Ibuku Sayang Ibuku Malang

Ibuku Sayang Ibuku Malang
Chapter 36


__ADS_3

Beberapa menit berlalu, Bowo pun mengangkat tangannya guna memanggil kembali pelayan untuk memesan makanan. Melati yang melihat hal itu pun langsung bergegas menghampiri mereka.


Bowo menjadi orang yang paling pertama memberitahu apa yang ingin ia pesan, lalu berlanjut ke Ine, hingga yang paling terakhir ialah Vero.


"Aku mau nasi sapi lada hitam, dan ice lychee tea." Ucap Vero yang kembali tersenyum ketika menatap wajah Melati.


Melati pun bergegas menulis pesanan Vero ke dalam sebuah buku kecil. Lalu mulai membacakan ulang segala makanan yang mereka pesan.


"Apa ada tambahan lain?" Tanya Melati setelah selesai membacakan ulang pesanan mereka.


"Tidak ada." Jawab Ine singkat.


"Ok, baik." Melati pun mengambil kembali buku menunya dan bersiap untuk pergi.


Namun langkahnya seketika di hentikan oleh Vero yang memanggilnya.


"Hei tunggu!"


"Ya mas?"


"Apa kamu sudah makan Melati?" Tanya Vero tiba-tiba.


Hal itu membuat Melati tercengang, begitu pula dengan teman-teman Vero yang tak kalah dibuat terkejut saat Vero menanyakan hal seperti itu pada seorang pelayan.


"Jika belum, kamu bisa memesan makanan dan minuman yang kamu mau, biar aku yang membayarnya, kamu hanya perlu memasukkannya ke bill ku." Ucap Vero yang kembali tersenyum.


"Wah,,, wah,,, ciee ada apa ini??" Goda Bowo yang langsung terlihat terkekeh geli.


"Oh tidak, tidak usah mas, saya sudah makan." Jawab Melati sungkan yang kemudian langsung pamit undur diri begitu saja.


"Hahaha cieeee." Goda teman-teman Vero yang lain.


"Jadi namanya Melati ya? Hahaha sejak kapan kau tau namanya Melati Ro? Apa kalian sudah saling mengenal?" Tanya Bowo penasaran.


"Apa kau tidak lihat bet nama yang terpasang di seragamnya?!" Jawab Vero yang masih saja tersenyum.


"Astaga, siapa yang punya waktu untuk memperhatikan bet nama para pelayan disini hahaha." Timpa Bowo lagi yang terus terkekeh.


"Semenjak berteman lumayan lama denganmu, baru kali ini aku melihatmu begini Ro hahaha." Tambah Roby, salah satu teman Vero juga.


"Begini bagaimana? Aku merasa biasa saja." Jawab Vero yang wajahnya mulai sedikit memerah.


"Tapi kuakui, seleramu boleh juga hahaha. Kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal ya, bahwa disini ada pelayan yang cantik seperti itu hahaha." Celetuk Bowo lagi yang kemudian kembali terkekeh geli.


Mereka semua pun akhirnya terkekeh dan terus menyoraki Vero yang nampaknya sedang merasa kasmaran, namun ternyata hal itu tidak terjadi pada Ine. Ine justru terus diam bahkan mulai memasang wajah masam ketika mereka semua bersikap seolah mendukung Vero untuk mendekati Melati. Ada semacam perasaan cemburu yang secara tiba-tiba menjalar merasuki jiwanya, hingga membuatnya teramat sangat kesal.


"Cantik apanya?!! Sepertinya biasa saja! Tidak usah berlebihan dalam memuji!!" Ketus Ine yang nampak tak senang.


Mendengar hal itu, seketika membuat mereka semua terdiam dan memandangi wajah Ine dengan tatapan yang tak biasa.


"Masa begitu saja di bilang cantik!!" Tambahnya lagi.


Setelah suasana menjadi hening sejenak, seketika suara gelak tawa Bowo pun kembali terdengar hingga berhasil memecah keheningan itu.


"Hahahaha ada apa denganmu, Ne? Kenapa kelihatannya sangat tak senang??!" Tanya Bowo sembari terkekeh.


"Kau kenapa ha?! Hahaha bilang saja kau iri padanya, karena kau kalah cantik darinya. Iya kan??" Tambah Roby yang ikut tertawa geli.


