
Pagi hari yang cerah...
Pagi ini adalah pagi terakhir Melati bisa berleha-leha di rumahnya, karena besok, pagi-pagi sekali ia sudah harus pergi, pergi berangkat ke stasiun kereta api yang menuju kota.
Kebetulan sekali, pagi ini hasil panen dari hasil kebun belakang rumah sedang melimpah ruah, mulai dari mentimun, ubi-ubian, hingga jagung. Hal itu tentu membuat Husna sangat senang, dengan begitu ia bisa membuat pesta perpisahan kecil-kecilan untuk Melati nanti malam, begitu lah pikirnya.
"Aku pergi." Ucap Aryo yang tiba-tiba keluar dari rumah.
"Mas, kamu mau pergi kerja?" Tanya Husna nampak bingung.
"Ya tentu saja, lalu kau pikir aku mau kemana lagi?"
"Bukan begitu mas, hanya saja bukankah ini masih sangat pagi? Tidak biasanya kamu pergi jam segini mas."
"Tidak apa, semakin cepat pergi bukankah semakin baik, lagi pula aku tidak mau selalu di cap lambat oleh para penumpang hanya karena kakiku yang cacat ini."
"Tapi aku belum membuatkan sarapan untukmu, mas."
"Tidak perlu, aku tidak lapar."
"Eemm baik lah kalau begitu." Jawab Husna kemudian.
"Oh ya mas, usahakan pulang lebih awal ya! Karena nanti malam aku akan mengadakan pesta perpisahan untuk Melati," Teriak Husna pada Aryo yang mulai melangkah pergi.
"Ehmm." Jawab Aryo singkat sembari terus melangkah tanpa berhenti sedikit pun lagi.
Selang beberapa detik, Melati yang baru bangun pun nampak muncul sembari menggaruk-garuk kepalanya seperti khas orang yang baru bangun tidur.
"Sayanggg, kamu sudah bangun?" Husna pun seketika melebarkan senyumannya.
"Ayah mau kemana bu?" Tanya Melati yang merasa penasaran saat memandangi punggung ayahnya yang sudah berjarak semakin jauh dari pekarangan rumah mereka.
"Ayahmu mau berangkat kerja."
"Kerja? Pagi-pagi begini?" Melati pun ikut merasa terheran-heran.
"Ya, dia bilang semakin cepat pergi akan semakin bagus,"
"Eeemm tumben sekali." Gumam Melati pelan.
"Sudah lah! untuk apa terlalu pusing memikirkan ayahmu, biarkan saja dia." Husna pun kembali tersenyum.
"Nak, sekarang katakan! kamu mau ibu masakkan apa hari ini?" Tanya Husna kemudian dengan raut wajahnya yang nampak begitu bersemangat.
"Terserah ibu saja, apapun yang ibu masak pasti akan aku makan."
"Haaaiyo, ayo katakan saja, makanan apa yang sedang ingin kamu makan saat ini? Hari ini hasil panen melimpah ruah sayang, itulah sebabnya ibu mau mengadakan pesta perpisahan kecil-kecilan untukmu nanti malam."
__ADS_1
"Pesta perpisahan?? Haaiss bu, tidak perlu berlebihan buuu."
"Tidak apa-apa, biarkan ibu memasakkan makanan enak sebelum kamu pergi."
"Eeemm ya sudah, terserah ibu saja." Melati pun akhirnya ikut tersenyum.
Tak lama, Rio pun tiba-tiba muncul dari dalam rumah dan langsung menimbrung percakapan Melati dan Husna.
"Yeay asik, nanti malam ada pesta, sudah pasti aku bisa makan enak." Celetuk Rio dengan begitu percaya diri.
"Kau mau makan enak?" Tanya Husna yang menatap Rio dengan tatapan tak biasa.
"Tentu saja bu, makan adalah salah satu hobiku, hehehe."
"Kau bisa makan enak, asal kau mau membantu ibu membawakan karung-karung hasil panen ini ke pasar."
"Haaaiss bu, apa-apaan ini. Kenapa selalu saja aku yang di suruh?! Kenapa ibu tidak pernah menyuruh kakak?!" Keluh Rio sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Hei, kau ini laki-laki kan?! Lagi pula kakakmu harus berkemas, jadi jangan membantah ibu."
"Haaaiis, benar-benar pilih kasih!"
"Mau melawan ibu???!" Husna pun mulai melotot sembari mengecakkan pinggangnya.
"Eeemmm iya-iya," Jawab Rio akhirnya dengan lesu.
"Semangat Rioooo." Ucap Melati yang berniat meledek adiknya.
Rio hanya diam, dengan wajah masamnya, ia pun mulai mengangkat dua karung yang isinya terdapat ubi-ubian dan jagung, sementara karung satunya lagi di bawa oleh Husna.
