Ibuku Sayang Ibuku Malang

Ibuku Sayang Ibuku Malang
Chapter 32


__ADS_3

"Iya kak, aku akan menjaga ibu." Jawab Rio yang kembali mengangguk.


"Ibu, baik-baik lah disini, jangan sering-sering telat makan, dan yang terpenting, jangan terlalu sering capek-capek."


"Iya sayang, iya." Husna kembali mengangguk dan memeluk singkat putrinya sulungnya yang teramat ia sayangi.


"Ini tas mu satu lagi, jangan sampai ketinggalan." Husna pun memberikan sebuah tas sandang pada Melati.


Melati pun meraihnya dan seketika dahinya langsung mengkerut sembari menatap ibunya.


"Ibu, ini isinya apa? kenapa tasnya jadi sangat berat sekali?" Tanya Melati.


"Ibu mengemas semua yang sudah pasti akan kamu butuhkan selama disana." Jawab Husna lirih.


"Maaf ya nak, kalau membuatnya jadi berat." Tambah Husna lagi sembari kembali mengelus pipi Melati.


"Iya bu, tidak apa-apa. Terima kasih telah menyiapkan semuanya untukku." Melati pun tersenyum lirih.


Husna pun hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.


Kini Melati mulai beralih melirik ke arah ayahnya.


"Ayah, aku pergi." Ucapnya datar.


"Yaa, jaga dirimu." Jawab Aryo yang tak kalah datar.


Meski sebenarnya, dalam hati Aryo pun ingin menangis dan memeluk erat putrinya sebelum pergi, namun sayangnya ia tetap berpegang teguh pada egonya dan memilih diam di tempat.


Melati pun akhirnya naik ke kereta dan duduk di kursi sesuai yang tertera pada tiketnya. Husna yang awalnya berada di depan pintu kereta, kini langsung berlari menuju jendela, tempat dimana lelaki terduduk.


"Melati, sayang, tolong jaga dirimu. Jangan begadang, dan jangan sering memakan mie instan ya nak."


Melati pun mengangguk dan kembali meneteskan air matanya.


"Kalau ada apa-apa tolong kirimi ibu surat," Ucap Husna lagi yang kembali menangis.


"Iya bu."


Rio pun ikut berlari ke dekat ibunya.


"Kakak, nanti kalau sudah sukses tolong bawa aku ke kota ya? Dan siapkan banyak makanan untukku."


"Iya, pasti! Tapi tolong baik-baik lah pada ibu."


"Iya kak, pasti." Jawab Rio sembari merangkul pundak Husna.


Husna akhirnya semakin menangis sembari menyandarkan kepalanya pada pundak sang anak yang mulai terasa kokoh.


*Teeettt*

__ADS_1


Kedua kalinya bunyi kereta api sangat nyaring terdengar, disertai pula dengan gumpalan asap yang keluar dari cerobong di bagian atasnya yang kali ini menandakan jika kereta api mulai siap untuk berangkat.


Perlahan tapi pasti, kereta api pun mulai bergerak, mulai berjalan lambat, membuat Husna semakin menangis sedih, karena kali ini ia benar-benar harus melepas kepergian Melati dan berpisah dalam waktu yang cukup lama.


"Melati yang masih menangis saat itu, mulai melambaikan tangannya ke arah jendela.


"Bye ibu, aku pergi, tolong doakan aku selalu."


Husna pun ikut melambaikan tangannya, dan mengangguk pelan. Kini kereta sudah semakin laju hingga wajah sendu Melati pun tak lagi terlihat di pandangan mata Husna. Namun Husna masih terus memandangi kereta yang mulai menjauh darinya dengan tatapan kosong, kini ia benar-benar merasa kehilangan sosok anak yang sangat ia banggakan.


"Oh anakku, sayangku, tanpa kamu minta, doa ibu akan selalu mengiringi setiap langkahmu, nak. Semoga kamu selamat sampai tujuan, selalu di berkati." Ucap Husna lirih dari dalam hati.


Rio pun kembali mendekati ibunya, kembali memegang pundaknya dan mengajaknya pulang.


"Ayo bu, kita pulang." Ajak Rio.


"Kakakmu Rio," Ucap Husna dengan suara sangat pelan.


"Kakakmu, sudah benar-benar pergi, meninggalkan kita, meninggalkan ibu." Tambahnya lagi yang kala itu masih melamun dengan tatapannya yang sangat kosong.


"Biarkan kakak menuntut ilmu dan sukses, bu. Sekarang, ayo kita pulang."


Husna pun akhirnya mengangguk pelan, dan mulai berbalik badan, untuk melangkah pulang ke rumah.


"Ayah dan ibu saja yang naik sepeda." Ucap Rio.


"Aku jalan kaki saja."


"Kau yakin jalan kaki sendiri?"


"Iya yah, anggap saja kita gantian. Lagi pula aku masih muda dan kuat, maka lebih pantas untuk berjalan kaki." Rio pun tersenyum sembari menyerahkan sepeda ontel itu pada Aryo.


Rio pun langsung berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Aryo dan Husna yang kala itu lebih banyak diam dan merenung semenjak kepergian Melati.


Tak ingin banyak buang waktu, Aryo pun segera menaiki sepeda itu, lalu melirik ke arah Husna yang masih juga diam.


"Hei, apa kau mau melamun sepanjang hari disini?!"


