
"Melati." Panggil Husna yang kembali masuk ke dalam kamar Melati.
"Iya bu?" Jawab Melati yang kala itu terlihat sedang melipati pakaiannya.
"Jangan dulu mengemasi pakaianmu!" Husna pun tersenyum.
"Memangnya kenapa bu?" Tanya Melati yang jadi nampak sedikit bingung.
"Ayo bersiap lah! segera ganti pakaianmu dan setelah itu ikut dengan ibu." Jawab Husna yang semakin melebarkan senyumannya.
"Tapi kita mau kemana bu?"
"Sudah jangan banyak tanya! Bersiap lah dan ganti baju saja dulu, nanti kamu juga akan tau."
Perkataan Husna cukup membuat Melati jadi semakin penasaran, namun hal itu tentu tidak membuatnya terus-terusan bertanya, saat itu ia pun lebih memilih untuk diam dan patuh pada apa yang diminta oleh ibunya.
"Eeemm baik lah bu." Jawabnya kemudian.
"Aaa anakku yang penurut," Husna semakin sumringah sembari mengusap sejenak pipi putrinya.
"baik lah sayang, kalau begitu ibu tunggu kamu di depan rumah ya, sekarang ibu juga mau ganti pakaian." Husna pun akhirnya pergi dengan membawa senyumannya yang begitu merekah.
Waktu 15 menit pun berlalu dengan cepat, Husna terlihat sudah siap dengan pakaiannya yang sederhana seperti biasanya, begitu pula dengan Melati yang tak lama juga terlihat muncul dari dalam rumahnya.
"Kamu sudah siap, nak?"
Melati pun mengangguk.
"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang,"
Namun baru saja ingin melangkah pergi, langkah kaki keduanya sontak di hentikan oleh Rio yang juga tiba-tiba muncul dari halaman samping rumah sembari memanggil ibunya.
"Ibu," panggilnya.
Husna beserta Melati pun sontak menoleh ke adah Rio secara bersamaan.
"Ada apa?"
"Ibu mau kemana dengan kakak?"
"Haaissh, apa kau selalu harus tau urusan perempuan ha?!" Keluh Husna yang mulai kembali melototi Rio.
"Aku juga tidak terlalu peduli dengan apa yang ingin kalian lakukan dan lupakan soal itu! tapi jika ibu pergi, bagaimana dengan makan siangku, bu??!"
"Haaaiis kau ini!! Selalu saja makanan yang ada di dalam benakmu!"
"Tentu saja, aku kan juga butuh makan."
"Di dapur ada beberapa butir telur, kau bisa memasak telur mata sapi dan memakannya dengan kecap." Jawab Husna enteng.
"Apa hanya telur? Lalu bagaimana dengan daging ayam yang ibu beli tadi, apa aku boleh menggorengnya sedikit?!"
"Heh! Jangan coba-coba menyentuh sepotong ayam pun! Itu untuk acara makan-makan nanti malam, awas saja jika kau berani mengambilnya ya!!" Tegas Husna lagi.
Rio pun hanya bisa memasang wajah cemberutnya dan menghela nafas kasar, lalu kemudian kembali memasuki rumah dengan langkah lesu.
"Ayo nak." Ucap Husna yang kembali tersenyum pada Melati.
__ADS_1
Husna dengan penuh semangat langsung menarik tangan Melati untuk pergi, kala itu tak ada yang bisa Melati lakukan selain patuh.
"Bu, memangnya kita mau kemana?" Tanya Melati lagi yang masih merasa penasaran.
"Sudah, ikut saja, yang jelas kamu pasti akan senang." Jawab Husna yang terus tersenyum.
Berhubung jarak yang harus mereka tempuh cukup jauh, Husna pun memutuskan untuk menyetop angkutan umum yang lewat.
"Perjalanan agak jauh, ayo kita naik angkutan umum saja." Celetuk Husna yang kemudian langsung menaiki angkutan umum.
Melati semakin bertanya-tanya dalam hati.
"Bu, kenapa naik angkutan umum? Biasanya kemana pun kita pergi selalu jalan kaki."
"Ini hari terakhirmu berada disini, masa ibu terus-terusan membawamu berjalan kaki? Lagi pula kalau jalan kaki akan memakan banyak waktu, ibu takut tidak sempat." Jelas Husna dengan tenang.
Melati lagi-lagi diam.
"Sudah, tenang saja." Tambahnya lagi sembari mengusap-usap punggung tangan Melati.
Waktu 10 menit berlalu, Husna dan Melati pun turun saat mereka tepat berada di persimpangan jalan.
"Nah itu dia," Husna nampak semakin sumringah saat melihat toko baju yang menjadi tujuannya itu sudah buka.
"Ayo sayang." Ajak Husna lagi.
Melati seketika menghentikan langkahnya saaf mereka sudah tiba tepat di depan toko pakaian itu.
"Tunggu bu!" Ucap Melati.
Hal itu sontak membuat langkah Husna seketika ikut terhenti.
"Jadi, ibu ingin membawaku kesini?"
"Iya." Husna pun mengangguk cepat dan kembali tersenyum lebar.
"Astaga ibuuuu! Tapi untuk apa membawaku kesini?"
"Ya ampun sayang, itu sungguh pertanyaan konyol yang sebenarnya tidak perlu di pertanyakan lagi. Tentu saja untuk membeli beberapa pakaian untukmu sayang." Husna pun mencubit pelan kedua pipi Melati.