"Sayang, ibu jualan dulu ya, kamu jaga rumah, tidak perlu bersih-bersih rumah, nikmati saja hari ini dengan sedikit bersantai." Ucap Husna pada Melati.
"Baik bu, hati-hati ya, dan aku akan mulai mengemasi barang-barangku."
Husna dan Rio pun pergi menuju pasar, sepanjang jalan, Husna terus bercerita pada Rio tentang bagaimana Melati yang tumbuh menjadi anak yang pintar dan selalu membanggakannya. Namun Rio memilih untuk tetap diam, bahkan sama sekali tidak berminat untuk mendengarkan cerita itu, karena sejujurnya Rio begitu jenuh mendengarkan cerita yang sama terus menerus di ulang hampir seumur hidup Rio.
Beberapa saat setelah kepergian Husna dan Rio, Nana tiba-tiba datang ke rumah Melati dengan membawa raut wajah yang tak biasa.
"Nana, kenapa kau datang pagi-pagi sekali kesini?" Tanya Melati sembari tersenyum.
Dengan sangat ragu-ragu, Nana pun kembali melangkah pelan untuk mendekati Melati.
"Ada apa Na?" Tanya Melati yang mulai heran melihat gelagat aneh Nana.
"Eeeemmm... apa kau sudah berkemas?" Tanya Nana memulai percakapan.
"Oh itu hehe, aku baru saja ingin melakukannya. Kenapa memangnya? Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah berkemas?"
__ADS_1
Nana pun menggelengkan pelan kepalanya.
"Kau juga belum berkemas?!"
"Iya belum."
"Astagaa, aku pikir hanya aku yang belum mengemas barang-barangku."
"Eeemmm Melati, se,, sebenarnya..." Ucap Nana yang terlihat semakin gelagapan dan ragu-ragu.
"Nana, ada apa?" Dahi Melati pun mulai nampak berkerut.
"Eeemmm, Mel, sebenarnya ak,,, aku."
"Katakan Na! Ada apa?"
"Maaf Mel, sepertinya kamu,, kamu harus pergi sendirian." Ucap Nana yang akhirnya mulai menundukkan kepalanya.
"Hah??!!" Kedua mata Melati seketika jadi terbelalak.
"Iya Mel, kamu sepertinya harus pergi berangkat sendirian karena aku membatalkan niatku untuk berkuliah di Kota."
"Tapi kenapa Na???" Melati pun langsung memegang kedua lengan Nana.
"Ayahku Mel, ayahku struknya kambuh lagi, tapi kali ini cukup parah dan menyebabkan dia tidak bisa menggerakkan sebelah tangannya. Karenanya, jadi tidak ada lagi yang membantu ibuku berladang dan aku tidak tega jika harus meninggalkan ibuku dalam keadaan seperti itu." Jelas Nana.
"Tapi Na, kamu sudah berhasil lolos di jalur prestasi dan mendapat beasiswa, apa kamu yakin melepaskan kesempatan emas ini begitu saja?"
"Ya Mel, sangat berat memang untuk memutuskan ini, tapi sebagai anak aku juga tidak bisa egois Mel, akan sangat kasihan bila ibuku harus mengurus segalanya sendirian. Aku tidak bisa begitu, pergi pun aku tidak mungkin bisa tenang belajar disana."
Melati pun seketika terdiam, ia menghela nafas berat dan nampak sangat tak bersemangat setelah mendengar keputusan Nana yang menggagalkan keberangkatannya demi menemani sang ibu.
"Apa aku pun harus menggagalkannya juga?" Tanya Melati pelan.
"Hei, apa-apaan kau! Jangan Mel, ini mimpimu sejak lama. Kau harus berangkat! Aku yakin kau pasti bisa meski tanpa aku."
"Ta,, tapi sejak awal kita sudah sepakat untuk pergi bersama Na."
"Iya aku tau, tapi aku tidak mau hal itu jadi membuatmu gagal pergi. Pergi saja Mel, aku yakin kamu pasti bisa meski tanpa aku."
Melati pun terdiam sejenak, perasaan ragu kini mulai hadir menyapanya, namun ucapan Nana pun seolah begitu meyakinkannya. Apalagi membayangi keluarganya yang sering kali membuatnya stress karena sering bertengkar, membuat tekatnya kembali membulat.
"Ya kamu benar, Na. Aku memang harus tetap pergi, ini mimpiku, dan aku yakin aku bisa sukses dan membuat orang tuaku semakin bangga padaku." Ucap Melati akhirnya.
Nana pun mengangguk lalu mulai tersenyum, ia pun langsung memeluk hangat tubuh teman sejak kecilnya itu, pelukan hangat sebagai tanda perpisahan darinya.
...Bersambung...,...
__ADS_1