Ibuku Sayang Ibuku Malang

Ibuku Sayang Ibuku Malang
Chapter 43


__ADS_3

Melati keluar dari Resto dan langsung di sambut oleh Vero, yang kala itu terlihat masih bersandar di depan mobilnya, dalam keadaan kedua tangannya yang masih bersedekap di dada, beserta kedua kakinya yang ia buat menyilang. Menyadari Melati yang akhirnya keluar, membuat senyuman Vero kembali merekah, benar-benar terlihat sangat manis.


"Hai." Sapa Vero yang masih tidak bergerak dari posisinya.


"Sudah lama menungguku?" Tanya Melati seolah tak berminat membalas sapaan Vero saat itu.


"Belum terlalu, sekitar setengah jam." Jawab Vero santai sembari akhirnya ia pun kembali berdiri tegak.


"Eeem,, maaf karena membuatmu menunggu."


"Tidak apa. Demi kamu, aku bahkan sanggup menunggu hingga berbulan-bulan lamanya." Jawab Vero yang sekalian bermaksud ingin menyindir Melati.


Secara tidak langsung, Vero ingin Melati sadar jika ia telah berusaha mengambil hati dan menunggu Melati selama beberapa bulan terakhir. Namun apa kan daya, Melati yang seolah hatinya telah ia bunuh sendiri dan mati, sama sekali tak terenyuh mendengar hal itu. Ia justru hanya mendengus dan tersenyum sinis pada Vero yang menurutnya sangat berlebihan dalam bertutur kata.


"Kita pergi sekarang?" Tanya Melati yang kemudian memasang wajah datar.


Hal itu membuat Vero seketika jadi tercengang, ia sama sekali tidak menyangka jika Melati meresponnya hanya begitu saja, sangat tidak berekspresi.


"Ini serius, dia hanya bereaksi seperti ini saat aku mengatakan hal tadi padanya???" Tanya Vero dalam hati yang nampak masih begitu tercengang.


"Hei..." Melati mulai melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Vero.


Membuat Vero seketika jadi tersentak.


"Bisa kita pergi sekarang??!!" Tanya Melati lagi dengan nada yang seolah sedikit di tekan.


Hal itu ia lakukan, karena sebelumnya ia sudah menanyakan hal yang serupa tadi sama sekali tidak di jawab oleh Vero.


"Oh eemm iya, iya kita pergi sekarang!" Jawab Vero yang jadi sedikit gelagapan sembari langsung berinisiatif untuk membukakan pintu mobil untuk Melati.


Namun hal itu justru membuat Melati kembali mendengus pelan.


"Tidak kah ini sedikit berlebihan? Aku jadi merasa seperti di ratukan." Celetuk Melati yang tersenyum tipis, sembari akhirnya ia pun mulai melangkah untuk memasuki mobil.


"Memangnya mau?" Tanya Vero seketika.


"Mau apa?" Melati kembali menatapnya dengan dahi yang sedikit mengkerut.


"Jadi ratu di hidupku." Jawab Vero yang kembali tersenyum.


Namun entah terbuat dari apa hati Melati ini, hingga hal itu pun seolah tak mampu menyentuh hatinya. Ia lagi-lagi justru hanya mendengus pelan dan langsung masuk dan duduk di dalam mobil.

__ADS_1


"Ayo jalan sekarang." Ucapnya kemudian sembari mulai mengaitkan sabuk pengamannya.


Reaksi Melati lagi-lagi sungguh di luar dugaan, membuat Vero juga ikut mendengus pelan dan akhirnya dengan membawa perasaan heran, ia pun mulai melangkah menuju kursi kemudinya.


"Terbuat dari apa sebenarnya hati wanita ini? Sulit sekali untuk menembusnya." Gumam Vero dalam hati.


Vero akhirnya ikut masuk ke dalam mobil, melirik sejenak ke arah Melati yang saat itu bersikap biasa saja lalu melajukan mobilnya dengan sedikit lesu. Lesu karena hingga saat ini juga, Melati masih tidak menunjukkan rasa ketertarikan pada Vero, yang padahal menjadi incaran banyak wanita di kampusnya, bukan hanya karena keluarganya yang kaya raya, tapi tentu karena wajahnya yang sangat berkharisma.


"Kita belajarnya di rumahku ya." Ucap Vero tanpa melirik Melati.


"Hah?! Di,,, di rumah mu?!" Melati nampaknya sedikit terkejut.


"Iya di rumah ku saja! Lagi pula semua materinya ada di rumah."