Saat itu Vero memilih bungkam, ia hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya kala melihat kelakuan teman-temannya yang absurd.


"Apa?! Aku iri pada pelayan itu??! Hih, tidak sudi!" Tegas Ine dengan kedua tangannya yang bersedekap.

__ADS_1


Beberapa puluh menit berlalu, Melati dan kedua rekan seprofesinya nampak muncul dengan membawa nampan berisi segala jenis makanan yang mereka pesan. Melati dengan sangat hati-hati mulai menghidangkan menu yang ia bawa ke atas meja mereka.


Lagi dan lagi, Vero kembali tersenyum, ia terus memandangi wajah Melati yang terasa sangat meneduhkan hatinya.


"Astaga, wajahnya terlihat sangat lembut dan membuat teduh ketika di pandang." Gumam Vero dalam hati.


Selesai menghidangkan menu, Melati ingin beranjak dan membiarkan kedua rekannya untuk bergantian menghidangkan menu makanan yang lainnya. Namun Ine, tiba-tiba saja menghentikan langkah Melati lagi.


"Tunggu!"


"Ya mba?" Jawab Melati saat menoleh ke arah Ine.


"Aku tidak jadi memesan jus mangga, aku mau menggantinya jadi jus alpukat!" Ketus Ine.


Melati pun terdiam dan memandangi wajah kedua rekannya yang juga masih berada di dekatnya.


"Maaf mba, tapi menu yang telah disajikan, tidak bisa di ganti, kecuali jika mba mau memesan yang baru." Jawab Melati lembut.


"Apa-apaan!! Aku langganan disini, hampir setiap hari aku makan siang disini! Masa tidak bisa!!" Ketus Ine dengan nada tinggi.


Melati pun sedikit ciut, namun tetap berusaha untuk tenang di hadapan orang ramai. Sementara Vero yang melihat hal itu, sontak langsung menenangkan Ine agar tidak membuat keributan.


"Ne, sudah lah. Jika kamu mau jus Alpukat, maka pesan saja, tidak perlu menggantinya, biarkan saja jus Mangga ini disini!" Ucap Vero.


"Tapi Ro,,,"


"Ne, please! Jangan buat keributan disini!! Dia hanya pekerja!! Tegas Vero namun dengan suara yang pelan.


Ine pun akhirnya terdiam dan memilih untuk menahan segala rasa kesalnya pada Melati.


"Eemm kalau begitu, kami pesan satu jus Alpukat ya."


"Iya baik." Melati pun mengangguk singkat dan langsung beranjak pergi.


"Kau ini sebenarnya kenapa? Kenapa kau meneriakinya seperti itu?!" Tanya Vero yang juga nampak tak senang.


Ine pun membalas tatapan Vero dengan tatapan tak kalah tajam.


"Aku kenapa katamu??!! Kau yang kenapa, Ro? Kenapa malah jadi bersikap begitu berlebihan pada seorang pelayan?!"


"Aku tidak berlebihan! Aku bersikap sewajarnya, apa ada yang salah? Dia hanya pekerja dan hanya mengikuti aturan yang dibuat, jelas saja kau salah jika berkata seperti tadi padanya."


"Haaaiss, sudah-sudah! Kenapa malah jadi kalian yang bertengkar hanya karena jus?" Tanya Bowo yang nampak mulai pusing mendengar perdebatan antara Vero dan Ine.


Vero pun akhirnya memilih diam, karena menurutnya berdebat terus menerus dengan seorang wanita memang tidak akan pernah ada habisnya.


"Sudah lah, ayo kita makan, aku pun sudah sangat lapar." Keluh Roby.


"Ya, ayo kita makan." Jawab Bowo kemudian.


Ine pun ikut diam dan dengan rasa kesal, ia mulai menyantap makan siangnya. Tapi ternyata permasalahannya tak hanya sampai disitu, Ine yang merasa belum puas melampiaskan kekesalannya pada Melati, kembali memikirkan cara bagaimana caranya agar bisa mempermalukan Melati dan membuat Vero jadi hilang Feeling padanya.


Beberapa saat kemudian, Melati pun terlihat muncul, ia terus melangkah menuju meja mereka dengan sudah membawakan segelas jus Alpukat sesuai permintaan Ine. Ine yang melihat hal itu, tiba-tiba mulai mendapatkan sebuah ide gile yang ia yakin akan membuat Melati malu.


