Ibuku Sayang Ibuku Malang

Ibuku Sayang Ibuku Malang
Chapter 30


__ADS_3

"Makanannya sudah jadi." Ucap Husna tiba-tiba.


Hidangan utama ternyata telah matang dan mulai di hidangkan oleh Husna ke hadapan kedua anak dan suaminya. Rio yang memang merasa sudah sangat lapar sejak tadi, langsung memandangi ayam panggang yang begitu menggiurkan itu dengan tatapan yang seolah penuh gairah.


"Waaahh, baunya enak sekali." Celetuknya yang masih saja terlihat begitu terpana pada hidangan makan malam saat itu.


"Wahh bu, kelihatannya enak sekali." Tambah Melati dengan matanya yang juga terlihat begitu berbinar.


Menu makan malam kali itu, benar-benar menu makanan yang sangat mewah bagi Rio dan Melati. Karena seumur hidup mereka, mereka teramat sangat memakan ayam apalagi ayam bakar. Namun tidak dengan Husna dan Aryo, mereka tentu sudah sering memakan ayam meski itu sudah sangat lama.


"Ibu yakin kamu pasti akan suka, nak. Ah ayo makan lah." Jawab Melati dengan lembut,


"Iya bu." Melati pun mengangguk.


"Mass, ayo bergabung lah, kita makan bersama." Ucap Husna lagi sembari memanggil Aryo yang masih berkutat pada bara api yang masih menyala.


"Makan dan nikmati saja acara makan-makan kalian, tanpa aku juga semua akan tetap berjalan kan?!" Jawab Aryo santai.


Husna seketika terdiam dan mulai menghela nafas. Lalu ia pun mulai bangkit dari duduknya untuk menghampiri Aryo yang berjarak beberapa meter darinya.


"Masss," Husna pun mulai mengusap pundak Aryo.


"Tidak baik jika terus-terusan berbicara seperti itu. Ini acara perpisahan kita dengan Melati mas, ayolah." Pujuk Husna lagi.


Aryo pun mulai menoleh ke arah Melati putrinya, kala itu Melati hanya diam saja namun dengan raut wajahnya yang terlihat jadi sedikit sendu.


"Mass, ayo lah, jangan buat Melati kembali bersedih." Bisik Husna sembari menggoyang-goyangkan lengan Aryo.


Aryo pun menghela nafas berat, lalu perlahan mulai bangkit.


"Eemm iya, iya!" Jawabnya kemudian meski terdengar seperti tidak bersemangat.


Aryo pun akhirnya duduk bergabung di meja kayu yang saat itu sengaja di keluarkan Husna dari dalam rumahnya ke teras. Husna yang menyaksikannya cukup merasa senang, ini moment langka baginya, moment dimana Aryo dan anak-anaknya berkumpul bersama dalam satu meja makan.


Namun Rio yang tanpa ingin banyak basa basi lagi pun langsung menyantap hidangan yang disajikan oleh ibunya itu tanpa ragu-ragu.


"Heh, heh!" Ketus Husna yang seketika dengan cepat memukul pelan tangan Rio yang baru saja ingin menyentuh ayam panggangnya.


"Ada apa lagi buuu?"


"Setidaknya biarkan kakakmu yang mencicipinya terlebih dulu, acara makan-makan malam ini dibuat karena dia!!" Jawab Husna geram.


"Haaaiss, selalu saja begitu." Keluh Rio yang nampak melesu.


"Sudah bu, tidak apa. Siapa pun yang mencicipi lebih dulu akan sama saja, tidak akan merubah rasanya." Jawab Melati yang terdengar sangat bijaksana.

__ADS_1


"Nah, kakak benar bu, sudah lah bu, aku sudah sangat lapar! Lagi pula aku sudah membantu ibu sejak pagi tadi." Tambah Rio.


Tanpa memperdulikan apapun lagi, Rio pun langsung saja mencuil ayamnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Husna pun tak bisa berbuat apapun lagi jika Melati anak kesayangannya sudah berkata seperti itu, ia hanya bisa tercengang memandangi kelakuan Rio yang mirip seperti orang kelaparan yang tidak diberi makan selama berhari-hari.


"Astagaa." Ketusnya sambil terus menggeram.


Namun berbeda halnya dengan Aryo, Aryo malam itu lebih banyak diam, tidak seperti Aryo yang biasanya, yang selalu banyak mengomel dan berkomentar pedas pada Husna yang seolah terlihat selalu salah di matanya.


"Ayo kita makan." Ucap Melati yang akhirnya ikut mencicipi makanan yang telah di hidangkan.


Suasana pun perlahan mulai sedikit mencair, sesekali suara gelak tawa santer terdengar di sela-sela makan malam mereka. Hubungan keluarga yang sebelumnya terasa sangat tidak sehat, malam itu seolah berubah menjadi hangat.


"Andai dari dulu bisa begini, mungkin aku tidak akan memiliki pikiran untuk pergi jauh dari rumah." Gumam Melati lirih di dalam hati sembari memandangi sendu keluarganya yang pada saat itu tengah asik mengobrol dan tertawa.


