Ibuku Sayang Ibuku Malang

Ibuku Sayang Ibuku Malang
Chapter 29


__ADS_3

Malam pun tiba, suasana yang awalnya begitu terang benderang serta di penuhi dengan kicauan burung-burung camar di atas pohon, kini telah berganti menjadi gelap gulita, hanya suara jangkrik yang terdengar.


Husna, saat itu ia pun tengah bersibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara makan-makan mereka pada malam ini.


"Ayo, tambahkan lagi arangnya!" Pinta Husna pada Rio yang kala itu tengah membantunya membuat api untuk ia gunakan memanggang ayam yang telah ia lumuri dengan bumbu.


"Ini yang punya acara kemana bu? Kenapa malah aku yang direpotkan begini sih?" Keluh Rio namun tetap saja ia dengan kesibukannya membuat api.


"Kakak mu mungkin masih tidur di dalam, biarkan saja dulu, dia pasti kelelahan. Lagi pula dia akan pergi, kenapa kau masih saja iri padanya?!" Jawab Husna enteng.


"Aku juga kelelahan bu."


"He??! Kelelahan apa?!" Husna pun melirik ke arah Rio dengan tatapan seolah memojokkan.


"Tentu saja aku lelah, sejak pagi sudah membantu ibu mengangkut hasil panen ke pasar, siangnya saat ibu dan kakak pergi, aku harus menyiapkan makan siangku sendiri bahkan aku harus menyikat kamar mandi, dan malamnya, aku malah harus menghadapi api."


"Haaaiisss, kau ini! Untuk hal seperti itu saja masih saja mengeluh."


"Masalahnya bukan itu bu! masalahnya adalah, ibu memperlakukan aku berbeda dengan kakak! Bukan hanya berbeda, bahkan sangat berbeda, bu!!" Ungkap Rio dengan penuh emosional.


Husna yang awalnya tengah sibuk merajangi bawang, seketika menghentikan aktivitasnya itu saat mendengar perkataan anak bungsunya.


"Apa yang salah denganku? Kenapa aku di perlakukan berbeda? Apa hanya karena aku tidak sepintar kakak?" Ungkap Rio lagi yang terus-terusan menghujani Husna dengan segala macam pertanyaan yang selama ini mengganjal di hatinya.


"Ibu juga tidak tau kenapa bisa begini, nak. Pernah mengalami kehilangan seorang bayi perempuan yang bahkan ibu belum sempat untuk mendengar suara tangisannya, apalagi memeluknya. Hal itu sangat membekas, dan menimbulkan kesedihan yang mendalam. Hingga akhirnya Melati hadir, ia mengubah segalanya, mengubah hidup ibu yang awalnya terasa kelam, menjadi penuh cahaya kebahagiaan. Melati ibu anggap sebagai pengganti Karmila, dan ibu sangat takut kehilangan untuk kedua kalinya." Gumam Husna lirih dalam hati, yang kala itu tiba-tiba saja terbayang bagaimana sedihnya ia saat harus kehilangan Karmila, dan kemudian berganti saat bagaimana senangnya ia saat berhasil melahirkan kembali anak perempuan yang diberi nama Melati.


"Kenapa ibu hanya diam saja bu?" Tanya Rio lagi.


Pertanyaan itu pun berhasil memecah lamunan Husna saat itu, Husna pun seketika tersentak, lalu dengan cepat menyeka setetes air mata yang mulai mengalir tanpa ia sadari sebelumnya.


"Ah sudah lah, sudah! Baik lah, kamu sudah cukup bekerja keras hari ini, sebagai imbalan, kamu boleh makan ayam panggang malam ini." Ucap Husna kemudian yang tak mau lagi ambil pusing.


"Hanya itu??!"


"Haaaiss, lalu apa lagi yang kau inginkan ha?! Bukankah kau juga sudah mendapat baju baru?!" Husna pun kembali melototi anak lelakinya.


"Hehehe aku mau makan ayam sepuasnya malam ini, tidak boleh di jatah-jatah seperti sebelum-sebelumnya." Jawab Rio yang mulai cengengesan.

__ADS_1


"Haaaaiiisss!!!" Husna nampak mulai menggeram sembari merapatkan giginya.


"Deal??!" Tanya Rio lagi yang mulai menjulurkan jari kelingkingnya pada sang ibu.


Husna masih diam dan memandangi sejenak jari kelingking yang ada di hadapannya dan wajah anak lelakinya secara bergantian.


"Ah ayo lah bu!! Aku sudah bekerja keras hari ini, berikan sedikit apresiasi untukku." Rengek Rio yang bertingkah seperti anak kecil saat itu.


Husna di buat geram, namun juga ia tak bisa berbuat apapun, karena sebelumnya Rio terus menyudutkannya.


"Aaaah terserah kau saja!!!" Geram Husna akhirnya.


