Ibuku Sayang Ibuku Malang

Ibuku Sayang Ibuku Malang
Chapter 21


__ADS_3

Husna mulai meringis saat mendapati sebelah Jidatnya mulai mengeluarkan darah, tapi nyatanya hal itu tidak membuat amukan Aryo mereda.


"Apa?! Kau ingin menyalahkanku?! Atau ingin memakiku?!" Bentak Aryo.


"Sayang, kamu boleh memarahiku sepuasmu, tapi bisakah kamu lanjutkan nanti saja marahnya? Karena aku harus menyiapkan makanan untuk kedua anak kita, kasihan mereka pasti sudah lapar." Ucap Husna lirih.


"Aaagh! Dasar tidak berguna!" Ketus Aryo Sembari menendang kasar baskom yang ada didekatnya, lalu ia pun langsung masuk begitu saja ke dalam kamar, meninggalkan Husna tanpa ada rasa bersalah dan penyesalan sedikit pun.


Husna yang malang, yang tidak tahu apapun kejadian sebelumnya, tapi harus menjadi tempat pelampiasan kekesalan Aryo pada dua orang yang telah menghinanya.


Tak ingin membuang waktu lebih lama, Husna langsung bergegas kembali ke dapur untuk memasak jagung rebus sesuai janjinya pada anak-anaknya, tanpa memikirkan rasa sakit akibat luka pada jidatnya. 20 menit berlalu, kini Husna telah datang dengan membawa jagung rebus yang ia masukkan dalam sebuah wadah.


Saat itu, Melati dan Rio nampak masih menangis sesenggukan, akibat pertengkaran kedua orang tuanya sebelumnya. Husna dengan senyuman yang ia paksakan, langsung menghampiri kedua anaknya yang terduduk di balik pintu.


"Sudah, sudah, jangan menangis, ayah kalian hanya emosi sesaat, ibu tidak apa-apa." Ucap Husna sembari memegang masing-masing sebelah pundak anaknya.


Melati yang masih menangis mulai menatap nanar ke wajah ibunya yang kala itu tersenyum seolah menutupi kesedihannya, namun jidatnya yang terluka, tentu tidak bisa ia tutupi.


"Ibu bilang ibu tidak apa-apa?" Tanya Melati.


"Iya nak, ibu tidak apa-apa." Jawab Husna sembari mulai mengusap air mata putrinya.


"Lalu bagaimana dengan jidat ibu yang terluka? Apa ibu masih ingin membohongi kami dan berkata tidak apa-apa?" Melati semakin menangis, ia benar-benar sedih melihat keadaan ibunya yang terlihat begitu memprihatinkan.


Husna terdiam dan dengan refleks kembali meraba jidatnya yang terluka.


"Ah sudah lah, tidak usah memikirkannya, ini hanya luka ringan, ibu bahkan tidak menyadarinya hehehe." Jelas Husna yang jelas saja ia tengah berbohong.


"Sudah, ayo makan, jagung rebus akan lebih enak jika di nikmati selagi hangat, ayo-ayo makan lah." Tambahnya lagi sembari mulai membukakan kulit jagung agar anaknya bisa dengan mudah memakannya.


"Tidak! Aku tidak mau makan! Tidak mau!" Bentak Melati yang langsung berlari pergi, meninggalkan ibu dan adiknya.


"Melati!! Kamu mau kemana Melati?!! Jangan pergi!" Teriak Husna.


Namun hal itu tentu tidak akan di gubris oleh Melati yang juga mulai jenuh dengan keadaan keluarganya. Melati terus berlari menjauhi rumahnya, ia berlari menuju pendopo yang ada di dekat ladang yang berada tak begitu jauh dari rumahnya.

__ADS_1


Ia mulai terduduk lesu dan kembali menangis di pendopo itu, hingga tak sengaja, Nana yang kala itu tengah membantu ibunya berladang, melihat Melati sedang menangis dan memilih untuk menghampirinya.


"Melati?!"


Melati terkejut dan langsung menoleh ke arah Nana.


"Melati, kenapa kamu menangis? Ada apa?" Tanya Nana sembari mulai duduk di samping Melati.


Melati pun bergegas menyeka air matanya yang sejak tadi terus membasahi kedua pipinya.


"Ada apa Melati?"


"Ayah dan ibuku, aku sangat muak dengan mereka!" Jawab Melati singkat.


"Apa ayah dan ibumu bertengkar lagi?" Tanya Nana lagi yang nampaknya sudah tau banyak tentang keluarga Melati.