Melati sudah dewasa, namun tetap saja ia masih di perlakukan seperti anak kecil oleh Husna.
"Hah?! Tapi kan,,,,"
"Nak, ibu dan ayahmu sudah sangat lama tidak membelikan baju baru untukmu. Lagi pula kamu akan tinggal di kota, sudah pasti pakaianmu pun harus bagus, karena ibu tidak mau kamu merasakan malu dengan pakaianmu yang mulai lecek." Ungkap Husna yang terdengar sangat tulus.
"Tapi,,, apa ibu punya uang??"
"Ada! Sudah tenang saja, usah pikirkan soal itu. Ayo masuk dan pilih lah beberapa yang kamu suka sayang." Husna mulai ingin mendorong tubuh Melati agar melangkah lebih dulu untuk memasuki toko.
"Tapi uang dari mana bu?" Tanya Melati lagi yang masih tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Haiiyooo, kamu ini kenapa terlalu banyak tanya???"
"Karena aku penasaran!!"
"Yang jelas, uang ini memang ibu persiapkan untukmu, sayang. Kamu tidak perlu tau uang ini berasal dari mana, yang perlu kamu lakukan hanyalah masuk ke dalam dan pilih lah beberapa pakaian. Sudah, hanya itu!"
__ADS_1
Melati kembali terharu, bagaimana tidak, melihat sikap ibunya yang selalu memikirkan dan menyiapkan segalanya untuknya, membuat hati Melati kembali terenyuh dan membuat matanya mulai berkaca-kaca. Tanpa banyak bertanya lagi, Melati pun langsung memeluk hangat tubuh ibunya yang sudah nampak tua dan terlihat sangat lelah itu.
Mereka pun mulai masuk ke dalam toko, di dalamnya sudah terpajang banyak pilihan pakaian dengan segala model dan ukuran, mulai dari pakaian musim dingin hingga musim panas, di sana juga sudah ada beberapa pelanggan yang juga terlihat sedang sibuk memilih-milih pakaian untuk mereka beli.
"Ayo-ayo, pilih lah." Bisik Husna lagi dengan senyuman yang terlihat begitu sumringah.
Melati ikut tersenyum dan mulai menuju ke stand pakaian yang paling dekat dengannya. Husna juga tak ingin hanya diam, ia pun ikut memilih-milih atau sekedar melihat sekiranya pakaian mana yang cocok untuk anaknya.
Husna sangat senang ketika melihat Melati begitu bersemangat saat memilih baju yang ia inginkan. Bahkan tak segan pula ia membanggakan anaknya itu pada pada pelanggan yang ada di dekatnya.
"Hai, lihat itu anakku, apakah dia cantik?" Tanya Husna pada salah seorang pelanggan yang kala itu tengah memilih pakaian di sampingnya.
Pelanggan itu pun sontak langsung melihat ke arah Melati yang saat itu ada di hadapannya,
"Oh hehehe iya cantik bu." Jawab pelanggan itu dengan senyuman tipis.
"Aahh itu sudah pasti benar hehehe." Husna pun semakin terkekeh bangga.
"Oh ya, apa kamu tau Universitas A, Universitas yang paling terfavorit di kota?" Tanya Husna lagi.
"Oh tentu, bukankah itu Universitas sangat terkenal dan Universitas terbaik." Jawab pelanggan tersebut.
"Ah benar hehehe, anakku akan berkuliah disana. Dia lulus masuk ke sana dengan nilai terbaik, dan berhasil mendapat beasiswa." Ungkap Husna yang terlihat sangat membanggakan anaknya.
"Oh ya?? Wah selamat ya, anda pasti sangat bangga ya memiliki anak pintar dan cantik seperti dia."
"Wahh tentu saja, sejak kecil anakku ini memang selalu membanggakan." Husna pun kembali terkekeh.
Melati, kala itu ia hanya tersenyum dan menggelengkan pelan kepalanya. Dari dulu hingga sekarang, Husna memang selalu seperti itu dimana pun ia berada, tak pernah tidak sempat untuk sekedar membanggakan anaknya pada orang-orang.
"Jurusan apa yang akan di ambil disana?" Tanya pelanggan yang lain.
Saat itu, Husna jadi terdiam sejenak karena dia sendiri pun belum tau jurusan apa yang akan di ambil oleh anaknya.
"Hei sayang, tolong katakan, jurusan apa yang akan kamu ambil disana?" Tanya Husna pada Melati.
"Sastra. Aku hobi menulis jadi akan sangat cocok jika mengambil jurusan sastra." Jawab Melati singkat sembari tersenyum tipis.
"Oh astaga, kenapa aku baru tau hal itu ya?" Husna pun mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal sembari cengengesan.
"Semoga kelak anakmu bisa menjadi penulis berbakat dan terkenal."
"Ah ya, dia pasti akan menjadi penulis sukses nantinya. Ya kan sayang?"
"Iya bu, aamiin." Jawab Melati singkat.
Husna pun akhirnya mendekati Melati,
"Ibuuu, kenapa selalu saja berkata begitu pada orang-orang? Itu berlebihan sekali bu, aku jadi malu." Bisik Melati.
"Haaais itu justru hal yang membanggakan, jadi untuk apa malu hehehe." Jawab Husna santai.
Melati pun kembali diam serta mendengus lalu menghela nafas.
"bagaimana sayang, apa kamu sudah menemukan pakaian yang kamu suka?"
"Ini bu." Melati pun menunjukkan sepotong baju yang tengah ia pegang.
__ADS_1
...Bersambung......