Ibuku Sayang Ibuku Malang

Ibuku Sayang Ibuku Malang
Chapter 41


__ADS_3

Merebahkan diri beberapa saat nyatanya tidak membuat rasa lelah yang Melati rasakan pupus, ia pun kembali bangkit dan memutuskan untuk mandi, mengingat ia telah beraktivitas seharian di luar rumah, cukup membuat badannya terasa lengket.


Tak terasa, kini jam sudah menunjukkan pukul 22:40 malam, Melati yang baru saja keluar dari kamar mandi dalam keadaan rambutnya yang sudah terbalut handuk, membuatnya jadi merasa jauh lebih segar sehingga menunda untuk tidur.


Melati memilih duduk di meja belajarnya, lalu mulai meraih sebuah buku yang ternyata di dalam buku itulah ia menulis semua naskahnya dengan tulisan tangan, lalu jika ada waktu luang, baru ia bawa ke warung internet untuk ia ketik ulang dan di print.


"Aaah pegal sekali." Keluhnya sembari memijiti jari jemarinya yang terasa pegal karena terus menerus menulis.


"Mulai sekarang aku harus menabung, targetku selanjutnya adalah laptop! Ya, aku butuh laptop untuk mempermudah tugas di kampus, maupun mempermudah aku untuk menulis naskah." Gumamnya seorang diri.


Tak sengaja matanya melirik ke arah kantong plastik yang berisi segala makanan maupun cemilan yang ia beli. Melati meraih salah satunya dan kembali mendapati satu kotak rokok yang ia beli. Dengan sedikit ragu, Melati mulai membukanya, mengambil sebatang rokok dan menyelipkannya di antara kedua bibirnya.


Asap pun terlihat menguai di udara kala Melati baru saja membakar rokoknya, beberapa tarikan awal masih membuatnya sedikit terbatuk-batuk, namun nyatanya ia terus mencoba, mencoba dan mencoba untuk menghisap rokok itu dengan sempurna.


Dan malam itu, waktu dimana pertama kalinya Melati mulai melakukan hal yang sudah pasti sangat tidak disukai oleh ibunya, Husna.


Beberapa bulan kemudian...


Hari demi hari terus berlalu seperti angin yang seolah hanya melintas begitu saja, begitu juga dengan bulan, juga silih berganti ke bulan berikutnya. Melati yang lugu, polos, dan taat oleh aturan ibunya, kini seolah perlahan-lahan mulai hilang, ia hilang di telan oleh Melati yang baru, Melati yang sedikit lebih modern, Melati yang bebas melakukan apapun yang ia inginkan, merokok, bahkan ia bisa memakan mie instan kapan pun ia mau tanpa ada larangan.


Melati dengan segala ambisi dan target hidup yang telah ia tata, satu persatu mulai ia dapatkan, mulai dari hal yang kecil seperti laptop. Ya, akhirnya ia bisa membeli laptop sesuai keinginannya dari hasil ia menyisihkan gajinya selama beberapa bulan bekerja. Bahkan perekonomian keluarganya di desa, juga sedikit terbantu sejak Melati bisa mengirimi ibunya uang setiap bulan meski tidak banyak.


Malam itu, Melati terlihat sangat fokus menulis sebuah naskah di laptop barunya, naskah yang nantinya akan ia kirim ke beberapa PH, berharap ada produser atau sutradara yang melirik hasil tulisannya untuk dijadikan sebuah film, meskipun hingga saat itu hal itu belum tercapai.


Tak ketinggalan pula, sebatang rokok yang terus terselip di antara kedua bibirnya, seolah menjadi teman baginya dalam merangkai kata demi kata. Entah sudah berapa banyak puntung rokok yang terlihat di dalam asbaknya, Melati sudah benar-benar candu akan rokok, sekarang jika tidak merokok membuatnya sama sekali tidak bisa konsentrasi dalam menulis,


Beberapa jam berlalu, Melati mulai merasa matanya mulai letih menatap layar terpaku yang terus ia hadapi selama berjam-jam. Ia pun mulai membaringkan tubuhnya yang lelaj di atas tempat tidur, lalu melirik ke arah sisi kirinya dimana ada ponselnya disitu. Perasaan rindu akan rumahnya di desa tiba-tiba muncul, terutama pada Husna, ibunya.