Bagaimana tidak, Nana bisa di bilang menjadi teman terdekat Melati saat ini, selain memiliki rumah yang jaraknya cukup dekat, Melati rupanya sering berbagi cerita dengan Nana, hal itu lah yang membuat Nana cukup paham apa yang terjadi pada Melati dan keluarganya.


Saat itu Melati pun hanya menjawab dengan sebuah anggukan pelan.


"Ayahku benar-benar sangat kejam dan tidak punya hati! Sementara ibuku, ibuku benar-benar sangat bodoh dan selalu saja mengalah padanya, huh aku benar-benar muak dengan keluargaku!" Ungkap Melati kemudian dengan tatapannya yang kala itu terlihat kosong.


"Melihat ayah ibuku yang hampir setiap hari berkelahi, membuatku trauma. Pernikahan itu seperti mimpi buruk bagi wanita, aku tidak mau menikah Na, aku tidak mau menikah!" Melati pun kembali menangis.


"Ya, tidak usah menikah saja jika hal itu mengerikan bagimu." Ucap Nana seolah setuju dengan keinginan Melati.


Melati pun kembali menangis dan mulai menyandarkan kepalanya pada pundak Nana.


"Apa kamu sungguh jenuh tinggal di rumahmu?" Tanya Nana.


Melati pun mengangguk pelan.


"Ya. Andai aku bisa keluar dari rumah itu dan hidup bebas pasti aku akan bahagia, tapi..." Ungkap Melati dengan lesu, karena dalam pikirannya, hal itu tidak lah mungkin terjadi.


"Tapi apa?"

__ADS_1


"Tapi sayangnya hal itu tidak mungkin terjadi, kemana lagi aku harus pulang jika tidak ke rumah terkutuk itu."


"Hei, kamu bisa kok keluar dari rumah itu dan hidup bebas." Ucap Nana sembari tersenyum tipis.


Mendengar hal itu, membuat Melati seketika menegakkan kepalanya dan mulai menatap serius wajah Nana.


"Bisa? Caranya?!" Tanya Melati penasaran.


"Sebentar lagi kita lulus SMA, hanya memerlukan waktu tiga tahun saja lagi untuk tamat SMA dan setelah itu kita kuliah di perguruan tinggi, nah saat itu lah kau bisa keluar dari rumah dengan cara berkuliah di tempat yang jauh, contohnya di kota." Jelas Nana.


Melati terdiam, otaknya sedang mencerna kembali ucapan Nana dan akhirnya ia mulai berfikir jika pendapat Nana ada benarnya,


"Waktu tiga tahun akan terasa singkat, jadi ayo kita siapkan diri untuk kuliah di kota, kita bisa tinggal berdua di kos-kosan." Tambah Nana dengan bersemangat.


Tapi lagi-lagi Melati kembali melesu saat mengingat biaya kuliah itu tentu sangat mahal, apalagi jika harus kuliah di kota.


"Kamu benar, orang tuamu memiliki ladang yang cukup luas disini, itu cukup untuk membiayai kuliahmu, tapi sepertinya hal itu tetap saja tidak mungkin berlaku bagiku."


"Kenapa begitu?"


"Kau tau, untuk makan sehari-hari saja keluargaku pas-pasan, apalagi harus menanggung biaya kuliah dikota, belum biaya kos dan biaya hidupku selama disana."


"Haaaiss kau ini, selama ini kau sekolah bagaimana? Apa kau bayar? Tidak kan!"


"Jadi maksudmu beasiswa?!"


"Ya tentu saja, kau itu sangat pintar Melati, aku yakin kau akan mendapat beasiswa di Universitas ternama di kota. Dan masalah biaya hidup, di kota kau bisa saja mencari pekerjaan paruh waktu."


Melati kembali terdiam, penjelasan Nana kali ini benar-benar sangat masuk akal hingga membuatnya kembali bersemangat.


"Ya, kamu benar, aku bisa bekerja paruh waktu disana dan masalah biaya, tentu tidak akan menjadi masalah besar, aku hanya perlu berhemat. Iya kan?"


"Iya, itu benar." Jawab Nana yang semakin melebarkan senyumannya.


Melati pun setuju, dan mulai bertekat untuk lebih giat lagi dalam belajar demi bisa mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi yang ada di kota. Membayangkan bisa menjalani hidup bebas tanpa ada lagi masalah keluarga yang selalu menghampiri, membuatnya jadi seribu kali lebih semangat dan sangat tidak sabar untuk cepat-cepat lulus SMA.

__ADS_1


Melati pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah, karena ia ingin kembali belajar, dan tak ingin banyak membuang waktu untuk hal yang tidak penting lagi.


...Bersambung......


__ADS_2