Ibuku Sayang Ibuku Malang

Ibuku Sayang Ibuku Malang
Chapter 42


__ADS_3

Pagi hari yang cerah...


Mentari dari ufuk timur kian menunjukkan cahaya terangnya, cahaya yang perlahan menepis embun malam, dan di ganti menjadi kabut pagi yang juga tak kalah menyejukkan. Seperti biasa, pagi itu Melati tengah berjalan santai untuk menuju kampusnya, yang berada tak jauh dari kosnya.


Di tengah perjalanan, Melati tiba-tiba saja dibuat terperanjat saat sebuah mobil membunyikan klasonnya ketika tepat berada di sisi kanan Melati.


*Tintin*


"Astaga!! Celetuk Melati spontan sembari memegangi jantungnya yang seakan mau copot.


Melati pun seketika langsung menoleh ke arah mobil itu, tak lama kaca jendela mobil yang berwarna hitam pun perlahan mulai turun hingga menampakkan wajah Vero yang saat itu sedang tersenyum ke arahnya.


"Selamat pagi Melati." Sapa Vero ramah.


"Ternyata kamu!!" Ketus Melati yang terlihat sedikit kesal sembari kembali melanjutkan langkahnya.


"Kenapa? Aku mengejutkanmu ya hehe." Vero pun kembali menjalankan mobilnya dengan sangat pelan.


"Sudah tau tapi masih saja bertanya!" Melati terus memasang wajah masam.


Namun nyatanya hal itu tidak membuat Vero takut apalagi ilfeel, ia justru semakin merasa gemas pada kejutekan Melati yang menurutnya lain dari pada yang lain.


"Hehe maaf ya, aku tidak bermaksud." Vero pun semakin mengembangkan senyumannya.


"Eeemmm." Jawab Melati singkat dan terus saja melangkah tanpa melirik sedikit pun lagi ke arah Vero.


"Ayo naik." Ucap Vero.


"Ah tidak usah, lagi pula ini sudah dekat."


"Ayolah Melati, ini sudah beberapa bulan kita saling mengenal, tapi kenapa kamu masih saja bersikap seolah aku ini orang asing bagimu?"


Melati hanya diam.


"Apa hingga saat ini kamu masih saja menganggapku orang jahat?"


"Tidak! Bukan itu."


"Lalu??"

__ADS_1


"Eeemm sudah lah, lupakan saja! Kamu jalan lah duluan, aku tidak mau naik." Jawab Melati yang kemudian mulai melajukan langkahnya.


Sayangnya Vero bukan lah type lelaki yang mudah putus asa, ia pun bergegas menghentikan mobilnya di tepi jalan, lalu langsung turun dan menarik tangan Melati dari belakang hingga membuat langkahnya lagi-lagi harus terhenti.


"Tunggu!" Ucapnya.


Melati akhirnya kembali menoleh dan mulai menatap wajah Vero dengan datar.


"Apa yang salah denganku? Kenapa kamu seolah takut untuk berdekatan denganku??" Tanya Vero sembari mulai memegang kedua lengan Melati dan menatapnya dengan tatapan yang tak biasa.


"Astaga lelaki ini!! benar-benar membuat posisiku jadi semakin susah saja. Andai dia tau jika aku sudah pernah mengatakan jika aku tidak akan pernah ingin dekat dengan lelaki mana pun apalagi sampai harus menikah. Itulah sebabnya aku tidak mau terlalu dekat, aku takut terbawa perasaan dan akhirnya menjilat ludahku sendiri." Gumam Melati dalam diamnya.


"Kenapa hanya diam saja?"


"Sekarang aku tanya, apa alasanmu ingin selalu berdekatan denganku?" Kali ini Melati pun mengubah cara pandangnya menjadi lebih dalam.


Vero, mendapat pertanyaan seperti itu seketika langsung terdiam, bukan karena ia tak tau jawabannya, melainkan ia seakan-akan belum siap memberitahukan perasaannya pada Melati.


"Ak,, aku..." Vero pun mulai gelagapan.


"Tidak bisa jawab kan?" Melati pun tersenyum tipis.


"Eemm ya, mengenai hal itu, aku ingin mengatakan, sepertinya memang sudah saatnya kamu melakukan sesuatu untukku."