Ine yang kebetulan duduk di posisi paling ujung, secara diam-diam langsung merentangkan kakinya ketika Melati akan melintas, hal itu pun membuat Melati mau tak mau jadi tersandung oleh kakinya hingga kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh ke meja mereka.


*Brrruuuak*


Mereka yang ada di meja itu pun terkejut, bukan hanya mereka, bahkan seluruh tamu yang ada di resto saat itu juga terlihat sangst terkejut dan langsung menoleh ke arah Melati.


"Melati!" Panggil Vero refleks.

__ADS_1


"Heh!! Apa-apaan kau ini ha?!" Ketus Ine yang langsung bangkit dari duduknya.


Melati pun meringis kesakitan, dan perlahan mencoba untuk kembali berdiri tegak. Vero pun tak tinggal diam, ia langsung bangkit untuk membantu Melati.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Vero nampak cemas.


Bukannya menjawab, Melati justru meminta maaf dan langsung menundukkan kepalanya.


"Maaf mas, maafkan saya." Ucap Melati yang jadi sangat ketakutan karena dia telah menumpahkan beberapa gelas minuman di atas meja mereka.


"Sudah, sudah, tidak perlu takut, tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa bagaimana, Ro? Lihat ini!" Ine menunjuk ke arah pakaiannya yang basah.


"Tumpahan airnya membasahi bajuku! Dia harus bertanggung jawab dan diberi pelajaran!" Ketus Ine dengan sangat menggebu-gebu.


Suasana nampak semakin gaduh, tak lama seorang menejer hotel pun keluar karena mendengar adanya keributan.


"Maaf mas, mba, ada apa ini?" Tanya menejer.


"Lihat lah perbuatan karyawan anda!" Ketus Ine sembari menunjuk ke arah meja yang berantakan dan juga bajunya yang basah.


"Oh astaga! Apa yang terjadi Melati?!" Menejer langsung melotot menatap Melati.


"Maaf pak, saya tidak sengaja."


"Tidak sengaja katamu!!" Menejer pun semakin melotot.


"Pecat saja dia! Pelayan tidak profesional seperti ini kenapa masih saja di pekerjakan disini!!


Melati yang sejak awal terus diam, kini perlahan mulai merasa geram pada Ine yang seolah selalu menyudutkannya bahkan terkesan menindasnya.


"Pak, ini semua terjadi bukan karena kelalaian saya. Tapi ada seseorang yang sengaja menjegal kaki saya!" Jelas Melati dengan tegas.


Ine yang mendengar itu pun sontak terdiam, sementara Vero dan yang lain, juga ikut melebarkan matanya karena cukup terkejut dengan pernyataan Melati.


"Ada yang menjegalmu?" Tanya Vero lagi.


"Ya." Melati mengangguk penuh keyakinan.


"Tapi siapa yang sengaja menjegalmu? Untuk apa juga melakukan itu padamu?" Tanya menejer yang masih kurang yakin.


"Saya tidak berani menuduh, hanya saja saya berbicara fakta! Untuk lebih jelas, mungkin bapak bisa mengecek langsung di cctv." Jawab Melati sembari terus menatap datar wajah Ine yang kala itu mulai terlihat gelagapan serta panik.


"Cctv?? Eeemm,, benar juga." Ucap menejer itu lagi.


Vero saat itu terdiam dan mulai memicingkan matanya menatap Ine, gelagat Ine yang saat itu terlihat mulai gugup cukup mencurigakan bagi Vero.


"Ine,," panggil Vero.


Ine seketika menoleh.


"Apa kau yang menjegalnya?!" Tanya Vero tanpa ragu.


"Hah?!! Ak,, aku??! Ti,, tidak! Tentu saja tidak! Kenapa kau tega menuduhku?!" Jawab Ine yang semakin gelagapan.


"Ku tanya sekali lagi, apa kau yang menjegalnya??!" Vero mulai meninggikan suaranya, di iringi dengan tatapannya yang semakin tajam menatap Ine.


Ine masih diam, ia mulai tertunduk dan terlihat kebingungan.


"Eeemm baik lah, untuk lebih jelasnya lagi, biarkan saya mengecek langsung ke cctv." Ucap menejer yang kemudian langsung beranjak pergi ke ruangannya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2