"Ta,,, tapi..."


"Kenapa? Kamu takut? Kamu takut aku akan berbuat yang tidak-tidak begitu?" Tanya Vero yang lagi-lagi tersenyum.


Saat itu Melati hanya diam.


"Jangan khawatir, ada beberapa pembantu di rumahku, kamu bisa saja berteriak minta tolong jika memang aku melakukan hal tak senonoh."


Vero pun mengangguk, dan semakin melajukan mobilnya. Hanya memerlukan waktu 40 menit, kini mobil mewah itu mulai memasuki sebuah gerbang yang cukup megah, dan tak lama mobil itu pun terhenti tepat di depan teras sebuah rumah yang sangat megah dan tentu saja terlihat sangat mewah, apalagi bagi Melati.


Melati turun dari mobil secara perlahan sembari kedua matanya terus saja memandangi bangunan yang ada di hadapannya.


"Ini rumahmu?" Tanya Melati.


"Iya." Vero pun mengangguk sembari tersenyum.


"Ayo masuk." Ajak Vero tanpa ingin banyak basa basi.


Namun Melati tiba-tiba saja merasa ragu, entah kenapa perasaan cemas yang tidak jelas alasannya tiba-tiba saja mulai menghampirinya.


"Ta,,, tapi."


"Kenapa lagi?"


"Aku takut." Jawab Melati singkat.


"Takut?? Takut apa? Kenapa takut?" Tanya Vero sembari mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Apa orang tua mu tidak marah melihatmu membawa perempuan sepertiku masuk ke rumah ini?" Tanya Melati yang mulai memandangi penampilannya dari ujung kaki hingga ke kepala.


"Perempuan sepertimu?! Memangnya kamu kenapa? Kurasa tidak ada yang salah denganmu."


"Eeemm begitu kah?"


"Sudah lah! Ayo masuk!!" Vero nampak tak sabar dan langsung menarik tangan Melati begitu saja.


Tak ada yang bisa Melati lakukan saat itu, Mau tidak mau ia harus menurut dan mengikuti langkah Vero saat menyusuri berbagai ruangan yang ada di dalam rumahnya, benar-benar sangat luas.


"Ini rumah atau sebuah Mall? Kenapa bisa seluas dan sebesar ini? Apa mereka tidak tersesat?" Gumam Melati dalam hati.


Vero terus melangkah dengan tenang dan tentu saja ia juga membawa serta Melati yang masih terus mengikuti langkahnya. Hingga akhirnya langkah kaki Vero akhirnya terhenti di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, namun juga ruangan itu terasa begitu lega dan nyaman. Seperti sebuah ruangan keluarga, di sana ada sebuah televisi berukuran besar, ada sebuah sofa panjang yang menghadap ke televisi itu. Tak hanya itu saja, di depan sofa, ada sebuah meja osin berbentuk bundar yang di bawahnya memiliki alas sebuah ambal berbahan bulu rasfur yang cukup tebal.


"Ayo duduk dulu, Melati." Ucap Vero.


"Di sini?" Tanya Melati polos sembari menunjuk ke arah sofa.


"Iya, lalu mau dimana lagi? Apa mau duduk di kamarku?" Goda Vero sembari tersenyum.


"Oh tidak! Duduk di sini jauh lebih baik." Jawab Melati yang dengan cepat langsung menduduki sofa itu.


Hal itu pun membuat Vero semakin terkekeh geli, meski entah sudah berapa kali ia mendapat respon yang kurang menyenangkan seperti itu dari Melati, namun nampaknya hal itu tidak membuatnya jera, justru ia semakin ingin untuk terus menerus menggoda Melati hingga membuatnya kesal. Karena bagi Vero, melati pun tetap terlihat cantik ketika ia sedang kesal, malah semakin menggemaskan.


"Tunggu sebentar ya." Ucap Vero yang kemudian berlalu pergi.


"Hei." Panggil Melati.


Langkah Vero pun seketika terhenti dan kembali berbalik badan untuk menatapnya.


"Kenapa?"


"Ka,,, kamu mau kemana?" Tanya Melati sedikit ragu.


"Kenapa bertanya? Apa kamu mulai tidak bisa jauh dariku?" Goda Vero lagi.


"Ah tidak!" Tegas Melati.


"Eeemm ya sudah, kalau begitu tunggu lah." Vero kembali tersenyum dan kembali beranjak pergi, memasuki sebuah ruangan yang lainnya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2