat-lihat ponsel mahal itu.


"Apa ada yang kamu sukai di antara semua ponsel ini Melati?" Tanya Vero tiba-tiba.


"Bahkan meski aku suka, aku tidak akan pernah membelinya." Jawab Melati pelan.


"Kenapa begitu?"


"Lihat saja harganya! Benar-benar tidak masuk akan." Jawab Melati sembari menunjuk ke arah bandrol yang tertera.


"Eeemm kalau begitu anggap lah harganya tidak mahal, kira-kira kamu mau yang mana?" Tanya Vero memancing.


Melati pun terdiam lalu mulai memandangi satu persatu ponsel yang terpajang di etalase itu.


"Mungkin ini." Jawabnya kemudian sembari menunjuk ke salah satu ponsel.


"Yang ini??!" Tanya Vero lagi memastikan.


"Eeemmm." Melati mengangguk.


"Baik lah, kalau begitu aku mau yang ini ya." Ucap Vero pada seorang pegawai yang berjaga di etalase itu.


Hal itu sontak membuat Melati yang mendengarnya seketika langsung melebarkan matanya.


"Hah?!! Kamu mau beli ponsel juga?!"


"Tidak, aku mau membelikannya untukmu." Jawab Vero dengan tenang.


"Apa?! Untukku??!"


"Ya." Vero pun mengangguk.


"Ah tidak, tidak!! Tidak usah!" Tolak Melati cepat.


"Mba, tidak usah mba! Tidak perlu di keluarkan!" Tegas Melati lagi pada pegawai itu.


Kali ini gantian, Vero lah yang dibuat melotot.


"Tapi kenapa???!!"


"Untuk apa membelikan aku ponsel?! Aku sudah memilikinya, jadi tidak butuh ponsel lagi!!" Jawab Melati sembari menunjukkan ponsel miliknya.


Vero menatap ponsel milik Melati dan kembali tersenyum, baginya, ponsel yang saat itu dimiliki oleh Melati merupakan ponsel yang cukup kuno dan tidak cocok jika di pakai oleh anak muda seperti Melati, itulah sebabnya ia berinisiatif untuk membelikan ponsel untuk Melati.


"Yang mau aku belikan ponsel itu ibuku, bukannya aku sudah mengatakan hal itu sebelumnya!"


"Ya, aku tau. Tapi kenapa tidak kamu saja yang beli ponsel baru, sementara ibumu biar pakai ponsel milikmu ini saja." Ungkap Vero memberi saran.


"Tidak usah! Lagi pula aku tidak mau berhutang budi, apalagi pada seseorang yang baru ku kenal!"


"Tidak perlu berhutang budi. Cukup lakukan sesuatu untukku, maka kamu tidak ada hutang apapun padaku. Anggap saja ini semacam job desk."


"Melakukan apa? Jangan macam-macam ya!" Kedua mata Melati sontak melotot seketika.

__ADS_1


Pikiran Melati kini mulai kemana-mana dan jadi berpikir yang tidak-tidak pada Vero yang di anggapnya ingin berbuat mesum.


"Hah?! Siapa yang macam-macam Melatii? Memangnya kamu memikirkan apa??" Tanya Vero yang nampak bingung juga terkejut.


"Oh astaga, apa kamu berpikir jika aku akan,,, akan mengajakmu ke hotel dan melakukan hubungan suami istri begitu? Hahaha." Tambah Vero lagi yang kembali terkekeh geli.


Mendapat respon seperti itu, membuat Melati akhirnya mulai merasa kikuk.


"Eeemm ya, siapa tau kan! Mengingat jaman sekarang, apalagi di kota besar seperti ini, sudah banyak hal yang seperti itu terjadi, hanya demi sebuah ponsel pintar yang canggih."


"Ya, itu benar. Tapi bisa ku pastikan, aku bukan salah satunya!!" Tegas Vero yang kali ini menatap Melati dengan sangat lekat.


Melati pun terdiam saat membalas tatapannya, dan entah kenapa, saat itu instingnya lagi-lagi menyuruhnya untuk percaya dengan semua hal yang di katakan oleh Vero.


"Bagaimana? Kamu setuju kan?" Tanya Vero lagi.


"Ta,, pi ponsel itu cukup mahal."


"Tidak masalah, lagi pula mahasiswi sepertimu akan sangat butuh ponsel yang canggih demi memudahkan dalam mencari ilmu tambahan, atau dalam membuat tugas lainnya." Ungkap Vero yang kembali tersenyum.


Akhirnya dengan sedikit ragu, Melati pun setuju, membuat Vero semakin melebarkan senyumannya dan langsung membelikan Melati ponsel yang sebelumnya ia tunjuk.


Dan malam itu juga, Vero juga mengantarkan Melati ke tempan jasa pengiriman barang untuk langsung mengirimkan ponsel kepada ibunya di desa. Tak lupa pula, ia menyelipkan selembar surat, agar begitu ponsel itu sampai ke tangan ibunya, ibunya tidak langsung salah paham.


"Sudah?" Tanya Vero.


Melati pun mengangguk, dan mereka pun kembali masuk ke dalam mobil.