Melati pun berinisiatif untuk menelpon ibunya malam itu juga, tak peduli ibunya sudah tidur atau belum, yang ia tau hanyalah, ia ingin mendengar suara ibunya.


Beberapa saat menunggu, akhirnya suara lembut yang ia rindukan itu pun terdengar dari balik telepon.


"Halo." Jawab Husna dengan suara khas seperti orang yang baru bangun tidur.


"Ibu..." Ucap Melati.


Mendengar suara putrinya, membuat kedua mata Husna yang awalnya masih terpejam, sontak terbeliak.


"Melati??" Ucap Husna sembari melihat kembali ke arah layar ponselnya yang kala itu tertera tulisan 'Melatiku sayang'


"Ibu sudah tidur ya?." Tanya Melati sembari tersenyum lirih.


"Oh sayang, kamu belum tidur? Kenapa belum tidur? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Husna yang langsung bangkit dari tidurnya.


"Tidak bu, aku hanya rindu ibu. Entah kenapa tiba-tiba ingin mendengar suara ibu."


"Oh sayang, ibu juga rindu nak. Bahkan ibu merindukanmu setiap saat. Bagaimana kabarmu hari ini? Kamu baik-baik kan?"


Husna terlalu bersemangat saat berbicara dengan Melati, hingga ia lupa jika malam sudah sangat larut dan Aryo yang sudah tertidur di sisinya, jadi langsung merasa terganggu.

__ADS_1


"Astaga Husna! kau telponan sama siapa malam-malam begini?! Berisik sekali." Ketus Aryo yang merasa tidurnya terganggu.


"Aku bicara dengan Melati!" Jawab Husna singkat yang kemudian langsung keluar dari kamar dengan membawa serta ponselnya.


"Nak, kenapa kamu diam saja?!" Tanya Husna begitu ia telah berada di depan rumahnya.


"Ayah masih sering memarahi ibu ya?" Suara Melati kali ini terdengar semakin lirih.


"Ah tidak juga hehee. Lagi pula dia marah pun, itu sudah jadi hal yang biasa bagi ibu."


Melati mendengus.


"Ah sudah lah lupakan soal itu, bagaimana kuliahmu?"


"Kuliahku tentu saja lancar bu."


"Apa sudah ada lelaki yang mendekatimu?" Tanya Husna menyelidik.


Pertanyaan itu, entah kenapa tiba-tiba saja membuat Melati langsung terbayang wajah Vero. Ya, lelaki yang beberapa bulan belakangan ini terus bersikap sangat baik padanya.


"Astaga ibuuu, pertanyaan macam apa itu?"


"Jawab saja pertanyaan ibu, apa susahnya?"


"Tidak ada!" Tegas Melati berbohong.


"Tidak ada??" Tanya Husna seolah tak percaya.


"Masa tidak ada yang tertarik pada anakku yang cantik ini? Haaais, tidak mungkin." Gumam Husna seolah sedang berfikir keras.


"Haaiis ibu, gadis desa sepertiku ini mana ada yang suka!! Di kota ini, banyak perempuan yang jauh lebih cantik dan penampilannya juga sangat menarik."


"Benarkah?"


"Sudah lah bu, bisa tidak kita membahas yang lain?" Keluh Melati yang nampak tak berminat membahas masalah pasangan.


"Eeemm iya, iya hehehe. Kau ini kenapa sekarang cepat sekali marah???!"


"Entah lah bu, mungkin karena aku lelah."


"Oh sayang, beristirahat lah yang cukup. Jangan sering begadang seperti ini. Oh ya kamu masih ingat pesan ibu kan?"


"Pesan apa bu?"


"Jangan terlalu sering makan mie instan, jangan mengikuti pergaulan bebas disana, seperti mabuk-mabukan, merokok, dan *** bebas. Kamu masih mengingatnyankan sayang?" Tanya Husna seolah penuh harap.


Mendapat pertanyaan semacam itu, membuat Melati sontak jadi terdiam sejenak, perasaan bersalah tiba-tiba muncul, perasaan bersalah karena nyatanya ia telah melanggar semua yang selalu di larang oleh ibunya. Nyatanya kini, Melati telah menjadi seorang perokok yang aktif yang bisa menghabiskan dua bungkus rokok dalam sehari.