Husna pun tersentak seketika,


"Oh tidak mas, maaf." Ucapnya pelan dan kembali menundukkan kepalanya.


"Kalau begitu tunggu apa lagi?! Ayo cepat lah naik!" Ketus Aryo.


Husna pun mengangguk pelan dan langsung duduk di boncengan yang ada di belakang Aryo. Sepeda tua itu pun mulai di kayuh oleh Aryo dengan penuh kehati-hatian, karena saat itu pertama kalinya bagi Aryo kembali menaiki sepeda semenjak kakinya tertembak dan menjadi pincang permanen.


Sepanjang jalan, Husna masih saja menjadi sosok yang pendiam, tidak seperti biasanya, Husna yang di kenal cukup banyak bicara.


"Sudah lah Husna! Kau itu terlalu berlebihan, Melati pergi untuk menuntut ilmu, bukan untuk berperang! Apa yang harus kau cemaskan?!" Celetuk Aryo saat di pertengahan jalan.

__ADS_1


"Berlebihan katamu??! Aku yang mengandung, melahirkan, serta merawatnya dari bayi hingga dewasa. Wajar saja jika aku bersedih saat dia pergi jauh dan dalam waktu yang cukup lama. Apa kamu masih menganggap sikapku ini berlebihan mas??!"


"Aku hanya cemas dan takut dia tidak bisa mengontrol diri saat kelak sudah tinggal di kota. Pergaulan di kota sangat lah bebas." Jawab Husna namun dengan tatapannya yang masih saja terlihat nanar.


"Benar juga." Celetuk Aryo dalam hati.


Namun Aryo tak ingin terlalu di pusingkan oleh pikiran-pikiran semacam itu, dia pun meyakinkan dirinya sendiri bahwa anak perempuannya bisa menjaga dirinya dengan baik.


"Halah Husna! Selama ini kau selalu membanggakan Melati, selalu memberikan perhatian lebih padanya di banding Rio. Tapi kenapa saat dia pergi kau malah sukar percaya padanya, ha??!! Sudah lah, percaya saja padanya! Jangan menambahi beban pikiran yang nantinya akan membuat kita semakin stress."


"Ya mas, kamu benar juga. Bagaimana bisa aku memiliki pikiran seperti itu dan mulai meragukan Melati?! Ada apa denganku ini? Kenapa belum apa-apa aku malah sudah memikirkan buruk tentangnya?!!"


"Eeemm bagus lah, akhirnya kau sadar!"


Setelah mengayuh sepeda cukup jauh, melewati sawah dan ladang, kini Akhirnya mereka pun tiba di rumah. Husna memasuki rumahnya dengan lesu, ia terduduk di kursi sembari menuangkan segelas air untuk ia minum.


Ia kembali melamun, bayang-bayang Melati dari kecil hingga besar kembali terbayang di benaknya. Bahkan, di setiap sudut rumah itu, di penuh sejuta kenangan tentang dirinya dan juga Melati yang sering menghabiskan waktu bersama di rumah.


Husna pun melangkah pelan memasuki kamar Melati yang nampak rapi namun terlihat kosong, karena sebagian barang-barang telah dibawanya pergi. Husna pun terduduk di tepi ranjang, meraih selembar baju Melati yang ia tinggal, lalu akhirnya ia kembali menangis tersedu-sedu sembari memeluk baju itu.


"Bagaimana ibu bisa melewati hari tanpa melihatmu nak?! Bagaimana ibu bisa kuat? Tidak, ibu tidak bisa membayangkannya." Husna pun terus meratap di tengah tangisannya.


Aryo yang melihat hal itu dari depan pintu kamar Melati, hanya bisa menggelengkan pelan kepalanya dan memilih untuk masuk ke kamarnya.


Selang beberapa menit, akhirnya Rio pun tiba dengan nafas yang tersengal-sengal dan langsung duduk berselonjor di teras rumahnya.


"Huh, huh, huh." Rio duduk terdiam demi mengatur kembali nafasnya yang sejak tadi terasa tak beraturan.


Sayup-sayup terdengar suara tangisan seorang wanita dari dalam rumahnya, membuat Rio pun kembali bangkit dan perlahan melangkah pelan untuk mencari dimana keberadaan sumber suara.


Menyadari suara itu berasal dari kamar Melati, membuat Rio seketika langsung bergegas masuk menuju kamar kakaknya, dan ya, benar saja, karena saat itu ia langsung bisa menangkap sosok seorang wanita yang begitu familiar, yang tak lain ialah ibu kandungnya sendiri yang kala itu terlihat terus menangisi baju kakaknya seperti orang gila.


"Astaga ibu!" Rio pun masuk dan menghampiri ibunya.


Husna seketika terdiam sejenak dan menoleh ke arah Rio.


"Rio, kau sudah pulang?"


"Buu, astaga! Kenapa ibu masih terus menangis??!" Rio pun duduk di hadapan ibunya.


"Ibu rindu kakakmu." Jawab Husna yang mencoba menahan tangisannya.


"Oh ya ampun, bahkan kakak pun belum sampai ke tujuannya, dan ibu sudah mengatakan ibu rindu padanya.."


Husna kembali menunduk dan sesekali tetesan bening itu masih saja terlihat mengalir di pipinya. Rio pun menghela nafas panjang, lalu meraih pundak Husna, lalu perlahan menyandarkannya di pundak.


"


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2