Malam kian larut, embun pun mulai turun memberi efek sejuk di luar ruangan, Rio yang sudah sangat kenyang dan mulai mengantuk, akhirnya bangkit dari duduknya dan pamit untuk masuk duluan ke kamarnya. Dan akhirnya di ikuti oleh semuanya yang juga mulai menyerah dan ingin cepat-cepat istirahat.


Melati masuk ke kamarnya dengan lesu, namun begitu melihat koper yang masih kosong, matanya kembali terbelalak dan menjadi sangat panik.


"Astagaa!!!" Pekiknya.


"Oh ya ampun, aku baru ingat aku belum juga selesai berkemas." Gumamnya seorang diri yang semakin tak karuan.


Husna yang tak sengaja mendengar hal itu, bergegas langsung masuk ke kamar Melati.


Melati sontak menoleh ke arah ibunya dan langsung menghampirinya dengan membawa raut wajah kepanikan.


"Buuuu, tolong aku." Rengek Melati sembari meraih lengan ibunya.


"Aku lupa untuk melanjutkan mengemasi barang-barangku bu, dan ini sudah sangat malam. Bagaimana ini?" Tambahnya lagi.


"Haaiyoo, ya sudah, biarkan ibu saja yang mengemasinya." Jawab Husna yang langsung melangkah cepat menuju koper yang masih ternganga di lantai.


"Iya bu, kita harus cepat, karena ini sudah malam dan aku harus bangun pagi-pagi sekali." Melati pun bergegas kembali mengumpulkan pakaiannya.


"Nak," panggil Husna tiba-tiba.


Melati pun menoleh ke arah ibunya.


"Sudah hentikan! Biar ibu saja!"


"Maksud ibu?"


"Kamu tidur saja, serahkan semuanya pada ibu. Kamu memang perlu banyak istirahat karena besok sudah harus ke stasiun."


"Ta,,, tapi bu, ibu juga pasti sangat lelah setelah seharian beraktivitas."

__ADS_1


"Sudah tidak apa, jika ibu sudah berkata begitu, maka turuti saja."


"Ibu yakin?"


"Iya sayang. sudah! Ayo naik lah ke tempat tidurmu dan tidur lah yang nyenyak. Usah pikirkan semua ini, ibu jamin semuanya akan sudah selesai ketika kamu bangun nanti." Husna pun tersenyum sembari mengusap lembut pipi Melati.


"Terima kasih banyak bu, ibu yang terbaik." Melati pun mengecup singkat pipi Husna.


Lalu ia pun langsung beranjak ke tempat tidur dan mulai berbaring. Husna yang diperlakukan seperti itu oleh Melati, sudah cukup merasa senang dan terharu.


"Tidur yang nyenyak nak,"


Melati pun tersenyum dan mengangguk.


"Selamat tidur."


"Iya bu, ibu juga setelah ini selesai harus langsung istirahat ya."


"Iya, tentu saja"


Melati mulai memejamkan matanya, sementara Husna mulai terduduk di lantai untuk melipati pakaian Melati yang tadi baru ia belikan. Malam kian larut, lebih tepatnya kini sudah mengarah ke pukul 01:20 dini hari, namun Husna belum juga selesai pada kesibukannya.


Di tengah keheningan malam, bahkan orang-orang seisi rumah pun sudah pada tidur, tapi Husna nyatanya masih berkutat di kamar Melati, ia rela menahan kantuknya hanya demi Melati.


"Hooaams." Entah sudah berapa kali Husna terus menguap sebagai pertanda jika ia sudah sangat mengantuk dan sebenarnya juga sangat letih.


Namun hal itu nyatanya tetap tidak menghentikannya untuk mengemasi seluruh barang-barang anaknya. Husna meraih salah satu baju Melati, lalu memandanginya sejenak dengan tatapan sendu. Sebuah senyum ranum pun terlihat di wajahnya, lalu perlahan mulai menciumi baju anak perempuannya itu, yang nantinya tidak akan ia cuci lagi.


"Ibu pasti akan sangat rindu nak, andai ibu punya kekuatan untuk memindahkan kampus itu ke samping rumah kita," Gumam Husna dalam hati yang kemudian meletakkan baju Melati ke dalam koper.


Pagi hari yang cerah...


Suara jangkrik menghilang, berganti lagi dengan suara kicauan burung-burung camar yang hinggap di atas pohon yang terletak tepat di depan rumah Melati.


Sinar mentari pagi juga semakin hangat menyinari desa itu, sebuah pedesaan yang masih sangat asri, desa yang sebentar lagi akan Melati tinggalkan demi menuntut ilmu dan menjalani kehidupan yang bebas sesuai impiannya sejak tamat SMP.


Pagi itu, Melati terlihat sangat terburu-buru karena dia harus membeli tiket kereta api terlebih dulu agar tidak kehabisan kursi.


"Bu aku harus membeli tiket terlebih dulu, aku takut kehabisan." Keluh Melati panik.


"Ya sudah, kamu berangkat saja duluan, nak! Pinta Rio untuk mengantarkanmu ke sana naik sepeda."


Melati pun mengangguk cepat dan langsung beranjak untuk menghampiri adiknya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2