
"Sudah ya bu, biarkan kakak melanjutkan sekolahnya dengan tenang! Tidak perlu di tangisi karena dia pergi bukan untuk selamanya, dia akan pulang bu." Pujuk Rio.
Husna pun akhirnya mulai menyeka kembali air matanya, lalu menatap wajah putra bungsunya dengan begitu lekat.
"Maafkan ibu ya, nak. Karena selama ini ibu terlalu fokus pada kakakmu. Hal itu bisa terjadi karena...."
"Karena apa bu?" Tanya Rio yang jadi penasaran.
Husna terdiam sejenak, lagi-lagi bayangan mengerikan tentang bagaimana ia mengalami keguguran itu kembali tergambar jelas di ingatannya hingga membuatnya mulai berkeringat dingi.
"Ah tidak, tidak ada. Lupakan saja!" Jawabnya kemudian yang langsung bangkit dari duduknya.
Saat itu Rio terlihat masih bingung dengan sikap aneh ibunya.
"Kau belum makan kan?"
Rio pun menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, tunggu lah sebentar, ibu akan masak makan siang dulu untukmu dan ayah." Ucap Husna yang kemudian langsung beranjak pergi menuju dapur.
"Iya bu." Jawab Rio yang ikut bangkit dan keluar dari kamar Melati untuk beralih menuju kamarnya.
Husna menghela nafas panjang sembari menyeka sisa air matanya,
"Eehhhm baik lah, aku tidak boleh terus menangis." Gumamnya seorang diri.
Sisi lain di kereta api...
Kereta api yang di tumpangi oleh Melati, terus melaju cepat semakin jauh meninggalkan desa, tempat dimana Melati lahir dan dibesarkan. Kala itu Melati terus termenung, sorot matanya menatap kosong ke arah jendela, meski kala itu, pemandangan dari luar jendela sangat indah untuk dinikmati.
Tak lama, Melati tiba-tiba saja teringat dengan tas yang ada di sampingnya. Ia pun meliriknya lalu mulai meletakkan tas itu di pangkuannya.
__ADS_1
"Memangnya apa isinya? Kenapa bisa berat sekali?" Tanya Melati dalam hati yang merasa penasaran.
Melati pun langsung membuka resleting pada tas itu, seketika perasaan haru biru tiba-tiba saja datang menyelimuti jiwanya kala melihat isi dari tas itu. Di dalamnya ada banyak macam barang-barang yang sebelumnya sama sekali tidak pernah ia duga, ada buah-buahan kalengan seperti kelengkeng dan rambutan, obat-obatan, segala macam cemilan, bahkan ada sebuah ponsel baru yang masih berada di dalam kotaknya, hingga membuat mata Melati sontak terbelalak.
"Hah?! Ponsel?! Apa ini sungguhan ibu membelikan aku ponsel? Tapi kapan ibu membelinya?" Melati yang cukup terkejut terus dibuat bertanya-tanya dalam hati. Tak hanya itu saja, di dalamnya juga ada lipatan uang yang di gulung dengan menggunakan karet gelang, beserta sepucuk surat yang ternyata di tulis sendiri oleh Husna.
Melati pun bergegas membuka surat itu lalu membacanya dengan seksama.
"Anakku Melati, sebenarnya ada begitu banyak hal yang ingin ibu katakan padamu, tapi,, entah kenapa ibu tidak tau bagaimana cara untuk memulainya. Maaf jika selama ini ibu tidak bisa menjagamu dengan baik, tapi percayalah ibu sangat bangga padamu, nak. Kamu telah memutuskan untuk berkuliah di kota, jujur saja ibu sangat khawatir. ada banyak pertanyaan yang timbul dalam benak ibu saat membayangkan kamu ketika tinggal di kota sendirian, apa kamu makan dengan teratur? Apa kamu akan baik-baik saja? Tapi meski begitu, ibu sangat percaya padamu, maka dari itu ibu membiarkanmu pergi sekarang. Dan di dalam tas ini, mungkin memang tidak banyak, tapi ini adalah uang hasil tabungan ibu yang memang untukmu. Maafkan ibu tidak bisa memberimu lebih banyak, dan juga ada sebuah ponsel yang ibu beli untukmu, sejujurnya ibu membelinya dengan cara mengkredit, karena ibu tau disana kamu pasti membutuhkannya. Oh anakku, ibu sedih karena anak perempuan ibu harus pergi, maaf, maafkan ibu, maafkan ibu karena ibu bersedih atas kepergianmu."