"Oh akhirnya. Baik lah, sekarang katakan! Apa yang harus ku lakukan?"


"Ku dengar kamu memiliki ip tertinggi di kelas, itu menandakan kamu orang yang pintar, dan kebetulan saat ini aku tengah di pusingkan oleh tugas skripsiku dan ada beberapa bagian yang harus direvisi ulang. Jadi, mau tidak kamu jadi pembimbingku dalam satu Minggu?" Tanya Vero dengan sedikit ragu-ragu.


Sebenarnya, Vero tidak lah benar-benar membutuhkan pembimbing seperti yang ia katakan, apalagi jika orang yang membimbingnya itu merupakan adik tingkatnya. Tapi nyatanya, ini hanyalah salah satu trik dan alasan yang tepat agar ia bisa lebih dekat dengan Melati.


"Hanya itu?" Tanya Melati seolah tak percaya.


"Untuk saat ini, itu saja dulu."


"Eemm baik lah, aku setuju, satu Minggu kan?"


"Ya, hanya satu Minggu saja." Jawab Vero sembari tersenyum.


"Ok, kapan kita mulai?!"

__ADS_1


"Lebih cepat lebih baik. Bagaimana kalau hari ini?"


"Hah?! Ha,,, hari ini?"


"Iya, kenapa?"


"Tidak, hanya saja apa tidak terlalu mendadak?"


"Itu terserah kamu saja, tapi bukannya lebih cepat kamu menyelesaikannya akan semakin baik bagimu?? Kamu jadi tidak perlu terlalu lama merasa berhutang budi padaku."


Melati terdiam sembari dalam hatinya mulai berfikir jika apa yang di ucapkan oleh Vero, masuk akal dan ada benarnya.


"Cukup masuk akal." Gumam Melati dalam hati sembari kembali menatap Vero dengan cukup serius.


"Baik lah. Tapi kamu tau kan jika sepulang dari kampus, aku masih harus bekerja di resto? Eemm, apa boleh kita melakukannya saat aku pulang kerja?" Tanya Melati yang nampak sedikit sungkan.


"Tidak masalah, aku mengikuti jadwalmu saja."


"Ok." Jawab Melati sembari tersenyum tipis, lalu kemudian ia pun kembali melangkah pergi meninggalkan Vero.


"Hei Melati!! Ayo ikut saja di mobilku!" Ucap Vero sedikit berteriak.


Tapi apa yang terjadi? Melati justru terus melangkah maju sembari melambaikan tangannya sebagai jawaban jika ia tidak mau.


Hal itu pun membuat Vero sontak mendengus dan kembali melebarkan senyumannya.


"Astaga, dia benar-benar unik, dia bahkan jadi wanita pertama yang mampu menolak ajakanku. Benar-benar menarik." Gumam Vero dalam hati yang saat itu masih terdiam sembari terus memandangi punggung Melati yang semakin menjauh darinya.


Vero akhirnya kembali ke mobil, lalu langsung melajukan mobilnya menuju kampus, melewati Melati begitu saja yang saat itu terlihat terus melangkah dengan tenang.


Malam hari...


tak terasa pagi, siang, hingga petang telah berlalu dan kini waktu pun mulai berganti menjadi malam. Saat itu Melati tengah sibuk mengerjakan pekerjaan terakhirnya sebelum ia pulang, yaitu mengelap-elap meja. Vero yang seolah sangat tidak sabaran untuk kembali bertemu dengan Melati, memilih datang lebih awal dan menunggunya di parkiran mobil yang letaknnya tepat di depan Resto.


Vero terlihat keluar dari mobilnya dengan sikapnya yang tenang, begitu keluar mobil, tak sengaja kedua bola matanya pun langsung bisa menangkap sosok yang begitu ia kagumi, yaitu Melati yang kala itu terlihat tengah sibuk membersihkan meja. Sebuah senyuman, lagi-lagi di biarkan lolos begitu saja di bibirnya, Vero pun mulai melangkah pelan menuju bagian depan mobilnya, lalu mulai berdiri sembari bersandar di bamper bagian depan mobil.


"Bahkan saat sedang mengelap meja pun kamu masih tetap terlihat menawan, Melati." Gumam Vero dalam hati, sembari kedua tangannya mulai bersedekap di dada dan dengan sorot matanya yang masih tidak juga lepas dari Melati.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2