
Husna pun menatap wajah Melati dengan tatapan yang sedikit aneh.
"Haaaiss."
"Kenapa bu? Apa ini tidak bagus?" Tanya Melati yang kembali memandangi pakaian yang ia pilih.
"Bukan itu sayang, kenapa kamu hanya mengambil satu? Pilih lah beberapa!" Jawab Husna enteng, seolah tanpa beban.
"Hah?!! Beberapa?!" Kedua mata Melati pun sontak terbelalak seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Ya, tentu saja Melati begitu terkejut saat ibunya menyuruhnya untuk membeli beberapa baju, mengingat selama ini ia sangat tau bagaimana kondisi keuangan keluarganya yang serba pas-pasan.
"Iya nak, pilih lah beberapa pakaian yang kamu suka, anggap saja ini hadiah, hadiah dari ibu atas prestasimu selama ini." Husna pun kembali tersenyum dan mengusap singkat pipi Melati dengan lembut.
"Ta,, tapi bu, apa ibu punya uang untuk membayarnya? Maksudku, jika mengambil beberapa pakaian, kupikir pasti lumayan mahal."
"Punya! sudah lah, urusan bayar membayar serahkan saja pada ibu. Ayo-ayo, cepat pilih lagi!"
Melati pun akhirnya tersenyum, lalu mengangguk sembari menampilkan raut wajah yang begitu sumringah. Tak terasa, sudah satu jam lamanya Melati terus memilih-milih pakaian yang cocok untuknya tanpa merasa adanya rasa lelah sedikit pun.
"Bagaimana sayang? Apakah sudah dapat apa yang kamu inginkan?"
"Iya bu, sudah." Jawab Melati yang langsung menganggukkan kepalanya sembari menunjukkan tumpukan pakaian yang ada di tangannya saat itu.
"Ah baik lah, kalau begitu ayo kita langsung ke kasir saja."
Husna pun membayar semua pakaian yang di pilih oleh Melati tanpa ada keraguan sedikit pun, meski uang yang harus ia keluarkan kala itu lumayan besar baginya, namun saat melihat senyuman yang terpancar dari bibir Melati, membuat semua hal itu ia rasa cukup sepadan.
Husna tidak peduli, meski ia harus menabung selama separuh hidupnya, asal bisa membuat Melati bahagia, maka ia takkan keberatan sama sekali.
"Berhagialah nak, karena semua yang ibu lakukan selama ini, memang untukmu, untuk membahagiakanmu." Gumam Husna dalam hati sembari terus tersenyum memandangi wajah lembut putrinya.
Melati keluar dari toko dengan sudah menginting beberapa paper bag di tangannya. Ia terus tersenyum saat memandangi lagi paper bag yang ia pegang, seolah kala itu ia benar-benar sangat merasa senang.
"Ibu terima kasih banyak, aku sangat senang." Ucapnya begitu Husna pun baru keluar dari toko.
__ADS_1
"Astaga, tidak perlu berterima kasih, lagi pula hanya itu saja yang bisa ibu berikan padamu, karena selama beberapa tahun belakangan ini, tak ada sehelai benang pun yang ibu belikan untukmu, maka dari itu ibu justru yang seharusnya meminta maaf padamu," Husna pun kembali menatap Melati dengan tatapan sendu.
"Aaaa ibu, sudah cukup! Jangan berkata seperti itu terus, nanti aku jadi sedih lagi." Melati pun langsung memeluk singkat tubuh ibunya.
"Lagi pula, apa yang selama ini sudah ibu berikan padaku, baik dalam bentuk kasih sayang, perhatian, waktu ibu, semuanya, itu sudah lebih dari cukup, bahkan itu sangat berarti bagiku, bu."
"Begitu lah seorang ibu, ia akan melakukan apapun, mengorbankan apa yang bisa ia korbankan untuk kebahagiaan anaknya."
Husna, dengan segala kekurangan yang ia miliki sebagai seorang ibu, namun juga memiliki sejuta kelebihan yang ia persembahkan untuk Melati.
Waktu terus berjalan, tak terasa kini jam pun sudah menunjukkan pukul 15:00 petang, Melati dan Husna akhirnya tiba di rumah mereka.
"Wah, sepertinya ada yang baru saja di belikan baju." Celetuk Rio saat menyambut ibu dan kakaknya di teras rumahnya.
"Kakakmu sudah mau pergi, wajar saja jika ibu membelikan beberapa helai pakaian baru untuknya. Maka dari itu kau tidak boleh iri. Jika kau bisa berprestasi seperti kakakmu, kau juga akan ibu belikan." Ungkap Husna yang terus saja melangkah melewati Rio.