Melati, kembali menangis saat selesai membaca surat dari ibunya yang begitu menyentuh hingga ke sanubari. Ia benar-benar tidak menyangka, jika ibunya benar-benar sangat memikirkannya hingga sedetail itu. Ia bersedih dan menyesal saat dulu, ia bahkan malu menunjukkan ibunya di hadapan teman-teman sekolahnya hanya karena ibunya yang selalu berpakaian lusuh.
"Maafkan aku ibu, aku benar-benar minta maaf." Gumam Melati lirih sembari terus menangis tersedu-tersedu.
Waktu terus bergerak tiada henti, tak terasa jarum jam kini sudah menunjukkan pukul 11:30 siang, memang sudah mendekati waktu untuk makan siang.
Selama satu jam berkutat di dapur, kini Husna telah berhasil menghidangkan telur dadar yang ia campur dengan daun bawang dan bawang merah, beserta sambel terasi goreng sebagai pelengkap.
Husna membangunkan Aryo yang ternyata sudah tertidur di kamarnya, lalu memanggil Rio yang saat itu juga sedang berada di kamarnya.
"Ayo makan lah." Ucap Husna yang kala itu sibuk menyiapkan piring di atas meja makan yang dibuat sendiri oleh Aryo.
Rio duduk dengan semangat, lalu di susul pula dengan Aryo yang juga baru keluar dari kamar.
"Tolong dinginkan nasi untukku." Ucap Aryo begitu ia duduk.
"Iya, ini aku juga sedang melakukannya." Jawab Husna sembari terus menuangkan nasi ke dalam piring.
"Ini untukmu mas." Husna dengan senyuman tipis, meletakkan piring ke hadapan Aryo.
Lalu dengan cepat menuangkan nasi kembali ke dalam piring.
__ADS_1
"Ini untukmu, Rio." Ucapnya lagi.
"Terima kasih bu," Sahut Rio yang seketika mulai melebarkan senyumannya.
"Dan ini,,, untuk Melati." Ucap Husna yang tersenyum sembari meletakkan piring yang sudah berisi nasi ke sisi meja yang kosong.
Hal itu sontak membuat Aryo dan Rio seketika terdiam dan saling bertukar pandang satu sama lain,
"Oh ya, Melati, dimana Melati? Kenapa dia belum keluar juga dari kamarnya?" Tanya Husna seorang diri sembari terus melirik ke arah pintu kamar Melati yang saat itu sedang tertutup rapat.
"Buuu,," panggil Rio pelan.
"Eemm, ada apa lagi Rio?" Tanya Husna namun dengan tatapannya yang masih terus tertuju ke arah kamar Melati.
"Bu, bukankah kakak sudah tidak di rumah ini lagi? Dia sudah pergi sejak tadi pagi, apa ibu lupa?" Tanya Rio dengan sedikit ragu-ragu.
Husna pun tercengang memandangi wajah Rio dengan tatapan yang aneh.
"Apa-apaan kamu ini? Apa kamu sedang berhalusinasi?" Tanya Aryo sedikit geram.
"Astaga, kenapa aku ini? Bagaimana aku bisa lupa jika Melati putriku sudah pergi? Bagaimana aku bisa menganggap jika ia masih saja ada di rumah ini?" Ungkap Husna pelan.
"Sudah ku katakan, biarkan dia bersekolah dengan tenang, dan kamu, tolong jalani hari-harimu seperti biasa, tidak usah sedih yang berlebihan!" Tegas Aryo lagi.
Husna pun menatap sendu wajah suaminya, lalu perlahan mulai menundukkan kepalanya dan mengangguk pelan.
"Iya mas, maafkan aku." Ucapnya pelan.
"Lebih baik kamu duduk dan makan lah! Agar pikiranmu bisa sedikit lebih normal."
"Iya mas." Husna pun mulai terduduk lesu.
__ADS_1
Meski nafsu makannya telah hilang, namun di hadapan suami dan anaknya, mau tak mau Husna memaksakan diri untuk ikut makan bersama mereka demi menghindari keributan dengan Aryo yang sejak tadi memang nampak begitu tak senang melihat sikapnya yang seolah telah kehilangan semangat hidup.
...Bersambung......