"Lalu apa yang harus ku lakukan?" Tanya Melati sesaat setelah Vero kembali melajukan mobilnya.


"Kamu yakin kan, apa yang nanti akan ku lakukan, bukan tentang hal yang negative?"


"Yakin, sangat yakin!"


Mendengar jawaban dari Vero, ternyata sudah cukup membuat Melati bisa bernafas lega sekarang.


"Mau kemana lagi, Melati?"


"Aku???! Oh tidak, aku mau langsung pulang ke kosan saja."


"Kamu yakin tidak ingin berkeliling dulu?"


"Tidak! Aku mau langsung pulang saja."


"Baik lah, kalau begitu beri tau aku dimana kos mu."


"Kos ku tidak jauh dari kampus, nanti kalau sudah sampai kampus aku beritahu."


Vero pun mengangguk.


45 menit berlalu, akhirnya mobil Vero telah tiba di depan gang kosan Melati, namun karena kecilnya gang menuju kos, membuat mobilnya tidak bisa masuk mengantar Melati hingga ke depan kos.


"Berhenti disini saja!" Pinta Melati.


"Disini? Memangnya yang mana kosmu?" Tanya Vero sembari clingak clinguk ke kanan dan ke kiri.


"Kos ku masih harus masuk beberapa meter ke dalam gang ini, gang ini sempit, mobil tidak bisa masuk!"

__ADS_1


"Eeemm kalau begitu biarkan aku saja yang ikut mengantarmu."


"Ah tidak, tidak! Tidak usah repot-repot! Ini sudah malam, sebaiknya kamu pulang saja, karena besok kamu kuliah kan?"


"Kuliah."


"Ya sudah, kalau begitu pulang lah. Oh ya, terima kasih banyak ya." Ucap Melati yang kemudian langsung bergegas keluar dari mobil Vero.


"Eeemm baik lah, kalau begitu sampai bertemu besok ya."


Saat itu Melati hanya diam, Vero pun tersenyum dan kemudian langsung melajukan kembali mobilnya. Meninggalkan Melati yang saat itu masih berdiri memandangi kepergian mobilnya di depan gang.


"Tunggu! Dia bilang apa tadi?? Sampai bertemu besok????!! Untuk apa juga harus bertemu dengannya besok?" Gumam Melati dalam hati.


Tak ingin terus memikirkan hal yang menurutnya tidak penting, Melati pun hanya bisa menghela nafasnya singkat dan mulai beranjak, melangkah pelan menyusuri jalanan yang kira-kira hanya memiliki lebar sekitar 1 meter saja.


Tak jauh dari kos-kosannya, ada sebuah toserba yang tidak terlalu besar, karena hari ini ia baru saja gajian, ia pun memutuskan untuk singgah ke toserba itu untuk membeli beberapa cemilan untuk ia kunyah saat begadang untuk menulis naskah.


Begitu membawa seluruh belanjaannya ke kasir, tak sengaja kedua matanya menyorot ke arah sebuah etalase yang di dalamnya berisikan banyak macam rokok dari berbagai merk.


"Rokok?!" Gumamnya dalam hati, seolah seperti ada rasa ketertarikan.


Lagi-lagi ucapan Lusi tadi siang, kembali terbayang di benaknya, tak hanya itu, bayangan bagaimana ia ketika menghisap rokok itu dan membuat pikirannya jadi cukup tenang, juga kembali tergambar nyata dalam pikirannya.


"Ini saja?" Tanya kasir itu dengan ramah.


"Tolong tambahkan satu bungkus rokok untukku."


"Rokok? Merk apa?"


"Merk apa yang bagus dan enak?" Tanya Melati polos.


Karena ia masih sangat sangat pemula, sehingga belum tau rasa rokok yang menurutnya paling enak.


"Oh maaf aku tidak tau mba, karena aku sama sekali belum pernah mencobanya?"


Melati pun terdiam sembari kembali memandangi berbagai merk rokok yang ada di hadapannya,


"Eeemm rokok yang diberikan Lusi padaku tadi merk apa ya?!! Gumam Melati yang bingung sembari mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Tapi biasanya, setauku yang paling sering dibeli disini adalah rokok yang ini." Tambah kasir itu lagi sembari menunjuk ke salah satunya."


"Benarkah? Eemm kalau begitu berikan aku yang itu juga." Melati pun tersenyum tipis.


"Baik." Jawab kasir yang langsung menscan kotak rokok itu lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik.


Belanjaan Melati kali itu cukup banyak dari biasanya, sehingga memerlukan dua kantong plastik yang berukuran cukup besar.


Satu persatu anak tangga ia naiki dengan sedikit susah payah karena banyaknya barang yang harus ia bawa kala itu,


*ceklek*


Dengan lesu Melati membuka pintu kamarnya dan langsung menguncinya rapat. Hari ini benar-benar menjadi hari yang sangat melelahkan baginya sejauh ini, hingga membuatnya langsung menjatuhkan tubuhnya begitu saja di atas tempat tidur yang hanya berukuran 120x200cm itu.


"Huh, hari yang melelahkan!" Celetuk Melati seorang diri sembari kedua matanya saat itu kembali menatap nanar ke arah langit-langit kamarnya yang sangat sederhana itu.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2