Rio pun tersenyum puas dan kembali pada kesibukannya seperti sebelumnya, sementara Husna, hampir di buat sesak nafas dengan tingkah laku anaknya yang begitu menyebalkan jika menyangkut soal makanan.


Ya, jika Husna cukup menyebalkan jika menyangkut urusan anak, maka begitu juga dengan Rio. Meski bisa di katakan kehidupan yang di jalani Rio cukup menyedihkan karena terlahir miskin dan sering di abaikan oleh ibunya, namun jika menyangkut urusan makanan, Rio pun juga sama menyebalkannya.


Rio sangat hobi makan, apapun jenis makanan yang di sajikan Husna, selalu ia babat habis, bahkan kadang, setelah menghabiskan makanan miliknya, Rio pun mulai beralih ke makanan milik kakaknya yang memang sering makan tidak habis.


Beberapa menit berlalu, Aryo pun akhirnya keluar dari rumah dan memilih untuk duduk di teras.


"Mas, kenapa hanya duduk disitu? Ayo kemari dan bantu aku mas." Pinta Husna dengan lembut.


"Ayah, kenapa tidak membantuku saja?!" Ucap Rio kemudian.


"Kau sedang apa memangnya?" Aryo pun menoleh ke arah Rio.


"Aku disuruh ibu membuat bara api yah, tapi sepertinya aku sedikit kesulitan." Keluh Rio memasang wajah memelas.


"Sayang, tidak apa jika tidak bisa membantuku, tapi bantu lah Rio, ini pertama kali baginya jadi mungkin memang akan sulit baginya." pujuk Husna juga.


Aryo pun menghela nafas kasar.


"Ayolah sayang, ini untuk Melati yang besok akan pergi, setidaknya harus ada pesta makan-makan walau pun sederhana untuk perpisahan." Tambah Husna lagi.


Aryo yang keras, namun kali ini entah kenapa ia justru melunak saat mendengar kata pesta perpisahan untuk Melati.


"Eeemm ya, ya, ya." Aryo pun bangkit dari duduknya dan berjalan dengan tergopoh-gopoh menghampiri Rio.

__ADS_1


"Sini, serahkan pada ayah! Kau kerjakan saja yang lain." Ucap Aryo yang mengambil alih tugas Rio.


"Ah baik yah, terima kasih." Rio pun semakin sumringah dan langsung melipir karena jujur saja, sejak tadi ia memang sudah merasakan panas pada wajahnya akibat berdekatan dengan api.


Bara api telah siap, ayam pun mulai di letakkan di atasnya. Bersamaan dengan itu pula, Melati pun akhirnya keluar dengan keadaan rambutnya yang basah.


"Melati, sayang, kamu sudah bangun nak?" Tanya Husna saat menyadari kehadiran Melati.


Rio dan Aryo pun sontak menoleh ke arah Melati secara bersamaan,


"Hai tuan putri, selamat malam, bagaimana tidur anda? Apakah nyenyak." Sindir Rio dengan lembut.


"Hei, berhenti menyindirnya!" Husna pun melotot sembari memukul pelan lengan putranya.


Melati, hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis,


"Bukan hanya sudah bangun, aku bahkan juga sudah mandi bu." Jawab Melati tersenyum dan langsung duduk di samping ibunya.


"Astaga sayang, kamu mandi di saat hari sudah malam. Nanti kamu masuk angin." Wajah Husna seketika nampak cemas.


"Bu, berhenti bersikap berlebihan padaku. Lagi pula menurutku 'sakit karena mandi malam' itu hanyalah mitos lama yang disebar luaskan oleh para nenek moyang yang terdahulu. Faktanya adalah mandi malam itu justru bagus bu, karena pada malam hari tubuh kita sedang dalam keadaan in-aktif, dan mandi malam juga terbukti bisa mengurangi rasa lelah dan membuat tubuh kembali rileks, hingga bisa membuat tidur malam jadi lebih nyenyak dan berkualitas." Jelas Melati pada ibunya yang ternyata cukup kolot.


"Haaa?! Benarkah begitu?"


"Tentu saja, para ilmuwan telah membuktikannya, bu." Jawab Melati dengan percaya diri.


"Oh ya ampun, kenapa aku baru tau hal itu?!" Husna pun mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Jadi mulai sekarang ibu harus bisa belajar menghilangkan stigma lama itu, bu."


"Aaaaa anakku ini memang sangat pintar." Husna dengan bangga langsung merangkul anaknya.


"Oh ya ampun, tidak hanya pintar, anakku ini juga sangat wangi sekarang." Tambah Husna lagi yang terus menggoda Melati,


"Aaah ibu, berlebihan sekali."


"Hehehe, berlebihan dalam memuji anak sendiri tidak ada salahnya." Husna pun ikut tersenyum.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2