Rio yang juga sudah beranjak remaja, nampaknya mulai kebal bahkan sudah sangat terbiasa dengan sikap Husna yang pilih kasih, hingga membuatnya tak lagi menangis atau pun bersedih seperti dulu. Ia justru terlihat biasa saja, meski memang perasaan kesal sudah pasti ada saat mengetahui kakaknya yang dibelikan baju baru, namun ia tidak terlalu menunjukkannya.
"Eeemmm ya, ya, ya." Jawab Rio santai.
Melati pun mendengus lalu kembali tersenyum, namun saat ia sudah tepat berada di hadapan Rio, tiba-tiba saja melati melemparkan salah satu paper bag yang ia pegang sejak awal.
"Itu bagianmu." Jawab Melati singkat.
"Hah??!! Untukku?" Rio sontak mengeluarkan isi dalam paper bag itu.
Lalu mendapati sebuah baju kaos berwarna hitam, dengan bahan yang sangat lembut dan dingin.
"Kau membelikan ini untukku, kak?" Tanya Rio dengan wajahnya yang nampak mulai sumringah.
"Bukan aku, tapi ibu."
Husna, yang belum sepenuhnya masuk ke dalam rumah, dengan jelas bisa mendengar hal itu. Ia pun sontak berbalik badan, dan melihat Rio yang sedang kegirangan saat memegang sebuah baju baru.
"Astagaa, apa-apaan ini?" Ketus Husna yang nampak kesal.
__ADS_1
Husna pun bergegas kembali ke luar untuk menghampiri kedua anaknya.
"Astaga Melati!! Ibu bilang pilih beberapa pakaian untukmu, tapi kenapa malah membelikan dia??!" Keluh Husna.
"Buuuu, Rio ini, meskipun dia anak yang sangat nakal, tapi dia juga anak ibu kan?? Setidaknya dia pantas memiliki baju baru juga walau pun hanya satu." Jawab Melati dengan lembut.
"Nah bu, apa yang di katakan oleh kakak itu benar, sebagai ibu seharusnya tidak boleh pilih kasih." Tambah Rio yang kala itu masih terus memandangi baju barunya dengan sorot matanya yang nampak begitu berbinar.
Husna, lagi-lagi ia berhasil dibuat tak berkutik oleh kedua anaknya, yang bisa ia lakukan saat itu justru menghela nafas panjang dan memutarkan kedua bola matanya.
"Eeemm ya, ya, yaaa. Terserah kalian saja!" Jawab Husna yang akhirnya kembali beranjak.
Rio kembali tersenyum puas, lalu mulai menatap wajah sang kakak yang kala itu meski ia sedang tersenyum, namun entah kenapa justru terlihat begitu sendu.
"Terima kasih ya kak, terima kasih karena sudah ingat padaku dan berinisiatif untuk membelikan baju ini untukku."
"Kamu harusnya berterima kasih pada ibu, karena dia yang membayarnya."
"Haaish, tapi tetap saja kak, meskipun ibu yang membayar, tapi tetap ini berkat kakak. Jika kakak tidak menyelipkan satu baju untukku, maka ibu tidak akan pernah ingat untuk membelikanku baju. Yang ibu tau hanya kakak, kakak, dan kakak.
"Heehh, tidak boleh begitu! Mungkin ibu seperti itu karena tidak ingin kamu tumbuh menjadi anak yang manja, karena kamu lelaki memang di tuntut harus kuat mental."
"Eeemm ya, ya ya."
Melati pun hanya bisa kembali tersenyum sembari menggelengkan pelan kepalanya.
"Kak, jika kakak sudah pergi, aku pasti akan sangat kehilangan kakak. Tidak akan ada lagi orang yang nantinya akan melindungiku dari amukan ibu, tidak ada lagi yang membelaku dari ocehan ibu. Dan ku yakin setelah kakak pergi, sudah pasti ibu akan terus-terusan mengomeliku" Rio pun akhirnya mulai terlihat murung.
Membuat hati Melati cukup terenyuh dan ikut terharu dengan ucapan sang adik.
"Kamu sudah remaja Rio, aku yakin kamu bisa tanpa kakak."
"Eeemm ya kak, semoga kakak bisa menjadi orang yang sukses, agar nanti bisa sering mengirimi aku uang dan mengajakku jalan-jalan."
"Iya, itu sudah pasti!" Melati pun semakin melebarkan senyumannya, lalu kemudian langsung beranjak untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Melati masuk ke dalam kamarnya, dan saat itu juga ia langsung saja merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang hanya berukuran 100x200cm itu. Melati sangat kelelahan, hingga membuatnya langsung tertidur dalam hitungan beberapa menit saja.
...Bersambung......