"Nak, kenapa kamu diam? Kamu dengar ibu kan?" Tanya Husna pelan.

__ADS_1


"Iy,,, iya bu aku dengar. Aku tidak melakukannya." Jawab Melati berbohong.


"Ah syukur lah, ibu yakin kamu akan terus mendengarkan ucapan ibu." Husna akhirnya tersenyum dan bernafas lega.


"Iya bu." Jawab Melati lirih.


Ada perasaan yang sangat tidak enak ketika ia harus berbohong pada ibunya, karena Melati yang dulu, sama sekali tidak pandai berbohong, apalagi pada Husna, ibunya yang menjadi manusia paling mengerti dengan sikap dan sifat Melati.


"Kamu harus selalu ingat itu ya sayang, jangan pernah sekali pun mencoba hal-hal itu, jangan pernah memulainya. Karena jika sudah memulainya sekali, kamu akan ingin lagi dan lagi, hingga akhirnya ketagihan dan sulit untuk berhenti."


Melati, saat mendengar itu, membuat air matanya tiba-tiba menetes begitu saja.


"Ibu benar, salahku yang terpengaruh dan memulainya, kini aku sudah terjebak bu, dan sudah tidak bisa berhenti menghisap rokok." Gumam Melati dalam hati.


"Percaya lah nak, apapun yang ibu larang, itu demi kebaikan dan kesehatanmu. Lagi pula, tidak ada seorang ibu yang ingin menyesatkan anaknya, jadi ibu harap kamu selalu dengar nasehat ibu."


"Iya bu, aku selalu ingat."


"Oh anakku, ibu bangga padamu, nak. Semakin bangga." Ungkap Husna yang kembali terlihat sangat sumringah.


Sementara Melati, saat itu hanya diam, menahan rasa bersalah yang mulai bergejolak pada dirinya.


"Nak, ini sudah sangat larut, sebaiknya kamu tidur sekarang."


"Aku juga ingin begitu bu, tapi entah kenapa malam ini aku tidak bisa tidur."


"Eeemm kalau begitu, apa kamu mau ibu nyanyikan nina bobo?"


Melati pun akhirnya tersenyum.


"Iya bu, tolong nyanyikan untukku, sudah sangat lama tidak mendengar ibu menyanyikan lagu itu untukku." Ungkap Melati.


"Aaaaa baik lah sayang."


Husna mengambil nafas terlebih dulu, lalu dengan perlahan mulai mengeluarkan suara emasnya dengan sangat lembut dan terdengar mendayu-dayu di telinga Melati. Ya, tidak di pungkiri, Husna memang memiliki suara yang sangat merdu ketika menyanyi, suaranya terdengar mendayu-dayu hingga dapat menjadi pengantar tidur yang sangat baik bagi Melati.


"Melati bobok oh Melati bobok, kalau tidak bobok di gigit nyamuk. Tidurlah sayang, anakku sayang, kalau tidak bobok di gigit nyamuk."


Di tengah keheningan malam yang terasa dingin, Husna terus menyanyi dengan lembut, benar-benar terdengar sangat nyaman di indera pendengaran Melati. Perlahan tapi pasti, melati mulai terlena, matanya pelan-pelan mulai mengatup, hingga akhirnya ia pun tertidur begitu saja, ia tertidur masih dalam keadaan ponsel yang tertempel di telinga.


Beberapa menit berlalu, suara Melati tak lagi terdengar, yang terdengar dari balik telepon itu hanyalah suara deru nafas yang terdengar sangat teratur.


"Kamu sudah tidur anakku?" Tanya Husna memastikan.


Namun tak ada jawaban, selain suara deru nafas yang seolah terus berhembus. Husna yang menyadari jika anak perempuannya benar-benar sudah tertidur pulas, mulai tersenyum.


"Baik lah, selamat tidur anakku, kebanggaanku, tidur lah yang nyenyak sayang, ibu sayang padamu." Ucap Husna di akhir kalimatnya dan kemudian langsung menutup teleponnya.


Husna menghela nafas berat, dalam hati ia sangat sedih, karena harus berjauhan dengan Melati seperti itu. Setelah berdiam diri beberapa saat, Husna pun akhirnya kembali masuk ke dalam rumah karena udara di luar kian terasa dingin.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2